BAB 11 (Kasus)

2027 Words
Senin, 3 Februari 2020. Hari ini aku berencana untuk datang ke kampus, setelah meliburkan diri selama satu minggu lebih. Bukannya aku bermalas-malasan seperti yang sering kulakukan dulu. Namun kali ini, alasanku tidak ke kampus berbeda dibandingkan sebelumnya. Yang menjadi penyebabkan diriku tidak menginjakkan kaki di kampus karena Robin melarangku ke sana untuk sementara. Terjadi kasus yang entah benar atau tidaknya aku pun tidak tahu. Tetapi, menurut yang ku dengar dari adikku, beberapa mahasiswi menghilang secara misterius di area kampus. Dan sampai sekarang, para mahasiswi itu belum bisa ditemukan. Semua teman-teman dari mahasiswi yang mengilang tersebut melakukan upaya pencarian, namun mereka tetap tidak menemukan apa-apa. Tapi aku masih percaya kalau semua gadis-gadis yang menghilang itu hanya pergi ke suatu tempat dengan tujuan tertentu. Seperti contohnya, pergi bersenang-senang. Karena secara logika, yah, mungkin cara bicaraku saat ini memang terdengar sok. Tapi, benar deh. Coba kalian pikirkan. Kenapa mereka menghilang? Bagaimana ia menghilang sampai tidak terdeteksi seperti itu? Kemarin, aku melakukan perjalanan astral untuk mengetahui apakah para gadis itu mungkin saja diculik oleh mahluk tak kasat mata yang menetap di kampus? Tetapi, setelah menanyai beberapa sosok yang ada di sana, mereka mengatakan bahwa tidak pernah ada yang berani mengambil manusia seperti itu. Apalagi dia menghilang saat matahari masih benar-benar terang. So, apakah kalian masih percaya kalau para gadis itu menghilang begitu saja tanpa jejak? Kalau pun ada yang melakukan pembunuhan atau kejahatan semacam itu, aku pasti bisa langsung mengetahuinya. Karena yah, para teman-teman astralku akan memberitahukannya secara gambling. "Kakak ke kampus jam berapa?" tanya Robin yang sudah siap berangkat. "Aku tungguin si Arisa dulu. Katanya, dia mau berangkat bareng," jawabku. "Kak Arisa gak bawa mobil?" "Gak. Dia mau nebeng di mobil Kakak," jawabku sambil menyetel film kartun favoritku, yaitu Upin dan Ipin. Ohiya, Mobilku kembali beberapa hari yang lalu. Selain ban, sopir yang belakangan kuketahui bernama Pak Ahmad itu mengatakan bahwa mesin mobilku juga sudah diperbaiki. Dan aku sangat berterima kasih akan hal itu. Aku memang kurang mengerti tentang segala hal berbau mesin-mesin. Yang bisa kulakukan adalah memakai kendaraan itu, merawatnya tubuhnya dengan baik tanpa lecet sedikit pun. "Baiklah, kalau begitu aku pergi, yah! Jangan lupa untuk tetap berhat-hati, Kak. Robin gak mau terjadi sesuatu yang buruk menimpa Kakak." "Baiklah, Dek. Eh, kamu udah sarapan kan?" tanyaku tanpa melihat ke arahnya. "Sudah!" Setelah berkata demikian, aku mendengar suara pintu terbuka, kemudian kembali tertutup. Robin pun pergi. Setelah kartun itu selesai, aku langsung segera beres-beres kemudian bersiap-siap untuk ke kampus sebelum Arisa datang. Waktu yang ku butuhkan untuk membersihkan dan juga bersiap-siap hanyalah setengah jam. Aku bukan cewek yang menggunakan kamar mandi terlalu lama. Jadi, aku bisa memakai banyak waktu untuk melakukan hal yang lain, seperti berdandan. Aku sudah siap. Dan tidak berselang lama, Arisa datang. Kami pun langsung bergegas menuju ke kampus. Sebenarnya, tujuan aku dan Arisa ke kampus hari ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai beberapa situs valid yang bisa kami gunakan untuk mengambil jurnal. Dan orang yang akan kami datangi adalah Dosen baru yang dikagumi oleh Arisa bernama, Armus Rukhman.                                                       ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ "Nai, lo udah makan?" tanya Arisa begitu masuk ke dalam mobil. "Iya, emang kenapa?" Aku meliriknya. "Jangan bilang lo belum sarapan," tebakku. "Bener!" ia tersenyum lebar. "Bagaimana kalau kita beli makanan, trus sekalian pesanin buat Pak Armus juga. Dia udah bela-belain ngajarin kita, masa ia gak ada yang ngasi apa pun?" "Baiklah! Eh, tapi ini bagaimana jalan ceritanya sampai Pak Armus tiba-tiba mau bantu kita?" Aku mulai menginjak gas, mobil pun mulai melaju dengan kecepatan sedang. "Gue juga gak tahu sih! Minggu kemarin, dia tiba-tiba nyamperin gue. Nah, disitu Pak Armus mulai nanya-nanya tentang masalah-masalah yang menyangkut tentang tugas akhir kita. Mungkin karena merasa ibah atau bagaimana, dia tiba-tiba nawarin bantuan. Aku sih seneng akhirnya bisa berinteraksi dengan dia. Tapi ...," ucapannya terhenti. Aku menoleh ke arahnya. "Tapi, kenapa?" tanyaku penasaran. Walau pun hanya sekilas, aku melihat ekspresi wajah Arisa sedikit berubah. "Gak apa-apa. Gue cuman kesal aja karena ngobrolnya gak terlalu lama," jawabnya. Arisa berbohong. Ia jelas-jelas sedang menyembunyikan sesuatu. Aku sangat mengenal Arisa. Dan lagi, aku bukan baru berteman dengannya satu atau dua tahun. Pertemanan kita benar-benar sudah terjalin sangat lama. Kami kenal sejak masih duduk di bangku SMP. Dan sampai sekarang, kita masih tetap bersahabat. Jadi, tidak mungkin aku tidak mengetahui apa pun tentangnya. Arisa sudah seperti saudara perempuan bagiku Tetapi karena ia terlihat tidak ingin memberitahuku, aku jadi tidak membahasnya lebih jauh. Toh, kalau nanti masalah, ia pasti akan menceritakannya kepadaku. Ini cuman masalah waktu saja. "Kirain apaan," ucapku. Setelah singgah di salah satu restoran cepat saji, lalu memesan makanan dan minuman. akhirnya, kami pun langsung berangkat menuju ke kampus.                                                                  ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ "Sa, lo hubungin si Pak Armus, gih! Takutnya, tiba-tiba dia ngajar," saranku. Aku dan Arisa keluar dari mobil. "Iya juga, yah! Tapi, dia bilang kok hari kalau hari ini tuh dia free. Kata Pak Armus sih, kita di suruh nyari kelas kosong. Nanti pas udah dapat, kita baru ngehubungin dia," ucap Arisa. "Kalau gitu, kita langsung cari aja, yuk!" ajakku. "Yuk!" aku dan Arisa pun pergi menjelajah untuk menemukan kelas mana yang saat ini tidak di tempati mahasiswa dan mahasiswi belajar. Seusai berjalan ke sana ke mari di mulai lantai satu sampai empat. Kami akhirnya menemukan satu kelas kosong yang terletak di lantai paling atas, yang ruangannya berada di paling sudut persis di samping tangga. Kami pun langsung masuk ke dalam kelas tersebut. "Gue langsung hubungin Pak Armus aja, deh," ucap Arisa. Aku mengangguk setuju. Sementara Arisa menghubungi dosen itu, aku mencoba melihat-lihat pemandangan dari balik jendela. Dari atas sini, aku dapat menyaksikan seluruh area belakang kampus, termasuk bangunan tua yang kuceritakan kemarin. Seperti biasa, jalan di sana nampak sepi. Apa yang menyebabkan orang-orang tidak ingin lewat di jalan itu, yah? Perhatianku saat ini tertuju pada bangunan tua itu. Entah mengapa, aku selalu merasa ada sesuatu yang lain dari gedung tersebut. Sebenarnya, aku ingin langsung mendatanginya, tapi niat itu pasti selalu gagal. "Nai, sini deh," Arisa memanggilku. Ketika hendak berbalik ke arahnya, tiba-tiba sudut mataku menangkap satu sosok perempuan melintas di atas banguan itu. Tetapi, begitu mencoba melihatnya dengan jelas, sosok tersebut menghilang. Aku sebenarnya tidak yakin, tapi menurut pengelihatanku yang hanya sekilas ini, sosok itu terlihat tidak mengenakan pakaian saa sekali alias bugil. Karena ia menunjukkan wujudnya, aku jadi penasaran untuk melakukan komunikasi dengan mahluk tersebut. "Naaai!" pekik Arisa yang membuatku terkejut. "I—iya!" Sebelum melangkah menuju ke tempat Arisa, aku kembali menatap bangunan itu sekali lagi. "Lo dipanggil, malah ngayal," ujarnya. "Sory ...," jawabku. "Nai, ada mahasiswi yang hilang lagi. Kali ini dia berasal dari Fakultas Hukum," ucap Arisa. "Masa?" aku mengambil ponsel Arisa, kemudian membaca beritanya. "Kasus itu bahkan udah masuk di salah satu media cetak online, Nai. Meskipun tidak membawa nama kampus, kita yang anak UPI pasti tau kalau kasus itu pasti yang terjadi di kampus kita," ucap Arisa. "Sepertinya, kita memang harus mulai waspada. Karena kejahatan bisa datang dari mana pun dan kapan pun," saranku. "Benar. Kita harus—" "Hai ...," tiba-tiba seorang pria mengenakan setelan jas rapih berwarna cokelat, datang menghampiri kami. Benar kata Arisa, ia memiliki senyum yang menawan. Garis wajahnya yang kuat, ditambah dengan mata belo yang terlihat sangat berkharisma, hidung mancung, dan juga alis tebal, semua perpaduan itu membuatnya terlihat sangat tampan dan berkelas. Sebenarnya, dia hampir sama dengan Malvin. Cuman, Malvin memiliki mata yang agak bulat dengan sorot mata tajam yang membuat siapa pun yang menatapnya akan merasa seperti sedang terintimidasi. Tunggu! Kenapa aku jadi bahas Malvin? Oke, lupakan tentang Malvin. Begitu masuk ke dalam kelas, aroma farfumnya yang maskulin tercium sangat tajam dihidungku. "Maaf, saya agak terlambat," ucapnya sambil tersenyum ramah. Arisa berdiri dari tempat duduknya. "Tidak apa-apa, Pak! Kami juga baru dapat kelasnya kok." Ia melirikku. "Kamu pasti Naion Shaarem, kan?" "Iya, Pak." Dosen bernama Armus ini menarik salah satu kursi, kemudian membawanya ke dekat kami. Setelah menduduki kursi tersebut, ia langsung mengeluarkan laptop dari dalam tasnya. Arisa pernah bilang kalau Dosen ini juga memiliki kemampuan yang sama denganku. Meskipun kecil, ia memang mempunyai mahkota kecil di kepalanya yang berarti ia berkata benar. Ketika bertemu dengan sesama anak indigo, kita pasti akan melihat sebuah mahkota yang terpasang di atas kepala masing-masing. Semakin besar dan bercahaya sebuah mahkota itu, maka semakin besar pula kemampuan yang dimilikinya. "Bapak sudah sarapan? Kami beli makanan dan ini juga buat Bapak," ucap Arisa sambil menunjukkan kantongan putih berisi makana tersebut. "Kebetulan, saya memang belum makan. Terima kasih, yah!" ucapnya masih dengan senyumannya yang hangat. "Bagaimana kalau kita makan dulu aja, Pak. Habis makan, baru kita cari jurnalnya," saranku. "Ide yang bagus. Kalau begitu, kita makan dulu sambil ngobrol-ngobrol," ucapnya. Kami berdua mengangguk setuju.                                                           ῳ_ ῳ AUGURY GIRLῳ_ ῳ Setelah memakan hampir satu jam untuk sarapan, dan satu jam berikutnya kami lakukan hal yang menjadi tujuan kami ke kampus hari ini. Yap, seperti yang ku bilang tadi, kami mencari-cari jurnal dibimbing oleh Pak Armus Rukhman yang dengan baik hati membantu kami. Beliau mengetahui banyak situs-situs valid yang bisa kita masuki untuk mengambil jurnal secara gratis. Akhirnya, kami selesai. "Terima kasih, atas bantuannya hari ini, Pak," ucapku. "Sama-sama. Saya senang kok membantu kalian. Apalagi, kampus memang tidak memberi keringan sama sekali untuk mahasiswa yang udah lama seperti kalian," ucapnya. Aku betul-betul terharu mendengar ucapan Pak Armus. Akhirnya, ada juga yang sependapat denganku setelah banyak yang memberi respon negatif dan tak jarang ada yang mencibirku. Sambil memasukkan laptopnya kembali ke dalam tas. "Habis ini kalian mau ke mana?" tanyanya. "Rencananya kami langsung mau balik, Pak," jawab Arisa. "Bagus lah. Untuk sementara ini, kalian jangan terlalu lama berada di sekitaran kampus. Kalian sudah dengar kasus para mahasiswi yang menghilang itu, 'kan?" tanyanya. "Iya, Pak," jawabku berbarengan dengan Arisa. "Bapak tidak mau hal itu terjadi di Fakultas kita. Saya tidak mau ada yang terluka," ia melirik Arisa. Sejak tadi, aku memang memperhatikan Pak Armus selalu menatap Arisa dengan tatapan yang bisa ku artikan sebagai sesuatu yang spesial. Mungkin kah Pak Armus menyukai Arisa? Kalau benar, aku pasti akan sangat menyetujuinya. Melihat Pak Armus menatapnya, Arisa tersenyum malu. "Baiklah, Pak!" jawabnya. "Ya sudah, kalau begitu saya pamit, yah. Ingat, kalian harus tetap berhati-hati," ucapnya kemudian pergi meninggalkan kami. "Kalau gitu, kita juga balik, yuk!" Arisa mulai mengemasih barangnya. "Oke." Kami berdua segera merapikan barang-barang kami. Arisa mulai bangkit. "Lo yang tutup pintunya, yah, Nai!" "Sip," selesai berkemas, aku menyusul Arisa keluar dari kelas ini. Saat hendak menutup pintu, dari arah depan yang memperlihatkan langsung bangunan tua dari balik jendela yang transparan, aku melihat sosok itu lagi. Kali ini, ia benar-benar menampakkan wajahnya. Sosok tersebut sama sekali tidak mengenakan pakaian. Rambutnya berwarna hitam sebahu, dan raut wajahnya terlihat sangat sedih saat menatapku. Yang paling parah dari semuanya adalah mulut sosok itu seperti dijahit. Benang-benang berwarna hitam tersebut masih tertanama dibibirnya. Ia seperti ingin berkomunikasi, tetapi sayangnya ia tidak bisa berbicara sama sekali. Sosok tersebut hanya menangis sambil menatapku. Ada rasa nyeri yang kurasakan dibagian dadaku. Tetapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tunggu, sepertinya aku tidak asing dengan wajah sosok itu. Di mana aku pernah melihatnya?                                                     ῳ_ ῳ NAUGURY GIRL ῳ_ ῳ                                                                 Bersambung *Catatan Autor     Menulis sambil mengerjakan skripsi, itulah yang kulakukan sekarang.  pusing bnget? pastinya!  Selain SKRIPS, aku juga pastinya disibukkan dengan berbagai aktivitas lainnya, seperti harus menghapal surah-surah pendek sebagai syarat untuk lulus menjadi seorang sarjana. Kampusku merupakan universitas islam yang lumayan terkemuka di daerahku. Nah, jadi kalian langsung bisa tahu kenapa aku harus menghapal kan? heheh Susah sih sebenarnya. Apalagi kalau semua sura-surah pendek yang dulu pas Sekolah Dasar  dihapal banget, namun setelah   bertahun-tahun hampir semua ingatan itu musnah begitu saja. Dan disinilah terkaadang aku merasa kesal.  Kenapa gak dihapal terus, yah? Kenapa kamu sampai lupa sih?   Dan berbagai penyesalan lainnya yang ku alami. Selain hapalan surah-surah, aku juga diharuskan untuk menghapal hadis serta melakukan pidato keagaaman. Mampus gak tuh, gue! Oke, waktu kecil sih aku pede - pede aja melakukan hal itu. Tetapi, pas beranjak besar perlahan kepercayaan diriku semakin menghilang.  Huaah, pusing deh aku wkwk ... Aku berharap semuanya akan cepat berlalu agar aku bisa kembali fokus dalam kepenulisan. Sekian citcat dari akuhhh ... Terima kasih ... Dan Happy Reading ^_^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD