Kamis, 19 Februari 2020
Tuhan menciptakan manusia di dunia ini tidaklah sendirian. Ada mahluk lain yang juga ikut menetap di dunia ini selain manusia. Hanya saja, kedua mahluk tersebut memiliki dimensi yang berbeda. Jadi, untuk menyatukan mereka merupakan suatu hal yang sangat mustahil. Nama bangsa mereka disebut Jin. Mungkin dari kalian pasti sudah mengenal mereka atau pernah berinteraksi dengan salah satu kaum tersebut.
Untuk bangsa Jin, Tuhan menciptakan mereka dengan berbagai kelebihan di mana ia dapat keluar masuk diantara dunia manusia dan juga dunia para jin. Selain itu, mereka juga bisa melihat manusia. Sedangkan, manusia pada umumnya tidak bisa melihat mereka. Kecuali, orang-orang yang memang sudah ditakdirkan memiliki kamampuan yaitu dapat melihat dan juga berinteraksi dengan mereka semua. Dan manusia seperti itu, hanya ada beberapa saja yang tersebar di dunia ini.
Ini hanya merupakan pendapat pribadiku saja. Ada dua golongan bangsa jin. Yang pertama adalah golongan putih dan yang kedua adalah golongan hitam. Untuk yang bergolongan putih, mereka merupakan jin yang baik, tidak suka menganggu, dan menjalankan perintah Tuhan. Sedangkan golongan hitam, mereka memiliki sifat yang tidak baik. Dimana mereka suka mengganggu manusia dengan cara menampakkan diri, melakukan kekacauan, dan tak jarang menjerumuskan manusia ke dalam dunia kegelapan seperti melakukan pesugihan atau melakukan perjanjian lainnya.
Salah satu contohnya seperti warung makan yang ada tepat di hadapanku saat ini. Dimata manusia normal, tempat itu nampak biasa saja. Namun, berbeda dengan mata orang-orang sepertiku yang langsung bisa melihat apa yang mereka gunakan di dalam warung tersebut. Mungkin kalian semua sudah mengenal yang namanya pelaris.
"Nai, makan di sana aja, yuk! Katanya mie ayam di tempat itu enak banget," saran Arisa.
Aku menurunkan kaca mobil. Saat menengok masuk ke dalam warung makan itu, aku melihat ada banyak tuyul yang sedang mengencingi makanan yang ada di depannya. Selain itu, aku juga melihat di samping kasir ada sosok perempuan berbaju putih yang terus- terus melambaikan tangannya. Tugas sosok tersebut adalah untuk menarik pelanggan. Sedangkan para tuyul itu bertugas untuk membuat makanan yang disajikan terasa leih nikmat. Aku yang melihatnya benar-benar merasa jijik.
Aku menoleh ke Arisa. "Lo yakin mau makan di sana?"
Arisa mengangguk semangat.
"Kalau gue bilang warung itu banyak tuyulnya, gimana?" tanyaku.
"Hah? Apa tuyul?"
Aku mengangguk. "Tuyul itu nempel di belakang pelayan. Trus pas sampai ke pelanggan, tuyul itu kencing deh di makanannya."
"Ewuuhh! Gak jadi deh! Jijik gue dengernya. Yuk, cari tempat makanan lain aja," ujarnya.
"Siap!" Aku kembali menyalakan mobil kemudian pergi dari warung itu.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRLῳ_ ῳ
Seusai makan siang, aku dan Arisa kembali ke kampus untuk melakukan bimbingan lagi ke Pak Kasim.
"Kalian sudah sampai di mana?" tanya beliau.
Aku dan Arisa bertukar pandangan.
"Kami belum ngerjain apa-apa, Pak. Soalnya, pas terakhir bimbingan Bapak menyuruh kami untuk cari cari-cari judul dulu," ucapku.
Pak Kasim memegang dagunya, sambil menganggukkan kepala. "Kalian sudah ada judul?" tanya beliau lagi.
"Ada, Pak," jawabku bersamaan dengan Arisa.
Kami pun berdiskusi tentang judul serta penelitian apa yang akan kami lakukan nanti. Setelah satu jam melakukan bimbingan, akhirnya aku dan Arisa selesai.
"Saya mau kalian sudah punya draf bab satu sampai bab 3 minggu depan. Bisa?" tanya Pak kasim.
"Siap, Pak!" jawabku.
"Bisa, Pak," jawab Arisa juga.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRLῳ_ ῳ
Kami selesai melakukan bimbingan dan saat ini sedang duduk santai di kursi depan prodi. Tiba-tiba ponsel Arisa berbunyi.
"Nai, gue ada kelas nih! Boleh gak lo tungguin gue?" Arisa melirik jam yang ada ditangannya.
"Lo ada kelas siang?" tanyaku.
"Iya. Kesel banget deh gue. Tadi katanya gak masuk. Eh, tau-tau ada pemberitahuan kalau dia jadi masuk. Gak konsisten banget sih tu dosen!" ujarnya kesal.
"Gue paling gak suka nih tipe-tipe dosen kayak gitu. Tapi, yah, mau gimana lagi lo hanya bisa nurut aja."
Arisa menarik napas panjang . Wajahnya terlihat cemberut. "Iya. Kalau gitu, gue pergi dulu, yah!"
"Okey. Gue tungguin lo di sini," ucapku.
"Sip!" Arisa pun pergi.
Aku merongoh tas untuk mengambil headset. Namun, tiba-tiba sesuatu terlintas dikepalaku. Yah, ini mungkin adalah saat yang tepat untuk mendatangi gedung tua itu. Toh, Arisa juga pasti masih lama kulianya.
Karena tidak jadi menggunakannya, aku kembali memasukkan headset itu ke dalam tas, kemudian melangkah menuju ke gedung tua tersebut.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ
Aku menatap gedung tua itu yang jaraknya sudah tidak jauh dari tempatku berdiri. Di samping bangunan tua berbentuk segi empat itu, terdapat sebuah pohon yang lumayan besar. Biasanya, para kunti sangat menyukai pohon-pohon yang rindang seperti itu. Namun saat melihat naik ke atas, aku tidak melihat satu pun kunti yang menempati pohon tersebut.
Perlahan aku mulai melangkahkan kakiku. Baru saja aku berjalan beberapa langkah, tiba-tiba sosok perempuan yang tanpa busana itu muncul tepat di atas bangunan. Ia menggelengkan kepalanya, seakan-akan menyuruhku pergi.
Kenapa reaksi dia sama persis dengan sosok perempuan yang ada di ruangannya Pak Armus? Kalau dilihat-lihat lagi, kondisi mereka hampir sama. Tangannya terikat, meskipun berbeda namun mulut mereka sama-sama ditutup. Yang satunya dibekap dan satunya lagi dijahit.
Aku membuka interaksi dengannya meskipun tahu kalau dia tidak bisa meresponku. Sambil berkomunkasi, aku juga perlahan kembali mendekati gedung itu karena tadi aku sempat berhenti ketika mpertama kali melihatnya.
"Kenapa kamu bisa seperti ini?" tanyaku.
Ia hanya menggelengkan kepalanya.
Ketika semakin mendekat ke sosok perempuan itu, tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Wajah dari sosok wanita yang saat ini berada tepat hadapanku, sama persis dengan foto yang ada di dalam poster itu.
Aku kembali merongoh tasku untuk mengambil poster itu.
Aku menunjukkan poster tersebut. "Apakah benar ini kamu?" tanyaku.
Ia mengangguk pelan. Entah mengapa perasaanku seperti ditikam yang mengakibatkan rasa sakit yang amat sangat. Gadis itu benar-benar sangat malang. Baru saja ia kehilangan kedua orangtuanya, kini ia juga harus pergi dengan cara yang tidak lazim seperti ini. Aku sangat ingin menanyakan penyebab kematiannya. Namun karena tidak bisa berbicara, aku langsung mengurungkan niatku itu.
Kini aku sudah sampai di bagian belakang gedung ini. Karena ingin melihat apa yang terjadi sebelumnya di tempat ini, aku akan mencoba menempelkan satu tanganku ke dinding bangunan tersebut.
Ketika hendak melakukannya, tiba-tiba seseorang menyentuh pundakku. Saat menoleh ke belakang, aku mendapati Pak Armus tiba-tiba berada di belakangku.
Kenapa Pak Armus tiba-tiba bisa ada di tempat ini?
ῳ_ ῳ AUGURY GIRLῳ_ ῳ
"Pak Armus?"
Dosen itu menatapku tanpa ekspresi.
"Kamu kenapa ke tempat ini?" tanyanya.
"Oh, aku tadi nyari belalang, Pak,"jawabku berbohong.
"Kenapa mencari belalang di sini?" Entah mengapa aku merasa ada yang aneh dengab pertanyaannya.
"Karena di sini kan lumayan banyak rumput. Kalau Bapak sendiri ngapain ke gedung ini?" tanyaku balik.
Dosen itu tersenyum tipis. Namun, sorot matanya terlihat sangat menakutkan dan terkesan mengintimidasi.
Ada apa dengan Pak Armus?
"Saya ingin liat-liat aja. Karena katanya, tempat ini sering ada penampakan dan semacamnya. Makanya, saya penasaran untuk mendatanginya,"jawabnya.
"Kamu tidak takut datang ke tempat ini?" tanyanya lagi masih dengan sorot mata yang tajam.
Aku menggeleng. "Kenapa mesti takut? Toh, mereka gak benar-benar ada," jawabku lagi-lagi berbohong.
"Mereka ada kok. Cuman kamu saja yang tidak bisa melihatnya."
"Oh, gitu yah, Pak."
"Ya sudah, karena daritadi aku gak nemu-nemu belalang di sini, aku akan cari di tempat lain saja." Aku sedikit membungkukkan badan. "Kalau begitu saya pergi dulu, Pak!" ucapku.
Baru saja beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba ia memanggilku.
"Saran saya, kamu jangan mendekati gedung ini lagi. Karena seperti yang dikatakan semua orang, di tempat ini sering terlihat penampakan," ucapnya masih dengan wajah yang tanpa ekspresi.
"Baik, Pak!" Aku kembali berjalan meninggalkan bangunan tersebut.
Namun, ketika aku kembali menengok ke belakang, aku melihat Pak Armus sedang menatap ke arahku. Dan yang membuat aku terkejut ialah satu tangannya sedang menarik rambut sosok perempuan yang jumpai tadi. Posisi perempuan itu seperti sedang berlutut yang juga mengarah padaku.
Feeling-ku selama ini benar. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik semua sikap Pak Armus yang terlihat sangat baik, sopan, dan juga ramah. Siapa yang tahu, kalau dia sebenarnya ada manusia mengerikan suka menyiksa mahluk-mahluk astral seperti yang kusaksikan tadi.
Tidak tahu kenapa, belakangan ini aku selalu berpikir yang tidak-tidak tentang Pak Armus. Sudah beberapa kali aku mendapati sesuatu yang ganjil darinya. Salah satu contoh, pernah sekali aku berpapasan dengannya. Saat ingin menyapa beliau, tiba-tiba aku melihat satu sosok yang besar bertanduk, dengan taring panjang dimulutnya, dan yang paling menjijikan adalah mata dari mahluk itu mengarah ke segala arah yang membuatnya terlihat semakin mengerikan.
Selama hidup di dunia, aku baru pertama kali melihat sosok seperti itu. Aku tidak tahu apa kah dia merupakan sosok penjaga seperti yang ku miliki, atau bukan. Namun yang bisa ku pastikan adalah mahluk itu jahat.
Sepertinya, aku harus memperingatkan Arisa untuk tidak terlalu dekat dengan Pak Armus.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRLῳ_ ῳ
Bersambung
Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam kepenulisan atau kalian menemukan kesalahan lainnya. Karena harus up tiap hari, aku jadi gak punya kesempatan untuk revisi dlu. Insyaallah, kalau semua udah kelar, aku akan revisi semua kesalahan yang terdapat pada cerita ini
Happy Reading