018

1137 Words
Terang pun akhirnya muncul. Cahaya yang indah kembali menyinari bumi, membawa kehidupan tanpa rasa takut. Guntur yang sebelumnya mengamuk kini tidak lagi berani menunjukkan dirinya. Awan gelap perlahan menghilang, seakan melarikan diri dari medan perang. Tubuh Kaedor jatuh ke tanah. THUD. Debu tipis terangkat dari medan perang yang sudah dipenuhi darah dan pecahan baja. Beberapa detik… tidak ada yang bergerak. Keheningan aneh menyelimuti seluruh medan perang. Para prajurit pemberontak yang tadi berteriak penuh semangat kini hanya berdiri membeku. Mata mereka menatap sosok yang tergeletak di tanah. Kaedor. Jenderal perang mereka. Orang yang mereka yakini tidak mungkin kalah. Seseorang menjatuhkan pedangnya tanpa sadar. “Jenderal…?” Suara itu terdengar lemah, penuh ketidakpercayaan. Di sisi lain medan perang, pasukan kerajaan juga terdiam. Mereka menatap sosok yang masih berdiri tegak di tengah debu. Rhevan. Pedangnya sudah kembali ke sarung. Namun aura dingin yang keluar dari tubuhnya masih terasa berat. Seorang prajurit kerajaan berbisik dengan suara gemetar. “Dia… benar-benar membunuh Kaedor…” Prajurit lain menelan ludah. “Monster itu…” “Dia benar-benar monster…” Di depan gerbang istana, Aren memperhatikan semuanya dengan tenang. Jubahnya berkibar tertiup angin. Matanya tertuju pada tubuh Kaedor yang tidak lagi bergerak. Ia tahu satu hal. Dengan jatuhnya Kaedor… moral pasukan pemberontak akan runtuh. Dan benar saja. Di tengah barisan pemberontak, kegelisahan mulai menyebar. Beberapa prajurit mulai mundur. “Jenderal Kaedor sudah mati…” “Kita tidak bisa menang…” “Tarik mundur!” Panik mulai menjalar seperti api. Formasi mereka yang sebelumnya kuat mulai pecah. Namun tepat ketika kekacauan mulai menyebar— Rhevan melangkah satu langkah maju. Langkahnya tidak cepat. Namun suara langkahnya terasa berat di tengah keheningan medan perang. Ia menatap pasukan pemberontak dengan mata dingin. Lalu berkata dengan suara keras. “Siapa lagi?” Suara itu menggema di seluruh medan perang. Tidak ada yang menjawab. Bahkan para ksatria pemberontak yang sebelumnya gagah kini terlihat ragu. Tekanan dari satu orang itu… terasa seperti gunung yang menekan mereka. Di kejauhan, Seraphis Valenor melihat kesempatan itu. Ia langsung mengangkat tangannya. “Pasukan Aerindor!” Suara komandonya menggema. “MAJU!” Teriakan perang langsung meledak. Pasukan kerajaan yang sebelumnya bertahan kini bergerak maju seperti gelombang baja. Moral mereka bangkit kembali. Karena mereka baru saja menyaksikan sesuatu. Legenda hidup yang berdiri di pihak mereka. Di tengah medan perang… Rhevan berdiri seperti dinding yang tidak bisa ditembus. Dan di belakangnya… kerajaan Aerindor masih berdiri. Para pasukan musuh kini terlihat benar-benar berantakan. Di antara mereka, mafia b***k yang sebelumnya begitu percaya diri kini panik melihat pasukan mereka mulai melarikan diri. Namun semua itu sudah terlambat. Seseorang yang sejak tadi hanya memperhatikan akhirnya mulai bergerak. Ia mengangkat tangannya perlahan. Di sekelilingnya, kristal-kristal mulai muncul di udara. Udara tiba-tiba terasa mencekam. Langit kembali bergemuruh. Para prajurit langsung terdiam membisu. Crystal Dominion. Tekanan besar menyebar ke seluruh medan perang. Tidak ada yang berani bergerak. Yang mereka pikirkan hanya satu hal. Tetap diam… jika ingin hidup. The King's Territory. Tekanan itu memaksa semua orang bertekuk lutut. Termasuk para mafia b***k yang tadi begitu sombong. Kini mereka hanya bisa bersujud… memohon ampun kepada raja mereka. Setelah semua kekacauan kembali reda, para pasukan pemberontak dan bangsawan akhirnya ditangkap. Kerajaan Aerindor kembali perlahan ke dalam ketenangan. Aren kini berada di ruang kerjanya. Tubuhnya terasa sangat lelah setelah semua yang terjadi hari ini. Ia bersandar di kursinya, menatap kosong ke arah meja yang dipenuhi laporan perang. Namun tiba-tiba— Tok… tok… Pintu ruangannya diketuk. Aren mengangkat kepalanya. “Masuk.” Pintu perlahan terbuka. Langkah kaki terdengar memasuki ruangan. Namun ketika Aren melihat siapa yang datang… matanya sedikit membesar. Seorang wanita tinggi berdiri di depan pintu. Parasnya cantik. Namun wajahnya dingin. Di balik ketenangan itu, terlihat jelas emosi kemarahan yang ia sembunyikan. Elira Caelis. Aren langsung terdiam. Beberapa detik ia bahkan tidak tahu harus berkata apa. Barulah ia teringat sesuatu. Selena sebelumnya mengatakan bahwa ia meminta bantuan kepada seseorang. Dan orang itu… adalah Elira. Seseorang yang sangat penting bagi mereka. Namun karena kekacauan perang… Aren bahkan lupa menyambutnya secara resmi. Kesalahan besar bagi seorang raja. Aren segera berdiri dari kursinya. Ia mencoba tersenyum ringan, meskipun rasa bersalah mulai muncul di wajahnya. “Ah… Elira.” “Maafkan kami karena tidak langsung menyambutmu.” Ia menghela napas pelan. “Bagaimana kabarmu?” Ruangan itu langsung dipenuhi keheningan. Elira tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana. Matanya menatap Aren dengan tajam. Tatapan yang penuh penilaian… bahkan sedikit meremehkan. Atmosfer di dalam ruangan tiba-tiba terasa berat. Seakan udara di sekeliling mereka menjadi lebih padat. Aren merasakan tenggorokannya tiba-tiba kering. Rasa bersalah perlahan menumpuk di dalam dirinya. Namun Elira masih belum berbicara. Ia hanya menatap Aren. Diam. Tatapan dinginnya seolah berkata banyak hal tanpa satu kata pun keluar dari mulutnya. Dan keheningan itu… justru terasa lebih menekan daripada teriakan di medan perang sebelumnya. "“Jadi…” Elira terdiam sejenak. Keberadaannya benar-benar membuat pemimpin Kerajaan Aerindor itu membisu. Suaranya terdengar pelan… namun tajam. Cukup untuk membuat seorang raja merasa tertekan. “Apakah kamu melupakan kesalahan yang telah kamu buat?” Aren terdiam. Ia mencoba mengingat, namun pikirannya masih kacau oleh perang yang baru saja selesai. Ia benar-benar tidak langsung memahami maksud wanita itu. “Heh…” Elira mendengus pelan. Suara kecil itu justru membuat Aren semakin gugup. “Baiklah,” katanya dengan nada dingin. “Kalau kamu tidak mengerti kesalahanmu… aku akan menjelaskannya.” Akhirnya Elira mulai berbicara. Matanya masih menatap Aren tanpa berkedip. “Menurutku kamu ini raja yang bodoh.” Kalimat itu diucapkan dengan sangat tenang, namun jelas penuh emosi. “Kamu bahkan tidak mau meminta bantuan dariku.” Ia melangkah sedikit lebih dekat. “Dan kamu juga melupakan satu hal yang paling penting.” Aren hanya bisa diam mendengarkan. “Ketika kamu sadar dari pingsanmu… dan memutuskan hubungan ayah dan anak dengan kerajaan Valethryn…” Elira menatapnya lebih tajam. “Kamu melakukannya tanpa memberitahuku.” Ruangan itu kembali sunyi. Suara Elira menjadi sedikit lebih berat. “Yang lebih ironis lagi…” “kamu meninggalkanku di kastil musuhmu.” Kemarahan terlihat jelas di wajahnya. Namun di balik kemarahan itu… ada sesuatu yang lain. Kesedihan. Dan juga kasih sayang yang tidak bisa ia sembunyikan. Aren akhirnya menyadari semuanya. Ekspresinya berubah. Tanpa berkata apa pun, ia bangkit dari kursinya. Ia berjalan mendekati Elira. Lalu— memeluknya erat. Elira terkejut. Ia sempat mencoba melepaskan pelukan itu. Namun pelukan Aren justru semakin kuat. Akhirnya… Elira hanya bisa terdiam. Tubuhnya berhenti melawan. Aren menundukkan kepalanya sedikit. “Sayang… maafkan aku.” Suaranya terdengar pelan. “Maaf karena telah mengabaikanmu.” Kalimat itu akhirnya menghancurkan semua emosi yang ditahan Elira. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh. Ia tidak lagi mencoba menahan dirinya. Di dalam pelukan hangat orang yang ia cintai… air mata itu akhirnya pecah. Dan untuk pertama kalinya setelah semua kekacauan perang itu… ruangan itu dipenuhi oleh sesuatu yang jauh lebih tenang. Bukan kemarahan. Bukan tekanan. Melainkan… rasa rindu yang akhirnya terlepaskan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD