Treet ... treet ... treet ...
Ponselku bergetar. Nama Arisa muncul di dalam layarnya.
"Nai, lo di mana?" tanyanya.
"Gue masih di depan prodi kok. Kelas lo udah selesai?"
"Udah," jawabnya.
"Oke, kalau gitu lo cepetan ke sini ada yang ingin gue ceritain," ucapku.
"Kebetulan banget. Gue juga mau ngomongin sesuatu sama lo. Baiklah gue ke sana sekarang," ucapnya kemudian mematikan panggilan tersebut.
Tidak berselang lama, Arisa datang. Ia lalu mengambil tempat persis di sampingku.
"Gila! Tadi dosennya tiba-tiba ngasi kuis," ucap Arisa.
Aku tertawa mendengarnya. "Apes banget lo!"
"Bukan lagi! Kena sial gue hari ini! Mana gue gak ada belajar sama sekali. Yah, dengan sangat terpaksa, gue membuat karya karangan bebas di dalam kertas kuis itu."
Aku kembali tertawa mendengar ucapan Arisa.
"Eh, tadi katanya lo mau ngomongin sesuatu?" tanyaku.
Arisa yang tadinya sedang merapihkan rambutnya, kini tiba-tiba berhenti lalu menatap serius ke arahku.
"Nai, lo liat gak ada sesuatu yang menempel di belakang gue?" tanyanya.
Aku membalikkan badannya. "Gak ada tuh!"
"Masa lo gak liat?" tanyanya lagi.
"Apa sih? Emang gak ada apa-apa kok! Suer! Belakang lo kosong. Aman dari yang serangga dan sebangsanya," jawabku.
Arisa menepuk jidatnya. "Bukan itu maksud gue, Nai!"
"Trus maksud lo apa dong?"
"Lo gak ada liat mahluk astral nempel di punggung gue, kan?" Arisa kembali mengulang pertanyaannya.
Aku memicingkan mata. "Gak ada kok!"
Arisa menggaruk pelan rambutnya. "Tadi pas mau masuk ke kelas, gue ketemu sama Pak Armus yang mau ngajar di kelas sebelah. Trus, dia tiba-tiba bilang ke gue kalau di punggung gue tuh ada kuntilanak yang menempel."
"Hah? Kuntilanak? Yang bener aja! Kalau pun memang ada yang menempel sama lo, sosok itu pasti sudah ngacir duluan pas ngeliat gue."
"Trus yang dibilang Pak Armus tuh apa, yah?" Wajah Arisa terlihat cemas.
"Lo santai aja, gak usah dipikirin. Intinya selama ada gue, lo gak akan digangguin sama setan lokal seperti mereka." ucapku menenangkan Arisa.
"Lo yakin gak liat apa-apa?"
"Sangat yakin!"
Kenapa Pak Armus berkata seperti itu pada Arisa? Dipunggungnya menempel sosok kuntilanak katanya? Hah, yang benar saja. Walaupun Arisa tidak bisa melihat dan berinteraksi dengan mahluk-mahluk astral, tapi ia memiliki satu sosok penjaga yang senantiasa mengawasi di mana pun Arisa berada. Meskipun tidak terlalu kuat, sosok penjaga itu mampu menghalau semua hal negatif yang akan menempel di tubuh Arisa.
Kalau Pak Armus memang seorang anak indigo, ia pastinya bisa melihat satu sosok laki-laki remaja yang dari wajahnya saja kita bisa mengetahui bahwa ia merupakan salah satu turunan Belanda. Anak lelaki itu sangat baik. Aku sering berinteraksi dengannya kalau Arisa sedang tertidur atau mandi di rumahku.
"Nai, Naaaionn," teriak arisa persis di samping telingaku yang sontak membuatku tersadar dari lamunan.
Aku menutup satu kupingku. "Aduh! Lo bisa gak sih ngomongnya tuh pelan-pelan aja? Sakit nih telinga gue!"
"Lo sih! Diajakin ngomong tau-tau malah ngelamun!" Ujarnya.
"Eh, sory. Lo ngomongin apaan tadi?" tanyaku.
"Gue tadi bilang kalau malam ini gue bakalan nginap di rumah lo. Boleh gak?"
Aku menepuk bahunya. "Boleh, lah! Lo pake nanya lagi."
Arisa meringis. "Sakit tau, Nai! Lo mukulnya kek ada dendam aja."
"Itu balasan dari teriakan lo yang udah hampir ngerusakin gendang telinga gue," ucapku sambil memasang senyum kemenangan.
"Lo yah—"
Robin tiba-tiba datang menghampiri kami. Napasnya tidak beraturan dan wajahnya terlihat sangat panik.
"Kak ..."
Aku dan Arisa bangkit dari tempat duduk.
"Kamu kenapa, Dek?" tanyaku.
"Ada apa, Dek?" tanya Arisa juga.
Robin terlihat masih berusaha mengatur napasnya.
"Kamu kenapa pakai lari-lari sih? Sini, duduk dulu!" Aku menarik tangan Robin kemudian menyuruhnya duduk di bangku yang tadinya ku tempati bersama Arisa.
"Minum ini, Dek." Arisa memberikan minumannya kepada Robin.
Robin mengambil air yang diberikan Arisa, kemudian meminumnya sampai habis.
"Kamu kenapa? Coba ceritakan sama kami?" tanyaku.
Robin menatap mataku lekat-lekat. "Kak, Alika menghilang."
"Apa?!" pekikku berbarengan dengan Arisa.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ
Alika menghilang. Aku, Arisa, Robin, dan juga beberapa teman-temannya berpencar untuk mencari Alika. Robin pergi ke rumah kostnya, aku dan Arisa serta semua temannya menyebar meneluri Fakultas Kesehatan Masyarakat. Namun setelah sekian lama mencari, kami semua tetap saja tidak menemukannya sama sekali.
Saat ini kami sedang berkumpul di dekat poliklinik yang berada persis di samping Fakultas.
"Kalian liat Alika terakhir kali di mana?" tanyaku kepada semua temannya yang berjumlah sepuluh orang.
"Terakhir kali aku liat dia di depan kelas kok, Kak. Mungkin, dia lagi nungguin Robin," jawab salah satu dari mereka.
"Kita harus berpositif thingking aja dulu. Siapa tau dia pergi ke tempat makanan atau di mana kek?" ucap Arisa.
Hampir semua juniorku ini menggelengkan kepalanya. "Tas Alika masih ada di tempat duduknya, Kak. Bahkan, Mobil Alika masih terparkir manis di area depan Fakultas. Jadi, tidak mungkin Alika pergi. Kalau pun mau pergi, biasanya dia pasti pamit dulu."
Aku dan Arisa terdiam mendengar ucapannya. Aku bukannya berpikir negatif. Tapi, semua kesaksian mereka mengarah ke satu masalah yang menjadi pandemik di kampus saat ini. Arisa juga menjadi korban dari psikopat berdarah dingin itu.
"Kak, bagaimana kalau kita kasi tahu Polisi aja biar mereka bisa bantu kita," saran salah satu adik juniorku bernama Arham.
"Benar juga! Kenapa kita gak kepikiran dari tadi, yah?" Arisa mengusap keningnya.
"Kalau gitu, bagaiaman kalau kamu aja yang pergi melaporkan hal ini kepada para polisi itu?"
"Baik, Kak!" Ia pun mengajak salah satu temannya untuk ikut.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRLῳ_ ῳ
"Selamat siang,." Tiba-tiba datang tiga orang Polisi menyapa kami. Mereka datang bersama dengan Arham dan juga satu temannya lagi.
"Siang, Pak," jawabku dan semua adik juniorku, kecuali Arisa. Arisa tidak merespon sapaan itu karena Inspektur Hari Herlambang yang merupakan mantan dari sahabatku itu juga ikut bersama kedua rekannya. Dan kebetulan, dia yang menyapa kami.
"Kami diberitahu oleh dua orang adik ini bahwa salah satu teman kalian ada yang menghilang. Boleh kami tahu siapa yang terakhir kali melihatnya?"
Adik juniorku yang tadi memberi keterangan, ia kembali menceritakan apa yang ia lihat. Para Polisi itu mengintrogasi mereka semua. Sedangkan, aku dan Arisa masih saja terdiam. Itu karena kami memang tidak tahu apa-apa.
Tidak berselang lama, Robin datang . "Kak, Alika gak ada di mana-mana," ucapnya lirih.
Ari serta dua polisi lainnya menatap Robin yang baru tiba.
"Ini adik gue, Ri,"ucapku pada Hari yang sontak membuat semua orang kecuali Arisa yang ada di tempat ini terkejut mendengar ucapanku.
"Oh, kenapa dia baru datang?" tanya Ari.
"Karena dia pergi mencari Alika di kostnya. Ohiya, Adik aku ini pacar dari Alika," jawabku.
Ari mengangguk pelan.
"Kak, kalian udah saling kenal?" tanya Robin. Dan aku yakin, semua Adik juniorku yang ada di sini juga ingin menanyakan hal tersebut.
"Yap, kami udah saling kenal. Btw, dia mantannya Arisa," ucapanku mendapat pelototan horror dari Arisa.
"Oh ...," Robin mengulurkan tangannya. "Kenalin, Pak. Saya Robin Shareem dan mereka adalah teman-teman kelas saya dan juga Alika," ucapnya.
Ari membalas uluran tangan Robin. "Saya Inspekur Hari Herlambang. Dua orang ini adalah anggota saya, Dani dan Max," ucapnya.
Robin tersenyum meskipun aku tahu hatinya saat ini sedang kacau balau.
"Baiklah! Untuk saat ini kalian bisa kembali ke kelas, kecuali Robin," ucap Ari ke semua teman-teman kelas Robin.
"Baik, Pak!" ujar mereka.
"Tapi, bagaimana dengan tas dan juga kunci mobil Alika, Pak?" tanya Arham.
"Gue udah mengamankan barang-barang Alika," ucap Robin ke Arham. Saat mendengar jawaban Robin, Arham mengangguk kemudian ia pamit untuk kembali ke kelas bersama dengan teman-temannya yang lain.
Begitu mereka pergi, Ari memberi kode kepada anggotannya. Kedua Polisi itu mengangguk, kemudian pergi meninggalkan kami berempat.
Ari berbalik ke Robin. "Apa pacar kamu tidak menunjukkan gelagat yang mencurigakan sebelum ia menghilang?"
Robin berpikir sejenak. "Sepertinya tidak ada, Pak. Karena ia nampak seperti biasa dan tidak ada hal mencurigakan darinya," jawab Robin.
"Sepertinya, kasus ini semakin menarik dan pastinya berbahaya." ucap Ari.
"Ri, gue kok curiga kalau pelakunya itu orang yang memiliki aktivitas di kampus ini. Seperti, mahasiswa, Dosen, Pejabat kampus, dan lainnya," ucapku.
"Benar. Kami memang sudah menduga hal itu," ucap Ari. "Namun yang menjadi tanda tanya bagi kami yang menyelidiki kasus ini adalah jejak atau paling tidak sidik jari dari sang pelaku tidak terdeteksi sama sekali."
"Kok bisa?" tanyaku.
"Itu lah yang kami tidak tahu. Untuk menangani kasus ini, Pak Malvin bahkan memanggil ahli forensik dari luar kota untuk membantu mengungkap siapa pelaku di balik ini semua. Tetapi, lagi-lagi tidak di temukan apa-apa. Baik itu di kantong plastik hitam, di gaun putih, atau pun di tulang-benulang tersebut," terangnya.
"Wah, ka—"
"Aku ingat sesuatu," ucap Robin yang memotong ucapanku.
"Ingat apa, Dek?" Tanya Arisa pada Robin.
Robin menatap kami satu persatu. "Beberapa hari yang lalu, Alika sempat mengatakan padaku kalau Pak Armus mendatanginya. Dosen itu bilang bahwa ada mahluk halus yang menempel di tubuhnya. Aku tidak tahu ini sebuah informasi atau bukan, tapi hanya ini sesuatu aneh yang dikatakannya."
Aku dan Arisa seketika langsung bertukar pandangan. Karena, ia baru saja mengalami apa yang Alika rasakan.
"Kamu percaya dengan mahluk-mahluk seperti itu?" tanya Ari serius.
Robin melirikku. Lalu ia pun mengangguk.
"Sayangnya saya tidak pernah percaya dengan hal-hal mistis seperti itu," ucap Ari. "Apa kalian percaya?" tanyanya padaku dan Arisa.
"Gue percaya dong pastinya. Kan, Naion bisa melihat mereka semua," ucap Arisa blak-blakan. Robin pun juga ikut mengangguk menyetujui perkataan Arisa.
Ari menatapku. "Benar?"
"Yap," jawabku.
Ari mengusap keningnya. "Ini bukan candaan kan?"
"Gak ada yang berniat bercanda sama lo!" Arisa menjawabnya ketus.
Ia masih terlihat bingung.
"Begini deh, lo mau percaya atau tidak itu urusan lo. Gak usah terlalu dibawa pikiran. Saat ini, lupain dulu kalau lo tahu gue adalah seorang anak indigo. Lo fokus aja untuk menyelidiki kasus ini. Gue akan membantu lo mengumpulkan informasi dengan mencoba berkomunikasi dengan bangsa mereka," ucapku.
Ari berdeham. "Sejujurnya, gue gak tahu mau bilang apa. Tapi, thanks, yah. Aku akan berusaha percaya sama lo, meskipun otak gue masih belum bisa menerimanya seratus persen."
"Gak apa-apa. Aku ngerti kok," ucapku.
Ari kembali menoleh ke arah Robin. "Untuk saat ini, kamu harus nenangin diri dulu. Kalau kamu udah merasa baikan, saya tunggu kamu di posko. Kamu boleh ikut melakukan penelusuran bersama kami."
Robin mengangguk.
"Bagaimana dengan kita berdua? Kami juga ingin ikut," ucapku. Arisa mengangguk setuju.
"Kalian tidak boleh ikut. Kalian berdua perempuan. Dan rata-rata target pelaku itu adalah perempuan. Jadi, kalau kalian ikut bisa jadi itu akan membahayakan nyawa kalian," jawab Ari tegas.
Aku memberi Arisa kode. Kode itu bertujuan untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh Ari. Selama masa penelusuran mereka, aku akan mengajak Arisa untuk menyelidiki Pak Armus yang belakangan ini menunjukkan banyak keanehan.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRLῳ_ ῳ
Bersambung