011

1500 Words
Gemuruh terdengar mencekat di atas langit. Air perlahan jatuh dari ketinggian. Kehidupan pun berseru keras, namun langit masih tetap gelap, dipenuhi duka dan kebohongan. Inilah kehidupan. Maka temukanlah jawabannya. Rapat akhirnya berakhir. Namun tidak ada yang benar-benar merasa rapat itu selesai dengan damai. Para bangsawan pergi satu per satu meninggalkan ruangan itu. Sebagian berjalan dengan langkah cepat, wajah penuh amarah. Sebagian lagi berbicara pelan dengan kelompoknya masing-masing. Beberapa bahkan tertawa kecil, seolah peristiwa tadi hanyalah hiburan bagi mereka. Pintu ruang rapat perlahan tertutup. “Tak…” Suara itu menggema pelan di ruangan yang kini terasa jauh lebih besar dan kosong. Kini hanya tersisa tiga orang. Aren. Rhevan. Dan Selena. Aren masih duduk di kursinya. Diam. Matanya menatap lurus ke arah meja panjang yang tadi dipenuhi para bangsawan. Namun sekarang kursi-kursi itu kosong. Kosong seperti pikirannya saat ini. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Tidak ada perintah. Tidak ada keputusan. Rhevan berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tangannya mengepal kuat. Ia masih menahan kemarahannya. “Yang Mulia…” Rhevan akhirnya berbicara dengan suara yang tertahan. “Tolong jangan masukkan kata-kata mereka ke dalam hati Anda.” Namun Aren tidak menjawab. Ia tetap diam. Selena yang berdiri di sisi lain juga memperhatikan wajah tuannya. Ia jarang melihat Aren seperti ini. Selama ini Aren selalu terlihat tenang. Selalu memiliki rencana. Selalu memiliki langkah berikutnya. Namun kali ini… ia terlihat seperti seseorang yang kehilangan arah. Beberapa saat kemudian Aren akhirnya berbicara dengan suara sangat pelan. “Rhevan…” “Ya, Yang Mulia.” “Katakan padaku satu hal.” Rhevan langsung menjawab tanpa ragu. “Perintahkan apa saja.” Namun Aren justru tersenyum tipis. Senyum yang sangat lelah. “Apakah… mereka benar?” Ruangan itu kembali sunyi. Pertanyaan itu tidak pernah Rhevan duga akan keluar dari mulut Aren. Selena juga terdiam. Aren menundukkan kepalanya. Matanya memandang kedua tangannya sendiri. “Apakah aku benar-benar membuat kesalahan?” “Satu keputusan saja bisa membuat ribuan orang menderita.” “Satu keputusan saja bisa membuat rakyat kehilangan segalanya.” Suara Aren terdengar semakin berat. “Dan sekarang… mereka semua melihatku sebagai raja bodoh.” Rhevan tidak bisa menahan dirinya lagi. “ITU TIDAK BENAR!” Suaranya menggema di dalam ruangan. Selena bahkan sedikit terkejut. Rhevan jarang sekali berbicara sekeras itu kepada Aren. Rhevan menatap lurus ke arah tuannya dengan mata penuh keyakinan. Namun Aren hanya menghela napas pelan. “Sudahlah, Rhevan…” “Kali ini aku hanya ingin memikirkan solusi terbaik untuk mengatasi wabah ini.” “Semoga Tuhan masih mau membantu kami.” Aren pun bangkit dari kursinya dan beranjak pergi. “Tunggu… Yang Mulia.” Selena menghentikan langkahnya. “Ada apa, Selena?” “Tenangkanlah dirimu… dan ingatlah, kami masih berada di belakang Anda.” “Berbagilah beban itu kepada kami.” Aren hanya tersenyum kecil. “Yah… terserah kalian saja.” Aren berhenti sejenak. Hening di antara mereka. “Selena. Rhevan.” “Kalian jaga kerajaan ini sebentar.” “Aku ingin pergi… untuk membersihkan pikiranku.” “Baik, Tuan.” Mereka menjawab bersamaan. Aren segera mengambil mantel jubahnya lalu memakainya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia pergi meninggalkan kastil. Aren berjalan perlahan melewati jalan-jalan kota. Langkahnya berat. Ia melihat penderitaan rakyatnya. Orang-orang sakit. Rumah-rumah yang dipenuhi kecemasan. Tangisan keluarga yang kehilangan. Semua kesedihan itu menusuk hatinya. Bahkan sampai ke gerbang kerajaan. Di jalur barat, keadaan benar-benar kacau. Orang-orang kehilangan kendali. Namun Aren hanya berjalan melewati mereka. Tanpa tujuan. Tanpa arah. Ia terus berjalan hingga memasuki hutan. Semakin dalam. Sampai akhirnya ia tiba di sebuah danau yang setengah membeku. Di situlah Aren berhenti. Mencari ketenangan. Namun tiba-tiba— “AAAAA!” Terdengar teriakan dari dalam hutan. Aren langsung bergerak menuju arah suara itu. Di sana ia melihat seorang elf kecil yang terpojok. VSeekor frostwolf siap menerkamnya. Namun sebelum itu terjadi— Aren bergerak cepat. Pedangnya melesat. Frostwolf itu roboh ke tanah. Elf kecil itu selamat. Elf itu terlihat sangat muda. Tubuhnya kecil dan gemetar. Aren mendekatinya dengan tenang. Elf itu tersentak kaget. Namun Aren hanya tersenyum kecil. “Tenang.” Tak lama kemudian— “Grrrkk…” Suara perut terdengar. Aren menoleh. Elf kecil itu kelaparan. Tanpa banyak bicara, Aren mengajak elf itu memasak daging frostwolf. Elf itu hanya mengangguk pelan. Beberapa jam kemudian. Malam telah turun. Mereka berada di sebuah gubuk kecil di dalam hutan. Daging frostwolf dipanggang di atas api. Aroma daging memenuhi ruangan. Elf kecil itu awalnya malu-malu. Namun aroma makanan itu terlalu menggoda. Akhirnya ia mulai makan. Perlahan. Lalu semakin lahap. Setelah kenyang, elf itu tersenyum cerah. Ia lalu memperkenalkan dirinya kepada Aren dengan penuh semangat. ""Hai… nama tuan siapa?" "Namaku Aren. Nama mu siapa?" Elf kecil itu hanya menunduk. Ia tidak menjawab. Lidahnya terasa kelu seakan kata-kata tertahan di tenggorokan. Aren yang melihat hal itu langsung mengibaskan tangannya pelan. "Tidak apa-apa… kalau tidak ingin menjawab. Aku akan pergi mengambil air." "Tunggu…" Langkah Aren terhenti. Ia menoleh kembali ke arah gadis elf itu. "Sebenarnya… aku tidak mempunyai nama." Aren mengerutkan keningnya. Ia terkejut, tapi segera memahami sesuatu. Mungkin itulah alasan kenapa elf ini hidup sendirian di hutan seperti seorang pengembara. Perlahan, elf kecil itu mulai menceritakan masa lalunya. Dulu ia hidup bahagia bersama keluarga dan clannya. Namun suatu hari manusia menculiknya untuk dijual sebagai b***k. Ia berhasil kabur… meskipun harus terluka parah. Ia sangat membenci pemimpin wilayah ini yang telah menghancurkan banyak kehidupan. Namun ia tidak membenci semua manusia. Ia hanya membenci mereka yang tidak bertanggung jawab. Aren hanya tersenyum kecil mendengarnya. Ia sadar bahwa elf ini sebenarnya masih seperti anak kecil. Walaupun umurnya mungkin lebih tua darinya, sikapnya yang ceria mampu menutupi semua luka yang pernah ia alami. Aren kemudian membuat sebuah keputusan. "Aku akan memberimu nama." Mata elf itu langsung berbinar. "Lyraeth." Aren tersenyum. "Itu berarti… cahaya kecil dari hutan. Sangat cocok untukmu." Lyraeth langsung tersenyum lebar. Ia terlihat sangat bahagia, seolah mendapatkan sesuatu yang sangat berharga. Sebuah nama. Dan seorang teman. Malam itu mereka terus berbicara, berbagi cerita sampai akhirnya tertidur. Keesokan harinya, ketika Aren terbangun, Lyraeth sudah tidak ada di dalam gubuk. Ia keluar dan menemukan Lyraeth sedang mengumpulkan kayu bakar untuk dijual di kota. Aren hanya tersenyum kecil. Itulah cara Lyraeth bertahan hidup sekarang. Ia memilih pergi berburu dan memasak sarapan untuk mereka. Namun Lyraeth tidak kunjung kembali. Matahari mulai turun. Senja hampir datang. Aren mulai merasa tidak tenang. Lyraeth pernah berkata bahwa ia biasanya pulang paling lambat saat siang. Tanpa berpikir panjang, Aren bergegas keluar hutan mencarinya. Dan apa yang ia temukan… bukanlah Lyraeth yang ceria. Langkah Aren berhenti ketika suara gaduh terdengar dari jalan menuju kota . Ia bersembunyi di balik batang pohon besar. Awalnya ia tidak terlalu memperhatikan. Namun ketika ia melihat sosok kecil dengan rambut panjang khas elf terjatuh di tanah… jantungnya seperti berhenti berdetak. Lyraeth. Ikatan kayu bakar yang ia kumpulkan sejak pagi berserakan di tanah. Beberapa orang mengelilinginya. Salah satu pria menendang kayu bakar itu hingga berhamburan. "Elf kotor seperti ini berani berdagang di kota?" Lyraeth buru-buru merangkak mengambil kayu-kayu itu. "Itu… itu untuk makan…" Belum selesai ia berbicara, sebuah tendangan mengenai perutnya. Tubuh kecilnya terpental. Aren mengepalkan tangannya. Matanya bergetar. Namun kakinya tidak bergerak. Jika ia keluar sekarang… semuanya bisa menjadi masalah besar. "Tolong… jangan rusak kayunya…" Lyraeth masih mencoba mengambil kayu yang tersisa. Namun seseorang menginjak tangannya. Tangannya. Tangan kecil yang kemarin mengumpulkan kayu sambil bercerita dengan ceria. Aren menunduk. Ia tidak sanggup melihatnya. Namun suara mereka terus terdengar. "Elf seperti ini seharusnya dijual saja." "Pasti kabur dari tuannya." Sebuah pukulan mendarat di wajah Lyraeth. Tubuhnya terjatuh lagi. Namun yang membuat hati Aren terasa lebih sakit… Lyraeth tidak menangis. Ia hanya menunduk. Dan tersenyum kecil. Seolah mencoba menyembunyikan rasa sakitnya. Seolah ia tidak ingin membuat mereka semakin marah. Aren menggigit bibirnya kuat. Sampai terasa darah di mulutnya. Namun akhirnya… ia tetap pergi. Malam mulai turun. Api kecil menyala di dalam gubuk. Aren duduk diam sejak tadi. Tidak bergerak. Tidak berbicara. Hingga suara pintu terbuka perlahan. "Aren…" Suara kecil itu terdengar. Aren langsung menoleh. Lyraeth berdiri di pintu. Tubuhnya penuh luka. Bibirnya pecah. Ada memar di pipinya. Namun yang paling menyakitkan… ia tersenyum. "Aku pulang." Aren tidak berkata apa-apa. Ia hanya berjalan mendekat perlahan. Melihat luka di wajah Lyraeth dari dekat membuat dadanya terasa sesak. "Apa yang terjadi…?" Lyraeth menggaruk kepalanya sambil tertawa kecil. "Tidak apa-apa." Ia duduk di dekat api. "Hari ini memang sedikit sulit." Aren menatapnya. "Sedikit…?" Lyraeth mengambil satu koin kecil dari kantongnya. Ia menunjukkannya dengan bangga. "Tapi aku berhasil menjual satu ikat kayu." "Besok kita bisa beli roti." Aren tidak bisa berkata apa-apa. Tangannya gemetar. Lyraeth memperhatikan wajah Aren yang murung. Lalu ia tersenyum lebih cerah. "Jangan sedih." "Aku sudah terbiasa." Kalimat itu membuat hati Aren terasa seperti diremas. Namun Lyraeth melanjutkan dengan suara lembut. "Tapi sekarang berbeda." Ia menatap Aren. Matanya bersinar hangat. "Karena sekarang aku punya nama." Lyraeth memegang dadanya sendiri. "Lyraeth." Ia tersenyum lebar. "Dan aku punya teman." Aren menunduk. Air matanya hampir jatuh. Untuk pertama kalinya… ia merasa dirinya sangat lemah. Namun dari elf kecil itu… Aren belajar sesuatu. Bahwa seseorang bisa tetap tersenyum. Bahkan ketika dunia memperlakukannya dengan sangat kejam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD