06

1292 Words
Matahari tampak kelelahan, perlahan tenggelam di balik cakrawala Utara, seakan kehilangan gairah dan semangat nya untuk terus menyinari dunia. Cahaya jingganya memudar, terseret dingin yang tak berbelas kasih, hingga akhirnya lenyap di antara garis langit yang membeku. Suasana pun berubah menjadi senyap. Segala sesuatu kembali pada urusan nya masing-masing. Tidak ada gangguan, tidak ada teriakan, hanya angin dan napas Utara yang terus berhembus pelan. Perjalanan mereka berlangsung cepat dan tanpa hambatan berarti. Salju seolah memberkahi langkah mereka, jatuh dengan tenang, tidak menghalangi, tidak pula menguji—seakan mengenali siapa yang melintasi nya. Tiga hari kemudian. Dari kejauhan, sebuah kota besar mulai terlihat. Awal nya hanya bayangan samar di balik kabut es, namun semakin dekat, semakin jelas wujud nya. Kota itu berdiri megah, kokoh, dan tak tergoyahkan. Itulah Kerajaan Aerindor. Benteng-benteng raksasa menjulang tinggi, tersusun dari beton tebal yang dilapisi kristal padat berkilau. Lapisan itu bukan sekadar hiasan—melainkan penghalang mutlak bagi monster dan makhluk buas Utara. Tidak ada yang bisa menembus nya dengan mudah. Inilah benteng keluarga besar kerajaan Aerindor, saksi kejayaan lama yang belum sepenuhnya pudar. Aren tiba di perkampungan luar gerbang saat senja hampir sepenuhnya runtuh. Api-obor mulai dinyalakan satu per satu. Waktu telah mendekati malam, dan seharus nya semua bersiap untuk beristirahat. Namun tidak ada yang ingin pergi. Alih-alih kembali ke rumah mereka, rakyat justru berkumpul. Mata-mata penuh harap tertuju ke satu arah. Mereka ingin melihat raja mereka—penguasa yang telah lama meninggalkan Aerindor. Sorak sorai pun pecah. Kegembiraan, rasa rindu, dan cinta tergambar jelas di wajah-wajah yang diterpa dingin. Penyambutan itu besar, hangat, dan tulus—sesuatu yang tidak bisa dipalsukan. Aren dan para pengikutnya kemudian diantar menuju kastil kebanggaan mereka. Semua berjalan lancar, tertib, mengikuti prosedur lama yang masih dijaga dengan setia. Di dalam istana, seseorang telah menunggu. Elric Snowborne. Bangsawan tua Aerindor. Penjaga hukum adat Utara. Saksi hidup dari masa sebelum keruntuhan. Dialah bangsawan yang paling dipercaya oleh Aren—dan oleh Ratu Lyssara di masa lalu. Rambut nya putih keperakan, bukan sekadar karena usia, melainkan karena darah Utara yang mengalir kental dalam tubuhnya. Wajahnya tajam namun tenang, dipenuhi gurat pengalaman, bukan kelemahan. Mata biru pucat keabu-abuan menatap seperti danau beku—dingin, dalam, dan jujur. Postur nya tegak dan kokoh, tidak berlebihan, namun memancarkan wibawa tanpa usaha. Kulit nya pucat dan kasar oleh angin salju, namun tak pernah terlihat rapuh. Dan ketika ia berbicara, suaranya dalam dan pelan—setiap kata terdengar seperti keputusan yang telah dipikirkan lama. Elric adalah orang yang jujur. Terlalu jujur, bahkan. Ia tidak pernah menyembunyikan kenyataan, termasuk ketika menyampaikan kepada Aren, bahwa aren kurang kompeten untuk memimpin aerindor tanpa arahan sang ratu. Pertemuan itu berlangsung singkat. Di dalam aula istana, tatapan mereka kerap beradu—tajam, penuh makna, namun tanpa kata. Aren hanya memandangi Elric sesaat, lalu tersenyum tipis, sebelum memutuskan pergi. Ia memilih istirahat. Dalam perjalanan menuju kamar, Aren masih dikawal oleh Rhevan dan Selena. Hingga di depan pintu kamarnya, ia menyuruh kedua nya untuk kembali dan beristirahat di kamar masing-masing. “Kalian juga perlu tenang,” ucapnya singkat. Krekk… Pintu kamar terbuka perlahan. Aren melangkah masuk, dan seketika nostalgia menghantam nya tanpa peringatan. Kamar itu—kastil itu—menyimpan begitu banyak kenangan tentang kehidupan yang pernah indah. Tentang masa lalu yang hangat, sebelum semua nya runtuh dan membeku. Ia berdiri diam sejenak. Menghirup udara yang terasa begitu familiar. Dan untuk pertama kali nya setelah sekian lama, Aren membiarkan dirinya mengingat. Ruangan itu sunyi. Hanya suara angin yang menyelinap lewat celah jendela kristal, berdesir pelan seperti napas lama yang kembali mengingatkan. Cahaya obor di dinding bergetar lembut, memantulkan bayangan yang menari di permukaan batu dan kristal es. Aren berdiri diam di ambang kamar. Kamar ini tidak berubah. Tempat tidur berukir kristal Utara masih berada di sudut yang sama. Meja kayu tua dengan bekas goresan pedang kecil masih ada di sana—bekas latihan masa kecil yang tak pernah diperbaiki. Bahkan aroma dingin yang bercampur dengan kayu dan besi terasa sama. Namun… dirinya tidak lagi sama. Aren melangkah masuk perlahan, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya terangkat, menyentuh seprai dingin, seolah memastikan bahwa semua ini nyata. “Sudah lama sekali…” Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh keheningan. Di kamar ini, ia pernah bermimpi menjadi raja yang adil. Di kamar ini pula, ia pertama kali mempelajari sihir es dari ibunya—gerakan tangan sederhana, napas teratur, dan kesabaran yang nyaris mustahil bagi anak seusia nya. Dan di kamar inilah, semuanya berakhir. Bayangan Ratu Lyssara muncul di benaknya. Senyum nya yang lembut, matanya yang tenang, dan suaranya yang selalu berkata bahwa Utara tidak dibangun oleh amarah, melainkan oleh keteguhan. Aren menunduk. “Maaf…” Satu kata itu keluar begitu saja, tanpa ditujukan pada siapa pun—atau mungkin justru pada semua yang telah ia tinggalkan. Ia mengepalkan tangan. Aura dingin tipis merembes keluar, membuat kristal kecil di dinding bergetar halus. Aren segera menahannya. Ia tidak ingin kamar ini rusak. Tempat ini terlalu berharga untuk dihancurkan oleh emosinya. Sudah terlalu banyak yang ia hancurkan. Aren berbaring, menatap langit-langit. Pikirannya berkelana—tentang Valethryn, tentang ayahnya, tentang kebohongan yang berlapis-lapis seperti es tua. Tentang laba-laba kecil yang mati di lantai singgasana, dan tentang kenyataan bahwa ia hampir terlambat menyadarinya. “Jika aku tidak kembali…” gumamnya pelan. “Maka Aerindor akan benar-benar mati.” Kesunyian menjawabnya. Namun di balik kesunyian itu, Aren merasakan sesuatu. Bukan suara. Bukan bayangan. Melainkan perhatian. Seolah ada sesuatu—atau seseorang—yang memperhatikannya dari jauh. Dari balik es, dari balik sejarah, dari balik mitos yang selama ini hanya dianggap cerita pengantar tidur. Aren menutup mata. Untuk pertama kalinya setelah dua tahun, ia tidak melarikan diri dari pikiran nya sendiri. Ia membiarkan rasa bersalah, amarah, dan kehilangan mengalir begitu saja. Tidak untuk melemahkan nya—tetapi untuk mengingatkan nya. Ia bukan lagi anak yang bisa bersembunyi. Ia bukan lagi pewaris yang ragu. Ia adalah raja Aerindor. Dan Utara… tidak akan menunggu selama nya. Di luar kamar, angin Utara bertiup sedikit lebih kencang. Salju berjatuhan perlahan. Dan jauh di balik dataran beku, sesuatu membuka mata nya—hanya sesaat—lalu kembali terpejam. Perjalanan Aren baru saja benar-benar dimulai. Bahkan sebelum semua nya benar-benar dimulai, Aren sudah merasakan dirinya seperti terjebak di dalam sebuah wahana hiburan yang dipelintir menjadi alat penyiksaan. Kastil ini—yang seharusnya menjadi rumah—terasa seperti labirin pikiran, penuh dengan lorong-lorong kecurigaan dan bayangan pengkhianatan yang bersembunyi di balik senyum dan sapaan. Di setiap sudut, di setiap tatapan yang singgah terlalu lama, ia merasa ada sesuatu yang salah. Begitu banyak pengkhianat yang bahkan belum berani menunjukkan wajahnya, namun sudah berakar di dalam benak nya. Bukan karena mereka kuat—melainkan karena mereka licik, sabar, dan terbiasa menunggu saat yang tepat. Dan di luar sana… musuh-musuh nya telah lama membuka mata. Sebagian mengamati dari kejauhan, bersembunyi di balik batas wilayah dan kabar burung. Sebagian lain berdiri sangat dekat, menyamar sebagai sekutu, bangsawan, bahkan pelayan. Jarak tidak lagi menjadi ukuran ancaman—niatlah yang menentukan. Utara sendiri sudah cukup dingin. Namun kini, udara itu terasa semakin membeku oleh perang dingin politik yang mengendap di setiap keputusan dan bisikan. Ratu Maereth Valen telah menenun jaringnya dengan rapi, menjalin sekutu dari barat hingga timur, mengikat kepentingan dengan janji dan ketakutan. Kastil ini bukan lagi sekadar benteng batu dan kristal. Ia telah menjadi papan permainan. Namun Aren tidak gentar. Apa pun bentuk permainan klasik yang mereka siapkan—intrik, pengkhianatan, atau perang terbuka—ia akan masuk ke dalam nya dengan kepala tegak. Bukan sebagai pion. Bukan sebagai korban. Sebagai pemegang puncak. “Ini tetap Utara,” pikirnya dingin. “Dan di tanah ini, tidak ada yang mengacau tanpa membayar harga.” Salju mungkin diam. Es mungkin tampak pasif. Namun siapa pun yang lupa, akan segera belajar— bahwa Utara tidak pernah mengampuni mereka yang meremehka nnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD