Rabu, 5 Februari 2020
Jam 01.00
Sayup-sayup aku mendengar suara pintu kamarku terbuka. Posisi tidurku saat ini sedang membelakangi pintu tersebut. Aku tidak tahu siapa yang membuka pintu itu. Namun, satu hal yang bisa ku pastikan. Dia bukan manusia.
Sesuatu yang terasa licin dan juga dingin menyentuh bagian punggungku mengakibatkan seluruh tubuhku seketika menegang. Setelah punggung, ia kemudian menjalar ke bagian kepala.
Hawa yang tadinya dingin berubah menjadi panas ketika ia mulai mendekat ke telingaku. Suara seperti bisikan itu tiba-tiba terdengar persis di samping telingaku.
"Nak, tolong bantu Ibu," mendengar suaranya yang familiar, aku langsung berbalik. Tadinya ku pikir ada sosok mahluk lain yang ingin menjahiliku. Namun, ternyata dia adalah Ibu dari Malvin.
"Ibu?"
Beliau tersenyum.
Aku bangkit, kemudian mengambil posisi duduk. "Ibu datang ke sini? Kangen, yah?" godaku.
"Kamu ini bisa aja," ucap Ibu. "Maaf, Nak karena Ibu datang malam-malam seperti ini. Ibu tidak tahu mau ke mana lagi."
"Memangnya ada apa, Bu? Apa ada masalah?" tanyaku.
"Setelah kamu datang dan memberitahu Malvin tentang sesajian dan yang lainnya itu hanya mengundang mahluk-mahluk lain, dia langsung menyingkirkan semua barang-barang tersebut. Mengetahui bahwa tidak ada lagi persembahan, perempuan berbaju merah itu membuat kacau se-isi rumah dengan menampakkan dirinya."
Sebenarnya, aku tidak terkejut mengetahui hal itu. Karena, aku memang sudah memprediksinya. Mahluk-mahluk seperti mereka, jika tidak lagi diberi sesuatu seperti contohnya sesajian, maka mereka akan marah dan mulai melakukan hal-hal yang negatif seperti menunjukkan sosoknya atau menimbulkan suara seperti menangis atau tertawa.
Aku terdiam sejenak. "Apa Malvin juga melihat perempuan itu, Bu?"
"Tidak. Malah, dia satu-satunya di rumah yang tidak melihat perempuan itu. Mulai dari asisten rumah tangga, penjaga kebun, bahkan para sopir, semuanya mendapat gangguan. Dan ketika mereka menyampaikan hal itu kepada Malvin, ia tidak mempercayainya. Baru saja Ibu mendengar pembicaraan para asisten rumah tangga. Mereka mengatakan akan berhenti bekerja karena tidak tahan dengan gangguan yang ada. Dan mereka ingin menyampaikan pengunduran diri mereka besok secara serentak," ucap Ibu.
"Bahaya dong, Bu!"
"Iya. Makanya, Ibu langsung mendatangi kamu dan meminta tolong untuk mengusir perempuan itu dari rumah," ucap Ibu sedih.
Sejujurnya, aku tidak ingin lagi bertemu dengan Malvin. Aku tidak tahu bagaimana cara menghadapinya dengan karakter seperti itu. Tetapi, karena Ibunya datang ke rumahku meminta bantuan, aku tidak bisa menolak.
"Aku bisa aja bantuin Ibu. Tapi, aku tidak terlalu suka bertemu dengan Malvin," ucapku jujur.
"Kenapa, Nak?"
"Karena Malvin terlihat sangat mengerikan," ucapku.
Senyuman Ibu kembali mengembang. "Malvin anak yang baik kok, Nak. Cuman, kalau berhadapan dengan orang baru, dia memang terlihat menyebalkan," ucapnya membela Malvin.
Aku hanya tersenyum menanggapi perkataan Ibu.
Tiba-tiba terlintas dipikiranku mengenai nasib Ibu yang masih terlunta-lunta di dunia ini.
Aku menatap serius ke arah Ibu. "Aku pernah mendengar ibu mengatakan bahwa salah satu yang membuat arwah Ibu masih belum bisa pergi dengan tenang, karena Suami dan Anak Ibu melakukan hal menyimpang seperti itu. Kalau saja aku menolong Ibu untuk mengusir perempuan itu dari rumah, lalu Malvin tidak lagi melakukan ritual-ritual tersebut, apakah ibu akan pergi?"
"Iya, Ibu akan mudah untuk kembali. Tapi, kata sorang lelaki yang pernah bertemu dengan Ibu saat berada di alam para arwah, catatan ibu belum sempurna. Dan penyebabnya adalah Suami dan Anakku belum mengikhlaskan kepergian Ibu. Cara untuk bisa menyempurnakan catatan itu kembali, yaitu menghentikan ritual-ritual tersebut dan yang lebih penting adalah mereka harus mengikhlaskan Ibu pergi."
Mendengar ucapan beliau, aku merasa sedih.
"Aku akan membantu Ibu untuk memberitahu kepada Malvin," ucapku. "Yah, meski pun aku yakin dia pasti tidak akan mempercayai kata-kataku."
Ibu menggelengkan kepalanya. "Dia percaya denganmu, Nak. Kalau tidak, dia pasti masih meneruskan ritual-ritual itu setiap hari. Terima kasih banyak Nak, berkatmu penantian Ibu selama bertahun-tahun telah berakhir. Ibu sudah capek terlunta-lunta seperti ini.
"Sama-sama, Bu," balasku.
"Kalau begitu, kamu lanjut tidur. Ibu akan kembali ke rumah," ucapnya lagi.
"Iya, Bu."
"Selamat malam, Nak. Terim kasih sekali lagi."
Aku membalasnya dengan senyuman. Setelah itu, pintu kamarku kembali tertutup dan meski pun agak lama untuk bisa terlelap kembali, aku akhirnya bisa tertidur.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ
Cahaya matahari mulai menembus masuk ke dalam celah-celah horden di kamarku. Saat mulai membuka mata, benda yang paling ku cari sebelum bangun adalah ponselku. Setelah menemukannya, aku melihat jam yang tertera pada layarnya. Waktu menunjukkan pukul 07.30 pagi.
Sebelum benar-benar bangkit dari tempat tidur, terlebih dahulu aku meregangkan badan untuk membuat tubuhku lebih fresh. Sehabis itu, aku langsung bangun dan melakukan aktivitas di kamar mandi. Setelah selesai menyikat gigi, mencuci muka, dan membersihkan tempat tidur, aku langsung keluar kamar lalu mulai masuk ke dapur untuk membuat sarapan.
Aku melihat Robin berjalan masih dalam kondisi mengantuk. Ia datang menghampiriku yang sedang membakar roti.
"Kak, hari ini aku tidak ke kampus," ucapnya.
"Kenapa, Dek? Kamu gak enak badan?" tanyaku lalu memegang keningnya. "Astaga! Kamu demam, Dek. Sana, tidur lagi! Nanti kakak bakalan buatin sup," perintahku.
"Aku kena Flu, Kak. Gara-gara tadi malam setel AC-nya terlalu dingin," ucapnya sambil menggosok-gosok hidung.
"Iya, iya. Kalau begitu, kamu kembali ke kamar istirahat. Nanti Kakak sekalian bawain obat Flu."
"Baik, Kak," ucapnya sambil berjalan tertatih dengan wajah yang masih bengkak khas baru bangun tidur.
Treet ... treet ... treet ...
Ponselku bergetar. Nama Arisa nampak di dalam layarnya. Aku pun langsung menjawab panggilan tersebut.
"Halo ..."
"Halo, Nai!"
"Yap!"
"Lo ke kampus hari?" tanya Arisa.
"Sepertinya gak, Sa. Robin tiba-tiba kena Flu. Jadi, aku harus jagain dia hari ini. Kalau lo gimana?" tanyaku balik.
"Gue malah udah sampai di kampus. Hari ini kan gue ada kelas bareng angkatannya si Robin. Kasian Robin. Yaudah, habis kelas gue bakalan jengukin dia deh. Kamu tanya Robin yah mau makan apa, entar aku beliin," ucap Arisa dari balik telepon.
"Baiklah! Nanti aku tanyain dia."
"Yaudah, kalau gitu udah dulu, yah! Gue mau masuk dalam kelas," ucapnya.
"Sip," ucapku kemudian memutuskan panggilan tersebut.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ
12.00 siang.
Tok ... tok ... tok ...
Saat ini aku sedang memasak makan siang untukku, Robin, dan Arisa. Ketika sedang asyik masak, seseorang mengetuk pintu.
"Biar aku yang buka, Kak," Robin tiba-tiba bangkit dari sopa di depan TV. Karena ingin menonton, Robin tidak mau masuk ke kamarnya. Ia malah memilih untuk tiduran di sopa ruang tengah.
"Dek, biar Kakak aja. Kamu gak usah banyak gerak," ucapku.
"Gak apa-apa, Kak. Aku cuman bukain pintu kok. Kakak lanjut masak aja, siapa tau itu Kak Arisa yang datang." Ia mulai berjalan menuju pintu.
"Baiklah!"
Aku kembali memotong-motong bawang. Menu makan siang yang akan ku masak hari ini adalah Tumis kangkung, tempe bacem, ayam goreng, dan sambal cobek. Tadi aku sudah membuatkan Robin sup. Tapi, tidak tau dari mana ia tiba-tiba memintaku untuk membuat sayur tumis kangkung.
"Kak, lihat siapa yang datang," ucap Robin.
Aku masih menghadap ke kulkas untuk mengambil beberapa bahan makanan.
"Sa, lo langsung ke dapur dong bantuin gue," ucapku.
Hening.
Kenapa Arisa tidak bersuara? Biasanya, begitu masuk ke dalam apartemen ia langsung menuju ke dapur terlebih dahulu untuk melihat isi kulkas atau hanya sekedar mengambil air minum.
Saat menoleh ke arah ruang tengah, tubuhku mematung. Jujur, tidak tahu kenapa saat melihat lelaki itu lagi, jantungku seketika berdetak dengan sangat cepat. Apa sebenarnya yang terjadi denganku?
"Malvin?!"
Ia tersenyum tipis. "Hai!"
"Duduk dulu, Pak!" Robin mempersilahkan Malvin untuk duduk.
Malvin langsung duduk persis di samping Robin. Ia masih menatap ke arahku.
"Kakak sedang masak makan siang, Pak! Apa Bapak sudah makan?" tanya Robin tiba-tiba.
Malvin mengalihkan pandangannya ke Robin. "Belum," jawabnya jujur.
Oke, kenapa ucapannya itu tiba-tiba membuatku menjadi gugup?
Sepertinya, memang ada yang salah dengan diriku!
"Wah, bagus dong, Pak. Kita sekalian bisa makan bareng," ucap Robin senang.
"Dek, jangan banyak gerak yah kamu!" ujarku.
"Aku sudah sehat kok, Kak!" jawabnya.
"Kamu sakit?" tanya Malvin ke Robin.
"Iya, Pak. Aku sakit Flu," ucapnya.
"Kenapa kamu tidak memakai masker?" tanya Malvin serius.
Robin melirikku sejenak, kemudian menjawab pertanyaan Malvin. "Karena aku tidak bersin kok, Pak. Aku cuman demam, hidungku mampet dan tenggorokanku juga agak sakit," jawabnya.
"Gejalahnya memang seperti itu," ucapnya. "Kamu sudah minum obat?" tanyanya lagi.
"Sudah!" jawab Robin. "Ini obatnya," Robin memperlihatkan obat yang tadi ku berikan untuknya.
Sambil memasukkan ayam ke dalam wajan yang berisi minyak panas. "Kamu ada urusan apa datang kemari? Jangan tersinggung dengan pertanyaanku. Aku hanya penasaran. Dan lagi, kamu tau dari mana nomor apartemen ini?" tanyaku.
Meskipun tidak melihatnya, aku yakin Malvin saat ini sedang menatap ke arahku.
"Tenang saja, aku tidak tersinggung. Malah wajar kamu bertanya seperti itu. Aku tahu nomor apartemen ini karena aku mendatangi resepsionis, lalu menanyakan nomor apartemen kalian," ucapnya santai.
"Lalu, apa tujuan kamu ke sini?" tanyaku lagi.
"Aku datang mencarimu." Ucapan Malvin membuat aku seketika berbalik, Robin juga terlihat sangat kaget mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Rektor itu.
Aku menatap Malvin, dan begitupun sebaliknya. Kami saling berpandangan.
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan itu mengajutkanku. Aku langsung kembali memalingkan wajah menuju ke masakan yang saat ini di hadapanku.
Robin pergi membuka pintu.
Tidak berselang lama, suara Arisa terdengar sangat lantang memanggil namaku.
"Naaaaaaii—" suaranya seketika mengecil begitu melihat siapa yang sedang duduk di sofa ruang tengah.
"Pak Rektor?" Ia sangat terkejut melihat Malvin.
Ia menoleh ke arahku dan memberi kode yang bisa ku artikan seperti kenapa— Rektor kita—bisa ada di rumah lo?
Aku membalas kodenya dengan isyarat untuk tidak menanyakan hal itu saat ini. Arisa pun mengangguk.
Saat ini di samping Robin terdapat seorang perempuan berambut panjang. Wajahnya sangat cantik dan juga imut. Tubuhnya juga sangat tinggi. Aku benar-benar baru melihatnya.
Oh, mungkin dia teman Robin yang datang menjenguknya.
"Siapa itu?" tanyaku pada Robin yang membuat Adikku itu seketika salah tingkah.
"Oh, dia itu pacarnya Robin, Nai. Namanya Alika," jawab Arisa yang sontak membuatku terkejut.
Aku tidak percaya, Adikku Robin sudah memiliki seorang kekasih.
Kenapa aku merasa terkalahkan, yah?
ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ
Atmosfer di dalam apartemenku saat ini terasa sangat berat. Pasalnya, ada beberapa tamu yang sama sekali tidak ku duga tiba-tiba datang berkunjung. Bahkan, kami duduk saling berhadapan dengan makanan yang sudah ku sajikan di depan meja makan.
Robin juga memperkenalkan kepadaku pacar barunya. Selama ini yang ku tahu, Adikku itu tidak pernah berhuungan dengan gadis mana pun. Jadi, aku sebagai Kakak merasa sangat terkejut mengetahui bahwa Robin saat ini sudah memiliki kekasih.
"Kak, kenapa diam saja?" Robin menyadarkanku.
"Oh—iya, kalian bisa makan sekarang," ucapku.
Setelah berkata demikian, mereka semua termasuk Malvin langsung bergerak mengambil nasi serta lauk pauk yang tersedia.
"Nai, lo udah bedah jurnal yang kemarin di kasi sama Pak Armus, belum?" ucap Arisa memecah keheningan.
"Belum. Entar deh gue kerjain. Habisnya, Robin tiba-tiba sakit. Jadi, aku tidak bisa berpikir apa-apa dulu. Kalau lo gimana?" tanyaku balik.
"Gue juga belum. Hari ini tugas gue banyak banget! Numpuk malah!" jawabnya.
"Gimana kalau kita kerja bareng aja?" tawarku.
"Good idea! Besok kita ke MCD, yuk!" saran Arisa.
"Sip!" ucapku dengan menaikkan satu jempol tanganku.
"Kamu udah dapat jurnal?" Malvin tiba-tiba bersuara yang sontak membuat ketiga orang yang itu menatapku dengan pandangan yang tidak bisa ku artikan.
"Iya, aku sudah dapat," saat menjawab pertanyaan Malvin pun, mereka bertigas terkhusus Arisa masih tetap menatapku. Matanya membelalak ke arahku.
"Bagus lah kalau seperti itu," ucapnya lagi.
Suasana kembali hening.
Jujur, aku tidak pernah bisa tahan dengan situasi seperti ini. Rasanya benar-benar menyiksa lahir dan batin.
Aku melirik ke arah pacar Robin. Mengetahui aku melihatnya, Alika langsung menundukkan kepalanya. Senyumanku seketika mengembang. "Sejak kapan kamu suka sama Robin?" pertanyaan yang ku lontarkan membuat Robin tiba-tiba tersedak.
"Kamu tidak apa-apa, Dek?" tanyaku cemas.
"Tidak apa-apa, Kak," jawabnya cepat.
Aku kembali memandang Alika. "Jadi, apa jawabannya?" tanyaku lagi.
Alika terlihat salah tingkah. Begitu melihat reaksinya, aku jadi tidak enak. Pasalnya, nanti aku dikira sedang mengintrogasi dia, lagi! Padahah aku cuman sedikit tertarik dengan hubungan mereka.
"Kalau gak mau di jawab juga gak apa-apa, Dek. Aku cuman penasaran aja," ucapku lagi.
"Maaf yah, Kak. Aku bukannya gak mau jawab. Tapi, aku gak tahu mau jawab apa," ucapnya.
"Lagian, lo kenapa nanyanya gak pake basa basi dulu sih, Nai?" ujar Arisa.
"Gue kan gak pandai berbasa-basi," jawabku santai. "Kamu gak usah pikirin ucapanku tadi. Anggap aja, aku gak pernah nanya. Kamu lanjut makan," ucapku pada Alika sambil tersenyum.
Setelah menghabiskan makanan, kami semua berkumpul di ruang tengah untuk menikmati buah yang sudah ku persiapkan bersama Arisa.
Malvin menatapku. "Setelah ini kamu ada kerjaan, tidak?"
"Tidak. Memangnya kenapa?" tanyaku balik.
"Bagus. Aku akan membawamu ke rumahku," ucapnya santai tanpa memikirkan pandangan orang-orang yang berada disekitarnya.
Aku baru ingat. Ibu Malvin mendatangiku tadi malam. Mungkin kah dia akan membahas mengenai kekacauan di rumahnya? Kalau iya, aku juga akan memanfaatkan kesempatan ini untuk memberitahukan mengenai kondisi ibunya.
"Baiklah!" jawabanku lagi-lagi membuat Arisa, Robin, dan juga Alika terkejut mendengar ucapanku.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRLῳ_ ῳ
Bersambung