Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Sampailah kami di sebuah perumahan elit di kawasan Unicorn city. Rata-rata, orang yang memiliki rumah di tempat ini merupakan dari kalangan kelas atas. Aku bisa mengetahui perumahan ini karena Juna sahabatku sewaktu SMA pernah tinggal di perumahan ini.
Saat memasuki gerbang, kita di sambut dengan beberapa satpam yang berjaga-jaga. Mereka menyapa Rektor itu, kemudian mempersilahkan kami masuk. Selain mewah, perumahan ini dilengkapi dengan sistem keamanan yang tinggi. Tidak pernah ada yang berhasil membobolnya. Itu karena para satpam yang berjaga adalah orang-orang yang sudah bersertifikat DIKSAR dari kepolisian.
Aku bukannya tidak pernah melihat rumah yang mewah seperti ini. Malah, rumahku juga sebenarnya masuk dalam kategori tersebut. Namun, aku masih tidak bisa melepas rasa takjubku dengan rumah-rumah yang ada di sini. Selain unik, mereka memiliki arsitektur yang beraneka ragam.
"Bisa saya minta kunci mobil, Non? Setelah ini, saya langsung mau pergi mengambilnya di kampus," tanya sopir itu.
"Bapak tidak istirahat dulu? Dari kampus ke sini lumayan jauh loh, Pak."
Dari pantulan kaca aku melihat bapak itu tersenyum. "Tidak apa-apa, Non. Itu kan sudah menjadi tugas bapak," jawabnya.
Aku melirik sejenak ke arah Rektor yang berada tepat di sampingku. "Baiklah kalau begitu." Aku mengambil kunci mobil, kemudian memberikannya. "Nanti Bapak gak usah buru-buru. Kalau capek, Bapak istirahat aja dulu."
"Baik, Non."
Begitu sampai di rumah Rektor, aku sangat terpukau dengan pemandangannya. Saat masuk ke dalam gerbang, mataku langsung dimanjakan dengan halaman yang luas yang sekelilingnya ditumbuhi dengan pohon-pohon serta mempunyai banyak bunga-bunga. Di tengah halaman, terdapat sebuah patung raja Neptunus yang sering ku tonton di film Spongebob Squaerpants.
"Masuk!" ujarnya yang seketika membuat hayalanku buyar.
"Baik, Pak!"
Ia membuka pintu rumahnya. Dan betapa terkejutnya aku ketika menyaksikan banyak dayang-dayang yang memakai baju maid yang berbaris menyambut kedatangannya. Ini sungguh luar biasa. Ku kira, adegan-adegan seperti ini hanya terdapat di anime-anime Jepang atau drama Korea yang sering ku tonton. Ternyata, hal seperti ini dapat terjadi juga di dunia nyata. Aku sendiri lagi yang menyaksikannya. Sugoi!
Para maid tersebut memandangku dengan senyuman aneh saat melihatku melintas di hadapan mereka. Aku merasa risih dipandangi seperti itu.
Apa ada yang salah dengan pakaianku?
Atau, ada sesuatu yang tertempel diwajahku?
Oke, aku jadi panik sendiri. Daripada seperti itu, lebih baik aku tidak memperdulikannya.
"Pak, kenapa mereka ngeliatin aku sampai segitunya? Emang ada yang salah, yah?" tanyaku sedikit berbisik.
Rektor itu berhenti berjalan. Lalu ia menoleh ke arahku. "Bisa tidak kamu jangan memanggilku Rektor? Aku punya nama."
"Maaf, Pak! Meskipun tahu Bapak, aku tidak berani memanggilnya. Aku takut dosa."
"Dosa?" tanyanya. "Kenapa menyebut namaku bisa dapat dosa? Kamu ini ada-ada aja!"
"Yah, karena aku tidak boleh kurang ajar sama yang lebih tua."
Jawabanku menghasilkan pelototan tajam dari Rektor itu.
Ia menggosok keningnya. "Panggil aku Malvin. Itu lebih nyaman terdengar ditelingaku, dibandingkan terus-terus memanggilku Rektor," ucapnya.
"O—okey. Tapi, kamu tidak apa-apa dipanggil Malvin?" tanyaku memperjelas.
"Iya. Tapi itu berlaku ketika kita berada di luar kampus," tukasnya.
"Baiklah!" balasku
"Sekarang, ikut aku naik."
"Naik ke mana?" tanyaku .
"Naik ke kamar," ujar santai.
Ucapan yang keluar dari mulut lelaki 28 tahun itu, sontak membuatku dan juga para dayang-dayang yang masih tinggal di tempatnya terkejut luar biasa.
"Apa yang akan kita lakukan di kamarmu?" tanyaku kesal.
"Yah, apalagi ...," jawabnya, kemudian mulai kembali berjalan.
Ya Tuhan! Aku benar-benar dalam bahaya.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRLῳ_ ῳ
Seusai membuat kehebohan di rumah ini, ia dengan santainya kembali berjalan tanpa memikirkan apa yang baru saja dikatakan akan merusak citraku di depan para maid itu.
Aku menyusulnya. "Kamu ngomong apaan sih? Tau tidak mereka dari tadi ngeliatin aku? Entar, mereka pikir aku cewek apaan lagi! Kalau ngomong tuh di pikir dulu napa?"
Malvin menghentikan langkahnya, kemudian berbalik ke arah para jejeran maid. Begitu melihat Malvin menatap mereka, dengan sekejab semua maid itu langsung berhamburan pergi.
"Kamu sudah puas?" ujarnya. "Ayo, naik!"
"Kita mau ngapain sih di kamarmu? Jangan bilang—"
Ia melotot ke arahku. "Apa? Kamu jangan berpikir macam-macam bisa gak sih? Lagian, kita bukannya mau ke kamarku."
"Trus ke kamar siapa?" tanyaku.
"Ke kamar ibuku," jawabnya singkat. Kemudian ia mulai menaiki anak tangga satu persatu.
Aku melirik ke arwah ibunya. Beliau tersenyum.
Melihatku masih belum bergerak sama sekali, Malvin kembali menegurku. "Kenapa masih diam saja, naik!" perintahnya.
"Baiklah!"
Begitu sampai di lantai atas, aku melihat ada beberapa sosok penghuni rumah ini, yang mencoba untuk berinteraksi denganku. Namun, karena memiliki tujuan lain, aku tidak membuka interaksi dengan mereka. Yang ingin kulakukan adalah cepat-cepat menyelesaikan urusan di sini, kemudian pergi. Ada rasa penyesalan yang kurasakan. Pikirku, dengan cara memberitahukan tentang arwah ibunya, Rektor bernama Malvin itu akan mengabulkan permintaanku. Namun, sayangnya itu tidak terjadi. Yang ada, dia malah menyuruhku untuk mengerjakan apa yang sudah menjadi peraturannya.
"Ini adalah kamar ibuku," ucapnya. "Kamu bisa duduk di sana. Aku akan kembali nanti," ucapnya lagi.
Para mahluk-mahluk astral yang ada di rumah ini terlihat sangat senang ketika melihat kamar itu akan dibuka. Karena penasaran dengan ekspresi yang tidak normal dari penghuni di sini, aku bertanya dengan arwah ibu pak Malvin.
"Ibu, kenapa mereka terlihat sangat senang?" tanyaku sambil menunjuk ke arah para mahluk astral yang di d******i oleh setan lokal bernama Kuntilanak.
"Kamu lihat saja sendiri, Nak. Tunggu sampai Malvin datang. Kamu pasti akan mengerti kenapa sampai sekarang ibu belum bisa tenang," jawabnya.
Ibu dan anak sama saja. Mereka tidak pernah memberikan jawaban dari setiap pertanyaan yang lontarkan secara langsung. Dan membuatku menunggu untuk mendapat jawaban itu sendiri.
Aku menatap sekeliling, memastikan tidak ada mahluk yang ber-aura negatif. Maksud aku, terlalu negatif. Karena keberadaan Kunti dan kawan-kawannya saja, itu akan membuat rumah akan terasa panas. Apalagi, kalau ada yang lain.
Entah mengapa, meskipun rumah ini lumayan ramai, aku tetap merasa ada yang tidak beres.
Aku kembali menatap sekitar.
Tiba-tiba datang seorang wanita yang mungkin saja seusia denganku, memakai baju maid, sambil membawa minuman dan juga snack di atas baki.
"Silahkan diminum, Mbak," ucapnya.
"Oh, makasih," jawabku tersenyum. Ia pun membalas senyumanku, kemudian membungkukkan sedikit badannya, lalu pergi.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRLῳ_ ῳ
Sudah hampir satu setengah jam, aku menunggu di ruang keluarga yang berada di kantai atas ini. Namun, tidak berselang lama, Pak Malvin datang. Setelan jas yang ia kenakan tadi, kini berubah menjadi sepasang pakaian biasa yang juga sering dikenakan Robin di rumah. Ditangannya ia membawa setumpuk kunci.
"Ayo masuk," ucapnya tanpa benar-benar menatapku.
Aku menghampirinya. "Kamu kenapa lama?"
"Aku tadi mandi dulu," jawabnya santai.
Nih cowok kalau bukan Rektor di Fakultasku, udah aku jitak kepalanya sejak tadi. Ternyata dia pamit untuk mandi. Pantasan saja dia menyuruhku duduk dulu.
Klek!
Ia kemudian membuka pintu itu. Ketika ingin melangkah masuk, aroma kemenyan serta dupa sangat menyengat dihidungku. Karena penasaran, aku mempercepat langkah untuk bisa melihat masuk ke dalam kamar tersebut.
Saat masuk ke dalam ruangan yang berukuran besar itu, manik mataku menangkap sosok yang dari penampilan sampai ke wajahnya terlihat sangat mirip dengan arwah ibu pak Malvin. Namun perbedaan keduanya terlihat dari warna baju yang dikenakannya. Ibu pak Malvin memakai baju daster berwarna putih, sedangkan sosok tersebut mengenakan daster berwarna merah. Menurut pengalamanku sebagai anak indigo, setiap mahluk berwujud kuntilanak merah auranya pasti selalu negatif. Ini kebanyakan yah! Kalau ditanya apa ada dari mereka yang baik? Yah, pastinya ada. Tapi, hanya bisa dihitung dengan jari.
Awalnya, aku tidak tahu kenapa mahluk itu bisa menyerupai ibu, pak Malvin. Namun, begitu melihat kamar yang di atas tempat tidurnya terdapat sebuah tempayan yang berisi makanan, minuman, serta kemenyan yang berada di dalam satu wadah. Aku bisa mengerti kenapa mahluk tersebut bisa terpanggil.
Selain itu, di meja rias yang terletak persis di samping ranjang, terdapat sebuah bingkai foto yang di dalamnya berisi foto ibu itu dan juga dua buah dupa kecil yang berada di sisi kanan dan kiri bingkai itu.
Aku jadi paham mengapa ibu mengatakan belum bisa tenang. Itu karena keluarganya sendiri yang menahan kepergiannya dengan melakukan ritual-ritual seperti ini.
"Pak, ini apa?" ucapku sambil menunjuk kea rah tempat tidur itu.
"Itu adalah persembahan untuk ibuku," ucapnya.
Aku melirik sosok kuntilanak merah dan juga beberapa sosok lain yang berada persis di samping meja rias itu.
"Trus, dupa yang di sana untuk apa?" tanyaku lagi.
"Itu untuk pengharum ruangan di sini biar arwah ibu senang," jawabnya. "Kamu tidak usah panggil saya Bapak. Usia kita tidak berbeda jauh."
"Tapi, aku harus panggil kamu siapa? Tanyaku.
"Malvin," jawabnya.
"Baiklah. Aku mau bertanya lagi. Sudah berapa lama kamu melakukan hal seperti ini?
"Sudah bertahun-tahun."
Kuntilanak merah itu melotot ke arahku. Dia mungkin berpikir dengan melakukan hal tersebut nyaliku akan menciut. Kasian sekali kunti itu. Dia tidak tahu kalau aku dari kecil tidak pernah takut dengan mahluk-mahluk seperti mereka.
"Tadi kamu bilang, kamu bisa melihat arwah ibuku?"
Aku berpaling ke arah pak Malvin eh maksudnya Malvin. "Benar."
"Lalu bisa kah kamu tunjukkan di mana arwah ibuku berada?"
"Untuk arwah ibu kamu yang asli, beliau berada tepat di samping kamu. Sedangkan yang palsu berada di pojok ruangan ini. Aku ingin menanyakan satu hal lagi."
"Apa?" tanyanya.
"Apakah semua orang di rumah ini sering mendapat gangguan?"
Dahi Malvin berkerut. "Gangguan?"
Aku mulai berjalan mendekati meja rias yang berada di kamar ini. Begitu tahu aku ingin mendekat, para sosok itu seketika berpindah tempat. "Iya. Gangguan itu seperti, mendengar suara tangisan atau tawa perempuan, mencium bau amis darah, dan melihat sosok-sosok menyerupai ibu kamu?"
"Aku tidak tahu. Tapi, kalau aku pribadi memang pernah mendengar sesuatu di dalam kamar ini."
"Benarkah? Apa kamu mendengar seperti ada yang sedang melakukan aktivitas di dalam sini?"
Ia mengangguk.
"Apa kamu tidak merasa terganggu akan hal itu?"
"Tidak. Karena aku beripikir itu adalah arwah ibu. Aku senang kalau ibuku masih ada di rumah ini meskipun dalam wujud yang berbeda," ucapnya.
Aku tercengang mendengar ucapannya. "Kamu tidak takut?"
"Tidak."
"Siapa yang menaruh dupa, makanan, serta kemenyan di kamar ini?"
"Ayahku. Memangnya kenapa kalau kita menyimpan sesembahan seperti ini?"
"Karena yang kalian beri makan itu bukan arwah dari ibu kamu. Melainkan mahluk lain yang menetap di rumah ini." Aku melirik ke kuntilanak merah itu. "Dan yang paling parah adalah sosok yang tidak diundang datang menyerupai ibu kamu."
"Kamu pasti mengarang cerita. Ayahku bilang, semua ini dilakukan agar ibu tetap bisa tinggal di rumah," ucapnya.
"Ck, umur kamu berapa sih?" decakku. "Percuma tau kamu sekolah tinggi-tinggi, tapi untuk menentukan mana yang fakta dan mana yang mitos aja gak bisa!"
Aku tersenyum kecut. "Dan lagi, berapa kali aku bilang ke kamu. Percaya atau tidaknya dengan apa yang kukatakan, aku tidak peduli."
Malvin melipat tangannya di depan d**a. "Tadi kamu bilang ada sosok yang menyerupai ibuku?"
"Iyap!"
"Apa dia mirip dengan foto yang ada dibingkai itu?" tanya Malvin.
"Mirip. Tapi sayangnya, sosok asli dari mahluk itu adalah perempuan berbaju merah. Rambutnya panjang awut-awutan, matanya merah menyala. Intinya, wajah dia hancur dan penuh darah. Kamu mau lihat?" tawarku.
Dengan cepat Malvin menggeleng kepalanya. "Aku bukannya takut, yah. Cuman, belum siap aja."
Alasan banget nih orang.
"Aku jadi tahu kenapa ibu kamu sedih pas masuk ke dalam kamar ini," ucapku sambil kembali berjalan menghampiri Malvin. Saat mulai mendekat ke arahnya, tiba-tiba sosok kunti itu mendorong tubuhku. Ku pikir aku akan jatuh ke lantai. Tetapi, tiba-tiba Malvin menarik bahuku sampai jarak kami benar-benar sangat dekat. Kami berdua saling beradu tatap selama beberapa detik. Dan entah mengapa, hatiku berdesir, jantungku seketika berdegup dengan sangat kencang, ketika kulit kami saling bersentuhan.
Menyadari ada sesuatu yang aneh. Aku langsung buru-buru melepaskan pegangannya.
"So—sory!" ucapku gugup.
Ia masih menatapku. Namun, sedetik kemudian ia tersadar dengan sendirinya.
"O—tidak apa-apa," jawabnya terbata.
Suasana langsung berubah menjadi canggung.
Treett ... treet ... tret ...
Ponselku bergetar. Nama Robin tertulis di dalam layarnya.
"Aku keluar sebentar," ucapku.
Malvin mengangguk.
"Kak, kamu di mana?" tanya Robin dari balik ponsel.
"Aku lagi ada di rumahnya Pak Rektor," jawabku.
"Hah? Apa yang Kakak lakukan di sana? Jangan bilang Kakak pergi demo di rumahnya?"
"Enak aja! Gak lah, Bambang! Nanti aku ceritain deh. Kamu kenapa nelpon?" tanyaku.
"Kak, mobil aku mogok. Sekarang aku lagi ada di bengkel langganan kita. Boleh tidak Kakak jemput aku?" pintanya.
"Kenapa gak naik OJOL aja sih, Dek?"
"Gak mau deh. Toh Kakak ada," jawabnya.
"Baiklah, baiklah."
"Tapi cepat yah, Kak. Sore ini aku ada ujian online. Jadi, harus buru-buru," ucapnya lagi.
"Siap, Bambang! Kalau gitu, udah dulu yah, Dek?"
"Iya, Kak. Thankyouu ...," ucapnya.
"Domo," jawabku. Kemudian menutup panggilan.
Sepertinya aku memang harus kembali sekarang. Ini sudah hampir sore.
Aku kembali masuk ke dalam kamar itu. Dan mendapati Malvin sedang duduk di atas ranjang ibunya sambil menatap ke arahku.
"Siapa yang menelponmu?" tanyanya.
"Adikku, Robin."
"Ohh ..."
"Pak, eh, maksudku Malvin, sepertinya aku harus pulang sekarang. Adikku ada di bengkel sekarang. Dia minta di jemput," terangku.
"Oh, baiklah. Tapi, aku tidak akan mengantarmu turun," ucapnya yang terdengar seperti orang kesal.
"Gak apa-apa, kok. Kalau begitu, aku pulang dulu, yah!"
Malvin mengangguk.
Aku pun langsung melesat turun ke bawah. Begitu sampai di lantai dasar, sopir yang tadi datang menghampiriku
"Non, mobilnya lagi ada di bengkel. Tadi pas di jalan, bannya tiba-tiba bocor. Jadi, aku bawa dulu ke bengkel keluarga Alfarezi," ucapnya.
"Oh, gitu yah pak. Yaudah gak apa-apa. Nanti aku aja yang ke sana," ucapku.
"Non gak buru-buru, kan?" tanya bapak itu.
"Sebenarnya, aku lagi mau jemput adikku, Pak. Kebetulan, mobilnya juga masuk ke bengkel," jawabku jujur.
"Bagaimana kalau saya antar, Non?" tawarnya.
"Tidak usah. Biar saya yang antar dia. Tolong siapkan mobil," tiba-tiba tanpa ku sadari Malvin sudah ada tepat di belakangku.
Aku berbalik. "Gak usah. Aku pesan ojek online aja."
"Siapkan mobil," perintahnya lagi kepada bapak itu.
"Baik, Tuan," jawabnya kemudian pergi.
Ia menatapku. "Kamu juga tidak usah banyak bicara. Aku yang akan mengantarmu. Kita sekalian juga pergi menjemput adikmu itu."
Karena tidak punya pilihan lain, aku terpaksa menyetujuinya.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRLῳ_ ῳ
BERSAMBUNG
Halo teman-teman sekalian ...
Setelah sekian lama, baru kali ini aku mendapat waktu untuk menyapa kalian, heheh...
Ohiya, aku akan memberitahu ke kalian tentang tokoh-tokoh yang ku gunakan sebagai pelakon di dalam ceritaku ini. Sebenarnya kalian bebas untuk mengimajianasikan tokohnya, tetapi ini adalah pilihanku heheh. Tapi, kalau kalian ngebayangin Rektornya itu misalkan Jacob Twiligth juga gak apa-apa, silahkan aja hehehe ..
Pertama-tama kita bahas pemeran ceweknya dulu yah ....
Nayeong Twice as Naion Shaarem.
Anak K-POP dan semua Once pasti tau Nayeon, kan? Gak mungkin lah yah kalau gak ada yang tahu dengan member tertua Twice ini.
Okey, Next ...
Jeongyeon Twice as Arisa Shorta (Sahabt Naion). Nah, selain Naion para Once juga pastinya sudah mengenal member 96 line ini kan?
Sekarang, kita beralih ke pemeran cowoknya.
Nah, yang pertama ...
Taehyung alias V BTS as Malviano Alfarezi.
Nah, Armyy dan Non Army jug pasti sudah tahuu lah yah siapa Tae ini (Aku juga Army). Aku membuat karakternya Tae yah seperti Tae yang kita kenal. Cuman, di sini dia memiliki kemampuan yang
Selanjutnya ...
Soobin TXT sebagai Robin Shaarem.
Itulah dia nama semua pemain yang berlaga di dalam cerita ini.
Terima kasih ...
Happy Reading ...