Hening…
Hanya terdengar suara angin yang terus-menerus berhembus kencang ke segala arah.
Dingin menusuk dari segala sisi, menyusup ke tulang dan nadi, membawa serta daun-daun kering yang terhempas tanpa arah.
Rumput yang menyatu dengan dingin hanya diam dan senyap, tertunduk di bawah beban salju tipis yang menindih nya.
Namun bahkan rumput itu masih terus berjuang melawan ketidakadilan hidup nya, bertahan dengan akar-akar kecilnya agar tetap hidup.
Walaupun keberadaan nya nyaris tak berarti di tanah ini, begitu banyak makhluk hidup di Utara yang memiliki julukan dan kekuatan nya masing-masing.
Namun pada akhir nya, mereka semua tidak jauh berbeda dari rumput.
Di dataran Utara ini, bukan siapa yang kuat memangsa yang lemah.
Bukan pula dingin yang mengalahkan angin. Melainkan keberadaan itu sendiri yang dinilai.
Mau sekuat dan setangguh apa pun dirimu, ketika mati, kau tetap akan menyatu dengan tanah dan rumput.
Tak ada yang abadi.
Tak ada yang benar-benar berarti.
Tidak berguna.
Setelah pertempuran sengit melawan sang ular, Aren dan Rhevan beristirahat sejenak, membiarkan napas mereka kembali teratur di bawah langit pucat Utara.
Frostwolf pun berlari mendekati tuannya masing-masing. Selena muncul dari kejauhan, semenjak serangan pertama Glacier Bear ia telah menjauh dari medan pertempuran bersama Frostwolf lain nya, demi menghindari mereka menjadi beban di tengah pertarungan yang brutal.
“Tuan, apakah Anda baik-baik saja…”
Selena membantu Aren dengan gerakan lembut, menyodorkan perbekalan dan memastikan lukanya tidak bertambah parah.
“Terima kasih, Selena,”
ujar Aren dan Rhevan hampir bersamaan.
Setelah dirasa cukup siap, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
“Auaaa…”
Frostwolf melesat, membelah angin dingin dan menerjang lembah salju yang seakan tak berujung.
Kehidupan seperti inilah yang membentuk mereka—menjadi makhluk yang sanggup melawan monster dan kehancuran tanpa gentar.
Di sepanjang jalan, pembicaraan mereka berputar pada Kerajaan Aerindor—kerajaan lama yang telah lama dianggap mati, menyusut dan tenggelam di antara kerajaan kristal lain nya.
Banyak penyusup mencoba menghancurkan kastil itu. Namun semuanya gagal. Karena mereka tahu, siapa penjaga sejatinya.
Kerajaan Aerindor memiliki hierarki yang tak terbantahkan.
Di puncak nya berdiri satu pemimpin absolut.
Di bawahnya, orang-orang kepercayaan yang setia.
Lalu para pekerja dan bangsawan.
Semua wajib patuh.
Tidak terkecuali monster.
Karena mereka tahu, siapa pemilik puncak yang sesungguh nya.
Namun tetap saja, selalu ada mereka yang mencoba merusak hierarki itu dari dalam.
“Yang Mulia, apakah Anda sudah menemukan akar masalah nya?”
tanya Rhevan dengan suara rendah.
“Tentu saja, Rhevan,” jawab Aren.
“Apa yang kau pikirkan… itulah jawaban nya.”
Aren terdiam sejenak.
Hening.
Tak ada suara. Tak ada yang berani menyela.
“Jawaban nya ada di dalam hierarki itu sendiri, Rhevan.”
“Anda benar, tuanku. Tapi aku merasakan sesuatu yang janggal. Pelaku nya sangat lihai… benar-benar pandai menipu kita.”
“Hm…”
Aren tersenyum getir.
“Biarlah. Lebih baik kita masuk ke dalam permainan mereka.”
“Apa pun langkah selanjut nya… aku sudah tidak sabar merasakannya.”
“Hahaha…”
Tawa nya lepas, menggema di antara angin
Utara.
Diam.
“Tapi tuan,” Selena akhirnya bersuara, menatap punggung Aren.
“Jika Anda memutus tali persatuan dua kerajaan… itu bisa memicu perang politik besar.”
“…kita akan mengulang kembali sejarah kelam Utara yang tak pernah benar-benar berakhir.”
Aren tersenyum tipis.
“Tenanglah, Selena. Kau adalah pelayan terbaik yang pernah kupu nya. Kau diajari langsung oleh ibuku.”
“Itu arti nya kau sangat berharga bagi keluarga kami. Dan kami akan selalu melindungimu.”
Selena terlihat kikuk, lalu menggeleng pelan.
“Bukan itu maksud saya, tuanku…”
“Hah?”
Aren terkejut.
“Lalu apa maksudmu?”
Selena terdiam sesaat, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Menurut sejarah dan mitos Utara… ada seorang penjaga. Ia tinggal di antara kegelapan dan kehampaan kristal.”
“Oh… itu,” Aren mengangguk.
“Ratu Es penjaga Utara. Banyak yang percaya ibuku adalah keturunan nya.”
“Iya… aku pernah mendengar nya juga.”
“Jika kau takut aku memulai perang dengan Valethryn, cepat atau lambat itu memang akan terjadi.”
“Lalu… apakah sang penjaga tidak akan
murka?”
“Bukankah ia membenci kekacauan di
Utara?”
“Entahlah,” jawab Aren tenang.
“Tapi perang juga lahir karena penyusup. Dan Utara sudah terlalu lama diinjak.”
Di Utara, terdapat sebuah mitos lama yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Mitos tentang Penjaga Ratu Es.
Selama salju masih turun dan es tidak benar-benar mencair, sang penjaga diyakini masih terjaga.
Ia bukan dewa. Bukan pula monster.
Ia adalah kehendak Utara yang diberi wujud.
Ia hanya muncul ketika keseimbangan benar-benar terancam.
Tak ada yang tahu rupa aslinya.
Ada yang berkata ia adalah bayangan raksasa berselimut kabut es.
Ada pula yang percaya ia tak terlihat—hanya bisa dirasakan.
Satu hal yang disepakati orang Utara:
Ia tidak melayani siapa pun.
Bukan raja.
Bukan bangsawan.
Bahkan bukan Ratu Es itu sendiri.
Ia hanya menjaga.
Menjaga agar Utara tetap aman.
Menjaga agar es tidak berkhianat.
Menjaga agar mereka yang melupakan Utara… tidak pernah benar-benar pergi.
Dan jika suatu hari Utara menjerit kesakitan,
maka Penjaga Ratu Es akan membuka mata nya kembali.
“Oh ya, tuanku,” kata Selena pelan.
“Apakah Anda tahu nama nya?”
“Jika aku tidak salah… Vaelgor Frostwarden.”
“Iya,” sahut Selena.
“Bayangan di Balik Salju. Nafas Terakhir Utara.”
Nama itu jarang diucapkan keras-keras. Orang Utara percaya, menyebut nya terlalu sering akan membuat nya menoleh.
“Heh… kau terlalu percaya mitos,”
gumam Aren sambil menggaruk kepala.
Namun Rhevan ikut bersuara, suaranya berat dan penuh keyakinan.
“Wajah nya tenang dan lembut, seperti salju yang jatuh perlahan…
Kulitnya pucat berkilau, seolah memantulkan cahaya es di bawah sinar bulan.
Rambut nya panjang mengalir, berwarna perak pucat atau biru es, bergerak halus seperti kabut dingin.
Mata nya jernih dan dalam, menyerupai kristal beku—indah dipandang, namun menyimpan kewaspadaan abadi.
Postur nya anggun dan tegak, tidak menunjukkan kekuatan secara kasar, tapi terasa tak tergoyahkan.
Setiap langkahnya sunyi, meninggalkan jejak es tipis yang segera memudar.
Suaranya lembut dan dingin, menenangkan sekaligus membuat siapa pun enggan melawan.
Auranya indah namun menggetarkan, seperti keindahan Utara yang tidak pernah meminta untuk disentuh."
Aren mendengus pelan.
“Itulah sebab nya banyak orang mengira ibuku adalah keturunan… atau reinkarnasi nya.”
Perjalanan berlanjut tanpa hambatan.
Namun tanpa mereka sadari—
sekuat apa pun makhluk yang berjalan di Utara, sehebat apapun mereka,
tak ada satu pun luput dari penglihatan kegelapan yang melegenda.