Mobil Dava melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan ibu kota Jakarta. Sepanjang perjalanan menuju rumah kedua orang tuanya, senyuman bahagia terus terukir indah dari bibirnya. Ia sudah tidak sabar, ingin mengenalkan calon istri dan kedua anak kembarnya kepada orang tua dan adik kesayangannya. Tidak lepas juga, untuk mengenalkan calon mertuanya dengan keluarganya. Calon mertua impian yang begitu sangat baik dan mendukung hubungannya dengan Nadira. Terkadang, ada terbersit rasa bersalah dari dalam diri, dengan kesalahan yang telah ia lakukan di masa lalu. Namun, ia pun tidak bisa terus menyalahkan diri sendiri, dengan khilafannya sebagai manusia yang lemah dan di luar batas kemampuannya. Takdir yang telah mempertemukan ia dan Nadira dengan tidak sengaja. Dan Takdir pula yang har

