Angin bertiup kencang.
Langit berteriak dengan suara parau, seakan menandakan bahwa sesuatu yang besar akan segera terjadi.
Air terus mengalir tanpa henti.
Setiap tetesnya begitu berarti bagi kehidupan, namun entah mengapa tetesan air kali ini terasa seakan bersedih.
Aren sedang memantau kondisi lapangan pembangunan yang dikerjakan bersama warga desa dan para bangsawan.
Proyek ini berjalan lancar.
Pada bulan-bulan awal, semua persiapan sudah sangat matang.
Pembangunan jalan dikerahkan dengan cepat.
Para petani bekerja keras menanam tanaman di area yang telah disiapkan.
Para peternak juga memantau kondisi hewan ternak mereka dengan hati-hati.
Sementara para pengelola daging dan sayuran mulai memperhatikan hasil yang nantinya akan diekspor ke kerajaan tetangga.
Hari demi hari berlalu.
Minggu demi minggu pun terlewati.
Tanpa terasa, enam bulan telah berlalu.
Proyek ini terlihat sangat tenang dan berjalan lancar.
Para bangsawan tua mulai percaya kepada Aren.
Namun di sisi lain, beberapa bangsawan mulai kesal dan berani menunjukkan taring mereka kepada sang raja.
Para rakyat juga kembali percaya kepada pemimpin mereka.
Perlahan berbagai masalah mulai teratasi.
Ekonomi kembali pulih.
Angka pengangguran menurun karena banyaknya lapangan pekerjaan yang muncul dari proyek ini.
Masyarakat miskin mulai mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih layak.
Perlahan… semuanya terlihat kembali stabil.
Namun di sisi lain, di dalam istana…
Seseorang sedang berbicara menggunakan batu sihir.
“Bagaimana sekarang? Kerajaan ini kembali maju.
Tinggal kita yang harus disingkirkan.”
“Haha… apa maksudmu? Tidak ada yang bisa menyingkirkan kita.
Dia tidak punya
bukti kuat untuk mengusir kita.”
“Benarkah? Lalu bagaimana dengan aku… seorang mafia b***k?”
“Tenanglah. Ingat kata-kataku ini. Selama aku masih berada di sini, lingkaran setan ini tidak akan pernah terputus. Dan proyek gila yang dikerjakan oleh raja bodoh itu… akan berakhir di sini. Ingat itu.”
“Ho… bagus kalau begitu. Apakah para bangsawan itu akan berguna?”
“Iya. Tentu saja mereka akan berguna.”
“…sebagai kambing hitam dari kekacauan ini.”
Di malam yang gelap…
Seseorang bergerak dengan kecepatan tinggi.
Langkahnya begitu senyap.
Kehadirannya tidak bisa dirasakan, seakan ia hanyalah angin yang berlalu.
Dia bergerak menuju perkebunan…
Menuju peternakan…
Dan juga gudang penyimpanan makanan.
Lima hari kemudian…
Tidak terjadi apa-apa.
Namun justru di situlah awal dari bencana besar yang akan datang.
Dua minggu kemudian…
Kekacauan pun terjadi.
Wabah menyebar dengan cepat, bagaikan api yang menyambar kegelapan.
Semua orang kebingungan.
Apa yang sebenarnya telah terjadi?
Tidak ada yang tahu.
Wabah penyakit menular mulai menyebar di antara warga.
Gudang penyimpanan makanan dipenuhi hama dan parasit.
Perkebunan mengering dan tanaman mulai layu.
Peternakan dipenuhi hewan yang terserang penyakit.
Semuanya panik.
Semua orang bingung.
Mereka ingin berteriak… tetapi tidak tahu harus menyalahkan siapa.
Hingga akhirnya…
Satu suara muncul dari kerumunan.
“Inilah kehancuran yang dibuat oleh sang pemimpin.”
Keributan mulai muncul di seluruh wilayah luar gerbang.
Orang-orang berlarian di jalanan, sebagian membawa keluarga mereka yang sakit, sebagian lagi berteriak meminta bantuan.
Gudang makanan yang sebelumnya penuh kini dipenuhi bau busuk dari gandum yang membusuk.
Para petani hanya bisa menatap ladang mereka dengan wajah kosong.
Tanaman yang dulu hijau kini berubah kering dan menghitam.
Di sisi lain, para peternak mencoba menyelamatkan hewan ternak mereka, tetapi penyakit menyebar terlalu cepat.
Tangisan mulai terdengar di mana-mana.
Ketakutan perlahan berubah menjadi kemarahan.
“Ini semua karena proyek raja!”
“Benar! Sebelum proyek itu dimulai, semua masih baik-baik saja!”
“Kita dipaksa bekerja untuk sesuatu yang justru menghancurkan kita!”
Suara-suara itu menyebar seperti api di tengah angin.
Di dalam istana Aerindor…
Aren berdiri diam di depan jendela ruang kerjanya.
Dari kejauhan ia bisa melihat kepulan asap dari desa yang kacau.
Rhevan berdiri di sampingnya dengan wajah tegang.
“Yang Mulia… situasi di luar semakin buruk.”
Aren tidak menjawab.
Ia hanya terus memandang ke arah desa.
Selena kemudian masuk dengan langkah cepat.
“Yang Mulia… para bangsawan meminta rapat darurat.”
“Sebagian dari mereka menuntut proyek ini dihentikan.”
“Dan…” Selena berhenti sejenak.
“Beberapa dari mereka mulai menyalahkan Anda secara terbuka.”
Ruangan itu menjadi sunyi.
Rhevan mengepalkan tangannya.
“Kurang ajar…”
Namun Aren justru tersenyum tipis.
Senyuman yang sangat tenang.
“Jadi… akhirnya mereka mulai bergerak.”
Rhevan dan Selena langsung menoleh kepadanya.
Aren menatap langit yang mulai dipenuhi awan gelap.
“Semakin besar kekacauan yang mereka buat…”
“…semakin mudah bagiku melihat siapa saja yang sebenarnya bermain di balik layar.”
Aren lalu berjalan menuju meja kerjanya.
Di atas meja terdapat beberapa laporan rahasia yang belum pernah diperlihatkan kepada siapa pun.
Ia mengambil salah satu kertas itu.
“Rhevan.”
“Ya, Yang Mulia.”
“Awasi semua bangsawan yang paling keras menentang proyek ini.”
“Jangan sampai mereka menyadari bahwa kita sedang memperhatikan mereka.”
Rhevan mengangguk.
“Baik.”
Aren kemudian menoleh kepada Selena.
“Dan kau, Selena.”
“Sebarkan kabar bahwa aku sedang kebingungan menghadapi semua ini.”
Selena sedikit terkejut.
“Yang Mulia?”
Aren tersenyum tipis.
“Biarkan mereka berpikir bahwa aku benar-benar gagal.”
“Dengan begitu…”
“…para tikus itu akan keluar dari lubangnya.”
Angin malam berhembus pelan melewati jendela istana.
Di luar sana, kekacauan semakin membesar.
Namun di dalam ruangan itu…
Sang raja justru terlihat sangat tenang.
Seolah semua ini memang sudah ia perhitungkan sejak awal.
Tapi kali ini Aren benar-benar salah memprediksi satu hal.
Di dalam rapat ini dia memang mengetahui banyak hal tentang para bangsawan, tentang gerak-gerik mereka, tentang kebusukan yang mungkin tersembunyi di balik wajah tenang mereka. Namun dia tidak memiliki bukti yang cukup kuat untuk menghancurkan mereka.
Ia hanya bisa melihat tanda-tanda.
Ia hanya bisa merasakan kejanggalan.
Namun semua itu masih berupa bayangan yang tidak bisa ia genggam.
Aren merasa seperti seseorang yang hanya melihat semut yang keluar masuk dari sarangnya.
Ia hanya bisa memperhatikan para semut dari luar sarang itu, melihat mereka datang dan pergi membawa sesuatu yang tidak ia pahami.
Namun ia tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang terjadi di dalam sarang tersebut.
Apa yang sedang mereka bangun.
Apa yang sedang mereka sembunyikan.
Dan siapa sebenarnya yang menjadi ratu di dalamnya.
Sementara itu keadaan di luar semakin memburuk.
Wabah mulai mengganas.
Angkanya meningkat dengan cepat dan tanpa belas kasihan.
Setiap hari laporan korban datang silih berganti.
Para tabib mulai kewalahan.
Para petani kehilangan ladang mereka.
Hewan ternak mati satu demi satu.
Tangisan terdengar di berbagai sudut desa.
Aren yang sebelumnya terlihat tenang kini mulai merasakan beban yang semakin berat di pundaknya.
Ia tidak sanggup lagi menahan angka korban yang terus berjatuhan.
Setiap laporan kematian terasa seperti satu batu besar yang dilemparkan ke dalam hatinya.
Di dalam ruang rapat, suasana jauh dari kata tenang.
Para bangsawan terlihat panik sekaligus kesal.
Beberapa dari mereka berbicara dengan suara tinggi.
Beberapa lainnya bahkan tidak lagi menyembunyikan kemarahan mereka.
Semua orang mulai menyalahkan Aren.
Setiap kata yang mereka lontarkan terasa seperti pisau yang dilemparkan kepadanya.
Namun di tengah kekacauan itu, hanya satu orang yang terlihat tenang.
Elric.
Ia duduk dengan punggung tegak.
Matanya tenang, wajahnya tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun.
Seolah-olah kekacauan ini hanyalah angin kecil yang lewat di hadapannya.
Banyak bangsawan mulai menuntut agar proyek ini segera dihentikan.
Mereka menuntut ganti rugi.
Mereka menuntut pertanggungjawaban.
Sebagian bahkan mulai menuduh bahwa semua ini adalah kesalahan Aren sejak awal.
Namun Elric justru memberikan pendapat yang berbeda.
Ia berdiri dengan perlahan dan berbicara dengan suara yang tenang.
Ia menyarankan agar proyek ini tetap dilanjutkan.
Ia mengatakan bahwa menghentikan proyek sekarang hanya akan membuat semua pengorbanan menjadi sia-sia.
Bahkan jika harus ada korban yang terus berjatuhan.
Kata-kata itu terasa dingin.
Sangat dingin.
Seolah-olah nyawa manusia hanyalah angka dalam laporan.
Aren hanya terdiam.
Mematung dalam keheningan.
Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.
Tidak ada keputusan yang bisa ia ambil pada saat itu.
Karena untuk pertama kalinya…
semua yang mereka katakan terasa benar.
Ia merasa seperti seseorang yang sedang berdiri di tengah lingkaran tombak.
Setiap kata yang mereka lontarkan terasa seperti tombak yang diarahkan langsung kepadanya.
Dan ia tidak memiliki perisai untuk menahannya.
Di tengah keheningan yang menyesakkan itu…
beberapa bangsawan mulai tertawa.
Awalnya hanya satu.
Lalu dua.
Kemudian semakin banyak.
Tawa mereka terdengar keras di dalam ruangan rapat.
Tawa yang penuh ejekan.
Tawa yang merendahkan.
Tawa yang menghinakan.
Mereka menertawakan raja mereka sendiri.
Raja yang dulu dianggap jenius.
Raja yang dulu dipuji oleh rakyatnya.
Namun sekarang…
di mata mereka…
Aren hanyalah seorang pemimpin muda yang gagal.