Malam terasa begitu sunyi.
Seolah kehidupan memilih untuk tidak ikut berpartisipasi dalam ruang itu. Segalanya terdiam, bersembunyi di balik kegelapan yang melemahkan dunia.
Namun bagi Aren, malam itu berbeda.
Ia seperti menemukan kembali jati dirinya.
Semua kekecewaan yang selama ini menumpuk di dalam hatinya perlahan menghilang.
Di dalam pelukannya kini ada seorang elf kecil—sosok yang tanpa ia sadari telah menjadi titik perubahan dalam hidupnya.
Luka dan lebam di tubuh Lyraeth ia obati dengan ramuan herbal tradisional. Aren tidak mampu menggunakan sihir cahaya, jadi ia hanya mengandalkan pengetahuan obat-obatan sederhana yang pernah ia pelajari.
Lyraeth menahan rasa sakitnya.
Namun senyumnya tetap merekah.
Seperti cahaya yang berusaha menembus awan gelap.
Seolah badai sebesar apa pun tidak mampu memadamkan kebahagiaannya.
Aren hanya bisa tersenyum melihatnya.
Hidupnya terasa aneh.
Begitu banyak masalah menimpanya, namun di saat yang sama ia juga diberi ketenangan… dan sebuah pelajaran pahit tentang arti sebuah senyuman.
Keesokan paginya Aren terbangun sebelum matahari muncul.
Ia bangun lebih dulu sebelum Lyraeth terjaga.
Dengan cekatan ia menyiapkan sarapan sederhana.
Tidak lama kemudian aroma daging panggang mulai memenuhi gubuk kecil itu.
Hidung Lyraeth bergerak sedikit.
Perlahan matanya terbuka.
Begitu mencium aroma makanan, ia langsung bergegas menghampiri Aren dengan wajah ceria.
Mereka makan bersama.
Sarapan sederhana itu terasa sangat hangat.
Setelah selesai makan, Lyraeth berdiri sambil membawa ikatan kayu bakar.
"Aku akan menjual sisa kayu kemarin,"
katanya ceria.
Aren hanya mengangguk.
Lyraeth kemudian pergi menuju kota.
Sementara itu Aren memilih berjalan ke dalam hutan.
Ia ingin menenangkan pikirannya.
Bersama Lyraeth terlalu lama hanya akan membawa masalah baru bagi gadis elf itu.
Langkahnya terus berjalan tanpa arah.
Namun pikirannya terasa seperti tidak bergerak.
Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Namun kenyataannya tidak semudah itu.
Seolah-olah ia berdiri diam…
sementara tombak-tombak kehidupan terus melesat ke arahnya.
Ia berhenti sejenak.
Menatap langit.
"Apa memang seperti ini jalanku…?"
Aren menundukkan kepala.
Ia menyerahkan sisa harapannya kepada Sang Pencipta.
Berharap ada sedikit keajaiban di celah kehidupan yang terasa begitu suram.
Namun meskipun ia terus berjalan menelusuri hutan…
masalahnya tetap terasa mengejar.
Belum ada solusi.
Hingga akhirnya ia memasuki bagian hutan yang paling dalam.
Saat itulah Aren merasakan sesuatu.
Aura.
Bukan aura hewan.
Melainkan…
manusia.
Aren langsung menajamkan indranya.
Aura itu sangat lemah.
Hampir seperti seseorang yang sedang berada di ambang kematian.
Ia segera berlari mengikuti arah aura tersebut.
Hingga akhirnya ia menemukan sebuah goa besar yang tersembunyi di balik celah bukit.
Aren mengerutkan kening.
"Kenapa ada manusia di tempat seperti ini…?"
Tanpa berpikir panjang ia langsung masuk ke dalam goa.
Dan pemandangan di dalamnya membuatnya terkejut.
Seorang pria tergantung di dinding batu.
Tubuhnya kurus.
Tua.
Penuh luka.
Penampilannya sangat menyedihkan.
Namun Aren menyadari satu hal.
Aura yang terpancar dari mata pria itu.
Ia mengenal aura itu.
Matanya melebar.
"Itu…"
Tanpa ragu lagi Aren segera menolong pria tersebut.
Setelah berhasil melepaskannya, Aren membawa pria itu pergi.
Tanpa seorang pun mengetahuinya.
Menuju tempat yang paling aman.
Istana.
Ketika tiba di istana, Selena dan Rhevan terkejut melihat pria yang dibawa Aren.
Tubuh pria itu kurus dan penuh luka. Kondisinya sangat memprihatinkan.
Namun aura yang terpancar darinya tidak bisa dianggap remeh.
Aren menatap kedua bawahannya dengan serius.
"Jaga dia."
Suara Aren rendah namun tegas.
"Aku yakin… pria ini adalah kunci dari semua masalah kita."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Pastikan tidak ada bangsawan yang mengetahui keberadaannya. Mengerti?"
Selena dan Rhevan langsung mengangguk.
"Baik, tuan."
Tanpa menunggu lebih lama, Aren segera kembali menuju tempat ia menemukan pria tersebut.
Ia memeriksa goa itu dengan sangat teliti.
Setiap sudut.
Setiap batu.
Namun tidak ada petunjuk apa pun.
Jejak kejadian itu terlalu lama. Bekas penyiksaan bahkan hampir tidak terlihat lagi.
Aren menghela napas panjang.
"Sudah terlalu lama..."
Dengan langkah lelah ia kembali menuju gubuknya di hutan.
Langit sudah menunjukkan tengah malam.
Hal pertama yang terlintas di pikirannya adalah satu hal.
Lyraeth.
Ia harus memastikan elf kecil itu tidak mengalami masalah lagi.
Di Kota
Sementara itu Lyraeth sedang berjualan dengan sangat bahagia.
Hari ini berbeda dari kemarin.
Tidak ada yang mengganggunya.
Kayu bakarnya bahkan habis terjual.
Wajahnya berseri-seri.
Dengan uang receh yang ia kumpulkan, ia berjalan menuju sebuah toko roti.
"Aku ingin membeli sesuatu untuk Aren."
Toko itu sangat besar dan indah.
Tanpa ia sadari, itu adalah toko roti khusus para bangsawan.
Namun pelayan toko yang melihat Lyraeth merasa iba.
Ia tetap membuatkan pesanan untuknya.
Ketika kue itu selesai dibuat, Lyraeth membayarnya dengan uang receh yang ia miliki.
Bagi sang pelayan itu tidak masalah.
Namun tidak bagi para bangsawan yang berada di sana.
Tatapan mereka penuh hinaan.
Seorang bangsawan muda menatap Lyraeth dengan jijik.
"b***k kotor seperti ini berani masuk ke tempat bangsawan?"
Ia sengaja menyenggol tubuh Lyraeth.
Bruk.
Lyraeth terjatuh ke lantai.
Kue yang ia pegang jatuh dan hancur.
Lyraeth hanya terdiam.
Usahanya menjual kayu bakar sepanjang hari…
hancur begitu saja.
Namun bukannya meminta maaf, bangsawan itu malah memarahinya.
"Dasar b***k tidak tahu diri!"
"Kamu jelek, kotor, dan miskin!"
Kata-kata kasar itu terus dilontarkan.
Lyraeth hanya menunduk.
Namun ia tetap tersenyum kecil.
Senyum yang membuat bangsawan itu semakin kesal.
"Singkirkan dia."
Bangsawan itu memberi perintah dingin.
Kesatria di belakangnya langsung mencabut pedang.
Pedang itu terangkat tinggi.
Siap menebas leher Lyraeth.
Namun—
CLANG!
Suara benturan baja menggema di dalam toko.
Semua orang terkejut.
Seorang pria berdiri di depan Lyraeth.
Pedangnya menahan serangan kesatria tersebut.
Rambut hitamnya bergerak perlahan.
Aura dingin menyelimuti ruangan.
Aren.
Ia berdiri melindungi Lyraeth.
Lyraeth menatapnya dengan mata terbelalak.
"Aren..."
Sementara itu wajah bangsawan tadi langsung pucat.
Ia mengenal pria di hadapannya.
Aren menatapnya dengan dingin.
"Lain kali..."
Suaranya rendah namun menekan.
"Perhatikan siapa yang sedang kamu sakiti."
Ruangan menjadi sunyi.
Kesatria itu bahkan tidak berani
menggerakkan pedangnya.
Para bangsawan mungkin berani menekan seseorang secara politik.
Namun di depan kekuatan nyata…
mereka tetap manusia biasa yang takut mati.
Dan semua orang di kota tahu satu hal.
Aren bukan seseorang yang bisa mereka lawan secara langsung.
Setelah kejadian di toko kue itu…
semuanya berubah.
Para bangsawan yang berada di sana langsung tersentak kaget ketika identitas Aren terungkap.
Tidak ada lagi keberanian di wajah mereka.
Yang tersisa hanyalah ketakutan.Q
Namun bukan hanya mereka yang terkejut.
Lyraeth juga.
Ia berdiri membeku.
Matanya menatap Aren dengan tidak percaya.
Beberapa saat yang lalu ia masih menganggap Aren hanyalah seorang pria biasa yang tinggal di gubuk hutan.Q
Namun sekarang…
semua orang menundukkan kepala di hadapannya.
Para kesatria berlutut.
Para bangsawan menahan napas.
Dan seseorang akhirnya mengucapkan kata yang membuat dunia Lyraeth terasa berhenti.
"Yang Mulia."
Lyraeth merasa kepalanya berputar.
Yang Mulia.
Itu berarti…
Perlahan ia menatap kembali ke arah Aren.
Tatapan matanya penuh kebingungan.
Beberapa saat kemudian.
Lyraeth sudah berada di dalam istana.
Istana yang sangat megah.
Langit-langitnya tinggi.
Dindingnya dihiasi ukiran emas.
Tempat yang selama ini hanya ia dengar dalam cerita rakyat.
Namun sekarang…
ia berada di dalamnya.
Dan di hadapannya berdiri orang yang selama ini ia kenal sebagai teman.
Aren.
Pemimpin kerajaan.
Raja.
Lyraeth menunduk.
Tangannya gemetar kecil.
Ia teringat sesuatu yang pernah ia katakan dengan santai di gubuk.
Kalimat yang sekarang terasa sangat memalukan.
"Aku sangat membenci raja di negeri ini."
Dulu ia mengatakannya sambil tertawa kecil. Tanpa tahu siapa yang sedang ia ajak bicara. Sekarang kata-kata itu terus berputar di kepalanya.
Lyraeth tidak berani mengangkat wajahnya.
Ia hanya berdiri diam.
Membisu.
Hatinya dipenuhi rasa takut… dan bingung.
Ia tidak tahu harus berkata apa.
Apakah ia harus meminta maaf?
Apakah ia harus berlutut?
Atau…
apakah Aren sekarang akan membencinya?
Ruangan itu menjadi sangat sunyi.
Hanya suara napas Lyraeth yang terdengar pelan.
Aren menatap elf kecil itu.
Ia tahu apa yang sedang dipikirkan Lyraeth.
Perlahan ia berjalan mendekat.
Langkahnya berhenti tepat di depan Lyraeth.
"Lihat aku."
Suara Aren lembut.
Namun Lyraeth tetap tidak berani mengangkat wajahnya.
"Aku…"
Suaranya kecil.
"Maaf…"
Aren menghela napas pelan.
Ruangan istana terasa sunyi.
Lyraeth masih berdiri kaku di tempatnya.
Matanya menatap lantai marmer yang berkilau.
Tangannya saling menggenggam dengan gugup.
Ia mencoba mengingat kembali semua hal yang pernah ia katakan kepada Aren.
Dan semakin ia mengingatnya…
wajahnya semakin pucat.
"Aku… pernah bilang raja itu menyebalkan…"
Lyraeth bergumam pelan.
Ia lalu mengingat kalimat lainnya.
"Aku juga bilang raja itu pasti orang yang sombong…"
Beberapa detik kemudian ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Dan aku juga pernah bilang kalau aku ingin menendangnya kalau bertemu…"
Ruangan menjadi hening.
Selena dan Rhevan yang berdiri di dekat pintu saling melirik.
Mereka berusaha keras menahan tawa.
Sementara itu Lyraeth perlahan berlutut di lantai.
Air mata mulai mengalir dari matanya.
Namun anehnya…
tangisannya terdengar sangat dramatis.
"Aku selesai…"
Lyraeth meratap.
"Hidupku sudah berakhir…"
"Aku menghina raja…"
"Aku pasti akan dipenjara…"
"Atau mungkin dihukum menyapu istana seumur hidup!"
Tangisnya semakin menjadi.
Ia bahkan mulai mengguling-gulingkan tubuhnya di lantai marmer yang licin.
"Aku belum pernah hidup nyaman!"
"Aku bahkan belum makan kue yang enak!"
"Aku belum menikah!"
Selena akhirnya tidak tahan dan menutup mulutnya agar tidak tertawa keras.
Rhevan juga memalingkan wajahnya sambil menahan bahunya yang bergetar.
Sementara itu Aren hanya berdiri diam menatap pemandangan aneh di depannya.
Lyraeth sekarang benar-benar menangis sambil memeluk kaki Aren.
"Ampun Yang Mulia!"
"Aku bodoh!"
"Aku elf paling bodoh di dunia!"
Aren menghela napas panjang.
Lalu dengan santai ia mengetuk kepala Lyraeth pelan.
Tok.
Lyraeth langsung berhenti menangis.
Ia mengangkat wajahnya dengan mata merah dan hidung berair.
"Apa…?"
Aren menatapnya datar.
"Kau terlalu berisik."
Lyraeth terdiam beberapa detik.
Lalu tiba-tiba ia menangis lagi.
"Ternyata benar!"
"Raja memang menyeramkan!"
Selena dan Rhevan akhirnya benar-benar tertawa.
Sementara Aren hanya memijat pelipisnya.
Hari itu…
seluruh istana dipenuhi oleh suara tangisan elf kecil yang sangat dramatis