09

1559 Words
Matahari kini telah mencapai puncaknya, menembus ruang kehampaan dan sisa-sisa kegelapan malam. Cahayanya melawan arus kehidupan yang dingin, seakan membawa pelita kecil yang tetap bersinar di tengah dunia yang keras. Di dalam ruang kerjanya, Aren terlihat sangat tenang. Suasana di kastil pun terasa berbeda hari ini. Tidak ada kegaduhan yang berarti. Semua orang sibuk dengan urusan dan tanggung jawab mereka masing-masing. “Tok… tok… tok…” Suara ketukan terdengar dari balik pintu. Selena berdiri di luar. Aren segera mengizinkan Selena masuk. Kehadiran pelayan setianya itu membuat fokus Aren sedikit terpecah. Sebelumnya, Selena memang telah diberi tugas penting olehnya—mengamati para bangsawan dan rakyat, sekaligus mengumpulkan berbagai isu politik yang berkembang di wilayah Aerindor. Selena melangkah masuk dengan tenang. “Yang Mulia… saya izin berbicara.” Aren mengangkat pandangannya dari meja kerja. “Katakanlah. Semoga engkau membawa kabar baik untukku.” Selena sempat ragu sejenak sebelum melanjutkan. “Yang Mulia… banyak rakyat yang tidak percaya pada proyek desa itu.” Ruangan seketika terasa lebih sunyi. “Banyak yang beranggapan bahwa Yang Mulia hanya sedang memanfaatkan para bangsawan… dengan dalih demi rakyat.” Selena berhenti sejenak, seolah menimbang kata-kata berikutnya. “Dan… banyak rakyat yang sudah terlanjur kecewa terhadap kepemimpinan Anda.” Aren tidak memotong. Ia hanya mendengarkan dengan tenang. “Selama lebih dari dua tahun Anda tidak berada di Aerindor. Banyak dari mereka merasa ditinggalkan. Kepercayaan mereka kepada Anda menurun.” Selena menundukkan sedikit kepalanya. “Masih banyak keluhan lain, Yang Mulia… tetapi tidak semuanya buruk.” Aren tetap diam, memperhatikan Selena dengan saksama. “Masih ada rakyat yang mendukung Anda,” lanjutnya pelan. “Mereka mengingat prestasi Anda sebelumnya. Mereka masih percaya bahwa Anda mampu memperbaiki keadaan.” Aren tetap tidak berkata apa-apa. Selena kemudian melanjutkan laporan berikutnya. “Untuk para bangsawan… keadaannya bahkan lebih buruk.” Aren sedikit menyipitkan mata. “Banyak dari mereka yang tidak percaya kepada Anda. Mereka meragukan keputusan Anda.” “Terutama para bangsawan tua. Mereka benar-benar memandang Anda sebelah mata karena usia Anda masih muda untuk memimpin dan membangun kembali wilayah ini.” Selena menarik napas pendek. “Dan… mereka sangat kesal karena harus menyerahkan sebagian harta mereka untuk proyek ini.” Ia berhenti sebentar, lalu berkata jujur. “Dari pengamatan saya… hampir semua bangsawan membenci Anda, Yang Mulia.” “Hah…” Aren menghembuskan napas panjang. Hembusan itu terasa berat, seolah seluruh beban kerajaan sedang bertumpu di bahunya. Ia bangkit dari kursinya. Langkahnya perlahan menuju jendela besar di ruang kerja itu. Dari sana, ia dapat melihat halaman kastil dan sebagian kota Aerindor. Para bangsawan berjalan dengan pakaian megah mereka, para pelayan bekerja tanpa henti, dan rakyat menjalani kehidupan mereka seperti biasa. Namun di antara mereka… Beberapa tatapan yang mengarah padanya terasa dingin. Sinis. Merendahkan. Seolah-olah mereka sedang menunggu saat dirinya jatuh. Aren memandang pemandangan itu cukup lama. Lalu ia kembali berjalan ke meja kerjanya dan duduk kembali di kursinya. Ia tidak ingin menambah beban di pikiran Selena. “Terima kasih atas laporanmu, Selena.” Suaranya tetap tenang. Aren duduk kembali di kursinya. Tangannya perlahan menyentuh beberapa lembar laporan yang masih berserakan di atas meja. Matanya menatap kosong ke arah tulisan-tulisan itu, tetapi pikirannya jelas sedang berjalan jauh. Selena masih berdiri di hadapannya. Ia tidak berani berbicara lagi. Ruangan itu kembali tenggelam dalam keheningan. Beberapa saat kemudian Aren tersenyum kecil. Senyuman yang tidak mudah dimengerti. “Selena.” “Ya, Yang Mulia.” “Kau sudah melakukan pekerjaan yang sangat baik.” Selena sedikit terkejut mendengarnya. “Laporanmu sangat berguna bagiku.” Aren lalu berdiri perlahan. Ia kembali berjalan menuju jendela, tetapi kali ini tatapannya berbeda. Tidak lagi berat seperti sebelumnya. “Jadi mereka semua membenciku sekarang…” Aren tersenyum tipis. “Bagus.” Selena sedikit terdiam mendengar kata itu. “Bagus… Yang Mulia?” Aren mengangguk pelan. “Semakin mereka membenciku… semakin mudah bagiku melihat siapa yang benar-benar ingin melihatku jatuh.” Selena mulai mengerti arah pikiran Aren. “Yang Mulia… apakah semua ini memang bagian dari rencana Anda?” Aren tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang jauh ke arah kota Aerindor. Angin dingin Utara berhembus masuk melalui celah jendela. “Kau tahu, Selena…” “Dalam permainan politik…” “Orang yang paling berbahaya bukanlah musuh yang terlihat.” Aren menoleh sedikit. “Melainkan mereka yang berpura-pura setia.” Selena menundukkan kepala. “Lalu apa yang akan Anda lakukan sekarang, Yang Mulia?” Aren kembali ke meja kerjanya. Ia mengambil sebuah peta wilayah Aerindor yang berada di antara tumpukan dokumen. Perlahan ia menunjuk sebuah tempat. Desa di luar gerbang. Tempat proyek itu akan dibangun. “Biarkan mereka berpikir bahwa aku sedang melakukan kesalahan besar.” Aren tersenyum tipis. “Biarkan rakyat meragukanku.” “Biarkan para bangsawan membenciku.” “Dan biarkan musuh-musuhku merasa bahwa mereka sedang menang.” Aren lalu menatap Selena. Tatapannya tajam. “Karena ketika mereka semua mulai bergerak…” “…di situlah aku akan melihat siapa yang benar-benar menggerakkan semuanya dari balik bayangan.” Selena merasakan bulu kuduknya sedikit merinding. Raja muda di hadapannya tidak terlihat seperti seseorang yang sedang terpojok. Justru sebaliknya. Seolah-olah ia sedang menunggu sesuatu. Menunggu mangsanya keluar dari persembunyian. “Selena.” “Ya, Yang Mulia.” “Mulai hari ini… sebarkan kabar bahwa proyek desa itu akan dimulai secepat mungkin.” “Dan pastikan semua bangsawan tahu bahwa aku akan menggunakan harta mereka.” Selena mengangguk. “Baik, Yang Mulia.” Aren kemudian duduk kembali di kursinya. Matanya menatap ke arah langit melalui jendela. Di luar sana, langit Utara mulai berubah warna. Awan-awan bergerak perlahan seperti pertanda akan datangnya badai. Aren tersenyum kecil. “Permainan ini akhirnya dimulai…” “Ctaang…” Suara benturan pedang menggema di halaman latihan istana. Aren ternyata lebih memilih menghabiskan waktunya berlatih bersama Rhevan daripada terus menatap tumpukan pekerjaan di ruang kerjanya. Duel mereka berlangsung sengit. Pedang saling beradu berkali-kali, memercikkan suara tajam yang memecah kesunyian malam Utara. Udara terasa semakin dingin dan menusuk kulit. Angin salju berhembus melewati halaman latihan, membuat napas mereka berubah menjadi uap putih yang perlahan menghilang di udara. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang berhenti. Belakangan ini Aren memang sering berlatih secara diam-diam. Melatih fisiknya. Melatih sihirnya. Dan memperdalam ilmu pedang yang pernah diajarkan oleh Rhevan sejak lama. “Ctaang!” Pedang Rhevan menghantam dengan kuat. Aren menahannya dengan cepat, lalu melangkah mundur satu langkah. Rhevan menyipitkan mata. “Tuan… Anda semakin cepat.” Aren tersenyum tipis. “Jika aku berhenti berlatih…” “…aku akan mati sebelum permainan ini selesai.” Rhevan tidak menjawab. Ia hanya kembali mengangkat pedangnya. Udara di sekitar mereka terasa semakin tegang. Dalam sekejap Rhevan melesat maju. Pedangnya bergerak cepat membelah udara. Namun Aren tidak lagi seperti dulu. Tubuhnya bergerak ringan. Sihir tipis membungkus langkahnya. “Ctaang!” Benturan keras kembali menggema. Untuk pertama kalinya dalam duel itu, Rhevan sedikit terdorong mundur. Angin dingin berputar di sekitar mereka. Rhevan tersenyum kecil. “Sepertinya…” “…Yang Mulia sudah mulai serius.” Aren memutar pedangnya perlahan. Matanya tajam seperti es Utara. “Belum, Rhevan.” “Ini baru pemanasan.” Angin kembali berhembus. Dan duel mereka pun berlanjut. Di atas langit Aerindor, salju mulai turun perlahan—seolah menjadi saksi bisu dari latihan sang raja yang sedang mempersiapkan diri untuk sesuatu yang jauh lebih besar. “Ctaang…!” Suara benturan pedang menggema keras di halaman latihan kastil Aerindor. Percikan es beterbangan ketika dua bilah pedang saling menghantam dengan kekuatan besar. Aren dan Rhevan berdiri saling berhadapan. Udara Utara terasa begitu dingin, angin salju berputar perlahan di sekitar mereka, membuat jubah mereka berkibar tertiup angin. Namun keduanya sama sekali tidak memperdulikan dingin itu. “Seranganmu melambat, tuan,” ujar Rhevan dengan suara tenang. Aren hanya tersenyum tipis. “Kalau aku menyerang serius… kau yang akan mengeluh nanti.” Rhevan mengangkat alisnya sedikit. “Kalau begitu, buktikan.” Tanpa aba-aba lagi Rhevan langsung melesat maju. Langkahnya cepat. Pedangnya membelah udara. “Ctaang!” Aren menahan serangan itu dengan satu gerakan halus. Benturan keras membuat tanah bergetar sedikit. Namun serangan Rhevan tidak berhenti di sana. Pedangnya kembali berputar, menyerang dari samping dengan kecepatan tinggi. Aren menunduk. Pedang itu melewati rambutnya. Dalam satu gerakan cepat Aren memutar tubuhnya dan membalas. “Ctaang!” Rhevan mundur satu langkah. Salju yang menempel di tanah pecah oleh tekanan kaki mereka. Udara di sekitar mereka mulai terasa berbeda. Dingin yang menusuk berubah menjadi aura tegang. Aren mengangkat tangannya sedikit. Butiran kristal es mulai terbentuk di udara. Sihirnya perlahan bangkit. Rhevan tersenyum kecil melihat itu. “Sudah lama sekali saya tidak melihat sihir Anda seperti ini.” Aren memutar pedangnya. Kristal-kristal kecil berputar di sekelilingnya seperti serpihan salju yang hidup. “Kalau aku tidak berkembang…” “…aku sudah mati sejak lama di Utara ini.” Angin tiba-tiba bertiup lebih kencang. Rhevan kembali menyerang. Langkahnya kali ini jauh lebih cepat. Pedangnya turun seperti kilat. Namun Aren menghilang dari tempatnya berdiri. Rhevan langsung menghentikan langkahnya. Dia merasakan sesuatu di belakangnya. “Ctaang!” Pedang Aren muncul dari sisi belakang dan menghantam pedang Rhevan. Benturan keras itu membuat Rhevan terdorong mundur dua langkah. Untuk sesaat halaman latihan menjadi sunyi. Salju jatuh perlahan dari langit malam. Rhevan menatap Aren dengan mata tajam. “Tuan… Anda berubah.” Aren hanya berdiri tenang dengan pedang di tangannya. Matanya dingin seperti es Aerindor. “Bukan berubah…” “…aku hanya mulai serius.” Angin Utara berhembus melewati halaman kastil. Dan duel mereka kembali berlanjut di bawah langit yang dipenuhi salju.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD