First
Pagi hari ini Shanon membuka kedua matanya dengan terkejut ketika suara jam weker terus berdering kencang.
"ah sial..." cicitnya pelan lalu mengusap wajahnya kasar
Langsung saja ia menjulurkan tangan kanannya untuk mematikan benda kotak yang hampir saja membuat emosi paginya melunjak.
Niat hati ingin tidur kembali, namun Shanon baru ingat kalau hari ini ada tugas penting yang harus dikumpulkan dan sialnya hanya Shanon lah yang belum mengumpulkan dari 30 siswa di kelasnya.
Tanpa waktu lama, Shanon bangun dari kasur dan beranjak menuju kamar mandi dengan mata yang masih setengah tertutup.
Suara gemericik air mulai terdengar dari balik pintu kamar mandi. Membuat wanita yang baru saja masuk ke kamar Shanon hanya bisa tersenyum sambil bergumam, "ah anak ku sudah bisa bangun sendiri ternyata. Padahal dulu masih ku timang dengan tangan ku sendiri."
Li Indira-mami kandung shanon melangkahkan kakinya menelusuri kamar besar milik anak tunggalnya itu untuk sekedar menekan stop kontak agar gorden yang menutupi hampir 25% kamar anaknya itu terbuka.
"Ah sudah lama sekali aku tak menikmati pemandangan indah seperti" cicit Indira sambil memperhatikan ke arah luar jendela kamar Shanon yang memperlihatkan jejeran gunung yang dinaungi awan beserta fajar yang baru menampakkan sosoknya.
Terlalu asik menghirup udara pagi, Indira sampai tidak sadar kalau Shanon sudah berdiri di belakangnya sambil merapihkan seragam yang sudah melekat di tubuhnya
"Mami?" panggil Shanon sambil menepuk pelan pundak Indira yang terlihat terkejut
"Astaga! aduh Shanon... mami mu bisa jantungan nanti" pekik indira setelah membalikkan badannya dan menatap Shanon dengan sedikit tatapan rindu
Hanya kekehan dan senyuman yang bisa Shanon keluarkan untuk merespon ucapan maminya.
Memang mereka berdua tak bisa dibilang dekat. Bahkan mami dan papi Shanon hanya pulang seminggu sekali atau jika sempat. Shanon paham kalau kedua orang tuanya bekerja untuk membiayai kehidupan mereka semua. Tapi apa tidak berlebihan?
Maksudnya berlebihan seperti saat ini. Shanon bergelimpangan harta hingga barang-barang mewah tak berguna itu menumpuk di kamarnya. Tapi tak sedikit pun kenangan indah tentang keluarga menumpuk di ingatannya.
"Hei ko bengong? ayo sarapan. Sudah siap kan? jangan terlalu lama ya? mami dan papi harus berangkat ke Australia jam delapan nanti" suara Indira kembali masuk ke dalam gendang telinga Shanon
Senyuman yang tadinya terpampang, langsung luntur begitu saja saat tahu kalau Shanon akan sendiri lagi.
"Iya mih" balas Shanon.
Indira tersenyum lalu pamit keluar kamar anaknya mempersilahkan Shanon untuk bersiap.
Setelah pintu kamar tertutup. Shanon hanya bisa menatap kosong ke arah luar sambil sesekali helaan nafas lelah ia keluarkan dari bibirnya yang terlihat mengering.
"hahaha sial. Untuk apa aku masih bertahan hingga saat ini? kalau aku mati pun, mereka akan tetap sibuk kerja kan?" monolog Shanon lalu diikuti kekehan yang dibuat agar terdengar sedih.
Tidak terlalu ambil pusing, Shanon langsung menggerakkan kakinya untuk melangkah mendekat ke arah ruang wardrobe-nya untuk memakai sepatu dan juga mengambil tas yang berisikan buku pelajaran, lalu turun ke lantai satu setelah tak lupa mencabut handphone yang dari semalaman ia charge.
Shanon lebih memilih turun menggunakan tangga, sengaja untuk mengulur waktu kedua orang tuanya agar sedikit lebih lama berada di rumah megah dengan 10 kamar yang sudah mereka bangun sejak Shanon lahir.
Sesampainya Shanon di ruang makan, Li Andrew-papi Shanon langsung saja melirik ke arah anak semata wayangnya yang langsung mengambil posisi duduk tepat di sampingnya.
"Hai princess. Apa kabar?" tanya canggung Andrew sambil menyuruh pelayan menyuguhkan sarapan untuk keluarga kecilnya.
Sedangkan mata Shanon langsing bersitatap dengan iris Andrew yang sudah lama tak ia tatap itu, "baik pih" balas Shanon singkat lalu mulai memakan cereal loops kesukaannya itu.
Andrew dan Indira hanya bisa menghela nafas pelan lalu mulai memakan sarapan mereka sambil sesekali membahas kerjaan.
Shanon yang mendengarnya cukup muak. Tidak bisa kah kedua orang tuanya membahas hal yang lebih penting untuk anaknya dari pada membahasa kerjaan sial itu?
Karena tidak ingin mendengar lebih lama tentang pekerjaan, langsung saja Shanon menenggak segelas air putih lalu berdiri dari duduknya.
"Shanon sudah beres. Hati-hati di japan mih pih. Shanon berangkat sekolah dulu" pamit Shanon lalu membungkukkan badannya tanpa menatap kedua iris Andrew dan Indira yang menatapnya nanar.
tap
tap
tap
tap
Langkahan kaki terdengar menggema di sepanjang lorong rumah- ah mungkin lebih cocok dipanggil mansion yang hanya ditempati oleh satu orang orang anak remaja dengan 15 orang pekerja rumah tangga.
Sial. Rasanya Shanon ingin mengeluarkan kata-kata mutiara saat perjalanan untuk menuju pintu depan rumahnya saja terasa sangat lama.
Akhirnya setelah hampir tiga menit berjalan cepat, Shanon sudah duduk di belakang kemudi yang siap mengantarkan Shanon berangkat sekolah.
"Jalan pak" titah dingin Shanon sambil memasangkan ear pods di telinganya dan menikmati perjalanan menuju sekolahnya.
Setelah menghabiskan waktu sekitar 30 menit. Akhirnya pacuan mobil mewah keluaran terbaru itu berhenti tepat di lobby sekolah internasional bergengsi di kota besar itu.
"Terimakasih pak" ucap Shanon sopan lalu keluar dari mobil yang pintunya terbuka otomatis.
Selama perjalanan menuju kelas. Tatapan mata memuja dari siswa maupun siswi langsung menghujani Shanon.
Shanon benci itu. Tatapan kagum, bisik-bisik pujian, dan juga beberapa suara jepretan kamera yang terdengar samar.
Langsung saja Shanon berlari agar menyingkat waktu untuk segera sampai ke dalam kelas.
"huft...." desahan lega Shanon keluarkan saat dirinya sudah berada di depan kelas dengan papan nama XII A 1.
Tok tok
Cklek
Meskipun terlahir dari keluarga kaya raya dan juga kurang didikan keluarga, namun Shanon sadar akan kesopanan dan tata krama.
"Selamat pagi" sapa Shanon dengan senyuman hangat.
Beberapa teman sekelas Shanon pun membalas dengan kalimat yang sama, sudah terlalu hapal kalau Shanon bukan tipe perempuan yang suka diajak basa-basi.
KRIIIIING!
Tepat saat pantat Shanon mendarat di tempat duduknya. Bel sekolah berdering kencang. Semua murid langsung berhamburan masuk ke dalam kelas dan duduk di bangkunya masing-masing.
Sekolah mereka ini memang terkenal akan ketertibannya. Contohnya seperti sekarang ini, bahkan bel baru berbunyi satu menit lalu tapi wali kelas mereka sudah melangkahkan kaki masuk diikuti seorang laki-laki cukup tinggi dengan bahu yang lebar dan juga errr wajah yang tampan menurut perempuan di kelas Shanon.... terbukti karena jeritan kecil yang terdengar dari pojok kelas.
Shanon sendiri hanya menatap ke arah wali kelasnya dengan tatapan datar sambil menunggu kira-kira apa yang akan diucapkan.
"Selamat pagi anak-anak"
"Pagi buuu!"
"Ya, jadi hari ini kalian kedatangan murid baru. Ayo nak silahkan perkenalkan diri mu"
Laki-laki yang sedari tadi diam akhirnya menatap mahkluk hidup yang berada dalam satu ruangan dengannya.
"Hi, perkenalkan nama saya Justin Xailendra. Pindahan dari Australia tapi asli Indonesia. Salam kenal semua" tutur sopannya membuat beberapa murid terpesona, bahkan siswa yang melihatnya pun langsung membuka hati untuk menjadi kan Justin teman dekat mereka.
"baik nak Justin silahkan duduk di belakang Jake. Jake angkat tangan"
Yang disebut namanya langsung mengangkat tangan. Shanon hanya bisa sedikit tersenyum sambil berpikir, "kelas gw sumbernya cogan"
"Baiklah Justin silahkan duduk"
"Baik, mari bu" pamit justin sambil membungkukkan badannya lalu berjalan menuju bangku yang tepat berada di pojok belakang kelas
Entah mengapa, iris Justin harus bersitatap dengan iris milik Shanon yang sialnya terpancing untuk melihat ke arah Justin.
Keduanya reflek tersenyum, buru-buru Justin lanjut jalan lalu duduk di bangkunya setelah sedikit bersalaman dengan Jake.
"baik anak-anak kita lanjutkan materi yang sudah kita pelajari...."
Langsing saja Shanon mengeluarkan buku catatannya dan fokus mendengar apa yang diajarkan guru di depan. Berbeda dengan Justin yang malah fokus memperhatikan punggung kecil dengan potongan rambut wolf cut milik Shanon.
"lo menarik" batin Justin sambil tersenyum