BAB 10 (MALVIN DAN ROBIN)

2380 Words
Saat ini aku berada di atas mobil bersama dengan Rektor di kampusku, Pak Malviano Alfarezi. Tetapi karena ia tidak ingin dipanggil  dengan sebutan "Bapak",  dengan alasan jarak usia kami tidak terlalu jauh, akhirnya ia memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan "Malvin". Sebenarnya, aku masih merasa canggung ketika memanggilnya dengan nama yang terdengar sangat akrab seperti itu. Andai saja kami memang sudah kenal sejak lama, aku tidak akan keberatan. Tapi kan kita baru ketemu hari ini, jadi wajar kalau aku masih terlihat sangat kaku saat memanggil namanya. Apalagi, dia kan Rektor. Gila aja, kan! Penampilan Malvin saat ini terlihat seperti orang biasa. Maksud aku, tanpa embel-embel atau aura-aura yang membuatnya terlihat seperti seorang Bos. Ia nampak normal tapi  dari segi penampilan saja. Beda lagi dengan wajahnya yang masih tidak bisa menutupi bahwa ia adalah seorang yang memiliki kharisma yang besar. "Adik kamu ada di bengkel mana?" tanyanya. "Di bengkel JHF," jawabku. "Oh, oke." "Memangnya kamu tahu di mana?" tanyaku. Malvin diam. Tanpa menjawab pertanyaanku, ia mulai menginjakkan gas, kemudian kami pun melesat pergi. Disepanjang jalan, aku benar-benar mengutuk diriku yang sudah membuat rencana yang  pada akhirnya membuatku terjatuh pada lubang yang salah, seperti ini. Aku berharap, ini adalah pertemuan terakhirku dengan Rektor ini. Pada dasarnya, aku adalah orang yang hiperaktif dan pastinya hobi mengoceh. Namun, ketika aku berhadapan dengan orang-orang seperti Malvin yang notabene memiliki karakter yang dingin dan juga pendiam, aku pastinya akan sangat tersiksa. "Adikmu sudah kuliah atau masih sekolah?" tanya memecah keheningan. "Sudah kuliah. Dia juga anak UPI kok," jawabku. "Dia ambil jurusan apa?" "Kesehatan Masyarakat. Sama dengan jurusanku," jawabku. "Oh ...," gumamnya. Kembali hening.      Terdapat dua jalur yang bisa kita lewati ketika hendak pergi ke bengkel tersebut. Yang pertama, melalui jalan Terumbu Karang yang jalannya lumayan berkelok-kelok. Yang kedua adalah melewati jalan Bintang Laut, di mana kita harus melewati terowongan panjang yang  di dalamnya lumayan gelap.  Dan diantara dua jalur itu, Malvin memilih jalur kedua yaitu melewati terowongan panjang.    Aku sangat membenci kegelapan. Dari dulu sampai sekarang, aku tidak pernah menyukai apa pun yang bernuansa gelap. Hal tersebut  terjadi karena,  ketika aku memasuki ruangan, kamar, atau bahkan terowongan seperti itu, aku melihat dan mendengar banyak sosok yang selalu meminta tolong untuk bisa dilepaskan dari mahluk yang mengikatnya. Mereka semua akan menampakkan sosok aslinya yang benar-benar sangat tidak enak dipandang. Dan lagi, meskipun memiliki keberanian yang tinggi, bukan berarti aku akan menjadi manusia super yang bisa membantu semua sosok-sosok yang sudah terjerat seperti itu.     Saat ini, jarak mobil Malvin dengan terowongan tersebut tinggal beberapa meter lagi. Aku pun mulai menelan ludah, kemudian bersiap untuk menutup kuping dan juga mataku sampai terowongan itu sudah terlewati.    Satu ... dua ... tiga ...   Kami masuk ke dalam terowongan itu. "huhuhu ..., tolong kami," ucap arwah-arwah itu yang seperti mengelilingiku. Aku tidak ingin melihat sosoknya karena takut aura negatifnya akan bertabrakan dengan auraku yang nanti akan membuatku kehilangan kesadaran. "Tolong kami ...," ucap mereka lagi. Aku merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pundakku. Lalu  terdengar bisikan halus ditelinga kananku. "Tahan sedikit lagi, Nak. Kita hampir sampai di ujung terowongan ini," ucap Ibu Malvin. Aku hanya mengangguk. Suara-suara itu masih terdengar sangat jelas, membuat telingaku menjadi begitu panas dan juga sakit.  Ketika suara itu semakin membesar, tiba-tiba cahaya mulai muncul menyinari masuk ke dalam mobil ini. Dan seketika mahluk-mahluk itu pun lenyap. "Hufff ..." Aku menoleh ke belakang memastikan tidak ada satu pun mahluk itu yang mengikuti mobil ini. Setelah merasa aman, aku mulai melepaskan tanganku dari telinga. "Kamu kenapa?" tanya Malvin yang seketika membuatku terkejut. "A—ah? Oh, tidak kenapa-napa kok," jawabku terbatah. Ia menatapku. "Daritadi aku perhatiin kamu loh. Sejak masuk ke dalam terowongan tadi, tingkahmu sudah mencurigakan," ucapnya sambil sesekali menengok ke depan. "Kok mencurigakan sih? Udah kayak maling aja. Gak apa-apa, kamu nyetir aja, gak usah nengok-nengok kayak gitu. Bahaya tau!" ucapku berusaha mengalihkan pembicaraan. "Jangan bilang lo takut gelap?" ujarnya to the point. "Gue bukan takut, tapi gak suka." "Bagiku, itu sama saja," ujarnya dengan tanpa ekspresi yang membuatku sedikit kesal. "Serah deh!" "Kenapa kamu gak bilang dari tadi?" Aku meliriknya. "Bilang apa?" "Kalau kamu takut kegelapan? Kan tau gitu, aku gak akan lewat jalan ini," ucapnya. Masa ia aku bakalan protes atau mengatakan hal yang tidak kusukai dengan statusku yang hanya seorang mahasiswi biasa yang kebetulan nebeng di Rektornya? Apalagi, ia memiliki kepribadian seperti itu. Jadilah aku hanya diam dan mengikuti ke mana ia membawa mobilnya. "Ralat. Sekali lagi, aku bukannya takut. Tapi aku cuman gak suka. Tidak apa-apa. Toh, kita udah lewat juga," jawabku. "Dan sekali lagi, menurut aku itu sama saja," ujar Malvin. "Baiklah, baiklah. Aku menyerah," ucapku kemudian membuat Malvin seketika tersenyum penuh kemenangan. Sial! Baru kali ini aku merasakan kekalahan sampai se-kesal ini. ῳ_ ῳ NAION ῳ_ ῳ Seusai menempuh perjalan yang lumayan panjang dengan memakan waktu hampir setengah jam, akhirnya kami sampai di bengkel JHF tempat Robin berada. Begitu tiba, aku langsung menghubunginya. "Dek, kamu di mana? Kakak udah ada di depan," ucapku begitu panggilan tersambung. "Oh, aku ada di cafe, Kak. Tunggu, aku langsung keluar," jawabnya. "Dek—" baru saja aku ingin mengatakan bahwa mobilku juga sedang berada di bengkel dan sekarang tidak sedirian, Robin keburu menutup teleponnya. Aku menatap layar ponselku. "Kenapa?" tanya Malvin. Aku menoleh ke arah Malvin. "Tidak apa-apa. Aku cuman tidak sempat memberitahu Robin kalau aku tidak sendirian dan juga tidak menggunakan mobilku." "Tidak apa-apa. Kita langsung datangi dia saja." Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Robin keluar. Ia terlihat menengok ke kanan dan ke kiri. Seperti yang ku duga, ia pasti sedang mencari mobilku." Treet ... treet ... treet ... Ponselku kembali bergetar. Aku menjawab telepon dari Robin. "Kak, kamu di mana?" tanyanya. "Apa itu adik kamu?" Malvin bersuara, yang seketika membuat Robin yang mendengarnya dibalik telepon merasa curiga. "Kak, kok aku dengar ada suara laki-laki? Kamu sama siapa?" tanyanya kesal. "Iya, itu adikku." Begitu mendengar jawabanku, Malvin langsung memajukan mobilnya sampai benar-benar berhadapan dengan Robin yang masih berdiri dengan ponsel terpasang ditelinganya. Aku membuka kaca. Begitu melihatku, Robin tercengang. Ia langsung mengalihkan wajahnya ke arah Malvin.  "Dek!" aku memanggilnya sambil melambaikan tangan di hadapannya. Ia terlihat seperti patung yang tidak bergerak sama sekali dari tempatnya. "Pak Rektor?" Malvin menaikan satu tangannya. "Yap!" Setelah menatap Malvin, pandangannya beralih kepadaku. "Kakak, kok bisa?" tanya Robin yang masih dalam kondisi belum sadar seutuhnya. "Nanti Kakak jelasin. Kamu naik aja dulu," ucapku. Meskipun masih belum connect, ia mengikuti perintahku. "Jadi, di mana rumah kamu?" tanya Malvin padaku. Aku melirik sejenak adikku ke belakang yang terlihat mengamatiku dan juga Malvin. "Di apartemen Haru. Yang berada di jalan Salampe," jawabku. "Baiklah!" ujarnya kemudian mulai menancap gas menuju ke tempat yang akan di tuju. Disepanjang jalan, kami bertiga saling terdiam. Tidak ada satu pun yang membuka pembicaraan yang akhirnya memuat suasana semakin bertambah canggung. Karena tidak kuat dengan situasi seperti ini, aku mencoba untuk membuka percakapan."Bagaimana kuliah mu, Dek? "Lancar-lancar aja," jawab Robin. Ia memberiku kode untuk menjelaskan apa  yang sedang terjadi. Dan mengapa sampai Malvin bisa mengantarku sekaligus menjemputnya. "Ehm ...," dehamanku mendapat lirikan tajam dari Malvin. Aku membalas Robin dengan bahasa isyarat yang artinya, kamu—tunggu aja—di rumah. "Kamu sudah semester berapa?" tanya Malvin tiba-tiba. Robin melirikku sejenak. "Aku baru semester dua, Pak," jawabnya kaku. "Berarti kamu masih mahasiswa baru, yah?" tanya Malvin lagi. "Iya, Pak!" jawab Malvin bak tentara yang sedang mendengar intruksi dari pimpinannya. "Kamu tidak usah se-kaku itu. Santai saja," ucap Malvin ramah. Kok aneh yah? Kenapa begitu melihat Robin ia nampak terlihat sangat baik dan juga ramah? Sementara denganku, ia terlihat sangat dingin dan arogan? Apa jangan-jangan dia dendam kali, yah? Karena aku sudah menyinggung tentang Ibu dan juga sesembahan yang ada di rumahnya itu? Ya sudahlah, lebih baik berpikir positif saja. Mungkin, dia lagi sensi hari ini. "Baik, Pak!" jawab Robin dengan nada suara yang lebih normal dibandingkan yang tadi. Ponsel Robin berbunyi. Ia pun segera menjawab telepon itu. Robin terlihat serius menjawab dan juga bertanya di balik ponselnya. Begitu selesai menelpon, ia langsung memanggil Malvin. "Pak!" panggil Robin. "Iya?" "Ada anak UPI yang menghilang, Pak," ucap Robin serius. Malvin melirik Robin dari kaca depan yang memang berfungsi melihat ke belakang. "Menghilang?" Robin mengangguk. "Dia menghilang di mana?" tanya Malvin. "Kata temanku, dia menghilang di sekitaran Perpusatakaan Universitas," jawab Robin. "Laki-laki atau perempuan?" tanya Malvin lagi. "Perempuan, Pak. Rata-rata yang menghilang itu semuanya perempuan. Tadinya, ku pikir ini hanyalah prank atau cuman hoax doang. Tapi, belakangan aku mengetahui bahwa itu bukanlah suatu bercandaan atau hanya hoax belaka. Mereka semua bena-benar menghilang, Pak." "Mungkin, mereka sedang bersembunyi di mana kek? Atau sedang pergi ke rumah siapa gitu? Kamu kan tahu kan cewek-cewek zaman sekarang tuh bagaimana?" aku ikut berkomentar pembicaraan mereka. "Gak, Kak. Awalnya, aku juga mikirnya gitu. Tapi, aku benar-benar percaya ketika pacar salah satu temanku yang juga berkuliah di UPI menghilang. Bahkan keluarganya pun sedang mencari-cari keberadaan cewek itu, sampai sekarang. Dan terakhir kali ia dilihat oleh temannya itu, ketika ia sedang berada di dalam ruangan perkuliahan. Katanya, ia seperti sedang menunggu seseorang." "Sepertinya pihak kampus harus turun tangan atas kejadian ini. Karena semua mahasiswi itu kehilangan jejak di dalam Universitas. Kalau saja mereka menghilang di luar kampus, maka itu bukanlah tanggungjawab kami," ucap Malvin. "Terima kasih, Pak," ujar Robin. "Kenapa kamu berterima kasih?" tanyanya. "Karena Bapak sudah peduli dengan kami. Biasanya, kalau ada kasus seperti ini, Rektor malah terkesan acuh dan lebih memilih menutup-nutupi ketika terjadi kasus apa pun di sekitaran kampus. Tapi, sepertinya Bapak berbeda dari yang lain. Aku bersyukur, Bapak yang menjadi Rektor di kampus ini," puji Robin. Mendengar hal itu, Malvin langsung tersenyum lebar. Aku yakin, dia pasti sangat senang mendengar pujian itu. "Tidak usah berterima kasih. Itu memang sudah menjadi kewajiban saya. Justru, saya yang harusnya berterima kasih karena kamu sudah memberitahu tentang hal ini," ucapnya.    Malvin mengulurkan ke belakang tangannya yang berbentuk genggaman. Melihat Malvin melakukan hal itu, Robin pun langsung membalasnya. Mereka berdua seperti sedang melakukan tos yang biasanya dilakukan oleh para lelaki. Setelah itu, mereka membahas masalah-masalah yang tidak ku mengerti sama sekali.   Sepertinya, mereka berdua terlihat sangat nyaman satu sama lain. Sampai-sampai keduanya melupakan seseorang yang juga ada di dalam mobil tersebut.                                                                ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ Akhirnya kami sampai di apartemen. Setelah mengucap terima kasih kepada Malvin, aku pun langsung masuk ke dalam. Robin masih tinggal sejenak untuk membicarakan sesuatu dengan Malvin. Begitu masuk ke lift, tiba-tiba Robin berlari menghampiriku. Setelah Robin berada di dalam lift, aku langsung menekan angka 7 yang berarti apartemenku berada di lantai tersebut. "Kak, kenapa gak tungguin sampai Pak Malvin pulang?" "Kakak capek. Tadi, pas mau jemput kamu, Kakak lewat terowongan yang gelap. Jadi, energi Kakak kayak udah terkuras semua." "Kenapa Kakak lewat sana? Bukannya Kakak takut gelap," ucapnya. Aku menghela napas panjang. "Dek, Kakak tuh bukannya takut. Tapi, gak suka," jawabku kesal. "Okey, okey. Tapi kenapa Kakak bisa sampai diantar Pak Malvin?" tanyanya lagi. Ting! Lift itu berbunyi menandakan lantai yang kami tuju telah sampai. Aku dan Robin langsung keluar, kemudian berjalan menuju pintu apartemen kami. "Awalnya Kakak berniat menemui Pak Malvin untuk membicarakan tentang peraturan kampus yang mengharuskan mahasiswanya melakukan review sebelum melakukan bimbingan. Nah, begitu ketemu Kakak tidak sengaja bertemu dengan arwah ibu Malvin yang masih menempel dibadannya. Trus—" "Tunggu, Kak! Apa aku gak salah dengar tadi Kakak manggil Pak Malvin tanpa embel-embel 'Bapak'? Kakak punya hubungan apa sama Pak Malvin?" tanya Robin bertubi-tubi. Begitu sampai di depan pintu apartemen, aku langsung membukanya. Namun, begitu mendengar pertanyaan Robin, langkahku terhenti. "Kamu kalau ngomong jangan suka ngacok, Dek! Kakak gak punya hubungan apa-apa, kok! Orang kita baru ketemu hari ini. Makanya, dengerin dulu penejelasan Kakak sampai selesai. Jangan main potong-potong aja!" ucapku kesal. Selesai mengoceh, aku langsung masuk diikuti Robin yang sedang menutup pintu itu kembali. "Trus, sampai di mana tadi?" tanyaku pada Robin sambil duduk di ruang tamu. Robin menghempas tasnya, kemudian ikut duduk bersamaku. "Kalau gak salah Kakak bahas tentang ibunya Pak Malvin." Aku menaikkan kaki ke samping agar posisiku lebih nyaman. "Ohiya! Nah, kan Kakak melihat arwah ibu Malvin. Aku pikir, dengan memberitahukan tentang ibunya, dia akan mengabulkan permintaan Kakak untuk meniadakan peraturan itu. Eh, tau-tau dia langsung membawaku ke rumahnya, kemudian memperlihatkan kamar ibunya." "Loh? Kok tiba-tiba langsung dibawa ke kamar ibunya, Kak?" tanya Robin. "Nah, itu dia. Kakak juga bingung. Setelah itu, pas masuk ke dalam kamar ibunya, Kakak langsung melihat sesajian, makanan yang ditaruh dalam baki berbentuk bulat, trus ada dupa juga di dalamnya." Aku akan menyembunyikan kejadian yang membuat jantungku berdetak sangat kencang tadi. Tidak tahu kenapa, ada rasa malu yang kurasakan ketika ingin menceritakannya kepada orang lain. Sekali pun itu adikku sendiri. "Kakak pernah bilang, kalau misalkan menaruh sesajian seperti itu, pasti akan mengundang mahluk-mahluk yang ber-energi negatif. Apa di sana Kakak liat sesuatu?" tanya Robin sambil melepaskan kaos Kakinya. "Pastinya! Di sana Kakak melihat banyak mahluk astral. Namun, yang mendominasi di rumah itu adalah sosok Kuntilanak merah yang merubah wujud persis seperti wajah Ibunya si Malvin. "Oke, pembicaraan kita terdengar semakin mengerikan, Kak," ujar Robin. "Gak ada yang mengerikan kok. Habis itu, Kakak nanya dong, kenapa ia menyimpan makanan, sesajian, dan juga dupa di dalam kamar itu. Dan jawab Malvin adalah karena ia ingin membuat arwah ibunya senang berada di dalam kamar yang sudah dipersiapkan untuknya. Ngeri banget, kan!" Robin menganga sangking tidak percayanya. "Masa Pak Malvin percaya sama hal-hal seperti itu?" tanyanya. Pundakku naik, kemudian turun kembali dengan cepat menandakan aku pun tidak mengerti kenapa ia sampai mempercayai tahayyul seperti itu. "Tidak lama, kamu tiba-tiba nelpon trus minta jemput. Di situ Kakak pamit lah sama si Malvin. Pas mau pulang, tiba-tiba sopir yang mengambil mobil Kakak di kampus, bilang kalau mobil Kakak masuk di bengkel. Nah, beliau sempat nawarin untuk anterin Kakak. Tapi, tiba-tiba Malvin datang dan dia maksain untuk mengatar Kakak. Jadilah, kami berdua pergi menjemput kamu," ucapku panjang lebar. "Oooh ..., begitu. Trus, usaha Kakak untuk meniadakan peraturan itu bagaimana? Apa pak Malvin terima?" tanyanya lagi. Wajahku langsung berubah jutek. "Rektor itu menolak. Ia malah menyuruh Kakak untuk mengerjakan apa yang sudah menjadi peraturan di kampus. Katanya, hitung-hitung dapat ilmu. Ya kali dapat ilmu, yang ada tuh kepala langsung puyeng!" Robin tertawa mendengar ucapanku. "Kak, kata Pak Malvin tuh bener. Apa salahnya melakukan reviewe jurnal?" Aku bangkit dari tempat duduk, lalu mengambil tasku. "Kamu gak ngerti sih, Dek! Yaudah, gak usah dibahas lagi. Lama-lama kepala Kakak puyeng mikirin semua masalah di dunia ini. Kakak mau langsung ke kamar. Semangat yah ujiannya!" Aku pun melangkah meninggalkan Robin yang masih duduk di ruang tamu. "Makasih, Kak. Jangan lupa masak makan malam, yah! Jangan sampai ketiduran!" Teriak Robin. "Okeey, Bambang!" jawabku kemudian langsung masuk ke kamar untuk mengistirahatkan tubuh ini sejenak.                                                                 ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ                                                                        Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD