Saat ini aku dan Malvin sudah berada di dalam rumahnya. Sebelum ke sini, aku memanggil Arisa masuk ke dalam kamarku kemudian mulai menceritakannya secara singkat. Setelah mengetahui semuanya, ia pun mengerti kondisiku.
Arisa sempat curiga kalau aku dan Malvin mempunyai hubungan yang special. Tetapi, aku pastinya membantah hal itu. Yah, karena faktanya memang kita tidak ada hubungan apa pun.
Tadinya, aku tidak tega meninggalkan Adikku yang masih sakit. Tapi, begitu Arisa dan Alika mengatakan mereka berdua yang akan mnjaga Robin, aku benar-benar merasa terharu. Untuk Alika, aku akan memberinya nilai plus untuk menjadi calon Adik iparku.
Malvin mempersilahkan aku duduk di ruang tamu. "Aku tidak tahu, kenapa semua asisten rumah ini tiba-tiba mengatakan ingin berhenti bekerja. Mereka mengeluh selalu mendapat teror dari sosok perempuan berbaju merah. Mahluk yang seperti kamu katakan sebelumnya."
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, berharap menemukan sosok yang menjadi biang pengacau di rumah ini.
"Sebenarnya, aku sudah tahu masalah yang ada di rumahmu," ucapku.
Mata Malvin melebar. "Kamu tahu dari mana?"
"Semalam, Ibu kamu mendatangiku. Beliau bercerita tentang masalah yang ada di rumah ini. Diantara semua orang cuman kamu kan yang tidak pernah mendapat gangguan?" tanyaku.
Malvin mengangguk.
"Ada yang ingin ku sampaikan mengenai nasib arwah Ibumu yang masih terlunta-lunta di dunia ini. Namun sebelum itu, aku mau kamu percaya dengan apa yang kukatakan nanti. Kalau kamu tidak mempercayaiku, semua masalah ini akan menjadi tambah rumit," ucapku.
Ia menatapku tanpa berkata apa pun.
Aku menarik napas. "Kamu harus tahu bahwa di dunia ini ada manusia yang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang-rang pada umumnya. Saat mata kamu bisa melihat betapa indahnya dunia dan ramainya manusia berlalu lalang. Ada segelintir orang yang memiliki dua fungsi pengelihatan. Pertama, ia bisa melihat dunia ini sekaligus dunia yang berbeda dimensi dengan kita sebagai manusia. Yang kedua, ia juga bisa mahluk-mahluk yang bukan manusia. Orang-orang seperti mereka mendapat julukan sebagai 'anak indigo'. Dan aku adalah salah satu dari mereka."
"Apa kamu menyukai kelebihan itu?" tanya Malvin tiba-tiba.
"Aku tidak menyukainya dan juga tidak membencinya. Jadi, bisa dibilang aku merasa biasa aja mendapat kelebihan itu. Yang selalu menjadi prinsipku ialah dari pada kita mengeluh dengan apa yang Tuhan telah berikan, lebih baik kita menerima lalu mensyukurinya," jawabku.
Kedua ujung bibir Malvin terangkat membuatnya seperti sedang tersenyum. Namun begitu aku menatapnya, senyuman itu menghilang dari wajahnya.
"Jadi, apakah kamu bisa mengusir mahluk yang mengganggu semua asisten di rumah ini?" tanyanya.
"Aku bisa. Tapi kamu percaya kan sama aku?" tanyaku memastikan.
Wajahnya nampak mengeras. Ia seperti ingin mengakuinya tetapi tidak ingin langsung mengucapkannya. Sepertinya Malvin ini serang tsundere deh. Karena belakangan ku perhatikan, ia menunjukkan gejala yang membawanya menuju ke sifat tersebut.
"Karena orang-orang di rumah ini melihat sosok yang kamu katakan kemarin, terpaksa aku harus mempercayainya."
"Baiklah! Meskipun hanya terpaksa, aku anggap kamu memang sudah percaya," ucapku dengan ekspresi wajah yang terkesan bodo amat. Aku melirik ke kanan dan ke kiri mencari sosok Ibunya Malvin. Namun semenjak Malvin ke rumahku sampai aku sudah datang ke rumah ini, beliau belum juga menujukkan dirinya.
"Apa kamu sudah mengikhlaskan kepergian ibumu?" tanyaku pada Malvin.
Eskpresinya berubah. "Kenapa kamu menanyakan hal itu?" ucapnya dingin.
"Kamu harus mengikhlaskan Ibu kamu. Asal kamu tahu, yang membuat arwah beliau terkatung-katung selama ini ialah karena kamu dan juga Ayahmu belum mengikhlaskan kepergiannya. Apalagi, ditambah kalian melakukan ritual-ritual aneh. Aku berbicara seperti ini demi Ibu kamu. Beliau berkata padaku, ia mulai lelah terus berada di dunia ini," ucapku panjang lebar.
"Apa benar Ibuku berkata seperti itu?"
Aku mengangguk.
"Jujur, selama ini aku memang belum bisa mengikhlaskan kepergiannya. Aku berusaha untuk melakukan segala hal untuk membuat Ibuku tidak pergi dan seakan-akan masih berada di rumah ini. Begitu pun dengan Ayahku. Kami berdua sangat menyayangi Ibu," ucapnya sedih. "Tapi, aku baru tahu kalau semua yang kulakukan selama ini malah membuatnya tersiksa."
Hati terenyuh mendengar ucapannya. Dan disaat seperti ini aku bersyukur kepada Tuhan karena masih memberi kedua orangtuaku umur yang panjang. Malvin tidak seberuntung aku yang masih memiliki seorang ibu di sampingku.
"Kamu mau melihat ibumu bahagia?"
"Aku selalu ingin Ibu merasa bahagia," ucapnya.
"Aku tahu semua ini terasa sangat berat. Tapi, satu hal yang mesti kamu ingat. Ibu kamu adalah orang yang baik. Beliau pasti mendapat kebahagiaan di alam sana. Tugas kamu saat ini adalah mendoakan beliau. Kakekku pernah berkata padaku, orang-orang yang sudah meninggal akan selalu mengawasi serta menjaga kita di atas sana."
Malvin bangkit dari tempat duduknya. Ia mulai berjalan mendekatiku.
"Bisa kamu berdiri?" pintanya.
Aku langsung berdiri.
Malvin tiba-tiba menarikku ke dalam tubuhnya. Aku benar-benar terkejut. Entah mengapa jantungku lagi-lagi berdekat dengan sangat cepat.
"Jangan bergerak. Biarkan aku memelukmu sejenak," ucapnya lirih.
Dari nada suaranya, aku langsung bisa tahu kalau Malvin sedang menangis. Aku benar-benar memaklumi perasaannya saat ini.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRLῳ_ ῳ
Setelah memelukku, Malvin kembali ke tempatnya.
Suasana menjadi hening dam terasa berat. Aku benar-benar sangat membenci suasana yang seperti ini.
Prak!
Suara benda jatuh mengejutkanku dan juga Malvin.
"Tuan, Rani kesurupan!" ujar salah satu asisten rumah tangga Malvin.
Aku dan Malvin langsung mengikuti asisten itu menuju ke sebuah kamar kecil yang terletak di samping dapur.
"Hahaha ... hihihi ..." tawa gadis tersebut.
Begitu melihatnya, aku langsung bisa mengetahui siapa yang merasuki tubuhnya.
"Oi, jelek!" Semua orang yang berkumpul di tempat itu seketika terkejut mendengar ucapanku.
Mengetahui kedatanganku, gadis bernama Rani yang dirasuki oleh Kuntilank merah itu naik pitam lalu menatap penuh kebencian padaku.
"Lo udah jelek banyak maunya, lagi! Kalau di rumah ini lo udah gak dikasi makan, yaudah pergi aja. Jangan bikin resah orang sini dengan nunjuki muka lo yang jelek. Udah kurus, rambutnya gak pernah disampoin, kukunya gak pernah tersentuh pemotong kuku, muka lo ancur lagi! Harusnya tuh lo malu nunjukin diri yang gak jelas kayak begitu!" ujarku berapi-api.
"Huaaaaa ...," eramnya marah.
Ia mulai menghambur-hamburkan barang yang ada disekitarnya.
"Bagaimana ini, Non?" ucap wanita paru bayah yang berada tidak jauh dariku.
Aku menunjuk dua orang laki-laki yang juga ada di samping pintu masuk.
"Kalian tolong pegang dia," perintahku.
Mereka berdua masuk lalu memegangi gadis itu.
"Aku akan membunuh kalian semuaaaa! Hihihi ...," ucapnya.
Aku mulai mendekati gadi itu. "Main bunuh-bunuh aje nih Mbak Kunti."
"Huaaa ..., jangan mendekat! Kalau kau mendekat, aku akan mengambil tubuh gadis ini! hihihi ..."
Aku memanggil menggunakan batin kedua penjagaku yaitu harimau putih dan juga macan belang. Kedua sosok itu merupakan pemberian dari Kakek. Beliau berkata, meski pun berani aku tetap harus memiliki penjaga agar nantinya tidak ada yang berani macam-macam denganku. Aku sengaja memanggil mereka agar bisa membantuku kalau saja kondisinya menjadi tidak kondusif
"Kalau mau ambil, silahkan saja!" Lagi-lagi semua orang termasuk Malvin langsung menatap horror ke arahku.
"Kamu jangan sembarangan bicara!" ujar Malvin.
Aku menoleh ke arahnya. "Tidak usah khawatir, aku bisa menangani ini," ucapku.
Aku kembali menatap ke arah Kunti itu. "Jadi, kapan lo mau ambil gadis itu?" tanyaku.
Kunti itu masih menatap dengan penuh amarah padaku. "Aku akan membunuhmu terlebih dahulu."
Para penjagaku muncul di samping kiri dan juga kananku, membuat nyali kuntilanak itu seketika menciut.
"Oh, gitu. Baiklah! Kapan kamu mau membunuhku?" tantangku.
Kunti itu seketika menunduk. "Ampuun!"
Senyumku mengembang. Aku memegang ubun-ubun gadis itu, kemudian membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang diajarkan oleh Kakekku.
"Paanass! Tolooong! Ampuun! Huaaa ...," teriaknya. Setelah itu gadis tersebut jatuh tak sadarkan diri. Semua orang langsung mendekatinya lalu membawanya ke ranjang.
Kedua penjagaku mengatakan mereka yang akan membereskan sisanya. Setelah itu mereka langsung pergi begitu saja.
"Terima kasih, Non," ucap wanita paruh baya tersebut.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
Ketika berbalik, aku mendapati Malvin tengah menatapku.
"Ayo, kembali ke ruang tamu," ajakku lalu berjalan mendahuluinya.
Tidak cukup lima langkah aku berjalan, tiba-tiba sosok Ibu Malvin muncul persis di hadapnku. Beliau tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Kamu kenapa berhenti jalan?" ucap Malvin dengan suaranya yang berat.
"Tidak apa-apa. Aku cuman melihat Ibu kamu," ucapku.
Tiba-tiba Malvin menarik tanganku secara paksa, kemudian membawaku naik menuju ke kamar Ibunya.
Saat masuk ke dalam ruangan ini, aku merasa sedikit lebih tenang. Pasalnya, semua sesajian, makanan, dan dupa yang tadinya ada di dalam kamar ini, kini sudah tidak ada lagi. Betul yang dikatakan Ibu, Malvin sudah memperayaiku. Tapi, dia hanya malu untuk mengatakannya. Dasar Tsundere!
"Tanganku sakit!"
Ia langsung melepaskan genggamannya yang sangat erat.
"Kamu kenapa sih?" tanyaku.
"Boleh kah aku bertemu dengan Ibuku untuk yang terakhir kalinya? A—aku saat itu tidak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada Ibuku," ucapnya sedih.
Entah mengapa, saat ini aku tiba-tiba mengingat Raka.
"Aku bisa. Tapi, kamu hanya akan melihatnya. Kamu tidak bisa menyentuhnya," ucapku.
"Kenapa?"
"Karena ia memang tidak bisa tersentuh. Tapi sebaliknya, ia bisa menyentuh kamu. Sentuhannya akan seperti hawa dingin saja," jawabku.
"Baiklah, itu tidak masalah. Yang jelas, aku bisa melihat Ibuku," ucapnya.
Aku mengangguk.
"Kamu mendekat ke sini," perintahku. Saat jarak kami sangat dekat, aku langsung merasa gugup.
"Tutup matamu." Ia pun mulai menutup kedua matanya.
"Bisa kah kamu agak menuduk sedikit?"
"Baiklah." Jawabnya.
Aku mulai memegang ubun-ubunnya, kemudian membaca sesuatu yang pernah diajarkan oleh Kakek yang bertujuan untuk membuka mata batin seseorang. Sebelumnya, aku tidak pernah melakukan hal tersebut. Ini adalah pertama kalinya aku membuka mata batin seseorang. Tapi, aku tidak ingin terlalu membukanya untuk Malvin. Aku takut dia pingsan melihat mahluk-mahluk lain yang memiliki bentuk yang tidak lazim.
"Panggil Ibu kamu di dalam hati."
Malvin mengangguk.
"Apa kamu mendengar suara?" tanyaku.
"Iya, aku seperti mendengar suara Ibu," jawabnya lirih.
Aku menoleh ke arwah Ibu yang sudah berada tidak jau dari Malvin.
Ibu tersenyum menatapku.
"Sekarang, kamu bisa membuka mata."
Perlahan Malvin membuka matanya. Ia menatapku lalu menaikkan satu alisnya.
"Lihat ke samping kanan," ucapku.
Ia pun menoleh ke kanan. Matanya melebar, bibirnya bergetar seperti sedang menahan tangis.
"Ibu ...," ucapnya lirih. Dan disaat bersamaan air mata Malvin mengalir di kedua pipinya.
Hatiku bahagia sekaligus sedih menyaksikan pertemuan Ibu dan Anak ini.
Malvin mendekati Ibunya. "Ibu ...," ucapnya lagi.
"Anakku..."
"Maafkan Malvin, Bu. Malvin tidak tahu kalau selama ini Ibu tersiksa."
Beliau tersenyum. "Tidak apa-apa, Nak. Ibu bisa memaklumi kondisi kamu dan juga Ayahmu. Maafkan Ibu karena tidak bisa tinggal lebih lama bersama kalian."
"Aku ingin memeluk Ibu. Tapi—"
Ibu Malvin melangkah maju mendekati anaknya. Beliau mengelus kepala anaknya.
"Ibu juga sangat ingin memelukmu, Sayang. Tapi apa daya, Ibu juga tidak bisa melakukan itu. Ibu hanya bisa menyentuhmu seperti ini, Nak."
Malvin menangis sejadi-jadinya.
Teng ... teng ... teng ...
Tiba-tiba terdengar suara jam yang sangat keras membuat aku dan Malvin segera menutup kedua telinga.
"Sepertinya, ini saatnya Ibu untuk pergi."
Malvin menatap Ibunya dengan masih berlinang air mata. "Maafkan Malvin karena sudah membuat Ibu susah seperti ini. "
"Tidak apa-apa, Nak. Kamu jangan minta maaf terus. Kamu tidak salah, Sayang. "
"Bu, terima kasih karena sudah merawat Malvin sampai sebesar ini. Meskipun sangat berat melepaskan Ibu, Malvin akan berusaha untuk ikhlas. Malvin juga akan memberitahu ini kepada Ayah. " Malvin menarik nafasnya sambil menahan tangis. "Malvin berharap Ibu bahagia di sana."
Mendengar ucapan Malvin, Beliau tersenyum dengan air mata membasahi pipinya.
"Ibu bersyukur kepada Tuhan karena telah memberi seorang anak lelaki yang sangat tampan dan memiliki hati yang baik."
Suara jam itu kembali berbunyi.
"Ibu akan benar-benar pergi sekarang," ucapnya. Beliau menoleh ke arahku. "Terima kasih, Sayang. Berkat kamu, Ibu bisa pergi dengan tenang seperti ini. " ucap Beliau lagi.
Aku hanya mengagguk sambil tersenyum. Hatiku juga merasakan sesak ketika Beliau mengatakan 'sudah ingin pergi'.
"Baiklah!" Ibu seperti sedang menarik napas. "Ibu akan mendoakan untuk kebahagiaan kalian," ucap Beliau. Setelah itu, ia mulai berjalan menuju ke cahaya yang sangat terang benderang yang terletak di sudut ruangan ini.
Saat hendak masuk, Beliau kembali berbalik kemudian melambaikan tangannya. "Sampaikan salam Ibu pada Ayahmu," ucapnya kepada Malvin. Beliau pun masuk ke dalam cahaya itu, lalu menghilang begitu saja.
Melihat Malvin yang masih menatap kea rah sudut ruangan itu, aku mulai mendekatinya.
"Kamu harus kuat demi Ibu kamu," ucapku berusaha menenangkannya.
Tiba-tiba ia kembali menarik tubuhku ke dalam dekapannya. Ini adalah kali kedua ia memelukku.
"Terima kasih, Naion," ucapnya lirih.
Aku terkejut. Yah, bagaimana tidak, aku mendengar ia memanggil namaku untuk yang pertama kalinya. Biasanya, ia tidak pernah memanggil namaku. Kami berbicara tanpa memanggil nama masing-masing. Entah mengapa, begitu ia memanggil namaku hatiku berdesir dan jantungku lagi-lagi memacu dengan sangat cepat.
ῳ_ ῳ AUGURY GILR ῳ_ ῳ
BERSAMBUNG
Hai, teman-teman ....
Bagaimana kabar kalian hari ini?
Aku berharap, kalian semua dalam keadaan sehat walafiat, yah!
Jangan lupa jaga kesehatan, rajin mencuci tangan, dan stay di rumah aja.
Happy Reading ....