Reaksi Rhevan Morclaire
Keheningan menyelimuti ruangan. Getaran dari meja yang retak perlahan mereda,
namun ketegangan justru semakin menebal.
Rhevan Morclaire akhirnya bergerak.
Bukan dengan langkah tergesa,
melainkan satu langkah maju yang berat—
seolah ia melangkah di atas kenangan puluhan tahun.
“Yang Mulia,” ucapnya pelan kepada sang raja,
namun suaranya tidak lagi sepenuhnya tunduk.
“Apa yang baru saja diucapkan Pangeran Aren… bukan sekadar kemarahan.”
Kaedric Valen menoleh tajam.
Tatapannya mengandung ancaman yang jelas.
“Diam, Rhevan.”
Namun Rhevan tidak mundur.
Ia menoleh ke arah Aren.
Tatapan matanya berbeda dari sebelumnya— bukan tatapan seorang pengawal,
melainkan tatapan seorang guru
yang melihat muridnya memilih jalan berduri dan juga sebagai pelindung sekaligus pengawal ratu.
“Aren,” katanya pelan,
“kau memahami arti keputusanmu, bukan?”
Aren mengangguk perlahan.
“Aku memahami semuanya.”
Rhevan menarik napas panjang.
Untuk sesaat, wajah pria tua itu terlihat rapuh.
“Aku mengajarkanmu pedang,” lanjutnya,
“tetapi aku tidak pernah mengajarkanmu
cara memutuskan ikatan darah.”
Ia mengepalkan tangannya.
“Namun…
aku juga tahu satu hal.”
Rhevan menatap sang raja, lalu kembali pada Aren.
“Keputusan ini tidak lahir dari kebencian semata. Ini lahir dari luka yang dibiarkan membusuk terlalu lama.”
Sang raja berdiri.
“Cukup!” bentaknya.
“Jika dia memilih pergi— maka anggap saja Valethryn tidak pernah memiliki pewaris bernama Aren!”
Rhevan terdiam.
Namun dalam diam itu,
ia telah memilih.
Konsekuensi Politik Keputusan Aren
Keputusan Aren menyebar lebih cepat daripada api di musim dingin.
Dalam hitungan jam, bangsawan Utara mulai berbisik. Dalam hitungan hari,
dewan kerajaan terbelah.
Pangeran Mahkota memutuskan hubungan darah.
Mengganti nama keluarga. Mengklaim kembali wilayah lama milik mendiang ratu.
Itu bukan sekadar pemberontakan emosional.
Itu deklarasi.
Wilayah yang dahulu disebut tanah cadangan Valethryn kini kembali memiliki penguasa sah— Aren, dengan nama keluarga ibunya.
Para bangsawan tua resah.
Mereka mengenal legenda masa muda Aren.
Mereka tahu,
monster itu hanya tertidur—
bukan mati.
Sementara pihak yang setia pada Ratu Maereth
mulai bergerak dalam bayangan.
Fitnah disiapkan.
Kontrak gelap ditandatangani.
Pembunuh mulai dikirim.
Valethryn tidak lagi utuh.
Dan di tengah semua itu,
nama Aren mulai berubah makna.
Bagi sebagian orang: pengkhianat. Bagi yang lain: pewaris sejati Utara.
Bagi para organisasi— sebuah variabel berbahaya yang akhirnya bergerak.
Sementara Aren sendiri melangkah meninggalkan istana,
tanpa menoleh ke belakang.
Ia tahu,
hari itu bukan akhir.
Hari itu adalah awal
dari perang yang sesungguhnya.
Setelah kejadian besar yang mengguncang Kerajaan Valethryn, Aren segera meninggalkan kediaman sang raja. Ia tidak menoleh kembali.
Langkahnya tegas, seolah setiap detik yang dihabiskan di tempat itu hanya akan memperpanjang luka lama.
Ia pergi bersama Rhevan dan Selena, menembus dingin Utara yang menggigit tulang.
Di sepanjang perjalanan, ketiganya membahas satu nama yang lama terkubur dalam diam—Kerajaan Aerindor, tanah yang telah Aren tinggalkan selama dua tahun penuh, sejak kematian Ratu Lyssara.
“Tuan… bukan aku ingin mengkritik kekuasaan Anda,” ujar Rhevan dengan suara berat namun terkontrol,
“tetapi Kerajaan kita telah mengalami kemunduran yang sangat jauh, bila dibandingkan dengan Valethryn.”
Aren tidak langsung menjawab.
Ia membenarkan posisi duduknya di atas Frostwolf—serigala besar berbulu perak yang melangkah mantap di atas salju, simbol ketahanan dan kesunyian Utara.
“Ya,” jawab Aren singkat, datar.
“Tanpa ku bantah, kau benar. Aku tidak benar-benar kehilangan kemampuanku…”
Ia terdiam sejenak, menatap hamparan putih di depan mereka.
“Aku hanya kabur dari hidupku sendiri.
Dan memilih mengamati musuh-musuhku dari kejauhan.”
“Benarkah, Tuanku…?”
Selena menyela dengan suara ragu, namun jujur.
Aren tersentak.
Ia menoleh cepat, terkejut karena pertanyaan itu keluar dari mulut orang yang selama ini paling sering ia sakiti dengan amarah dan kekerasan. Julukan Sang Anarkis bukan muncul tanpa alasan.
“Benarkah, Tuanku…?”
Selena mengulanginya sekali lagi.
Aren hanya mampu mengangguk pelan.
Ada rasa bersalah yang berat di dadanya.
Namun di luar dugaan, Selena tidak menunjukkan kebencian. Ia menerima pengakuan itu dengan ketenangan yang hampir menyakitkan, karena dialah satu-satunya yang mengenal Aren sepenuhnya—sejak ia masih bocah, sebelum dunia menghancurkannya.
Tiba-tiba—
“Aaakhhhrrrkkk—!”
Aungan keras menggema di udara, memecah kesunyian tundra.
Dari kejauhan, tampak seekor beruang raksasa berlari kencang ke arah mereka. Tubuhnya besar, langkahnya berat, dan matanya dipenuhi kegilaan seperti makhluk yang telah lama kelaparan dan siap menerkam apa pun yang bergerak.
Rhevan langsung bersiap.
Jika hanya satu, ia yakin bisa menghabisinya dengan mudah.
Ia melompat turun dari Frostwolf dan menerjang maju tanpa ragu.
Namun sebelum benturan terjadi, insting ketiganya serentak berteriak.
Ada sesuatu yang janggal.
“Tuan… apa yang harus saya lakukan?”
tanya Rhevan sambil menggenggam erat pedangnya.
“Tenang,” jawab Aren.
“Aku merasakan sesuatu… ketakutan.”
“Ketakutan?” Rhevan mengernyit.
“Ya. Bukan dari kita.
Dari beruang itu sendiri.”
“Ctaang—!”
Cakar dan pedang Rhevan beradu keras.
“Maafkan saya, Tuanku,” gumam Rhevan,
“kalau ini terus berlanjut, justru kita yang akan menjadi santapannya.”
“Benar,” jawab Aren tenang.
“Habisi dia. Sekarang.”
“CTANG!!”
Benturan berikutnya jauh lebih keras. Kali ini Rhevan tidak lagi menahan diri.
Makhluk itu adalah Glacier Bear—
beruang es bertubuh masif, pemangsa Utara yang mampu bertahan berminggu-minggu tanpa makan.
“Glacier Bear bukan monster biasa…” gumam Aren.
“Pemangsa yang buas. Tapi lihat tubuhnya—penuh luka.”
Rhevan tidak gentar.
Aura mematikan mulai menyelimuti pedang dan tubuhnya. Setiap gerakannya cepat, presisi, dan penuh pengalaman.
Glacier Bear menghantam dengan pukulan keras. Rhevan mengangkat pedang dalam posisi bertahan dan terdorong mundur beberapa langkah.
“JDAAGH!”
“Dasar sialan…” desis Rhevan.
“Sepertinya aku sudah terlalu lama menahan diri.”
Pertarungan kembali meledak.
Rhevan menyerang lebih dulu, menjaga jarak dengan tusukan tanpa henti.
Glacier Bear menghantam tanah dengan tinju raksasanya.
“JDARRR—!”
Batu dan es berhamburan.
Rhevan mundur sesaat, namun monster itu tidak memberi ruang.Cakaran dan taringnya berhasil mengenai Rhevan.
“Aghh—!”
“Cuih…” Rhevan meludah darah.
“Beruang menyusahkan. Padahal aku baru bermain-main.”
Ia menatap lawannya sejenak.
“Sudah cukup bermain.”
Tanpa aba-aba, Rhevan menyerang membabi buta. Kecepatannya melonjak drastis. Dalam satu gerakan horizontal yang nyaris mustahil dilihat mata manusia, kedua lengan Glacier Bear terputus.
Fantasi tidak mengenal batas logika.
Dan lawannya bukan manusia biasa—
melainkan tangan kanan Kerajaan Aerindor, komandan pasukan tertinggi Utara.
Dengan ayunan terakhir yang indah dan mematikan, pedang Rhevan menebas kepala Glacier Bear.
Tubuh raksasa itu roboh menghantam salju.
Namun belum sempat mereka bernapas lega—
Dari kejauhan, sesuatu yang panjang dan besar bergerak mendekat.
Bayangannya melintasi kabut es, jauh lebih mengerikan dari apa pun yang baru saja mereka hadapi.
Dan saat itu, ketiganya tahu—
Ancaman sesungguhnya baru saja dimulai.