BAB 19 (RENCANA)

2103 Words
       Malam ini Arisa menginap di rumahku. Setelah seharian mencari Alika, kami memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Sementara Robin masih melanjutkan pencariannya bersama Inspektur Hari. "Sudah ku bilang kamu gak usah ke kampus dulu!" ucap pria yang memiliki suara berat dari balik ponsel. "Aku kan bimbingan, Vin!" "Kamu tidak usah bimbingan dulu. Aku yang akan bicara langsung sama Pak Kasim. Untuk saat ini, kamu dan Arisa harus di rumah aja. Jangan menginjakkan kaki dulu ke kampus sampai kasus ini selesai. Aku akan mengedarkan surat ke semua Fakultas untuk mengurangi jatuhnya korban lagi," ucapnya. "Baiklah! Tapi tunggu, kamu mau edarkan surat untuk meliburkan mahasiswa?" tanyaku. "Bukan libur. Untuk mahasiswa, mereka akan tetap mengikuti perkuliahan seperti biasa di kampus. Sedangkan untuk mahasiswi, mereka hanya dapat mengikuti perkuliahan di rumah secara online," jawabnya lagi. "Hm ...," gumamku. "Sip, hanya itu yang ingin ku sampaikan. Aku mau kali ini kamu nurut dengan apa yang ku katakan," ucapnya tegas. "Baiklah, baiklah!" "Oke," ujarnya kemudian menutup panggilan. Aku langsung menghempas ponselku di atas tempat tidur. Alika yang sedang berbaring sambil memainkan ponselnya, kini melirikku. "Lo tuh sama Pak Malvin udah kayak orang pacaran aja, tau!" ujarnya.       Aku ikut berbaring di sampingnya. "Sembarangan aja lo kalau ngomong. Kami itu cuman berteman. Aku kan berusaha untuk menghilangkan perasaanku sama dia. Nah, jalan satu-satunya agar aku tidak mudah baper alias bawa perasaan kalau bertemu atau mendengar suara dia, aku harus menganggapnya hanya sebatas teman. Yap, teman yang selalu ada seperti lo," ucapku jujur. "Gue gak tahu mesti ngomong apa, Nai," ucapnya. "Kita lupakan soal Malvin dulu. Gue mau cerita tentang kejadian tadi siang pas lo lagi ada kelas." Aku menoleh ke Arisa. "Dan lagi-lagi kejadian ini melibatkan Pak Armus." Arisa bangkit, lalu mengambil posisi duduk. "Apa itu? Kok sekarang gue jadi ngeri tiap dengar nama Pak Armus?" Arisa mengusap lehernya. "Gue juga. Apalagi, soal Alika yang juga diberitahu hal yang sama dengan lo." "Bener. Trus, kejadian apa yang lo alami yang juga melibatkan Pak Armus?" tanya Arisa.         Aku pun kembali menceritakan apa yang ku alami tadi siang. Dimulai dari rasa penasaranku tentang bangunan tua itu. Sampai aku mendatangi tempat tersebut dan bertemu dengan Pak Armus yang entah dari mana asalnya tiba-tiba dia sudah berdiri tepat di belakangku. Aku juga memberitahukan tentang sosok perempuan yang pernah ku ceritakan padanya. Arisa terdiam. Ia seperti memikirkan sesuatu. Tiba-tiba ia menatapku lekat-lekat. "Lo serius?" tanyanya lagi. "Serius lah! Masa iya gue bohong?" Setelah mendengar jawabanku, ia kembali terdiam. "Lo kenapa?" tanyaku penasaran melihat perubahan reaksinya. "Sebenarnya, gue mau cerita sesuatu yang juga mengganjal dari prilaku Pak Armus," ucapnya serius. "Apa itu?" tanyaku. "Beberapa minggu yang lalu, Pak Armus kan ada jadwal ngajar di kelas gue. Karena gue suka banget ngeliat dia, gue jadi sering perhatiin setiap gerak-geriknya. Awalnya sih ia nampak biasa-biasa aja. Namun, entah mengapa semakin lama, aku merasa ada yang aneh dengan Dosen itu. Gue sering mendapati dia melirik satu persatu junior-junior kita, terutama yang cewek. Ia menatapnya dengan tatapan yang menurut gue kurang sopan," ucapnya. "Berarti benar. Dosen itu memang mencurigakan. Ingat gak lo waktu kita ke ruangannya?" Arisa menganguk. "Lo kan juga liat banyak lambang-lambang yang identik dengan penyembah iblis,kan?" Arisa kembali menganggukan kepalanya. "Gue juga sempat menanyakan patung wanita yang ada di dalam ruangannya itu. Gue belum pernah memberitahukan ke lo soal ini sebelumnya. Di samping patung wanita itu gue melihat ada arwah seorang wanita memakai baju putih. Wajahnya terlihat sangat sedih, kedua tangannya diikat, dan mulutnya juga di bekap." Kedua mata Arisa melotot. "Ngeri banget sih!" "Nah, semenjak dari situ gue jadi sering liat banyak keganjilan dari Pak Armus. Dan yang paling membuat prasangka gue ini benar adalah sewaktu digedung tua itu," ucapku lagi. "Aku juga memang merasakan hal yang sama dengan lo. Cuman, kita hanya gak tahu apa yang ia sembunyikan sebenarnya," ucap Arisa.       Keanehan demi keanehan telah ditunjukkan oleh Pak Armus. Dan secara tidak langsung, ia perlahan menujukkan satu sisinya yang gelap yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang mempunyai kemampuan sepertiku. "Nai?" Arisa memanggilku dan seketika membuat lamunanku buyar. "Yah?" "Sempat-sempatnya lo ngayal," ucapnya sambil tertawa. Tring! Ponsel Arisa berbunyi. Menandakan ada pesan yang masuk di dalamnya. Arisa mengambil ponsel tersebut, lalu ia membacanya. Setelah membaca pesan itu, Arisa menatap ke arahku. "Nai, Pak Armus menawarkan pengobatan ke gue," ucapnya. Dahiku berkerut. "Sini gue liat." Aku mengambil ponsel yang ada ditangannya. "Pengobatan apaan? Gila kali tuh Dosen," ujarku kesal. Arisa tersenyum tipis. "Nai, bagaimana kalau kita pakai kesempatan ini untuk mengetahui apa sebenarnya yang disembunyikan oleh Pak Armus?" Senyumku juga mengembang. "Ide yang bagus. Kalau gitu, kita harusnya menyusun rencana terlebih dahulu," jawabku. Arisa mengangguk setuju. Sepertinya, lagi-lagi aku tidak mengikuti apa yang dikatakan oleh Malvin. Entah mengapa, feeling-ku mengatakan bahwa aku harus menyelidik Pak Armus. Dan ternyata bukan cuman aku saja, Arisa pun juga merasakan hal yang sama denganku. Kami benar-benar sahabat sejati.                                                                            ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ Senin, 24 Februari 2020       Aku dan Arisa benar-benar pergi ke kampus. Meskipun sempat dihadang di depan gerbang karena para Polisi itu sudah diberitahu tentang surat edaran Malvin yang tidak membiarkan para mahasiswi mendatangi kampus. Pada akhirnya kami bisa masuk dengan bantuan Ari. Arisa berbohong mengenai barangnya yang tertinggal di kelas.       Senin, jam sebelas siang, di ruangan lab mikrobiologi. Hari ini adalah jadwal pengobatan yang sudah ditetapkan oleh Pak Armus untuk Arisa. Kami pun segera menuju ke ruangan laboratorium tersebut.       Rencana kami hari ini adalah membongkar misteri atas keanehan sikap dan juga prilaku Pak Armus Rukhman. Sebelum Arisa masuk ke dalam ruangan itu, aku sudah membekalinya dengan kamera kecil yang sengaja ku gantung di depan tasnya. Tidak akan ada yang menyadari kalau itu adalah sebuah kamera. Karena bentuk kamera tersebut didesain persis seperti gantungan kunci.       Kenapa aku menyarankan Arisa untuk membawa kamera? Karena setelah Arisa keluar nanti, aku bisa melihat apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Kalau pun tidak terjadi apa-apa dan Pak Armus tidak melakukan hal-hal yang diluar batas, itu berarti asumsi kami tentang Pak Armus terbantahkan. Namun jika malah sebaliknya, kami jadi punya bukti yang kuat untuk membawanya ke rana hukum.       Hal-hal yang diluar batas yang ku maksud adalah membuat Arisa kesurupan atau menanam sesuatu di tubuhnya. Sementara Arisa nanti masuk ke dalam, aku akan melakukan perjalanan astral untuk menarik sosok yang ada di dalam ruangan Pak Armus itu guna melakukan interaksi. Aku juga akan mencoba melepaskan kain yang menutup mulutnya dan juga tangannya yang terukat tali. Jadi selain bukti fisik, aku juga bisa mendapatkan bukti gaib secara bersamaan.       Untuk kamera itu, aku menyuruh Arisa untuk menyimpan tasnya di sudut ruangan, agar semua aktivitas yang ada di dalam bisa terlihat semua dengan jelas.       Kami sudah sampai di depan pintu lab mikrobiologi. Kami saling bertukar pandangan. Aku mengangguk, Arisa pun membalas anggukanku.     Arisa mengetuk pintu lab itu. Tidak berselang lama, Pak Armus membuka pintu. "Kok Naion ikut?" tanyanya. "Memangnya kenapa, Pak?" tanya Arisa pura-pura. "Tidak apa-apa. Selama pengobatan, tidak boleh ada orang selain kita berdua di ruangan ini," ucap Dosen itu. Aku tersenyum. "Saya hanya akan tunggu di luar aja, Pak. Lagian kalau saya ikut masuk, wifinya gak akan nyampe ke dalam," ucapku santai. Dosen itu tersenyum. "Baiklah! Tapi, tidak apa-apa kan?" Aku mengangguk. "Baiklah! Ayo, Arisa kita masuk," ajaknya. Ia berjalan mendahului Arisa. Sebelum masuk, Arisa berbalik ke arahku. Aku menaikkan dua jempol tangan. Ia pun masuk ke dalam ruangan lab mikrobiologi itu. Baiklah, sebentar lagi kita akan mendapatkan jawaban dari kecurigaan kita selama ini. Aku duduk di lantai dengan posisi kaki disilangkan. Sementara Arisa di dalam, aku akan menarik sosok perempuan itu dan mengajaknya berinteraksi.                                                                      ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ       Kakek pernah mengajariku cara menolong arwah-arwah yang tersiksa atau tersesat. Tetapi sebelum melakukan hal itu, terlebih dahulu aku harus mengetahui apakah mahluk yang ingin ku tolong tersebut ber-aura negatif atau positif. Kalau ia memiliki aura positif, maka aku akan langsung menolongnya. Terkadang, aku juga membawanya ke tempat yang lebih baik dari yang sebelumnya. Namun jika sosok itu mempunyai aura negatif, aku tidak akan menolongnya. Karena pasti ada penyebabnya sampai ia seperti itu. Misalkan karena sering mengganggu manusia atau melakukan kerusakan di alam mereka.      Saat ini aku sedang melakukan perjalanan astral. Tujuannya ialah untuk menarik sosok perempuan yang ada di dalam ruangan Pak Armus. Aku ingin membuatnya bercerita mengenai segala yang ia ketahui tentang Pak Armus.      Aku mulai mencoba menari sosok tersebut. Tetapi ketika hendak menariknya, tiba-tiba sosok tinggi besar dengan taring di mulutnya menghempaskan sukmaku. Karena tau aku dalam bahaya, kedua penjaga astralku datang dan membuat mahluk yang mengerikan itu pergi. "Kamu tidak apa-apa?" tanyaku pada sosok itu. Ia mengangguk sambil menitihkan air mata. "Aku akan mengambil benda itu dari mulutmu agar kamu bisa bicara," ucapku kemudian segera membuka penutup mulut dari sosok tersebut. Selain itu, aku juga membuka tali yang terikat ditangannya. Sosok perempuan itu menatap ke arahku. "Terima kasih," ucapnya. Aku tersenyum. "Sama-sama. Bolehkah aku menanyakan sesuatu?" tanyaku. Raut wajahnya seketika berubah menjadi murung. "Aku tidak bisa memberitahumu banyak hal," ucapnya. "Kenapa?" Ia menatapku. "Karena aku tidak bisa memberitahukannya kepadamu." Ia menggenggam tanganku. "Tolong, selamatkan kami," ucapnya. Setelah mengucapkan kalimat itu, seketika ia pun menghilang. Dan sukmaku juga kembali ke tubuhku. Klek!     Pintu lab terbuka. Arisa keluar dengan raut wajah yang pucat. Di belakang Arisa, nampak pula Pak Armus yang nampak biasa-biasa saja. "Semoga setelah ini kuntilanak itu sudah tidak kembali lagi," ucapnya. Aku bangkit, lalu berjalan menuju ke Arisa. "Baik, Pak," jawabnya pelan. Arisa menarik lenganku. Tangan Arisa bergetar. Ada apa ini sebenarnya? "Kalau begitu kami pergi dulu, Pak. Terima kasih sebelumnya atas pengobatan yang Bapak berikan," ucapnya. Pak Armus tersenyum. "Sama-sama." Aku sedikit menundukkan badan, lalu kami berdua pun pemit untuk pergi.       Saat ini kami sedang duduk di bangku taman yang berada persis di samping Poliklinik. Tangan Arisa masih bergetar sangat hebat. Di samping bangku yang saat ini ku tempati bersama Arisa terdapat sebuah pohon yang lumayan besar. Di pohon ini lah semua teman-teman astralku tinggal. "Kamu kenapa, Sa? Kok lo dari tadi diam aja?" tanyaku khawatir. "Lo gak diapa-apain kan sama Pak Armus?" Arisa menoleh tajam ke arahku. Ia mulai menangis, lalu memelukku. "Nai, gue takut." "Lo takut sama siapa? Pak Armus? Plis ceritain ke gue apa sebenarnya yang terjadi sama lo." "Nai, Pak Armus mencabuli gue," ucapnya. Demi segala yang ada di dunia ini, aku benar-benar terkejut mendengar pengakuan Arisa. "Dasar b*****t! Ayo kita ke sana lagi biar gue hajar sampai dia babak belur," ujarku marah. Tidak perlu dipertanyakan lagi Dosen itu benar-benar lelaki b***t. "Jangan. Nanti dia tahu kalau gue tadi hanya berpura-pura mengikuti perintahnya," ucap Arisa sambil menyentuh lenganku. "Maksudnya?" "Tadi pas masuk, gue langsung di suruh duduk di kursi yang sudah tersedia. Seperti yang lo bilang, gue menaruh tas di sudut ruangan. Nah pas gue duduk, dia langsung ngambil kayak semacam kalung gitu. Gue bisa langsung menebak kalau dia bakalan ngehipnotis gue. Seperti para penghipnotis lainnya, dia memberi gue arahan-arah aga bisa masuk ke dalam dunia bawah sadar. Alih-alih mengikuti perintahnya, gue malah melakukan hal sebaliknya. Karena merasa gue udah terhipnotis, Pak Armus mulai meraba tubuhku. Dan untungnya, dia gak buka sampai ke bawah." ucapnya. "Kurang ajar!" Aku benar-benar emosi melihat sahabatku diperlakukan seperti itu. "Tapi, Nai, kita punya bukti perbuatan Pak Armus," ucap Arisa. Ia menghapus air matanya. "Lo ingat gak pernah ada beberapa mahasiswi yang nanyain ke kita di mana ruangan lab mikrobiologi?" Aku tercengang mendengar ucapan Arisa. Memang benar ada beberapa mahasiswi dari luar Fakultas KESMAS yang datang dan mencari ruangan mikrobilogi yang di mana tempat itu merupakan sarang dari Dosen laknat itu. Aku menatap Arisa. "Jangan-jangan mereka ...." "Sepertinya begitu," ucap Arisa. "Setelah mengalami langsung, gue jadi curiga kalau Pak Armus merupakan dalang di balik menghilangnya semua mahasiswi itu," ucap Arisa kesal. "Untuk itu, kita gak punya bukti apa-apa. Tetapi kita masih bisa membawanya masuk ke jeruji penjara dengan bukti ini," ucapku lalu mengambil memory card yang berisi aksi pencabulan yang dilakukan Pak Armus. Arisa menyandarkan kepalanya di pahaku. Ia menutup kedua matanya. "Syukurlah, lo nyaranin untuk membawa kamera." "Tenang aja. Kali ini, dia pasti akan mendapat ganjarannya," ucapku.                                                                             ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ                                                                                 Bersambung Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam kepenulisan atau kalian menemukan kesalahan lainnya. Karena harus up tiap hari, aku jadi gak punya kesempatan untuk revisi dlu. Insyaallah, kalau semua udah kelar, aku akan revisi semua kesalahan yang terdapat pada cerita ini
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD