Keesokan harinya, matahari berani bangkit dari jurang kegelapan. Tidak ada yang benar-benar dapat menebak kehadirannya.
Ia berdiri di puncak langit, membawa cahaya fajar seperti senjata untuk melawan bayang-bayang malam.
Namun tidak ada yang benar-benar menyadarinya.
Orang-orang tetap menjalani aktivitas seperti biasa.
Pasar mulai hidup, para penjaga bertukar giliran, dan para bangsawan bersiap dengan urusan mereka masing-masing.
Hanya kegelapan yang mengetahui…
bahwa hari ini akan menjadi awal sesuatu.
Aren telah bersiap sejak pagi.
Di sampingnya berdiri dua bawahan setianya—Rhevan dan Selena. Mereka berjalan menyusuri lorong kastil yang panjang dan dingin. Langkah mereka bergema pelan di antara dinding kristal Aerindor. Tidak lama kemudian, mereka sampai di depan ruang pertemuan kerajaan.
Pintu besar itu terbuka perlahan.
Di dalam ruangan, semua bangsawan dan pejabat tinggi telah duduk rapi di sepanjang meja panjang yang membentang seperti garis takdir.
Meja itu akan menjadi saksi bisu rapat hari ini.
Semua mata langsung tertuju pada Aren ketika ia memasuki ruangan.
Namun tidak ada yang berbicara.
Suasana terasa berat.
Rhevan melangkah maju sedikit, lalu membuka rapat dengan suara tegas dan tenang.
"Para hadirin yang terhormat… tidak perlu basa-basi lagi."
"Kita mulai rapat ini."
Suasana ruangan langsung menjadi lebih serius.
Rhevan mulai menjelaskan semua laporan yang telah mereka kumpulkan.
Ia menyampaikan semuanya secara terbuka.
Tidak ada yang ditutupi.
Korupsi di dalam kastil.
Mafia perdagangan b***k yang bergerak bebas.
Krisis ekonomi yang menghantam kerajaan aerindor dengan telak.
Setiap masalah disebutkan satu per satu.
Beberapa bangsawan mulai terlihat gelisah.
Sebagian mengernyitkan dahi.
Sebagian lainnya saling melirik dengan wajah tidak senang.
Ada juga yang terlihat tersinggung.
Namun mereka tetap diam.
Di tengah suasana itu, hanya satu orang yang terlihat benar-benar tenang.
Elric.
Ia duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya saling bertaut di atas meja.
Wajahnya tidak menunjukkan emosi berlebihan.
Matanya tenang, memperhatikan semua yang terjadi di ruangan itu. Aren tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya duduk di kursi utamanya.
Diam.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan perlahan.
Ia memperhatikan setiap gerakan kecil para bangsawan.
Cara mereka menghela napas.
Cara mereka saling melirik.
Semuanya ia simpan dalam pikirannya.
Namun tatapannya beberapa kali berhenti pada satu orang.
Elric.
Satu-satunya bangsawan yang terlihat benar-benar tenang di tengah kekacauan ini.
Dan justru itulah yang membuat Aren selalu mempercayainya.
Elric adalah tipe orang yang mampu tetap berpikir jernih di tengah badai.
Di dalam benak Aren, itulah kualitas seorang pemimpin sejati.
Namun hari ini…
Aren tidak hanya datang untuk mendengar laporan.
Hari ini adalah hari pertama dari permainan yang ia rancang.
Dan semua orang di ruangan itu—
tanpa mereka sadari—sudah berada di dalam papan permainannya.
Semua orang terdiam.
Tidak ada satu pun yang berani berbicara lebih dulu.
Di ruangan itu hanya ada napas yang tertahan dan tatapan yang saling mengamati.
Setiap bangsawan duduk dengan tenang…
menyembunyikan taring mereka masing-masing.
Tiba-tiba sebuah suara memecah kesunyian.
"Maafkan aku, tuanku."
Elric berbicara.
Beberapa kepala langsung menoleh ke arahnya.
"Apa sebenarnya tujuan rapat ini?" lanjutnya tenang.
"Apakah untuk menjatuhkan kami… atau membangun kembali kerajaan ini?"
Ruangan langsung terasa lebih berat.
Pertanyaan itu terlalu tajam untuk sebuah rapat kerajaan.
Namun Aren hanya tersenyum kecil.
Para bangsawan tersentak melihat reaksinya.
"Tenanglah, Elric," kata Aren dengan suara santai.
"Tujuanku hanya satu… membangun kembali kerajaan ini."
"Bukan menjatuhkan kalian.
Dan bukan pula menghancurkan apa yang sudah ada."
Suara Aren terdengar lantang dan tegas.
Angin dingin dari jendela tinggi berhembus masuk ke ruangan, membuat tirai bergoyang pelan seolah memperingatkan semua orang di dalamnya.
Rapat pun kembali berjalan.
Selena terus berjalan hilir mudik di dalam ruangan, membawa beberapa nampan makanan dan minuman untuk para bangsawan.
Tidak seorang pun diperbolehkan meninggalkan ruangan sebelum rapat benar-benar selesai.
Jam demi jam berlalu.
Para bangsawan mulai mengeluarkan berbagai usulan.
Ada yang menyarankan pembangunan ulang lahan pertanian.
Ada yang ingin memperbaiki jalur distribusi perdagangan.
Ada pula yang mengusulkan pembangunan gedung petualang untuk menarik para pemburu monster.
Sebagian bahkan mengusulkan gudang makanan raksasa di wilayah salju.
Namun satu per satu usulan itu ditolak.
Aren menolak.
Bahkan beberapa gagasan Elric pun ikut ditolak.
Waktu terus berjalan.
Langit di luar jendela perlahan berubah gelap.
Malam hampir tiba.
Namun mereka masih belum menemukan solusi yang benar-benar mampu memperbaiki ekonomi Aerindor.
Akhirnya ruangan itu kembali tenggelam dalam keheningan.
Semua orang terlihat lelah.
Saat itulah Aren perlahan berdiri.
"Aku punya satu rencana terakhir."
Semua kepala langsung terangkat.
"Kita akan membangun desa di luar gerbang."
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi. Para bangsawan saling menatap dengan wajah bingung.
Desa luar gerbang?
Tempat itu dikenal sebagai pusat kekacauan ekonomi Aerindor.
Tempat kemiskinan berkumpul.
Tempat para pengangguran dan pedagang kecil bertahan hidup.
Mengapa justru tempat itu yang ingin dibangun?
Aren melanjutkan penjelasannya.
"Kita akan menjadikannya pusat ekonomi baru."
"Dan semua bangsawan harus ikut serta."
Tatapan para bangsawan berubah.
"Termasuk menyumbangkan sebagian harta kalian."
Aren berhenti sejenak.
"Lalu aku juga akan menyumbangkan hartaku."
Ruangan kembali bergemuruh oleh bisikan.
Keraguan muncul di wajah banyak orang.
Risikonya terlalu besar.
Namun Aren menjelaskan satu hal lagi.
"Jika proyek ini berhasil…
dampaknya akan jauh lebih besar daripada sekadar memperbaiki ekonomi."
"Ini adalah investasi masa depan."
Kata-kata itu perlahan mengubah suasana.
Para bangsawan mulai mempertimbangkannya.
Namun satu orang masih tetap diam.
Elric.
Ia memperhatikan Aren dengan tatapan dalam.
Ada sesuatu dalam rencana ini yang terasa… besar.
Akhirnya setelah perdebatan panjang, rapat itu berakhir.
Semua bangsawan menyetujui proyek pembangunan desa.
Satu per satu mereka meninggalkan ruangan.
Hingga akhirnya hanya tersisa tiga orang di sana.
Aren.
Rhevan.
Dan Selena.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Selena akhirnya berbicara.
"Tuanku… kenapa Anda meminta para bangsawan menyumbangkan harta mereka?"
"Bukankah ini terlalu berisiko?"
Aren tersenyum tipis.
"Kau benar, Selena."
"Karena memang itu yang kuinginkan."
Selena dan Rhevan saling menatap.
"Harta itu hanya tipuan."
Aren bersandar di kursinya.
"Aku tahu proyek ini akan gagal."
"Tapi aku tidak ingin kegagalannya terlihat seperti kegagalan."
"Maksud Anda?" tanya Selena pelan.
"Aku akan membangun proyek itu menggunakan harta mereka."
"Tapi tidak semuanya."
"Hanya seperempat."
"Sisanya akan kugunakan untuk membantu panti asuhan dan membuka pekerjaan bagi para pengangguran."
Rhevan langsung menatap Aren serius.
"Ini bisa menjatuhkan nama Anda, Tuanku."
Aren tertawa pelan..
"Tidak apa-apa."
"Di dunia ini… penderitaan selalu membutuhkan korban."
Ruangan kembali hening.
Sementara itu…
Di sudut lain istana, tersembunyi di balik bayangan lorong gelap, seseorang sedang berbicara menggunakan batu sihir.
Sebuah suara terdengar dari batu itu.
"Bagaimana pergerakan raja bodoh itu?"
Pria yang memegang batu sihir tersenyum samar.
"Aku belum sepenuhnya mengerti rencana anak muda itu."
"Tapi sepertinya… ini akan berdampak besar bagi kita."
Suara dari batu sihir tertawa pelan.
"Bagus."
"Itu berarti jalur perdagangan haram kita bisa berkembang lebih luas."
Angin malam berhembus kuat di luar kastil.
Dingin.
Tajam.
Seperti sesuatu yang tidak terlihat…
namun perlahan mulai bergerak.