"Queen, temannya kenapa? Sakit?" tanya sosok berwujud noni Belanda bernama Elizabeth itu. Karena menangis terlalu lama, akhirnya Arisa tertidur dipangkuanku.
Aku menceritakan menggunakan bati tentang apa yang baru saja Arisa alami ke semua teman-teman astralku di atas pohon. Selain itu, aku jug bercerita mengenai gedung tua di belakang Fakultas.
"Kasian, pasti dia trauma deh habis ini," ucap sosok kuntilanak berbaju putih.
Elizabeth turun dari pohon. Saat ini ia berada tepat di sampingku. "Queen, dulu gedung itu adalah rumah bagi para hantu-hantu Belanda, sepertiku. Namun beberapa bulan yang lalu, kami di usir oleh sosok hitam yang ukurannya sangat besar. Ia mengancam akan memusnahkan kami kalau saja kami tidak keluar dari tempat itu. Karena takut, akhirnya kami memilih untuk berpindah tempat," Terangnya.
"Sosok hitam besar?"
Elizabeth mengangguk.
"Apa ada taring panjang dimulutnya? Trus matanya juga menyeramkan?" tanyaku lagi.
"Benar, Queen. Kok udah tahu? Queen pernah bertemu mahluk itu, yah?"
"Yap. Aku pernah bertemu dengannya. Mahluk itu sepertinya penjaga dari Pak Armus," jawabku.
"Queen, sepertinya aku mengenali orang bernama Armus itu," ucapnya lagi.
"Di mana kamu mengenalnya?" tanyaku penasaran.
"Apa ciri-ciri manusia bernama Armus itu putih, tinggi, tampan, sering memakai kacamata?"
Aku mengangguk membenarkan deskripsi Elizabeth.
"Berarti benar. Aku selalu melihat manusia bernama Armus ini datang ke gedung tua itu."
"Apa yang ia lakukan?" tanyaku semakin penasaran.
"Entahlah! Tapi, dia sering datang pas udah agak malaman. Trus, kalau dia datang pasti selalu membawa kantong plastik besar berwarna hitam. Aku tidak tahu benda apa yang dia bawanya," ucap Elizabeth.
"Kamu serius?"
"Serius, Queen," jawabnya.
Kantong hitam besar?
Jangan-jangan, asumsi Arisa tentang Pak Armus bisa saja menjadi dalang dari menghilangnya semua mahasiswi serta penemuan tulang-benulang itu memang benar?
Oh, my God!
ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ
Arisa terbangun. "Nai, ini udah jam berapa? Yuk, balik!" ucapnya masih dengan wajah yang sedikit mengangtuk.
"Kayaknya, kita belum bisa balik, Sa."
Ia memiringkan sedikit kepalanya. "Kenapa?"
Aku menatapnya lekat-lekat. "Sa, ada kemungkinan Pak Armus memang dalang di balik menghilangnya semua mahasiswi itu," ucapku serius.
"Tapi kata lo kita gak ada bukti apa-apa untuk memastikan Pak Armus memang pelaku atas semua insiden ini?"
"Kita memang gak punya bukti fisik. Tapi, gue baru saja mendapat beberapa fakta dari teman-teman gaibku tentang Pak Armus," ucapku.
Arisa menatapku bingung.
"Saat ini, tepat di samping gue terdapat sosok perempuan Belanda yang memang sudah berteman dengan gue sejak masih MABA. Ia mengatakan bahwa Pak Armus sering mendatangi gedung belakang Fakultas. Elizabeth bersaksi kalau ia beberapa kali melihat Dosen itu membawa bungkusan besar berwarna hitam masuk dan keluar gedung tersebut," terangku.
"Seriusan, lo?" pekik Arisa.
"Gue serius!" ucapku. "Pak Armus selalu mendatangi gedung itu hanya ketika matahari sudah tenggelam."
"Tunggu-tunggu! Bukannya semua aparat kepolisian selalu berpatroli di malam hari? Kok mereka gak ada liat Pak Armus," ucap Arisa.
Elizabeth membisikkanku sesuatu. "Queen, gedung itu mempunyai pelindung tingkat tinggi yang manusia biasa tidak bisa melihat apa-apa di depan, belakang, atau samping gedung itu."
Aku memberitahukan Arisa mengenai yang dikatakan oleh Elizabeth.
"Pantasa saja tidak ada yang bisa melihatnya," ucap Arisa kesal.
"Sa, bagaimana kalau kita pergi melihat Pak Armus secara langsung. Kita sekalian bisa mendapat bukti fisik dengan merekamnya," saranku.
"Gue setuju," ucapnya.
Aku menoleh ke arah Elizabeth. "Apa Pak Armus datang tiap hari ke bangunan itu?" tanyaku.
"Iya, dia datang hampir tiap hari," jawab Elizabeth.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Tetapi, yang kuyakini saat ini adalah ada hal yang besar yang akan segera terbongkar.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRLῳ_ ῳ
Waktu menunjukkan pukul 18.00 WITA. Dan saat ini aku dan Arisa masih berada di dalam Fakultas. Ditemani langsung oleh Elizabeth, kami berdua mencoba untuk membuktikan bahwa apa yang dikatakan sosok itu benar atau tidak.
Matahari sudah semakin tenggelam. Langit pun berubah menjadi gelap.
"Nai, kita ngumpet di mana?" tanya Arisa.
Elizabeth menunjukkan satu titik di mana kita bisa melihat bangunan itu tanpa terlihat sama sekali.
"Kita ke sana," ucapku ke Arisa.
Tempat persembunyianku dan juga Arisa berada persis di pertengahan antar kedua gedung Fakultas. Dari sudut ini, kita bisa melihat semua yang ada di belakang Fakultas termasuk gedung tua dan jalanan belakang itu.
"Nai, kok gue merinding sih?" tanya Arisa padaku.
Aku tersenyum mndengar ucapannya. Bagaimana ia tidak merinding, kalau Elizabeth berada persis di sampingnya?
"Gak ada apa-apa kok. Kamu tenang aja," jawabku bohong.
Arisa melirik jam yang terpasang ditanganny. "Nai, ini udah jam tujuh malam. Kita udah nunggu satu jam lebih. Kita mau nunggu sampai berapa jam? Gue takutnya, tim kepolisian yang melakukan penelusuran itu mendapati kita. Kan berabe!"
Benar juga yang dikatakan Arisa.
Aku menoleh kea rah Elizabeth. "Biasanya, dia datang jam berapa? Tanyaku menggunakan batin.
"Sebentar lagi, dia akan datang," ucap Elizabeth.
"Bentar lagi dia bakalan sampai," ucapku pada Arisa.
"Baiklah," ucap Arisa.
Setelah menunggu lama, tiba-tiba datang sebuah mobil sedan berwarna hitam yang merupakan milik dari Pak Armus.
"Sa, Pak Armus datang," ucapanku membuat Arisa mendekat. Ia berjongkok sambil mengintip dari balik gedung.
"Gue jadi makin merinding pas tahu dia sudah datang," ucapnya.
"Sa, ambil ponsel lo. Rekam semuanya."
Arisa mengangguk. Ia langsung mengambil ponsel dari tasnya, lalu mulai merekam. Karena lebih canggih dari ponselku, aku menyarankan untuk menggunakan ponselnya saja.
Kami melihat mobil Pak Armus berhenti persis di depan bangunan tua itu. Ia keluar dari mobilnya, lalu melirik ke kanan dan juga ke kiri. Setelah itu, ia berjalan menuju ke kursi penumpang dibagian belakang. Dosen itu membuka pintu tersebut, lalu ia mencondongkan tubuhnya masuk ke dalam. Tidak berselang lama, ia keluar dari mobil sambil membawa bungkusan berwarna hitam yang kalau diperkirakan, hampir sama dengan ukuran tubuh manusia.
Ia terlihat seperti sedang membopong seseorang di balik plastik hitam itu. Pak Armus menutup kembali mobilnya, kemudian memencet tombol kunci. Setelah itu, ia mulai melangkah masuk ke dalam bangunan tersebut.
Aku dan Arisa hanya bisa terdiam menyaksikan apa yang baru saja terekam oleh mata kami.
Arisa mematikan ponselnya. Ia kembali berdiri, kemudian menatapku . "Nai, tidak salah lagi, pasti Pak Armus dalang di balik ini semua."
"Benar."
Aku mencoba menerawang masuk ke dalam bangunan itu. Namun, lagi-lagi aku gagal melakukannya. Seperti ada sesuatu yang membuat tidak bisa menembus masuk ke dalamnya.
"Eli, kamu bisa melihat apa yang ada di dalam bangunan itu?" Tanyaku pada Elizabeth menggunakan batin.
Elizabeth menggeleng. "Kami tidak bisa, Queen. Seperti yang ku katakan tadi, gedung itu mempunyai pelindung. Jadi, kita ridak boleh seenaknya masuk ke dalam."
"Kalau begitu, terima kasih Eli. Aku benar-benar berutang besar padamu," ucapku.
"Sama-sama, Queen. Kalau begitu, aku pergi dulu, yah?" ucap Elizabeth.
Aku mengangguk.
Seusai kepergian Elizabeth, aku dan Arisa juga segera pergi.
"Gue masih gak nyangka kalau Pak Armus adalah pelakunya," ucap Arisa.
"Di balik sikap baiknya selama ini, ia menyimpan sesuatu yang sangat jahat," ucapku.
Kami pun tiba di parikiran. Saat hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba seseorang memanggil kami berdua. Dan orang itu adalah Hari Herlambang.
"Kenapa mengambil barang yang terlupa di kampus sampai memakan waktu selama ini?" tannyanya dengan sorot mata yang tajam.
ῳ_ ῳAUGURY GIRLῳ_
Bak maling yang tertangkap basah sedang melakukan aksi pencurian, aku dan Arisa seketika mematung ketika Ari tiba-tiba datang menghampiri kami.
Kami berdua saling bertukar pandangan.
"Kenapa kalian diam saja?" tanya Ari.
"Gue—"
Arisa memotong ucapanku. Ia memberiku kode agar dia saja yang berbicara dan menerangkan semuanya kepada Ari.
"Gini, tadi gue ketiduran dipangkuan Naion waktu kami lagi duduk-duduk di samping Poliklinik. Karena gak mau ganggu gue tidur, Naion membiarkan gue tertidur sampai kebablasan seperti ini," ucap Arisa.
Ari menatap tajam ke arah Arisa. "Lo gak lagi menyembunyikan sesuatu, 'kan?"
Arisa menatap balik Ari dengan intens. "Gak!" ucapnya ketus.
Sebenarnya, aku ingin memberitahu Ari tentang bukti yang kami dapatkan hari ini. Karena aku takut ia akan berpikir macam-macam pada kami berdua. Tetapi, ketika ingin menyampaikan apa yang kami berdua alami hari ini— lalu menunjukkan bukti fisik yang kami dapatkan untuk memberku pelaku yang ternyata merupak salah satu dosen di kampus ini— Arisa seperti melarangku untuk berbicara.
"Ri, tenang aja, lo bisa percaya sama gue. Apa yang dikatakan Arisa memang benar," ucapku.
Ari dan Arisa masih saling bertatapan.
"Ya sudah, kalau gak ada lagi yang mau lo sampaikan, kita langsung pergi aja," ucap Arisa yang langsung masuk ke dalam mobil.
"Sory, Ri," ucapku kemudian masuk ke dalam mobil. Saat menyalakan mesin, datang lima orang polisi yang mengahampiri Ari.
"Lo langsung jalan aja, Nai," ucap Arisa.
Aku mengangguk.
ῳ_ ῳ NAION ῳ_ ῳ
"Lo mau singgah makan malam dulu, gak?" tawarku.
Arisa menggeleng pelan.
"Nai, gue tidak akan pernah melupakan kejadian hari ini. Jujur, secara mental aku benar-benar merasa terguncang," ucapnya lirih.
Aku menyentuh tangannya. "Maafkan gue, Sa. Maaf karena gak bisa melindungi lo sebagai seorang sahabat," ucapku.
Arisa menatapku. "Ini bukan salah lo. Dikasus gue ini, gak ada yang mesti disalahkan. Meskipun sudah menjadi korban pelecehan oleh Dosen itu, gue masih bisa bersyukur karena dengan kejadian yang gue alami, kita jadi bisa tau siapa Pak Armus sebenarnya," ucapnya.
Aku mengangguk. "Tenang saja, bukti sudah ada ditangan kita. Tidak perlu menunggu lama lagi, Pak Armus akan membayar apa yang telah dilakukannya selama ini." Aku melirik ke arahnya. "Tadinya, gue berencana untuk memberitahukan Ari tentang—"
"Kita gak usah beritahu siapa-siapa dulu tentang ini. Gue mau tahu apa yang akan dilakukan Pak Armus selanjutnya," ucap Arisa.
"Jangan, Sa. Gue takut kalau lo kenapa-napa. Gue gak mau lo ambil resiko yang berbahaya seperti ini!"
"Tidak akan terjadi apa-apa. Hari ini, gue memang lagi dapat apes aja. Tapi, itu tidak akan terjadi lagi," ujarnya serius.
"Tapi, Sa—"
"Gak ada tapi-tapi, Nai. Toh kalau aada apa-apa gue bisa langsung hubungin lo," ucapnya.
Aku hanya bisa terdiam mendengar ucapan sahabatku ini. Pasalnya, dia mau menjerumuskan dirinya ke dalam lubang buaya yang kapan pun bisa memangsanya dalam sekejab.
Kami sudah sampai di rumah Arisa.
"Thanks, yah!" ucapnya.
"Lo gak mau nginap di rumah gue aja?" tawarku. Itu karena aku benar-benar merasa khawatir dengan keadaannya.
"Gak dulu deh. Gue mau bersihin kamar yang memang udah berantakan banget dari kemarin," ucapnya.
"Okey. Tapi, kalau lo ada apa-apa atau lagi butuh apa pun, lo bisa langsung hubungin gue."
Ia mengangguk sambil tersenyum. "Bye ..."
"Bye ...,"balasku.
Arisa pun keluar dari mobil. Sebelum pulang, aku memastikan sahabatku itu benar-benar masuk ke dalam rumahnya. Setelah melihatnya masuk, aku pun langsung menyalakan mesin mobil, lalu pergi meninggalkan kediaman Arisa.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ
Saat ini waktu menunjukkan tepat pukul 20.00 WITA. Aku yakin, Robin belum pulang karena ia sempat mengirimkan pesan padaku yang mengatakan bahwa ia akan pulang tengah malam nanti. Jadi, situasi aku saat ini dalam status aman.
Setelah memencet tombol sandi apartemen, pintu pun akhirnya terbuka. Syukurlah! Robin belum pulang. Apartemen masih gelap seperti ini. Karena sangat membenci kegelapan, aku cepat-cepat memencet tombol lampu yang berada persis di samping kanan dari pintu masuk.
Aku melepaskan sepatu, lalu memasukkannya ke dalam rak. Aku pun berjalan ke ruang tengah.
"Dari mana saja kamu?" ucap seseorang yang sedang duduk di sofa ruang tengah yang membuatku benar-benar terkejut.
Ku pikir, Robin masih berada di luar seperti yang dikatakannya tadi. Ternyata saat ini, ia bersama dengan Malvin sedang duduk di ruang tengah. Mereka menungguku pulang.
Lagi-lagi, aku kembali merasa seperti sedang tertangkap basah sedang menucir sesuatu. Sorot mata mereka berdua benar-benar menakutkan. Bahkan, Robin sama sekali tidak seperti biasanya.
"Kakak dari mana?" tanya Robin.
"A—aku." Sial! Kenapa aku jadi gugup seperti ini.
"Kamu duduk dulu sini," perintah Malvin.
Aku langsung duduk persis di samping Robin. Ketika melirik mereka berdua, entah mengapa nyaliku langsung menciut. Padahal, biasanya aku tidak pernah takut dengan siapa pun. Yah, pernah sih sekali Malvin membuatku sedikit takut. Tapi, cuman sedikit.
"Cepat jawab, Kak!" ujar Robin.
"Kamu pasti dari kampus, kan?" tebak Malvin.
Aku terdiam.
"Apa?! Kakak dari kampus?" ucap Robin dengan nada suara yang sedikit melengking.
"Aku tidak—"
Malvin menunjukkan chatnya dengan seseorang. "Inspektur Hari yang memberitahukannya padaku," ucapnya tanpa ekspresi.
"Aku memang ke kampus," ucapku pelan.
"Kak, apa Kakak tidak melihat apa yang terjadi pada Alika? Dia menghilang, Kak! Dan aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak. Alika menghilang sudah membuat kepalaku sudah mau pecah. Kakak jangan menambah bebanku dengan terus-terus berkeliaran di kampus. Bagaimana kalau Kakak juga ikut menghilang?" ucap Robin marah.
Jujur saja aku mulai kesal dengan situasi yang saat ini kualami. Mereka tidak tahu saja apa yang telah ku alami bersama Arisa hari ini.
"Kenapa kamu masih terus saja tidak mendengar ucapanku?" Malvin angkat bicara.
"Kamu siapa? Apa hak kamu mengatur-ngatur hidupku? Aku mau ke mana pun itu adalah urusanku, bukan urusan kamu," ucapku ketus.
"Kak, maksud Pak Malvin itu baik. Dia melakukan itu hanya untuk kebaikan Kakak," ucap Robin.
Aku tersenyum sinis sambil menatap Malvin. "Kamu salah, Dek. Kamu tidak tahu saja siapa dia sebenarnya," ucapku marah. Karena kesal, aku bangkit dari sofa lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Di dalam, aku air mataku berlinang. Entah mengapa, ada rasa bersalah, sedih, marah yang bercampur aduk di dalam hatiku.
Sial! Aku benci perasaan seperti ini.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ
BERSAMBUNG