Bab 3. Pernikahan

1274 Words
Hari pernikahan pun dilaksanakan secepatnya. Tiga minggu setelah pengakuan itu, kini Evan dan Kayla sudah duduk di atas pelaminan. Status mereka pun sudah berubah menjadi sepasang suami istri. Tidak ada raut kebahagiaan yang tersirat di wajah si mempelai perempuan. Dia justru terlihat acuh tak acuh akan sekitar. Dia sudah seperti boneka yang tidak memiliki daya. “Selamat, Bro. Semoga langgeng, yah!” Evan tersenyum kaku saat beberapa temannya datang untuk memberinya selamat. Bukan dia tidak bahagia, melainkan ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya hingga saat ini. Namun, dia tidak tahu hal apa itu hingga suara tamu undangan yang tengah mengantri bersalaman dengan mereka mulai terdengar. “Jeng, bukankah seharusnya calon itu adiknya, yah? Kok, malah kakaknya yang menikah di sana?” “Iya, Jeng. Aku juga kaget waktu tadi lihat. Atau, si ceweknya yang kegatelan? Secara si kakaknya kan selama ini terkenal baik dan juga sopan kepada semua orang.” “Hooh, aku juga udah duga kalau si ceweknya ini yang gak baik. Secara dia masih muda, bahkan lulus kuliah aja baru kemarin.” Bisik-bisik pun tak terelakan lagi. Banyak praduga simpang-siur jika si perempuan hamil duluan, atau masih banyak persepsi lainnya yang tertuju kepada dua mempelai pengantin, tetapi lebih banyak menyudutkan ke pihak perempuan. Kayla menunduk sedih sambil meremas sisi gaun pernikahannya. Dia tidak tahu ada salah apa dirinya dengan para tamu undangan, tetapi mulut mereka seolah sudah diasah sedemikian rupa hingga membuat dia tak bisa mengelak. “Aku kegatelan? Cih!” Kayla berdecih sinis mendengar hal itu. Evan yang mendengar itu hanya bisa menghela napas. Mau menegur pun juga hanya akan membuat dirinya terlihat buruk. Hingga tiba pada saat pertengahan acara, Dimas datang. Pria berusia 27 tahun tersebut langsung naik ke atas pelaminan dalam keadaan marah besar. Kepercayaan yang selama ini diberikan kepada sang kakak untuk menjaga Kayla, justru dibayar dengan sebuah pengkhianatan. “Dasar b******n!” Dalam satu kali pukulan, tubuh Evan langsung tersungkur ke belakang. “Bangun b*****t!” Dimas kembali menarik kerah kemeja Evan dan memukulnya kembali di bagian wajah, lalu menendang perut kakaknya yang hanya diam saja saat menerima pukulan demi pukulan itu. “Dimas, hentikan itu, Nak!” Sarmila berusaha menenangkan putra keduanya, tetapi Salim menggeleng. “Tapi, kasihan Evan, Pa?” “Biarkan Evan menanggung semua perbuatannya,” sahut Salim. Sarmila yang melihat itu hanya bisa menangis melihat kedua putra tercintanya tengah berkelahi, lebih tepatnya sang kakak hanya diam saja saat dipukuli oleh si adik. “Hentikan, Dim!” ujarnya lirih sambil menitikkan air mata. Kejadian itu disaksikan oleh banyak tamu undangan yang hadir. Mereka kini seolah tengah menyaksikan drama yang biasanya ditonton di layar televisi. Akan tetapi, pihak keamanan segera mengambil tindakan. Mereka meminta semua tamu undangan untuk keluar dari gedung dan menyisakan sanak keluarga dari mempelai saja yang tetap menyaksikan tak acuh pertikaian dua kakak beradik tersebut. “Bangun b*****t!” Setelah kakaknya terjatuh, Dimas berteriak keras. Netranya menyorot penuh benci dan dendam pada Evan yang kembali bangun. “Kenapa, Bang? Kenapa kamu mengkhianati kepercayaan ku? Sakit, Bang! Hatiku sakit!” ujarnya sambil menangis merasakan sesak di dalam d**a. “Dim, Abang minta maaf,” ucap Evan menyesal. Dia hendak memegang lengan adiknya, tetapi langsung ditepis kasar. Sang adik kini menatap kakaknya dengan tatapan bengis. Tatapan lembut dan kagum yang dulu selalu diberikan oleh Dimas seolah menghilang berganti dengan kecewa. “Bagaimana bisa kamu melakukan itu dengan calon istriku, Bang? Apa di dalam otakmu itu sudah rusak atau gimana? Kayla itu adik ipar kamu!” teriak Dimas di akhir kalimat. Evan menunduk penuh penyesalan. “Maaf, Dim. Maaf ….” Melihat Evan yang kini hanya menunduk menyesal membuat perasaan Dimas semakin tidak karuan. “Argh!” Dilayangkan kembali lututnya untuk menendang perut sang kakak. “Uhuk!” Evan jatuh tersungkur lagi dan kali ini dia terbatuk hingga mengeluarkan darah. Sementara itu, Evan tetap diam saja dan membiarkan sang adik memukulnya. Dia tak mengelak, bahkan tak menyerang balik. Semua itu dilakukan karena dia merasa bertanggung jawab sudah melukai kepercayaan Dimas. “M-maaf, Dim,” ujarnya di antara rasa sakit. Tuxedo putih Evan bahkan kini sudah mulai kotor oleh darahnya sendiri. Sungguh pemandangan yang sangat memilukan. Seorang pengantin harus babak belum di acara pernikahannya. “Hentikan, Mas. Sudah! Tolong jangan lakukan ini!” Kayla yang sudah tidak tahan melihat itu segera memeluk tubuh Dimas yang hendak kembali memukul tubuh lemah Evan.“Hentikan, Mas!” pintanya dengan sesenggukan. Akan tetapi, bukannya emosi Dimas mereda mendengar kepedulian Kayla, melainkan hal itu justru semakin memicu api di dalam tubuhnya. Dia merasa Kayla lebih memihak ke Evan, bukan dirinya yang sebagai calon suaminya. Kekecewaan itu pun membuatnya menghempaskan tangan perempuan itu hingga tersungkur. “Menyingkir jalang! Jangan pernah menyentuhku!” Dimas menatap perempuan yang kini tengah menatapnya pias dengan sorot mata penuh kebencian. “Dimas,” panggil Kayla lirih dengan tatapan tak percaya. Perempuan itu bahkan mengabaikan tangan seseorang yang membantunya berdiri hanya untuk menatap sosok pria yang dulu begitu menyayanginya. “A-aku bisa jelaskan ini, Mas!” Dimas berdecih sinis. “Jelaskan apalagi? Semua sudah jelas. Kamu dan kakakku sudah mengkhianatiku. Jadi, apa lagi?” Evan yang melihat itu langsung menatap Dimas tak percaya. “Dim!” “Apa?” Tatapan lelah dan juga kecewa kini diberikan Dimas untuk kakaknya. Kali ini tatapannya menyorot ke arah dua orang yang dulu disayanginya. “Kalian berdua ini benar-benar menjijikkan. Tega-teganya kalian bermain api di belakangku. Dasar jalang b******k!” umpat Dimas kemudian. Kayla menggeleng panik. “Dimas, tolong dengarkan penjelasanku dulu!” Dia hendak beringsut mendekati Dimas, tetapi pria itu langsung melengos. Hatinya pun merasa perih saat pria yang dicintainya, justru tidak peduli lagi. “Aku lelah, Kay. Aku benar-benar merasa hancur sekarang.” Bibir Dimas bergetar menahan tangis. Dia lalu mendongak sambil memukul bagian dadanya yang terasa sesak. “Hatiku sakit, Kay. Kenapa kamu tega melakukan ini padaku?” “Mas, tolong dengarkan penjelasan kami dulu!” Kayla langsung memeluk kaki Dimas dan memohon ampunan. Namun kejadian selanjutnya justru membuat ia terpental. Dimas mendorong Kayla, bahkan menampar wajah gadis itu tepat di depan keluarga mereka. “Aku bilang jangan sentuh, ya, jangan sentuh jalang!” teriaknya penuh emosi. Para orang tua pun mulai turun tangan saat melihat Dimas yang sudah mulai kelewatan batas karena sudah main tangan kepada perempuan. Evan yang tidak suka dengan sikap temperamental dari Dimas segera berdiri dan gantian dia yang menonjok wajah sang adik. Dimas langsung tersungkur. Dia mendengkus saat rasa anyir dan juga sakit di bagian pipinya. Dia membuang ludah sembarangan lalu menatap wajah Evan dengan tatapan mencemooh. “Oh, jadi kamu gak terima, Bang?” “Tidak seperti itu cara seorang lelaki memperlakukan perempuan, Dim!” Evan memperingati. “Lalu, seperti apa?” Dimas bangun dari posisinya dan berjalan menghampiri Kayla yang kini tengah menangis di pelukan Riana–calon ibu mertuanya. “Apa seperti ini?” Ditariknya paksa tangan perempuan yang kini masih mengenakan gaun pernikahannya dan melumat bibir itu dengan kasar. Semua orang menutup mulut mereka tak percaya saat menyaksikan Dimas yang tengah mencium Kayla tepat di depan mereka. Evan melihat itu perasaan dibuat terbakar, apalagi saat tangan Kayla yang terus meronta dalam cengkraman Dimas membuatnya segera mengambil langkah panjang. Kali ini, ganti dia yang menarik tangan Kayla dan memberikan bogeman mentah ke wajah adiknya. “Gak begitu juga b******k!” teriaknya murka. Wajahnya memerah, napasnya juga menderu manahan semua luapan emosi yang kini bercokol di dalam hati. “Jangan pernah memperlakukan istriku seperti itu, Dimas!” ucapannya penuh peringatan. “Evan … ada apa ini? Dan, kenapa kamu memakai tuxedo itu?” tanya seorang wanita cantik yang baru saja datang. Tatapannya begitu bingung, apalagi ketika wajah babak belur Evan membuatnya pikiran wanita itu kian dipenuhi tanda tanya. “Bianca?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD