Matahari pun bangkit. Sang fajar menerangi dunia yang perlahan kembali hidup.
Kehidupan seakan berlomba-lomba mencari makna—banyak yang bersiap memulai hari, banyak yang sudah berjalan lebih dahulu, dan yang lebih buruk dari semuanya… kegagalan itu sendiri.
Aren pun terbangun dari tidurnya yang nyenyak.
Ia menatap matahari yang telah muncul, seolah sedang bersiap berkelana ke seluruh penjuru dunia.
"Tok, tok."
Selena datang memasuki kamar dengan langkah tenang untuk membantu membersihkan dan menyiapkan pakaian Aren.
Setelah semuanya selesai, Aren tidak banyak berbicara. Ia langsung berjalan menuju ruang kerjanya.
Pintu ruangan itu pun dibuka.
Ruangan tersebut masih tampak sama seperti sebelumnya. Tidak ada perubahan berarti.
Segala sesuatu masih dirancang khusus untuk Sang Raja agar tetap merasa nyaman di dalamnya.
Namun ketenangan ruangan itu langsung runtuh ketika Aren melihat meja kerjanya.
Begitu banyak lembar pekerjaan menumpuk di atas meja.
Masalah kerajaan seakan menggunung tanpa henti.
Aren bahkan terlihat malas hanya untuk memandanginya.
"Huh..."
Hembusan napasnya terdengar berat.
Namun pada akhirnya ia tetap duduk.
Aren langsung menyambar satu per satu lembar kertas itu, mulai membaca dan menganalisis setiap laporan yang ada.
Waktu pun berjalan.
Ia terus membaca, meneliti, dan memeriksa semuanya secara detail tanpa melewatkan satu hal pun.
Terkadang Aren juga menuliskan catatan kecil pada laporan yang menurutnya cukup penting—laporan yang mungkin terlihat kecil sekarang, namun berpotensi menjadi masalah besar di masa depan.
Waktu berlalu begitu lama.
Sampai akhirnya malam mulai datang.
Aren masih duduk di kursinya, dikelilingi tumpukan kertas dan beberapa makanan kecil yang tersisa di atas meja.
Rhevan dan Selena sesekali membantu memeriksa laporan yang tidak terlalu berbahaya, tetapi tetap memiliki potensi masalah jika dibiarkan terlalu lama.
Setelah semua pekerjaan selesai diperiksa, Aren akhirnya menyusun semuanya secara rapi.
Ia mulai menjabarkan akar masalah yang sedang terjadi di kerajaan Aerindor.
Berawal dari panti asuhan yang membutuhkan dana untuk anak-anak yatim piatu.
Korupsi yang terjadi di berbagai wilayah, bahkan sampai ke dalam kastil itu sendiri.
Para bangsawan yang mulai bertindak semena-mena terhadap keluarga kerajaan.
Mafia perdagangan b***k yang berkeliaran dengan bebas di wilayah Aerindor.
Dan yang paling mengkhawatirkan—
krisis ekonomi yang semakin parah, baik di luar gerbang kota maupun di dalam wilayah kastil.
Aren pun berdiri lalu menghempaskan tubuhnya kembali ke kursinya.
"Ini terasa sangat aneh… begitu banyak keganjilan yang kutemukan di sini."
Rhevan langsung tersentak mendengar perkataan itu, lalu membalas dengan suara serius.
"Anda benar, tuan… ini memang aneh."
"Sebelum aku meninggalkan tempat ini aku mengenal mereka. Walaupun mereka
adalah bangsawan yang mementingkan diri sendiri, mereka tetap menjaga kestabilan wilayah demi perdagangan yang lancar."
"Ada sesuatu yang berubah dengan mereka, tuan."
"Entahlah… aku pun bingung. Para petinggi juga bertingkah sama, mereka seakan tidak peduli lagi dengan keadaan kerajaan."
"Tapi… tuan, bukankah Aerindor dijaga oleh Elric?"
"Ya… dan itulah yang membuatku semakin bingung."
"Ada seseorang yang ingin menghancurkan sistem kerja kita, tuan."
"Kau benar, Rhevan. Aku tidak tahu masalahnya ada di mana. Apakah di dalam hirarki… atau di dalam ekonomi."
Aren pun terdiam sejenak, memikirkan solusi yang tepat.
"Tunggu, tuanku… bagaimana kalau kita menangkap saja mafia dagang b***k itu?"
"Tidak, Selena… itu berbahaya. Di dalam catatan kerajaan, mafia dagang itu sudah cukup lama berada di wilayah ini. Ada kemungkinan seseorang memberi jalan bagi mereka."
Selena pun kembali memotong
pembicaraan mereka.
"Kalau begitu… bagaimana kalau kita menangkap para pelaku korupsi saja?"
"Kedengarannya mudah, Selena. Tapi ingat, kita sudah masuk ke dalam permainan mereka. Jika aku menggali lubang, akan selalu ada yang langsung menutupnya."
"Kalau begitu… kita kesampingkan keduanya. Kita selesaikan saja masalah ekonomi ini terlebih dahulu."
"Heh…"
Aren terdiam sejenak, lalu perlahan
tersenyum lebar.
"Kau benar, Selena. Rhevan, umumkan kepada para petinggi dan bangsawan. Besok kita akan mengadakan rapat terbuka."
"Baik, tuan."
Setelah semua pembicaraan selesai, Aren langsung kembali menuju kamarnya untuk melenturkan tubuhnya yang terasa pegal. Ia menghempaskan tubuhnya di kursi balkon yang menghadap ke halaman kastil.
Angin malam berhembus perlahan.
Aren menuangkan anggur ke dalam gelasnya, lalu menikmatinya seteguk demi seteguk.
"Semua ini sudah dirancang dengan sangat rapi… bahkan aku sampai bingung."
"Sial…"
Aren menengadah menatap langit malam, lalu perlahan menundukkan kepalanya. Dari balkon itu ia melihat gerombolan semut kecil yang sedang mencari makanan di tanah.
Aren mengambil sebuah apel dari meja kecil di sampingnya, lalu melemparkannya ke dekat gerombolan semut itu.
Satu semut melihatnya lebih dulu.
Semut kecil itu segera berlari kembali dan memberi tanda kepada yang lain. Tak lama kemudian, puluhan semut mulai berdatangan.
Mereka mengelilingi apel itu dan mencoba mengangkatnya bersama-sama.
Perlahan… sedikit demi sedikit… apel itu hampir berhasil mereka bawa pergi.
Namun sebelum mereka benar-benar berhasil,
Aren mengambil kembali apel itu.
Gerombolan semut itu pun berhenti.
Mereka terlihat bingung dan berlarian tanpa arah.
"Hehe… hahahaha…"
Aren tertawa pelan.
"Aku mengerti sekarang…"
"Pola mereka…"
"Pola permainan mereka."
Aren tersenyum lebar di tengah malam yang dingin.
Angin malam terus berhembus di balkon kastil Aerindor. Aren masih memandangi gerombolan semut yang kini telah menyebar tanpa arah. Beberapa masih berputar di tempat apel itu tadi berada, seakan tidak mengerti ke mana makanan mereka menghilang.
Aren memutar apel itu perlahan di tangannya.
"Menarik…"
Ia menggigit sedikit buah itu, lalu bersandar kembali di kursinya.
"Tuan…?"
Suara langkah pelan terdengar dari belakang. Selena ternyata belum benar-benar pergi jauh.
Aren tidak menoleh.
"Selena… menurutmu apa yang akan dilakukan semut-semut itu sekarang?"
Selena sedikit terdiam, lalu mendekat ke balkon dan melihat ke bawah.
"Mereka… mungkin akan mencari makanan lain, tuan."
"Benar."
Aren tersenyum tipis.
"Walaupun mereka tidak tahu siapa yang mengambilnya."
Selena mulai mengerti arah pembicaraan itu.
Aren kembali menatap ke arah kastil yang gelap.
"Kastil ini sama seperti sarang semut."
"Banyak yang bekerja… banyak yang bergerak… tapi mereka tidak pernah tahu siapa yang sebenarnya menggerakkan makanan."
Selena menyipitkan matanya.
"Tuan mencurigai seseorang?"
Aren tertawa kecil.
"Mencurigai?"
"Selena… aku bahkan tidak tahu harus mulai mencurigai siapa."
Ia meminum sisa anggurnya.
"Tapi satu hal sudah jelas."
"Ada seseorang yang sengaja membuat semua masalah ini."
Selena mengangguk perlahan.
"Korupsi… mafia b***k… krisis ekonomi… semuanya muncul bersamaan."
"Terlalu rapi untuk disebut kebetulan."
Aren berdiri dari kursinya.
Matanya kini tajam seperti es Utara.
"Mereka seperti semut tadi."
"Jika aku menyerang mereka langsung… mereka hanya akan bersembunyi."
"Jika aku menangkap satu… yang lain akan menutup jejaknya."
Rhevan yang ternyata berdiri di balik pintu sejak tadi akhirnya berbicara.
"Lalu apa rencana Anda, tuan?"
Aren melemparkan apel itu ke udara sebentar lalu menangkapnya kembali.
"Kita beri mereka makanan."
Selena mengerutkan kening.
"Makanan?"
Aren tersenyum lebar.
"Ekonomi."
"Besok kita buat rapat besar."
"Kita umumkan proyek pembangunan desa di luar gerbang."
Rhevan langsung mengerti sebagian.
"Anda ingin melihat siapa yang akan bergerak."
"Tepat."
Kedua bawahan nya izin untuk beristirahat, mereka berjalan perlahan kembali ke dalam kamar masing- masing.
"Jika desa itu berkembang… para pedagang akan datang."
"Jika pedagang datang… uang akan bergerak."
"Dan jika uang bergerak…"
Aren berhenti di ambang pintu.
"Para tikus akan keluar dari lubangnya."
Selena menatap Aren dengan sedikit khawatir.
"Tapi tuan… jika rencana ini gagal… rakyat bisa menyalahkan Anda."
Aren tersenyum santai.
"Memang harus gagal."
Rhevan dan Selena langsung terdiam.
Aren menatap mereka berdua.
"Desa itu memang tidak cocok untuk berkembang."
"Tanahnya buruk."
"Jalurnya tidak stabil."
"Dan para bangsawan pasti tahu itu."
Selena mulai memahami.
"Mereka akan membiarkan rencana ini gagal…"
"Dan menjadikan Anda kambing hitam."
Aren mengangguk pelan.
"Tepat sekali."
Rhevan menyilangkan tangannya.
"Jadi ini jebakan."
"Bukan untuk rakyat…"
"Tapi untuk para bangsawan."
Aren tersenyum lebih lebar dari sebelumnya.
"Bukan hanya bangsawan."
"Semua orang yang ikut memakan kerajaan ini…"
Ia membuka jendela kamarnya lagi, membiarkan angin salju masuk.
"Besok… kita mulai permainan mereka."
"Dan kali ini…"
Matanya dingin seperti malam Utara.
"Aku yang menjadi pemainnya."
Di kejauhan, lonceng kastil berbunyi pelan menandakan pergantian malam.
Namun tidak ada yang tahu…