BAB 8 (BERTEMU REKTOR MUDA)

2045 Words
                                                                 ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ Jalanan yang terbuat dari beton ini terletak di belakang Fakultas. Tempat  tersebut merupakan area yang sangat luas. Di samping jalanan terdapat banyak pepohonan yang rindang serta beberapa tanaman yang tumbuh liar, namun terlihat sangat cantik jika dipadukan dengan rerumputan hijau di dekatnya. Suasananya begitu tenang dan juga asri. Aku berjalan pelan. Ketika hendak berbelok menuju ke bagian belakang Fakultas, tiba-tiba sesuatu mengusik pandanganku. Diujung jalan tepat di sebelah kiri, aku melihat bangunan kecil yang berbentuk segi empat. Sewaktu masih MABA (mahasiswa baru), aku memang selalu penasaran untuk memasuki gedung itu. Tetapi, hal tersebut  tidak pernah terwujud dikarenakan jadwal kuliah sangat padat dan mengurasa banyak tenaga. "Sudah lama sekali aku tidak ke sini," ucapku sendiri. Terdapat sederet kursi panjang yang berada di pinggir jalanan ini. Lebih tepatnya di sebelah kanan, bersandar langsung dengan dinding gedung Fakultas. Melihat tempat  tersebut, aku pun langsung mendatanginya kemudian duduk di kursi itu seraya menunggu Rektor datang. "Queen ...," terdengar suara memanggilku dari arah pepohonan – pepohonan yang berada persis di hadapanku.  Mereka melambaikan tangannya sambil berayun-ayun di dahan pohon itu.   Sebelumnya aku ingin menyampaikan sesuatu. Pada dasarnya, dimensi manusia dan juga mahluk-mahluk astral itu sangat tipis. Meskipun berada di dunia yang sama, kedua mahluk itu tidak bisa saling bersatu. Manusia diciptakan memiliki tubuh kasar yang di dalamnya berisi ruh. Sedangkan mereka hanya memiliki ruh , tetapi tidak mempunyai tubuh kasar. Makanya, para mahluk astral itu dapat menyerupai apa pun yang diinginkannya. Mereka para bangsa jin tidak hanya aktif di malam hari. Tetapi, mereka juga  sering beraktivitas dikala hari masih terang. Hanya saja, power keberadaannya sangat tipis karena hawa keberadaan manusia yang sangat besar. Namun ketika menjelang malam, aura mereka akan  semakin terasa, sedangkan manusia semakin menipis. Aku membalas lambaiannya, sambil tersenyum. "Kenapa baru muncul lagi, Queen?" "Aku terlalu sibuk di rumah, jadi tidak punya kesempatan untuk pergi ke kampus," jawabku bohong. "Senang melihatmu kembali, Queen!" ujar salah satu dari mereka. "Senang bisa kembali," balasku. Tak ... tak ... tak ... Suara hentakan sepatu terdengar sangat nyaring memaksaku untuk menoleh ke arah sang pemilik suara tersebut. Dari kejauhan, aku melihat lelaki berwajah tajam dengan pandangan mata setajam elang yang  memakai setelan jas berwarna krem dengan dasi sebagai penghias di ditengahnya. Tidak salah lagi, itu pasti pak Rektor.  Ketika melihatnya berjalan, ada sesuatu eneh yangmengambang di samping Rektor tersebut. Begitu memperjelas pandangan, aku mendapati satu sosok yang menempel ditubuhnya. Menurut pendapatku yang sudah memiliki pengelihatan ini sejak lama,  yang berada di sebelah Rektor itu merupakan mahluk yang biasa dikenal dengan sebutan, arwah. Arwah itu menatapku dengan raut wajah sedih. Menggunakan bahasa batin, aku membuka komunikasi dengannya. "Permisi ...," sapaku. Arwah itu terkejut. "A—apa kamu bisa melihat saya?" tanyanya. Aku mengangguk. "Syukurlah, akhirnya ada yang bisa berbicara denganku," ucap wanita paruh bayah yang masih terlihat sangat cantik itu. "Kenapa Anda berada ditubuh  lelaki itu?" tanyaku penasaran. "Dia adalah anakku," jawabnya. "Maaf, bolehkan saya tahu kenapa Anda masih berada di dunia ini?" Ekspresi wajah arwah itu terlihat sangat sedih.  Namun, ia tidak menjawab pertanyaan yang ku lontarkan. Aku berhenti berbicara dengan arwah itu. Pak Rektor sudah hampir berjalan melewatiku. "Pak!" panggilku. Rektor itu berbalik.  "Kamu memanggil saya?" Aku mengangguk. "Ada keperluan apa?" Tanyanya dengan ekspresi wajah yang dingin. "Saya ingin mengajukan permintaan, Pak." "Mohon maaf, saya tidak ada waktu," ucapnya sambil  kembali berjalan. "Tunggu!  Bapak tidak bisa seperti itu. Harusnya,  Bapak mendengar permintaan semua mahasiswa. Bukannya acuh seperti ini!" Ia menghentikan langkahnya, kemudian berbalik ke arahku. "Saya memiliki banyak pekerjaan lain yang lebih penting."  Setelah berkata demikian, ia kembali berjalan. "Saya adalah seorang anak indigo," teriakku. Namun, ia tidak memperdulikannya sama sekali. "Saya bisa melihat ibu kamu," teriakku lagi. Karena sudah tidak tahu apa yang mesti kulakukan untuk membuatnya  mendengarkan permintaanku, akhirnya dengan sangat terpaksa aku melakukan hal ini. Rektor itu berhenti. Kemudian, berjalan mundur sampai aku dan dia benar-benar saling berhadapan. "Kamu jangan asal bicara,yah!" ucapnya. "Gak ngasal kok, Pak! Saya bicara jujur apa adanya," ucapku. "Kamu punya bukti apa kalau kamu gak bohong?" ujarnya meremehkan. Aku bertanya dengan arwah ibunya menggunakan bahasa bantin. "Nama Bapak Malviano Alfarezi, anak tunggal dari pengusaha sukses Alfarezi, hoby  berlari dan juga membaca buku, bergolongan darah O, dari kecil bercita-cita menjadi dokter tetapi malah tersangkut di jurusan Farmasi, dan yang terakhir Bapaka jomlo," jawabku pongah. Ia menatap sinis ke arahku. "Kamu pasti liat data itu di google dulu sebelum bertemu denganku, 'kan?" Rektor itu mengubah panggilan dirinya dengan sebutan 'aku' bukan  'saya'. Baiklah, aku juga akan bersikap informal seperti itu. Toh, dia juga terlihat sangat muda. Mungkin, usianya pun hanya berjaraka beberapa tahun dariku. Jadi, tidak perlu ada yang dikhawatirkan. "Gak lah! Emangnya data kamu ada di google?" Rektor yang bernama Malviano  ini memegang batang hidungnya, setelah itu ia menutup matanya sejenak. "Yaiyalah! Siapa sih yang gak kenal sama aku? Pemuda yang berhasil menjabat sebagai Rektor diusia yang terbilang sangat muda. Cerdas, berbakat, berprestasi,  mapan, dan tampan, itulah aku," ucapnya berapi-api dengan ekspresi yang aneh. Mataku mengerjap-ngerjap. Otak yang ada dikepalaku berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Satu fakta baru yang ketahui dari lelaki yang menjabat sebagai Rektor di kampus ini. Sepertinya, dia memiliki penyakit narsisiologi. Dimana semua penderitanya memiliki gejala seperti, terlalu percaya diri, ingin di puja, dan juga ingin di puji. "O—oke, aku baru tahu soal itu. Tapi, apakah kamu sudah percaya?" Wajahnya kembali tanpa ekspresi. "Kamu baru tahu? Astaga!" ia menggelengkan kepalnya. "Untuk pertanyaan percaya atau tidak, yah,  tentunya tidak."  Ia melirik arloji yang ada ditangannya. "Baiklah, sepertinya aku sudah menghabiskan banyak waktu. Sebaikanya aku pergi. Lagian, siapa tahu kamu hanya ingin mencari perhatianku saja. Makanya kamu sampai mengarang bebas seperti ini," ucapnya kemudian berjalan meninggalkanku. Aku menghela napas panjang. "Pertama, aku tidak ingin mencari perhatian denganmu. Dan yang kedua, aku tidak peduli kamu percaya atau tidak. Namun satu hal yang ku ketahui tentang ibumu. Beliau meninggal karena kecelakaan lima tahun yang lalu. Lokasi tabrakannya terletak di jalan Salampe. Saat itu, beliau mengendarai mobil berwarna merah dan membawa tiga orang penumpang. Dan salah satu penumpang itu adalah kamu," ucapku serius. Perlahan tubuh Rektor itu berbalik, kemudian menatapku dengan ekspesi wajah yang tidak terdeterksi. Aku tidak tahu arti tatapan itu. Sedih, marah, kesal, kecewa, semua bercampur aduk.  Jadi, aku tidak bisa menentukan apa yang menggambarkan isi hatinya. Tiba-tiba ia berjalan dengan sangat cepat, kemudian menyambar tanganku, lalu sebuah mobil hitam yang  terlihat sangat mewah datang menghampiri kami. Rektor bernama Malviano itu memaksaku masuk ke dalam mobil tersebut. "Kita ke rumah," ucapnya pada sang pengemudi. "Baik, Tuan!" Apa yang sedang terjadi?                                                   ῳ_ ῳ AUGURY GIRLῳ_ ῳ                                                            BERSAMBUNG Otakku belum bisa mencerna apa yang telah terjadi. Tadi, tiba-tiba Rektor bernama Malviano ini menarik tanganku, lalu memaksaku untuk naik di dalam mobil yang bermerk Alphard tersebut. Sejujurnya, aku merasa sedikit takut. Sebab, lelaki yang memiliki garis wajah yang tajam itu membuat tekanan suasana yang di dalam mobil saat ini terasa sangat menegangkan. "Pak, saya mau dibawa ke mana?" Kedua manik matanya menatapku. Seperti ada ribuan anak panah menusuk ke jantung, nyaliku sedikit menciut. Pada dasarnya, aku tidak pernah takut dengan siapa pun. Kecuali, Tuhan dan juga kedua orangtuaku. Namun, entah mengapa— saat ini— meskipun sangat sedikit, rasa itu kembali muncul.  "Ke rumahku," jawabnya dingin. "Ta—tapi kamu tidak akan macam-macam, 'kan?" Yang tadinya, pandangan lelaki itu sudah mengarah ke depan. Ketika mendengar pertanyaanku, ia kembali menatapku dengan sorot mata yang tajam.  Ia melirikku dari kepala sampai ujung kaki. "Boleh juga!" Mendengarnya berkata seperti itu, kedua tanganku secara otomatis langsung membuat tanda silang. "Kamu jangan macam-macam, yah!" "Pfff ... Hahahaha ...," Rektor itu tertawa sangat keras begitu mengetahui reaksiku. Melihatnya tertawa, aku semakin bertambah bingung. Namun entah mengapa, rasa tegang yang kurasakan menjadi sedikit berkurang. Satu hal yang ku ketahui tentang Rektor ini, dia sedikit tampan kalau sedang  Setelah terbahak, wajahnya kembali berubah seperti semula. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik, ia langsung bisa merubah ekspresi wajahnya. Dan hal itu membuatku merasa  ngeri sendiri. Rektor itu melonggarkan sedikit dasinya. "Tidak usah khawatir, kamu bukan tipeku." "Syukurlah ...," ucapku sambil menghembuskan napas lega. "Tapi, apa yang akan ku lakukan di rumahmu?" "Kamu lihat saja nanti," jawabnya tanpa melihat ke arahku. "Ohiya, bagaimana dengan mobilku?" "Tenang saja, kasi kuncinya sama Bapak yang ada di depan itu. Nanti dia yang akan membawa mobilmu ke rumahku," ucapnya.   Arwah ibu yang saat ini berada di belakang Rektor,  memberiku kode untuk melakukan komunikasi. "Iya, bu, ada apa?" tanyaku menggunakan batin. "Eh, tapi tidak apa-apa saya memanggil tante dengan sebutan ibu? Karena sejujurnya, saya lebih nyaman dengan panggilan itu dibanding Anda dan juga Tante." "Tidak apa-apa," ucapnya sambil tersenyum. "Maafkan sikap Malvin yah, Nak!" "Santai aja Ibu, itu tidak jadi masalah . Tapi, dia beneran tidak akan berbuat jahat,'kan?" Arwah dari ibu Pak Rektor itu menggeleng pelan kepalanya. "Dia adalah anak yang baik. Jadi, kamu tidak usah takut." Hatiku benar-benar merasa lega mendengar arwah ibu tersebut. Tadinya, aku sempat berpikir ia akan menculikku untuk melakukan transaksi illegal. Seperti menjual ginjal, hati, mata, atau bahkan jantungku. Namun, semua kekhawatiran itu sirna. Siapa yang tidak akan berpikir seperti itu ketika orang asing seperti Pak Rektor menculikmu tanpa tahu ada apa sebenarnya. Oke, aku memang tadi memaparkan beberapa fakta yang ku tahu tentang ibunya. Tetapi, ekspektasiku tidak sampai seperti ini. Yang kutakutkan adalah dia tersinggung dengan ucapanku, yang akhirnya membuat Rektor bernama Malvin itu ingin melenyapkanku dari muka bumi. "Kamu kenapa menoleh ke belakang terus?" tanya Rektor yang seketika membuatku terkejut. "Aku sedang berbicara dengan ibu kamu, Pak," jawabku jujur. Dari ujung mata, sopir yang ada di depan melirik dari balik cermin mobil yang memang berfungsi untuk melihat ke belakang. "Sejujurnya, aku belum bisa percaya seratus persen dengan apa yang kamu katakan," ucapnya. "Lalu, untuk apa aku ke rumah Bapak?" tanyaku kesal. "Tujuanku ingin bertemu dengan Bapak itu karena  ingin memprotes tentang peraturan kampus yang sangat membuat kami para pejuang akhir tersiksa. Masa ia, kita  harus melakukan review jurnal dulu sebelum melakukan bimbingan?" "Kamu ini benar-benar cerewet, yah! Aku kan sudah bilang, kamu akan tahu setelah sampai di rumahku. Dan untuk masalah peraturan, aku tidak bisa merubahnya. " "Kenapa?" Ia melirikku. "Karena melakukan tugas review, bukanlah sesuatu yang sulit. Hitung-hitung, kamu dapat ilmu dari beberapa jurnal yang kamu rangkum itu," ucapnya. "Tapi, Pak—" "Tidak ada tapi, tidak ada protes. Kerjakan saja apa yang menjadi syarat kelulusan di kampus." ujarnya. "Kamu sudah semester akhir, 'kan? Berarti kamu udah semester delapan?" Aku menggeleng. Dahinya berkerut. "Semester sepuluh?" Aku kembali menggeleng. "Aku berada di semester dua belas yang artinya sudah enam tahun aku menyandang nama mahasiswi di kampus itu," ucapku santai. "What?!" pekiknya. Aku menaikkan kedua pundakku. "Kamu pasti malas ke kampus, kan?"  "Gak juga," jawabku.  "Berarti kamu udah sepuh, yah?" "Yah, seperti itulah." "Berapa usiamu saat ini?" tanya Rektor itu lagi. "24 tahun." Ia mangut-mangut. "Berarti, selisi usia kita berbeda 4 tahun." Aku menoleh ke arahnya. "Memangnya berapa usiamu?" "28 tahun," jawabnya.   Sebenarnya, aku tidak terkejut mengetahui hal itu. Karena aku memang sudah memprediksinya. "Kamu sudah tua." Ucapanku berhasil membuat kedua mata Rektor itu melotot ke arahku. Daripada membuat masalah, lebih baik aku diam saja untuk sementara ini.                                                    ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ Hai teman-teman ... Apa kabar kalian semua? Ku harap kalian dalam keadaan sehat walafiat yah ... Ohiya, yang punya w*****d kalian bisa mampir ke ceritaku berjudul "ALGEA" Aku kirimin Burb-nya yah!                                                                      ALGEA Tokoh : - Clarissa :          Aku memiliki sepasang mata yang dapat melihat mahluk-mahluk tak kasat mata. Mungkin, kalian lebih mengenalnya dengan sebutan, hantu. -Rana Inzyna :         Aku paling takut dengan segala hal-hal yang berbau mistis, seperti hantu-hantuan. Aku memang percaya akan adanya mahluk lain selain manusia di dunia ini. Namun, aku sebisa mungkin menghindari apa pun yang berhubungan dengan dunia mereka. -Aldora Weston :        Hal yang paling mustahil ialah keberadaan mahluk yang disebut hantu. Selain tidak percaya hantu itu ada, aku juga pastinya tidak akan mempercayai orang-orang yang mengaku bisa melihat mahluk tersebut. Case :     Terjadi insiden pembunuhan berantai yang menimpa salah satu sekolah swasta yang terkenal, yaitu SMA PATRICORN INTERNATIONAL. Dimulai dari penemuan mayat yang tergantung di atas pohon, hingga penemuan beberapa mayat lainnya yang ditemukan diberbagai lokasi yang berbeda juga dalam kondisi mengenaskan. Apa yang akan terjadi, jika ketiga sahabat ini dipertemukan oleh beberapa kasus yang melibatkan dunia para mahluk dari dimensi lain, sekaligus pembunuhan berantai di sekolah mereka?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD