Dingin…
Sepi…
Hilang…
Udara siang terasa seperti malam yang diterpa badai es kencang. Cahaya menghilang, ditelan kegelapan yang tak kukenal. Segalanya terasa jauh, seolah dunia ini bukan lagi milikku.
“Entahlah…”
Begitu banyak perjalanan panjang telah kulalui. Begitu banyak pedang yang pernah dihunuskan ke arahku. Begitu banyak darah, pengkhianatan, dan sumpah yang patah di sepanjang jalan itu.
“Entahlah…”
Aku tenggelam di antara diam dan bisu, memperhatikan ruang di sekelilingku. Kenangan-kenangan abstrak berputar tanpa bentuk—terlalu banyak, terlalu berat. Di tempat ini, entah mengapa, aku tidak lagi mampu menjadi diriku sendiri.
Pandangan mataku tertuju pada bekas serangan yang diberikan oleh anakku.
Seekor laba-laba kecil tergeletak tak bernyawa.
Arach’Neth Velmora.
Itulah nama spesiesnya—makhluk parasit kuno yang menanamkan dirinya di kepala para bangsawan. Perlahan, ia menjerat pikiran inangnya melalui benang sihir mental.
Korbannya tetap sadar, mampu berpikir dan berbicara… namun kehendaknya bukan lagi miliknya sendiri.
Betapa bodohnya aku.
Terjebak dalam ruang hampa—sebening kristal, sedingin es, namun tak berwarna. Itulah yang kurasakan sekarang.
Aku tak lebih dari golem salju yang digerakkan tuannya. Sebuah boneka dengan mahkota.
Begitu banyak musuh dan monster telah kuhadapi. Begitu banyak kekuatan yang berhasil kutaklukkan. Namun serangan semacam ini—pengkhianatan dari dalam—adalah sesuatu yang tak pernah mampu kutembus.
“Takut…”
Untuk pertama kalinya, sang raja kehilangan gairahnya. Kehilangan dirinya sendiri. Tak ada siapa pun yang bisa disalahkan. Namun seorang raja tak boleh runtuh—tak boleh menunjukkan retaknya jiwa.
“Mulai saat ini… entah kenapa semua mata tertuju padaku. Seolah aku sedang diawasi oleh para dewa.”
“Tapi mereka bodoh… atau justru aku yang terlalu bodoh?”
“Kita lihat saja permainannya… apakah dia benar-benar bisa mengumpulkan Taring Utara…”
Raja Valethryn tersenyum buas.
Senyuman yang menandakan ia siap bermain—bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai pemburu.
“Jdumm—!”
Suara benturan keras mengguncang udara.
Makhluk itu muncul.
Crysalisk.
Ular es raksasa, tubuhnya dilapisi sisik transparan seperti kristal murni. Cahaya memantul di permukaannya, menciptakan ilusi keindahan yang mematikan.
Aren terdiam sejenak, mengamati dari belakang. Pandangannya tertuju pada Rhevan yang bertarung dengan konsentrasi penuh. Satu kesalahan saja—dan nyawanya akan lenyap.
“Ular itu bukan makhluk biasa,” pikir Aren.
“Dia adalah makhluk semi-magis… hasil
adaptasi alam Utara dengan sihir es purba.”
Tubuhnya besar. Gerakannya cepat.
Hampir mustahil untuk dikalahkan sendirian
“Trang—!”
Serangan Rhevan menghantam tubuh Crysalisk, namun sisiknya sekeras baja. Tebasan itu nyaris tak meninggalkan bekas.
“Jdumm!”
Fangbreaker Stance dilancarkan—posisi bertahan absolut.
Namun Crysalisk tak memberi celah. Serangan demi serangan menghujani Rhevan, hingga satu hantaman telak akhirnya mengenai sasaran.
Namun—
Udara membeku.
Es berhenti bergerak saat Aren mengangkat tangannya. Sesaat ia tertegun, namun Crysalisk merasakan bahaya itu. Tanpa ragu, ia menyambar cepat.
Seperti anak panah.
Namun sihir Aren lebih cepat.
Ia membentuk tombak es-kristal padat, lalu melemparkannya dengan kecepatan ekstrem.
Frostbound Spear.
“Sutt—!”
Serangan bertubi-tubi menghujani Crysalisk. Namun monster itu terlalu lincah. Ia menghindar, lalu membalas dengan serangan brutal ke arah Aren.
Namun ia lupa.
Lawan mereka bukan satu.
Dari kejauhan, Rhevan mengayunkan pedangnya.
Tebasan horizontal, diselimuti aura dingin—menghasilkan gelombang tekanan yang mematikan.
Northern Cleave.
Teriakan lantang menyertai serangan itu. Sisik Crysalisk terbelah, meninggalkan luka gores besar.
Aren tak menyia-nyiakan kesempatan.
Ia mengangkat tangannya.
Sesaat—tak terjadi apa pun.
Lalu—
Crystal Dominion.
Tak ada luka yang terlihat. Tak ada darah.
Crysalisk keliru mengira.
Serangan itu bukan untuk melukai.
Melainkan untuk menghancurkan.
Aren mengambil alih struktur kristal di sekitarnya—es, logam beku, dan sisik makhluk itu sendiri. Kendali mutlak.
Sisik yang telah ditebas Rhevan retak… lalu hancur lebur.
Celah terbuka.
Northern Cleave kembali dilancarkan.
“Srertt—!”
“Hakaahhh—!”
Tubuh Crysalisk terbelah dua.
Namun mereka salah.
Dari bangkai yang membeku, sesuatu bangkit.
Tubuh panjang berkilau muncul, seperti tunas yang tumbuh dari tanah bencana.
Mata kristalnya terbuka.
Crysalisk—bermutasi.
Lebih kuat. Lebih cepat. Tanduk es menjulang di kepalanya.
Kini… ia benar-benar serius.
Aren mengangkat tangannya.
“Utara tidak tunduk,” bisiknya.
Dan es menjawab.
Udara semakin dingin. Utara mengaum.
Segalanya terdiam—menunggu.
Namun Crysalisk bergerak lebih dulu.
Pertempuran kembali meledak.
Aren menyadari satu hal:
dua tahun tanpa latihan membuat adaptasi menjadi kunci hidup dan mati.
Crysalisk mendesis keras.
Ia akan memulai.
Udara bergetar.
Bukan karena suara, bukan pula karena benturan—melainkan karena kehendak.
Crysalisk yang telah bermutasi itu menggerakkan tubuhnya, dan setiap sisik kristalnya berdenyut seperti jantung yang hidup.
Salju berhenti jatuh.
Angin membeku di tempatnya.
Ini bukan lagi perburuan.
Ini adalah pernyataan d******i.
“Hssssss—”
Desisan itu bukan ancaman.
Itu perintah.
Tanah di bawah kaki Aren dan Rhevan retak, kristal parasit menjalar seperti akar. Setiap denyutnya membawa tekanan mental—memaksa tubuh untuk tunduk, memaksa pikiran untuk menyerah.
Rhevan berlutut satu lutut.
“Cuih…” darah menetes dari sudut bibirnya.
“Tekanannya… bukan fisik.”
Aren merasakan hal yang sama.
Ada sesuatu yang mencoba menggenggam kehendaknya, menekan ingatan, menembus disiplin pikirannya. Dunia seakan menyempit, suara menjadi jauh.
Inilah alasan Crysalisk disebut bencana.
Ia tidak membunuh.
Ia mengambil.
Aren menarik napas panjang.
Ia teringat wajah ibunya.
Salju Aerindor.
Suara Lyssara saat mengajarinya mengendalikan es—bukan dengan amarah, melainkan dengan penerimaan.
“Jika kau melawan Utara, kau akan hancur.
Jika kau menyatu dengannya… Utara akan berdiri bersamamu.”
Mata Aren terbuka.
Biru pucat—nyaris putih.
Udara di sekitarnya runtuh ke dalam, seolah dunia sedang menarik napas bersamanya.
Heir of Frostveil — Awakening
Tidak ada ledakan.
Tidak ada cahaya menyilaukan.
Hanya dingin yang mutlak.
Tekanan mental Crysalisk terhenti—seolah menabrak dinding tak terlihat. Kristal parasit berderak, kehilangan kendali.
“Aku…” suara Aren tenang, terlalu tenang,
“bukan tunduk pada Utara.”
“Aku…”
“adalah Utara.”
Tanah membeku sepenuhnya.
Aren mengangkat tangannya—perlahan, pasti.
Northern Silence
Absolute Domain
Semua suara lenyap.
Crysalisk membuka mulutnya, mencoba mengaum—namun tidak ada yang keluar.
Perintahnya gagal.
Kehendaknya teredam.
“Sekarang,” ujar Aren pelan.
Rhevan berdiri.
Aura pedangnya berubah—tidak lagi sekadar dingin, tapi tajam seperti sumpah.
Northern Cleave— Final Release
Ia melangkah maju, satu langkah, dua langkah—menembus tekanan yang sebelumnya mustahil.
Crysalisk menyerang. Tubuhnya melesat, tanduk kristal mengarah lurus ke Aren.
Namun itu sudah terlambat.
Aren mengepalkan tangan.
Crystal Dominion
Shatter Command
Struktur kristal Crysalisk memberontak terhadap dirinya sendiri.
Retakan menjalar dari dalam. Sisik-sisiknya pecah, kehilangan sinkronisasi. Inti kristal di tengkuknya terekspos—berdenyut panik.
“Sekarang, Rhevan.”
Tidak ada jawaban.
Hanya gerakan.
Execution Line — North’s Verdict
Satu garis tebasan.
Tidak cepat.
Tidak lambat.
Tepat.
Pedang Rhevan menembus inti kristal.
Tidak ada jeritan.
Hanya suara pecahan—seperti mahkota yang runtuh.
Crysalisk membeku… lalu hancur menjadi debu kristal yang tertiup angin Utara.
Sunyi.
Salju kembali turun.
Rhevan berdiri terdiam, napas berat.
Lututnya hampir menyerah.
Aren menurunkan tangannya.
Dunia terasa… kosong.
Ia menang..
Namun Utara telah mencatat harga yang harus dibayar.