BAB 14 (WANITA DI BANGUNAN TUA)

2437 Words
Jum'at, 7 Februari 2020 Hari ini, aku dan Arisa datang menemui Pak Armus untuk menunjukkan hasil review yang kami kerjakan kemarin. Walaupun masih belum rampung, aku tetap ingin menunjukkannya. "Nai, aku ada pesanan di Fakultas Teknik. Temani aku ke sana, yah! Toh Pak Armus juga belum selesai ngajar," ucapnya. "Baiklah! Tapi, lo beliin gue ice cream," ucapku. "Okedeh, Gue akan traktir lo makan ice cream." "Yes! Tunggu apa lagi, yuk!" ucapku lalu mulai membuka pintu mobilku. Arisa terdiam di tempatnya. "Nai, gak usah pakai mobil. Kita jalan kaki aja," ucapnya kemudian pergi mendahuluiku. Aku pun mengikutinya. Setelah mengambil barang yang dipesan oleh Arisa, kami berdua langsung berjalan kembali menuju Fakultas. "Kyaaaa ...," teriak seseorang yang jaraknya tidak jauh dari kami. Aku, Arisa dan beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang berada di dekat sini, datang menghampiri gadis yang berteriak itu. Saat menghampirinya, gadis tersebut berjongkok sambil menutup kedua matanya sambil menangis. "Kamu kena—" Arisa mendekat ke arahku dengan ekspresi wajah ketakutan. "Nai, i—itu ada tengkorak dan baju putih yang penuh dengan darah," ucapan Arisa membuat semua orang yang ada di sini langsung melihat ke arah bungkusan hitam besar yang berada tidak jauh dari gadis itu. Setelah melihat ke dalam bungkusan tersebut, seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang ada di sini seketika berteriak, menjerit, dan ada yang bahkan sampai berbicara kotor. Deg! Aku tidak tahu apa ini hanyalah sebuah lelucon atau tidak. Kalau pun lelucon, ini sama sekali tidak lucu. Dan kalau saja ini bukan lelucon, berarti di kampus ini seorang psikopat berdarah dingin tengah berkeliaran di sekitaran kita.                                                                ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ Penemuan berupa tengkorak manusia utuh dengan dress putih yang berlumuran darah di dalam sebuah kantong hitam besar, membuat gempar seluruh kampus. Pasalnya, baru saja terjadi kasus  beberapa mahasiswi yang menghilang secara misterius. Kini kami semua kembali dihebohkan dengan ditemukannya benda dan juga tulang benulanh di samping halaman Fakultas Teknik. Saat ini banyak orang berasumsi bahwa tulang-tulang dan juga dress putih itu adalah milik salah satu mahasiswi yang menghilang. Dan faktanya, memang ada mahasiswi di Fakultas ini yang juga menghilang. Menurut dari buah bibir yang ku dengar, bahkan gadis itu belum juga ditemukan sama sekali. Keluarga beserta pihak kepolisian sudah melakukan pencarian, tetapi ia tetap saja tidak bisa ditemukan. Ketika kondisi di lokasi TKP semakin tidak kondusif, salah satu mahasiswa pergi memanggil para Satpam dan  melaporkan tentang penemuan tersebut. Gadis yang pertama kali menemukan paket plastik itu  saat ini masih dalam kondisi syok. Ia dibawa oleh beberapa orang untuk menyingkir dari tempat ini, karena orang-orang semakin banyak dan juga padat. "Nai, bagaimana ini? Apa kita tinggal aja di sini sampai petugas medis atau kepolisian datang mengambil tulang-tulang itu? Atau kita kembali aja ke Fakultas?" tanya Arisa. "Lo hubungin Pak Armus. Trus bilang, kita nanti agak telat datangnya. Trus lo ceritakan masalah yang terjadi di sini," ucapku. "Baiklah!" Arisa langsung menjauh dari kerumunan untuk memeri kabar kepada Pak Armus. Aku menatap ke sekeliling berharap menemukan satu sosok yang menjadi saksi atas  kejadian tersebut atau paling tidak mengenali wajah orang yang membawa plastik besar itu. Tetapi saat membuka komunikasi dengan mereka, semua mahluk-mahluk astral itu diam. Mereka seperti tidak ingin berbicara. Bahkan, mereka seakan-akan menghindar  ketika aku bertanya tentang kasus ini. "Nai, kata Pak Armus dia mau nyusul kita ke sini," ucapnya. "Oh, okey." "Ya, Tuhan! Ini benar-benar mengerikan. Gue gak kebayang bagaimana perasaan kedua orangtuanya kalau tahu anaknya tinggal tulang benulang seperti itu," ucap Arisa. Aku menatap gadis yang masih dalam kondisi lemas itu. "Kita belum tahu apakah tulang-tulang itu hanyalah sebuah replika yang biasanya sering dipajang di lab Anatomi, atau itu benar-benar asli. Gue masih curiga, ini hanya lah  prank atau apa pun itu yang berbau lelucon." "Tapi, bagaimana dengan darah itu? Tadi begitu sampai di lokasi, hidung gue  langsung mencium bau amis darah, lalu mata matu gue langsung menangkap bungkusan itu yang berisi—" Arisa terdiam. Ia melirik ke arahku. "Apa lo melihat arwah di samping tengkorak itu?" tanya Arisa penasaran. "Gak ada. Makanya, gue masih belum bisa mastiin itu tuh tulang-tulang asli atau cuman replika doang." Tiba-tiba  datang segerombolan satpam. Mereka menyuruh semua mahsiswa dan mahasiswi yang berkerumun di dekat barang bukti untuk menjaga jarak. Dan tidak berselang lama, ambulans yang dikawal oleh kepolisian tiba di lokasi TKP. "Ini beneran?" tanya Pak Armus  yang baru saja tiba dengan ekspresi  wajah cemas. "Iya, Pak!" ucap kami berdua. "Kapan kejadiannya?" tanya Pak Armus lagi. "Baru aja, Pak. Ada sekitar lima belas menit yang lalu," jawabku. "Kasian, yah!" ujarnya. Arisa menganggukkan kepalanya. Aku menatap Pak Armus. Saat menyadari aku sedang memandangnya, ia terlihat salah tingkah. "Kamu kenapa liatin saya seperti itu?" tanyanya. "Kata Arisa, Bapak bisa melihat mahluk-mahluk tak kasat mata," ucapku. "Iya," ucapnya. "Apa Bapak melihat arwah atau mahluk astral di sana?" Tanyaku. Sebenarnya, aku bukan mau menguji kemampuan Pak Armus. Tapi, entah mengapa pertanyaan ini keluar begitu saja dari mulutku. Padahal aku tahu, pasti beliau juga tidak akan melihat apa pun di sana. "Iya, saya melihat arwah di sana," jawabnya. Aku benar-benar terkejut mendengarnya. Apa dia tidak salah lihat? Atau aku yang tidak melihat ada sesuatu di sana? Tapi, sejauh ini aku tidak pernah salah melihat arwah-arwah yang melintas di depan, belakang, kiri, kanan, atas, dan bawahku. Karena penasaran aku kembali mengajukan satu pertanyaan. "Menurut pengelihatan Bapak, arwah pemilik tulang-tulang itu laki-laki atau perempuan," tanyaku lagi. Ia menatapku sambil menaikkan satu tangan di depan bibirnya.  "Kita jangan membahas hal ini. Takutnya, arwah dia semakin sedih kalau tahu ada yang sedang membicarakannya," ucap Pak Armus. Dahiku berkerut. Itu karena aku tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Pak Armus. Sejak kapan arwah sedih kalau tahu ada yang sedang membicarakannya? Yang ada, mereka malah tertarik untuk berinteraksi dengan kita. Apalagi dengan orang-orang yang memiliki kemampuan sepertiku. Kenapa aku jadi meragukan kemampuan Pak Armus, yah? Aku ingin tidak mempercayainya. Tetapi, mahkota kecil yang ada di atas kepala Pak Armus mengatakan bahwa dia juga memiliki kemampuan itu. Para petugas medis telah membawa semua yang ada di dalam plastik itu. Sebelum dibawa,  polisi  sempat mengambil beberapa gambar sebagai dokumetasi.  Setelah semuanya selesai, mereka pun meninggalkan TKP.  Kini yang teringgal hanyalah para satpam yang ditugaskan untuk membubarkan kerumunan yang semakin padat. "Bagaimana kalau kita kembali ke Fakultas?" saran Pak Armus. Aku dan Arisa menyetujuinya. Kami bertiga pun kembali ke Fakultas. Sesampainya di sana, aku dan Arisa menyodorkan hasil review kami. Setelah mendapat arahan dari Pak Armus, kami berdua segera pulang ke rumah. Tetapi sebelum pulang, terlebih dahulu kami mendatangi kedai ice cream favorit kami. Karena hari ini Arisa berjanji untuk membelikanku ice cream, jadi aku akan pesan banyak-banyak. "Hari ini kita apes banget yah, Sa," ucap Arisa begitu sampai di apartemenku. "Sebenarnya, banyak kejanggalan yang gue dapat hari ini. Tapi yaudah lah. Mungkin gue lagi banyak capek jadi mikirnya agak berlebihan," ucaku. "Gue juga sih sebenarnya. Tapi, daripada mikirin sesuatu yang bisa ngebuat mood kita berantakan atau otak kita jadi capek berpikir keras, mendingan kita happy-happy. Lupain semua yang terjadi. Dan seperti yang lo bilang tadi, semoga kejadian hari ini hanya lah lelucon aja," ucap Arisa. Aku mengangguk setuju. Kami pun melangkah masuk ke dalam kamarku untuk mengistirahatkan tubuh.                                                           ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ Senin, 17 Februari 2020.    Hari ini tepat satu minggu setelah peristiwa yang menggemparkan di seluruh Universitas. Setelah kejadian itu, Robin kembali melarangku ke kampus untuk sementara waktu. Dan bukan cuman aku saja, ia bahkan melarang Arisa juga. Karena tidak ada yang bisa dilakukan selain membersihkan, memasak, nonton, baca novel dan juga komik, pagi ini aku sengaja menyetel video senam Zumba di TV lalu mengikuti intruksi dari pelatih yang ada di dalam layar tersebut. "Wah, tumben banget Kakak olahraga? Biasanya, kan abis beres-beres langsung rebahan di depan TV sambil nonton Upin dan Ipin serta sederet kartun lainnya," ucap Robin yang baru saja keluar dari kamarnya. Aku tidak meresponnya. Aku hanya ingin fokus dengan apa yang kulakukan saat ini. "Tadi malam Pak Malvin tanyain kabar Kakak," ucapan Robin seketika membuat kakiku terkilir. "Aw ...," rintihku. Robin langsung lari menghampiriku. "Kakak kenapa?" Ia membantuku untuk bangun dan membawaku menuju ke sofa. "Kaki mana yang sakit, Kak?" tanya Robin cemas. Beberapa detik setelah jatuh, entah mengapa perasaaku mendadak lemas.  Aku menunjuk kaki sebelah kanan. Kakiku benar-benar terasa nyeri sampai ke tulang-tulangnya. "Mau Robin bawa ke rumah sakit?" Aku menggeleng. "Gak usah dek. Ini cuman keseleo biasa. Entar juga baikan," jawabku. "Trus Robin mesti ngapain?" tanyanya. "Kamu siap-siap aja ke kampus," jawabku. "Kakak serius gak apa-apa? Robin bisa aja izin untuk—" "Kakak gak mau kamu membolos. Gak apa-apa, kamu pergi aja. Kalau ada apa-apa Kakak bisa langsung telepon kamu atau Arisa. Jadi, gak usah khawatir," ucapku memotong ucapannya. Robin menatapku sejenak. "Baiklah, Kak. Tapi janji yah kalau ada apa-apa, Kakak harus segera hubungi aku," ucapnya. "Kakak janji." Robin mengangguk, lalu mulai pergi untuk bersiap-siap. Syukurlah, aku membuat Robin lupa dengan pembahasan mengenai Malvin. Entah mengapa semenjak hari itu, aku selalu saja salah tingkah ketika mendengar segal hal tentangnya. Aku sepertinya harus berkonsultasi dengan Arisa mengenai segala keanehan yang kurasakan. "Kak!" Robin tiba-tiba keluar dari kamarnya. "Iya." "Kakak harus tahu info ini." Robin duduk di sampingku dengan handuk yang masih terpasang dilehernya. "Info tentang apa?" tanyaku penasaran. "Kakak tahu kan penemuan kerangka tulang utuh yang satu minggu yang lalu ditemukan di kampus?" "Tahu! Kan Kakak sendiri yang lihat bareng Arisa juga," jawabku. "Tenyata itu adalah tulang benulang dari mahasiswi yang sempat menghilang beberapa minggu yang lalu," ucapnya. Mendengar kabar itu, aku benar-benar sangat terkejut. "Kamu yakin itu bukan hoax?" tanyaku lagi. "Aku lihat berita ini langsung dari akun official kampus. Jadi, tidak mungkin itu hoax," jawabnya. Berarti, saat ini status kampus sudah tidak aman. Karena di dalamnya terdapat seorang psikopat berdarah dingin masih dibiarkan berkeliaran begitu saja.  ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ "Bagaimana Kaki lo?" tanya Arisa padaku. Ia baru saja tiba di apartemen. "Udah agak mendingan. Thanks yah lo mau temenin gue," ucapku. "Lo kayak orang lain aja deh pake terima kasih segala! Ini tuh udah kewajiban gue sebagai seorang sahabat sejati," ucapnya. Ia duduk di sampingku . Aku tersenyum mendengar ucapannya. "Gue terharu banget!" Setelah Robin pergi, aku menghubungi Arisa untuk menemaniku di apartemen. Sebenarnya selain ingin ditemani, aku juga ingin menceritakan tentang segala keanehan yang kurasakan ketika mendengar, melihat, atau mengetahui segala hal tentang Malvin. "Lo ngapain juga sih nari zumba gak ngajak-ngajak gue?" "Gue sebenarnya gak ada rencana. Ini kayak semacam membrantas rasa bosan gue aja," jawabku. "Ceritain kronologinya, kenapa lo sampai jatuh seperti ini?" Aku pun menceritakan semuanya dari awal. Arisa tertawa terbahak-bahak. "Lo bego banget sih!" "Gue gak bego, yah! Namanya juga kecelakaan," ucapku kesal. "Eh, tapi, lo beneran gak ada rasa sama Pak Malvin?" tanyanya. Aku menatap Arisa lekat-lekat. "Rasa? Maksudnya rasa apa? Emang Malvin ada rasanya?" Arisa menepuk jidatnya. "Hadeh! Maksudnya tuh, lo ada rasa suka gak sama Pak Malvin?" Aku berpikir sejenak. "Sepertinya biasa aja deh!" "Trus kenapa lo jatuh sampai keseleo begitu, hanya karena mendengar namanya saja? Nai, lo emang gak pernah suka sama cowok? Maksud gue cowok dunia nyata yah, bukan yang mahluk halus?" "Gak pernah!" jawabku. "Hah? Seriusan?" Aku mengangguk. "Makanya gue mau ceritain semuanya sama lo tentang keanehan yang selama ini gue rasain,""ucapku. "Oke, oke. Lo ceritain semuanya sama gue," ucapnya. Aku pun menceritakannya semuanya. "Nai, itu tandanya lo jatuh cinta sama Pak Malvin!" Aku tersentak kaget mendengar ucapan Arisa. "Lo jangan ngasal, yah!" Arisa menggelengkan kepalanya pelan. "Gue gak ngasal. Ini adalah faktanya, Nai. Lo harus terima kalau lo sebenarnya jatuh cinta sama Pak Malvin," ucapnya lagi. "Gue gak ada waktu untuk pacaran, Sa." Arisa tertawa lagi. "Naion sayang, bukan berarti ketika kita suka sama orang, kita harus pacaran sama dia." "Sejujurnya, gue gak ngerti soal cinta-cintaan seperti ini," ucapku lemas. "Gue tuh gemes banget tau gak sih sama lo!" ucapnya. "Trus gue mesti ngapain, Sa?" tanyaku. "Yah itu tergantung sama lo. Ada dua tipe cewek kalau sedang jatuh cinta seperti ini. Yang pertama, memilih memendam dan menunggu sampai ada sinyal dari doi. Dan yang kedua adalah memilih untuk mengutarakannya langsung ke doi tentang perasaanya." "Gue akan memilih opsi ke dua. Gila aja! Gue gak punya keberanian sebesar itu. Tapi, aku sebenarnya berniat menghilangkan perasaan ini," ucapku. "Kenapa? Lo takut ditolak?" tanya Arisa. "Bukan." "Oh, gue tahu. Lo pasti takut bertepuk sebelah tangan kan?" Aku mengangguk. "Tapi, yah, Nai. Gue kok ngerasa kalau Pak Malvin juga ada feeling sama lo," ucapnya. "Semoga gak beneran. Soalnya, aku akan coba hilangin rasa ini. Toh, gue juga gak pernah berhubungan lagi sama dia. Jadi, semuanya akan menjadi lebih mudah," ucapku optimis. "Trus bagaimana kalau Pak Malvin tiba-tiba nyatain perasaannya sama lo?" "Itu gak mungkin terjadi. Dia bukan tipe orang yang nunjukin perasaanya. Aduh, kalau dipikir-pikir lagi, gue dan Malvin bukan lah pasangan yang tepat, serasi, atau apalah itu. Yah, karena pada dasarnya karakter kami sangat bertolak belakang," ucapku. "Sayang, pemikiran lo itu salah besar. Justru, terkadang perbedaan itu lah yang membuat kalian semakin lengket, langgeng, dan juga bahagia," ucap Arisa. "Tau deh. Yang jelas, aku akan berusaha lupain Malvin." Aku terdiam sejenak. "Sa, bagaimana kabar lo dan Pak Armus?" Arisa tersenyum malu. " Sebenarnya, belakangan ini kami semakin dekat." "Wah, bagus dong!" ucapku sambil tersenyum. Raut wajah Arisa berubah menjadi serius. "Nai, kemarin kan gue tanya ke dia masalah penemuan tulang-benulang itu. Trus, dia bilang sempat melihat arwah dari gadis yang menjadi korban itu," ucap Arisa. Baru kali ini aku benar-benar tidak melihat apa pun di sebuah lokasi TKP. Dari dulu, tiap kali aku jalan lalu tidak sengaja melewati sebuah lokasi yang menjadi tempat kejadian perkara, aku pasti masih melihat sosok orang-orang yang telah meninggal itu. "Gue juga sempat nanyai waktu kita masih di lokasi TKP. Dan, seperti yang lo bilang tadi, dia melihat arwah gadis itu. Sedangkan aku tidak melihat apa pun di sana," ucapku. "Mungkin saat itu lo lagi capek, makanya gak bisa kelihatan," hibur Arisa. "Gak. Gue gak capek. Lagian, kalau gue capek bukannya gak bisa lihat. Malah, mereka semakin ingin mendekat." "Oh, gitu." Arisa memegangi kakiku, lalu memijatnya. "Kalau gue pijat kayak gini, sakit gak?" "Gak, kok." Aku teringat sesuatu. "Sa, lo belum tahu informasi hari ini mengenai penemuan satu paket kantong plastik berisi tulang- benulang itu?" Arisa menggelengkan kepalanya. "Ternyata, semua tulang dan juga dress putih itu adalah milik salah satu mahasiswi yang menghilang di kampus kita," ucapku. Mulut Arisa meembentuk huruf O. "Seriusan? Lo dapat info dari mana?" "Dari Robin. Karena penasaran, gue langsung mencari akun official kampus untuk mengetahui beritanya secara pasti." "Ini benar-benar gila! Trus pelakunya ketangkap, gak?" tanya Arisa lagi. "Sayangnya, gak. Ini lah yang gue khawatirkan. Gue takut kalau semua mahasiswi yang menghilang itu—" Aku tidak kuat melanjutkan perkataanku karena aku merasa ngeri sendiri. "Ya, Tuhan! Gue berharap mereka semua selamat. Dan penjahatnya segera tertangkap," ucap Arisa. "Amiin ..." Kruuuuk ... Suara perutku terdengar sangat lantang. Sangking lantangnya, Arisa bahkan terkejut mendengarnya. "Lo belum makan?" tanya Arisa. Aku tersenyum kecut. "Belum." "Kenapa gak bilang-bilang sih! Tau gini kan gue tadi singgah beli makan dulu," celotehnya. "Bagaimana kalau kita delivery aja?" Aku mengangguk setuju. "Pizza aja, gimana?" tawar Arisa lagi. Aku menaikkan kedua jempol tangaku.                                                                        ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ                                                                                    Bersambung      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD