"Loh, kenapa cuma dua? Kamu cuma beliin ini cuma buat aku sama Ibu doang? Kamu sendiri engga makan?" Kenan tersenyum, tangannya beralih mengusap kepala Gema dengan lembut. "Aku gampang kok nanti bisa makan di rumah sakit. Lagipula aku engga terlalu maniak bubur kayak kamu," selorohnya dengan senyum geli. Ia terkekeh senang saat melihat Gema mencibir ucapannya. "Cuma di warung itu aja aku suka buburnya, kalau di tempat lain sih aku juga ogah," jawab wanita itu dengan santai. Kenan mengangguk sekilas, bertopang dagu hanya untuk melihat Gema makan saja. Seharusnya dirinya sudah berangkat ke rumah sakit untuk shift malam, namun hatinya berteriak untuk tidak pergi sekarang. Pemandangan Gema yang pipinya mengembung karena makan sangat tidak pantas untuk diabaikan begitu saja. "Ini enak b

