BAB 15

2010 Words
Pukul 13.00 Aku dan Arisa sedang menonton drama Korea yang saat ini sedang hitz. Sambil mengunyah popcorn dan juga beberapa snack, kami menikmati setiap adegan di film itu. Trutt ... trut ... trut ... Ponselku bergetar. Ketika melihat ke layar, aku melihat nomor asing yang tertera di dalamnya. Karena tidak ingin diganggu, aku sengaja mematikannya. Toh, aku juga tidak kenal dengan nomor itu. Trutt ... trut ... trut ... Ponselku kembali bergetar. Aku pun menjawab panggilan itu. "Halo ...," ucap seseorang bersuara berat di balik ponsel itu. Aku mengenali suara ini. "Halo ..." "Aku Malvin," ucapnya. Jantungku kembali berdetak kencang. Arisan menatapku. "Siapa yang telpon?" tanyanya pelan. "Malvin," ucapku pelan. Bahkan nyaris tak bersuara. Arisa langsung mengecilkan suara TV itu. Dan telinganya mendekat ke arahku. "Iya, ada apa?" tanyaku canggung. "Kamu di mana?"tanyanya. "Aku di rumah." "Bagus lah kalau begitu. Untuk sementara, kamu jangan pergi ke kampus dulu," ucapnya lembut. Entah mengapa ada rasa senang di dalam hatiku ketika mendengar suaranya. Ya, Tuhan! Aku benar-benar sudah gila! "Oh, iya," ucapku singkat. Itu karena aku terlalu gugup. Mata Arisa melotot ke arahku. "Nanti aku akan ke rumahmu. Tapi, setelah aku menyelesaikan semua kerjaanku di sini," ucapnya. "Kamu mau ngapain ke sini?" Dia terdiam. Untuk sesaat aku hanya mendengar hembusan napasnya. "Ada yang ingin ku bicarakan dengan Robin," jawabnya. "Baiklah!" ucapku. "Kalau begitu, aku akan menutup telponnya," ucap Malvin yang juga terdengar sangat kaku. "O—oke. Bye ...," "Bye ...," jawabnya. Lalu panggilan pun terputus. Aku menoleh ke Arisa. "Kenapa gue sesenang ini yah, Sa?" "Itu karena lo lagi jatuh cinta, Sayang!" jawab Arisa. "Gue yakin, Malvin pasti juga punya rasa deh sama lo," ucapnya lagi. "Gue gak mau mikir sampai sejauh itu," ucapku. "Eh, tapi, kenapa dia bisa tahu nomor gue, yah?" "Robin kali yang kasi," jawab Arisa. Aku hanya mangut-mangut. Suara tombol pin yang terletak di samping pintu apartemen berbunyi. Begitu pintu terbuka, nampak Robin dan juga Alika yang saat ini menatap ke arahku dan Arisa. "Hai, Kakak-kakak," sapanya. "Hai, Dek!" balasku tersenyum. Alika duduk di samping Arisa. "Bagaimana Kakinya Kak?" ucap Alika. "Udah agak mendingan," jawabku. Sofa di ruang tengah berbentuk U. Aku berada di tengah bersama Arisa, Alika duduk di sisi sebelah kanan. Sedangkan, Robin berada persis di sampingku yaitu di sisi sebelah kiri. Raut wajah Robin terlihat sangat kusut. "Kamu kenapa, Dek?" tanyaku. Robin menatapku dengan wajah serius. "Kak, tadi pas mau pulang, kita lihat ada yang nemu plastik hitam yang berisi tulang-benulang lagi," ucapnya. "Ada lagi?" pekikku dan juga Arisa.                                                                       ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ Lagi-lagi kembali ditemukan sebuah plastik yang berisi tulang-benulang dan juga sebuah dress berwarna putih yang berlumuran darah. Dan kali ini, plastik itu berada di Fakultas Ekonomi. Tidak perlu dipertanyakan lagi, pasti pelaku atas semua insiden ini adalah orang yang memiliki aktivitas di dalam kampus. Namun, statusnya masih belum bisa dideteksi. Apakah dia seorang mahasiswa, dosen, atau beberapa staf kampus seperti cleaning service, satpam, atau petugas kantin? Aku bisa berasumsi seperti itu karena tidak mungkin ada orang luar yang bisa bebas keluar masuk di kampus untuk saat ini. Karena sistem pengamanannya mulai sangat ketat. Hal tersebut diberlakukan semenjak terjadinya insiden yang pertama kali. Pihak kampus bekerja sama dengan kepolisian untuk menangani kasus ini. Di setiap gerbang—baik itu yang masuk atau pun keluar— kita bisa melihat banyak polisi yang berjaga. Ketika ingin masuk ke kampus, kita harus menunjukkan kartu mahasiswa. Kalau tidak, polisi itu pasti akan menyuruh kita kembali untuk mengambilnya. Atau kalau memang mendesak seperti ada kuis, ujian, atau lainnya, kita harus menelpon dosen yang bersangkutan lalu membiarkan polisi itu yang mengkonfirmasi kebenarannya. Jadi seperti yang kukatakan tadi, pasti pelakunya berada diantara kita semua. Hanya saja, dia sangat pandai menyembunyikan alibinya. Namun, sebagaimana pun ia menyembunyikan kejahatan, lama- kelamaan pasti akan tercium juga bau busuknya.                                                              ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ Selasa, 18 Februari 2020. 12.00 WITA Matahari mulai semakin meninggi. Itu tandanya, waktu juga akan segera berganti. Pagi berganti siang, siang berganti sore. Hari ini aku dan Arisa kembali datang ke kampus untuk menyetor hasil review kami kepada Pak Kasim. Meskipun, Robin masih melarang aku dan Arisa untuk ke kampus, kami tetap memaksakan diri untuk datang. Sudah banyak waktu yang terbuang sia-sia karena kemalasanku untuk mengurus tugas akhir ini. Jadi, aku akan benar-benar memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Walaupun saat ini situasi kampus sangat mencekam. Treet ... treet ... treet ... Ponselku bordering. Nama Malvin tertulis di dalam layarnya. "Halo ...," ucapku. Malvin berdeham. "Kamu di mana?" tanyanya dengan suaranya yang berat namun terdengar sangat manly. "Aku ada di kampus," jawabku. "Kenapa kamu bisa ada di kampus? Pulang sekarang! Kemarin waktu ke rumah kamu kan aku udah bilang, kamu jangan ke kampus dulu." ujarnya. "Ih! Kamu kenapa marah sih? Aku tuh ke kampus mau ketemu sama Pak Kasim untuk setor review jurnal," jawabku kesal. "Robin tahu tidak kalau kamu ke kampus?" "Tahu, kok!" ucapku ketus. Ia menarik napas. "Kamu sama siapa?" tanyanya lagi. "Sama Arisa. Kamu gak usah khawatir, aku bisa jaga diri kok. Gini-gini, aku tuh sabuk hitam karate loh!" "Aku bukan khawatir sama kamu. Yang aku takutkan adalah kalau sampai ada lagi korban yang berjatuhan. Bagaimana kalau kamu atau teman kamu yang jadi korban? Kan makin bertambah daftar korbannya," ucapnya. What the ... Kenapa aku sampai sebodoh ini, Tuhan! Aku harusnya tahu diri. Tidak mungkin lah seorang Malvin mengkhawatirkan aku. Sumpah! Aku benar-benar sangat malu sekarang. "Iya, iya, tau kok!" ujarku kesal. "Kalau udah gak ada yang mau dibahas, gue tutup, yah! Bye ...," ucapku kemudian mematikan ponsel. Arisa menatapku. "Malvin?" Aku mengangguk. "Masa dia marah sama gue. Trus, tadi dia—" Arisa menaikkan satu alisnya. "Tadi dia kenapa?" tanyanya penarasan karena melihat aku tiba-tiba terdiam. "Dia buat aku kesal," ucapku. "Kita gak usah bahas Malvin lagi, yah!" Ia menyeringai aneh. "Apa sih?" "Gak kok," ucapnya sambil tertawa pelan. Setelah menyetor review jurnal, kami berdua berencana untuk segera pulang. Namun sebelum pulang, kami singgah dulu untuk membeli makanan. Saat berada di lobi, tiba-tiba seorang asisten dosen memanggil kami. Ia terlihat membawa banyak tumpukan berkas ditangannya. "Kalian bisa gak bantuin gue?" tanyanya. Arisa langsung mengambil sebagian tumpukan itu. "Ini mau dibawa ke mana, Kak?" tanya Arisa. "Ini mau dibawa ke lantai empat. Lebih tepatnya di lab mikrobiologi," jawabnya. "Kalian bantuin gue bawa berkas ini ke lantai empat, yah! Maaf banget udah ganggu waktu kalian. Tapi, aku butuh banget bantuan saat ini," ucapnya. Aku bertukar pandangan dengan Arisa. "Memangnya masih ada lagi, Kak?" tanyaku. Ia mengangguk dengan ekspresi wajah memohon. "Tolong, yah! Masih banyak berkas yang mesti gue bawa ke dosen-dosen, soalnya. Dan kebetulan, berkas yang gue bawa ini satu-satunya yang untuk lab mikrobiologi," ucapnya lagi. "Yaudah! Siniin sisanya." Aku mulai mengambil sisa berkas yang ada ditangannya. "Makasih, yah! Nanti kalau kita ketemu lagi, gue bakalan traktir kalian minum JUPE," ucapnya. "JUPE?" Aku dan Arisa bersamaan. "Jeruk peras. Hadeh, gitu aja kok gak tau!" ucapnya. "Kalau gitu, gue pergi dulu. Sekali lagi, thanks yah!" Ia pun pergi meninggalkan aku dan Arisa.                                                            ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ Kami berdua sudah sampai di depan lab mikrobiologi. Lab ini terletak di lantai empat, sebelah kanan pojok, persis di samping tangga. Jadi, meskipun udah ngos-ngosan naik tangga, kita gak mesti capek-capek lagi harus jalan. "Labnya dikunci gak, yah?" tanya Arisa. "Kayanya sih, gak." Menggunakan satu tangan, Arisa mencoba mendorong pelan pintu itu. Dan benar, ruangan tersebut tidak terkunci. Kami berdua melangkah masuk ke dalam ruangan. Ketika masuk di dalam lab ini, kita akan disuguhkan dengan banyak kursitersusun rapih serta jejeran meja yang terbuat dari tegel berwarna putih. Dindingnya dihiasi dengan beberapa poster yang membahas tentang bakteri dan keturunannya. Di samping kanan dari pintu masuk, kita dapat melihat dua ruangan lagi. Lalu di sebelah kiri, terdapat kursi dan meja serta alat-alat lab seperti mikroskop, oven (bukan untuk makanan, tetapi digunakan untuk sterilisasi alat yang ingin digunakan ketika sedang melakukan percobaan), dan lainnya. "Huaah, lab ini udah banyak berubah," ucapku. Arisa segera menyusun berkas ini di salah satu meja yang kosong di dalam lab itu. "Siniin yang lo pegang. Biar gue aja yang susun," ucapnya serius. Aku memberikan berkas yang ada ini. Karena tidak ada yang bisa dilakukan, aku mencoba melihat-lihat ruangan yang ada. Diruangan pertama, tertulis di depan pintunya 'ruang koordinator'. Sedangkan, ruangan satunya adalah tempat penyimpanan bahan. Aku mencoba menengok masuk ke dalam ruangan koordinator melalui celah kecil yang memang terpasang di tengah pintunya. Saat melihat masuk ke dalam ruangan itu, aku terperangah. Hal tersebut karena aku melihat banyak simbil-simbol aneh, yang biasanya identik dengan penganut ajaran sesat. Atau orang lebih mengenalnya dengan sebutan penyembah iblis. Selain banyak lambang, aku juga melihat sebuah patung wanita. Di samping patung tersebut, terdapat satu sosok arwah yang tangan serta terikat dileher patung itu. Sedangkan mulutnya seperti sedang dibekap. Karena penasaran, aku mengajaknya berkomunikasi. Begitu melihatku dari celah jendela, mata sosok itu terbelalak mungkin karena dia kaget melihat kedatanganku. Namun, sedetik kemudian ia menggerakkan dagunya. Ia seakan-akan menyuruhku untuk pergi dari tempat ini. Air matanya berlinang. Dan aku tidak tahu mesti berbuat apa. "Apa yang kalian lakukan di sini?" Jantungku benar-benar hampir keluar dari dadaku, sangking kagetnya. Aku menoleh ke arah orang yang membuatku terkejut itu. Ternyata, dia adalah Pak Armus. Arisa mendekat ke arahku. "Maaf, Pak. Kami tadi disuruh sama salah satu asisten dosen untuk membawa berkas yang ada di sana," ucapnya sambil menujuk ke arah tumpukan kertas yang sudah berjejer dengan rapih. "Oh ...," ucapnya sambil mengangguk. Pak Armus pun mulai mengambil kunci ruangan itu di saku celananya, kemudian ia membuka pintu itu. Sebelum masuk, aku menahannya. "Ini ruangan Bapak?" tanyaku. Ia menengok masuk sejenak, kemudian kembali menatapku dengan senyuman diwajahnya. "Iya. Memang kenapa?" "Gak apa-apa kok, Pak," jawabku. Pak Armus membuka lebar pintu itu. Aku ikut masuk ke dalam ruangan tersebut bersama dengan Arisa. "Pak, ini kok banyak lambang-lambang kayak gini?" tanya Arisa. Aku baru saja ingin menanyakan ini. Pak Armus mulai duduk di kursi kerjanya. "Ini ulah teman saya. Kemarin, mereka datang trus tiba-tiba bawa semua pernak pernik ini. Mana ada yang ditempel ke dinding lagi! Ck, mereka memang nyusahin," decaknya. Syukurlah, tadinya aku sudah berpikir negatif ke Pak Armus. Entahlah, kenapa belakangan ini aku jadi mudah berprasangka jelek, yah! Aku menoleh kea rah patung wanita itu. "Patungnya bagus banget, Pak! Beli di mana?" "Oh, ini saya tidak beli. Ini pemberian dari seseorang yang sangat special," jawabnya. "Cewek apa cowok, Pak?" tanyaku cepat. Itu karena aku takut Arisa sedih karena begitu mendengar Pak Armus berbicara demikian, raut wajahnya seketika berubah. "Cowok, kok," jawab Pak Armus sambil melirik Arisa. Kali ini, feeling-ku pasti benar. Pak Armus menyukai Arisa, dan begitu pun sebaliknya. Aku dan Arisa yang masih berdiri di dekat pintu, saling memberi kode masing-masing agar segera pergi dari tempat ini. "Pak, karena berkasnya sudah beres, kami pamit dulu," ucap Arisa. "Ohiya, makasih yah, kalian sudah repot-repot naik ke tempat saya seperti ini hanya untuk membawa berkas." Pak Armus berdiri dari kursinya. Kami berdua sedikit membungkuk ke arah Pak Armus, kemudian melesat pergi dari ruangan tersebut                                                                  ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ                                                                            Bersambung  Assalamualaikum teman-teman ... Ohiya, aku cuma mau bilang kala kalian menemukan banyak kesalahan dalam kepenulisan, kalian bisa langsung tanya ke aku, yah. Mohon  maaf karena harus tiap hari up, jadinya aku harus kejar tayang ....                                                                            Happy Reading                                                 Jangan lupa  jaga kesehatan dan jangan lupa untuk bahagia                                                                            Patrick Star                                                                   The Queen of Unicorn
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD