013

1273 Words
Dingin, angin berhembus kencang langit meratapi kesedihan, banyak manusia yang berduka atas kejadian yang telah ada. Matahari pun tidak membantu, semua nya omong kosong tidak ada yang benar di antara para jiwa', semua hanya menginginkan dunia yang sifatnya fana . Tidak terlihat lagi kekuatan nya, tidak bisa menembus awan gelap yang menyelimuti seluruh area, matahari apa yang sudah terjadi kepada anda?. Kenapa Anda ragu dan tidak berani'? Dingin. Angin berhembus kencang di luar istana. Langit kelabu seolah ikut meratapi penderitaan yang sedang terjadi di kerajaan. Di berbagai tempat, rakyat berduka atas wabah dan kekacauan yang tidak kunjung berakhir. Aren menatap keluar dari jendela ruang kerjanya. Dagunya bertumpu pada tangannya. Banyak sekali masalah yang menumpuk di hadapannya. Di belakangnya, Selena dan Rhevan berdiri sambil memberikan laporan dari berbagai wilayah. “Para bangsawan mulai berpesta,” kata Selena pelan. “Di saat rakyat menderita.” Rhevan melanjutkan laporan dengan wajah serius. “Dan banyak di antara mereka mulai membicarakan kudeta.” Ruangan langsung terasa lebih berat. “Namun mereka masih ragu,” lanjut Rhevan. “Mereka memiliki dukungan sebagian rakyat, tapi kekuatan mereka belum cukup untuk menggulingkan kerajaan.” Aren menghela napas pelan. “Sepertinya mereka sudah memiliki rencana sendiri, tuan,” kata Rhevan. Aren mengangguk sedikit. “Kau benar, Rhevan.” Rhevan kemudian menatap Aren dengan serius. “Saya menyarankan agar Anda berhati-hati, tuan. Kita tidak tahu berapa banyak bidak yang sudah mereka siapkan.” Aren hanya bergumam pelan. “Hm…” Ia kembali tenggelam dalam pikirannya. Namun tiba-tiba— Dok. Dok. Dok. Pintu ruang kerja digedor keras. Tidak ada sopan santun sama sekali. Sebelum ada yang sempat menjawab— JEDAR! Pintu terbuka dengan kasar. Tiga bangsawan masuk dengan wajah penuh amarah. Mereka langsung memaki tanpa rasa hormat. Menghina keluarga kerajaan. Mengutuk kepemimpinan Aren. Mengatakan bahwa kerajaan sudah tidak berguna lagi. Rhevan yang sejak tadi menahan diri akhirnya tidak tahan. SRENG! Pedangnya keluar dari sarung. Ujung pedang itu langsung mengarah ke leher salah satu bangsawan. Aura membunuh langsung memenuhi ruangan. “Sudah cukup.” Suara Rhevan dingin. “Aku sudah menahan diri sejak rapat kemarin.” “Tapi kalian benar-benar tidak menghargai nyawa kalian.” Para bangsawan langsung pucat. Aura itu begitu kuat. Seluruh penjaga di istana bahkan bisa merasakan tekanan dari dalam ruangan. Aura milik Sang Taring Utara. Namun Rhevan tidak bergerak. Ia menunggu. Karena tatapan seseorang menghentikannya. Aren. Mata biru Aren menatapnya tajam. Aura mereka saling bertabrakan di udara. Beberapa detik yang terasa sangat lama. Lalu Aren berbicara. “Sudahlah, Rhevan.” “Turunkan pedangmu.” Rhevan tetap diam. Aren menegaskan sekali lagi. “Ini perintah.” Rhevan langsung menundukkan kepala. Pedangnya kembali masuk ke sarung. Para bangsawan menghela napas lega. Namun bukannya berhenti… mereka justru tersenyum sinis. “Hmph.” “Hanya karena kau punya satu kesatria kuat, kau pikir bisa menantang kami?” Aren mengerutkan alisnya. Bangsawan itu melanjutkan dengan nada menghina. “Kami para bangsawan menuntutmu ke ruang persidangan.” Ruangan langsung sunyi. Selena dan Rhevan terkejut. Itu adalah langkah politik yang sangat besar. Aren akhirnya berbicara. “Apa maksud kalian?” Bangsawan itu tersenyum tipis. “Bukankah sudah jelas?” “Apakah Anda tidak tahu masalah yang Anda buat sendiri, Yang Mulia?” Mereka terus menekan Aren tanpa henti. Namun Aren hanya diam. Ia sedang berpikir. Situasi ini sudah di luar rencananya. Beberapa saat kemudian ia akhirnya berkata. “Baik.” “Temui aku dua hari lagi.” Namun Aren langsung menggeleng. “Tidak.” “Beri aku waktu satu minggu.” Para bangsawan langsung saling memandang. Mereka tidak menyangka Aren berani meminta waktu lebih lama. Namun mereka tidak bisa menolak. Akhirnya mereka mengangguk. “Baik.” “Satu minggu.” Mereka pergi dengan wajah puas. Pintu kembali tertutup. Ruangan menjadi sunyi. Selena hanya menunduk. Tidak ada yang berbicara. Aren akhirnya memecah keheningan. “Rhevan.” “Ikut aku.” Tanpa penjelasan lebih lanjut, Aren berjalan keluar dari ruang kerja. Mereka melewati penjaga. Turun ke ruang bawah tanah istana. Ke tempat yang jarang dikunjungi siapa pun. Di antara deretan sel penjara… terdapat sebuah ruangan rahasia. Aren membuka pintunya. Di dalam ruangan itu… seorang pria tua sedang duduk lemah. Pria yang sebelumnya diselamatkan Aren dari goa. Aren dan Rhevan mendekat. “Ceritakan semuanya,” kata Aren. Pria tua itu mengangkat wajahnya perlahan. Dengan napas lemah, ia mulai menjelaskan apa yang terjadi padanya. Tentang penyiksaan. Tentang rahasia para bangsawan. Tentang rencana besar yang tersembunyi. Awalnya Aren dan Rhevan ragu. Namun semakin lama mereka mendengar ceritanya… semakin jelas satu hal. Pria ini bukan orang biasa. Dan ciri-ciri yang ia miliki… tidak mungkin dimiliki orang lain. Rhevan menatap Aren dengan mata melebar. “Yang Mulia…” “Jika ini benar…” Aren menatap pria tua itu dengan serius. Karena sekarang mereka menyadari satu hal. Orang yang mereka selamatkan… mungkin adalah kunci yang akan menentukan nasib seluruh kerajaan. Namun ada satu hal yang tidak diketahui oleh Aren. Selena. Setelah Aren pergi ke ruang bawah tanah bersama Rhevan, Selena tidak ikut bersama mereka. Ia masih berada di ruang kerja Aren. Ruangan itu sunyi. Selena berdiri di dekat meja kerja Aren dengan tatapan datar. Beberapa lembar dokumen berserakan di atas meja, namun ia tidak menyentuhnya. Sebaliknya, ia berjalan perlahan menuju jendela besar istana. Dari sana, seluruh kerajaan Aerindor terlihat jelas. Kastil-kastil batu. Jalanan kota yang ramai. Dan langit yang masih tertutup awan gelap. Selena hanya menatap pemandangan itu tanpa ekspresi. Tiba-tiba seekor burung elang terbang melintasi langit istana. Burung itu berputar sebentar di udara, lalu menukik turun menuju balkon ruang kerja. Selena langsung bergerak. Dengan cekatan ia menangkap burung tersebut sebelum burung itu sempat hinggap lama. Ia segera mengambil gulungan kecil yang terikat di kaki burung itu. Sebuah surat. Selena membuka gulungan itu perlahan. Matanya membaca isi surat dengan cepat. Beberapa detik kemudian… sudut bibirnya terangkat. Lalu— “Hahaha…” Selena tertawa pelan. Namun tawa itu terasa berbeda dari biasanya. Lebih dingin. Lebih tajam. Tanpa membuang waktu, ia segera menulis balasan di secarik kertas. Ia menggulungnya kembali dan mengikatkannya di kaki burung elang tersebut. “Pergi.” Burung itu langsung terbang tinggi meninggalkan istana. Selena kembali menatap langit. Senyumnya belum hilang. Kembali ke Aren Sementara itu Aren sudah mendapatkan informasi penting dari pria tua yang diselamatkannya. Tanpa menunggu lama, ia segera memanggil Rhevan dan Selena ke ruang kerjanya. Mereka berdiri di hadapan Aren. Aren meletakkan sebuah kertas di atas meja. “Kalian berdua.” “Dengarkan perintahku.” Ia menunjuk dokumen tersebut. “Aku ingin kalian mencari bukti yang tertulis di kertas ini.” Tatapannya tajam. “Aku mengharapkan hasil terbaik.” Rhevan dan Selena langsung mengangguk. “Baik, Yang Mulia.” Tanpa menunda waktu, mereka berdua segera meninggalkan ruangan untuk menjalankan perintah. Lyraeth Datang Beberapa saat setelah mereka pergi… Aren merasakan sesuatu. Ada seseorang yang mengintip dari balik pintu. Aren melirik ke arah sana. “Masuk saja.” Pintu perlahan terbuka. Di sana berdiri Lyraeth. Wajahnya terlihat bingung. Seperti anak kecil yang tidak tahu apakah ia boleh masuk atau tidak. Aren hanya tersenyum kecil. “Masuk.” Lyraeth berjalan perlahan ke dalam ruangan. Beberapa saat kemudian suasana yang tadinya tegang berubah menjadi jauh lebih santai. Aren bahkan mulai bermain-main dengan Lyraeth. Kadang menarik telinganya. Kadang menggoda ekspresinya yang polos. Bagi Aren, momen seperti ini sangat langka. Kehidupan di istana sangat membosankan. Para pelayan selalu terlalu formal. Para bangsawan selalu penuh kepentingan. Tidak ada yang benar-benar bisa diajak bermain. Namun Lyraeth berbeda. Ia sederhana. Dan jujur. Setelah beberapa saat bermain, Lyraeth akhirnya mendengar keluh kesah Aren. Tentang para bangsawan. Tentang politik. Tentang masalah kerajaan yang tidak ada habisnya. Lyraeth mendengarkan dengan serius. Dan untuk pertama kalinya… ia mulai menyadari sesuatu. Kehidupan para bangsawan… dan keluarga kerajaan… ternyata jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD