Tenang.
Awan terlihat cerah di langit.
Burung-burung berterbangan bebas mencari makan. Para lebah sibuk dengan urusannya di antara bunga-bunga yang bermekaran.
Di kota, manusia juga kembali sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing.
Perlahan, kehidupan kembali berjalan seperti biasa.
Di dalam istana Aerindor, Aren duduk di ruang kerjanya.
Di hadapannya terdapat tumpukan dokumen yang harus ia periksa.
Laporan demi laporan datang tanpa henti.
Para bangsawan yang terlibat dalam pemberontakan telah dieksekusi di hadapan rakyat. Para sekutu mereka juga menerima hukuman yang setimpal.
Peristiwa itu mengguncang seluruh kerajaan.
Namun justru karena itulah, para rakyat yang sebelumnya membenci Aren kini mulai mempercayainya kembali.
Beberapa bahkan datang ke istana untuk meminta maaf.
Mereka bersujud di hadapan rajanya.
Untuk pertama kalinya setelah kekacauan itu, mereka kembali melihat Aren sebagai pemimpin mereka.
Masalah wabah pun perlahan berhasil diatasi.
Dengan bantuan Elira, obat dan penanganan akhirnya berhasil ditemukan dan disebarkan ke berbagai wilayah.
Namun meskipun keadaan sudah mulai tenang, pekerjaan Aren belum selesai.
Dokumen terus menumpuk di mejanya.
Ia kini memikirkan masalah lain.
Banyak rakyat yang kehilangan pekerjaan akibat kekacauan sebelumnya.
Perdagangan sempat terhenti.
Banyak pedagang kehilangan barang dan jalur distribusi mereka.
Aren menopang dagunya sambil berpikir.
Sebuah ide mulai muncul di kepalanya.
Ia berencana membentuk pasukan penjaga khusus yang bertugas mengawal para pedagang di jalur perdagangan.
Selain itu, ia juga ingin membangun tempat peristirahatan di sepanjang rute perdagangan utama.
Tempat itu akan menjadi lokasi aman bagi para pedagang untuk berhenti, beristirahat, dan melindungi barang dagangan mereka.
Untungnya, pembangunan jalan dari proyek sebelumnya sudah selesai.
Itu akan sangat membantu rencana barunya.
Kini Aren ingin melanjutkan proyek yang lebih besar.
Membangun kembali ekonomi rakyatnya.
Namun sebelum semua itu dimulai, ia harus memikirkan dengan matang solusi terbaik untuk menjalankan rencana tersebut.
Karena bagi seorang raja…
perang mungkin sudah berakhir.
Namun tanggung jawabnya terhadap rakyat…
baru saja dimulai.
Tok… tok…
Selena mengetuk pintu ruang kerja.
Aren yang masih sibuk dengan dokumen di mejanya mengangkat kepalanya sedikit.
“Masuk.”
Pintu perlahan terbuka.
Selena masuk sambil membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa makanan manis.
Ia meletakkannya dengan hati-hati di meja kerja Aren.
Aren hanya mengangguk kecil.
“Terima kasih.”
Namun setelah itu ia kembali menundukkan kepalanya, fokus pada dokumen kerajaan yang menumpuk.
Selena memperhatikan wajah tuannya.
Ada kelelahan yang jelas terlihat di sana.
Ia juga melihat kerutan di dahi Aren yang menandakan kebingungan.
“Apakah ada yang bisa saya bantu, Tuan?”
Aren mengangkat wajahnya.
Tawaran itu membuat ekspresinya sedikit berubah.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
Ia lalu menjelaskan masalah yang sedang ia pikirkan.
“Aku sedang mencoba memikirkan cara membangun kembali ekonomi rakyat.”
“Banyak dari mereka kehilangan pekerjaan setelah kekacauan kemarin.”
Selena berpikir sejenak.
“Hmm…”
Ia menaruh jarinya di dagu.
“Bagaimana kalau kita membangun peternakan… dan juga memperbanyak pandai besi?”
Aren terdiam.
Ia memikirkan gagasan itu dengan serius.
Jika dipikirkan kembali…
itu memang bisa membuka peluang pekerjaan baru bagi rakyat.
Namun ia masih memikirkan sesuatu yang lain.
“Lalu bagaimana dengan para tahanan perang?”
Aren menyilangkan tangannya.
“Aku tidak ingin membuang cadangan makanan kerajaan untuk mereka secara sia-sia.”
Selena terdiam.
Ia belum memiliki jawaban untuk itu.
Ruangan kembali sunyi.
Aren menghela napas pelan.
Ia bangkit dari kursinya lalu berjalan menuju jendela besar di ruangannya.
Ia memandang keluar istana, mencoba menenangkan pikirannya.
Namun tiba-tiba—
“Hah…?”
Aren tersentak.
Matanya sedikit membesar.
Lalu perlahan senyum lebar muncul di wajahnya.
Selena yang melihat perubahan itu langsung terkejut.
“Ada apa, Tuan?”
Tanpa menjawab langsung, Aren justru bertanya.
“Selena.”
“Apakah wilayah utara kerajaan kita penuh dengan pegunungan… dan memiliki cuaca yang dingin?”
Selena tampak bingung dengan pertanyaan itu.
“Iya, Tuan.”
“Wilayah utara memang dipenuhi pegunungan, dan suhunya cukup dingin.”
Ia memiringkan kepalanya.
“Tapi… apa hubungannya dengan masalah kita?”
Aren tersenyum penuh semangat.
“Kalau kita melihat bagian atas pegunungan…”
“Kita bisa membangun tempat peristirahatan bagi para pedagang di jalur perdagangan.”
Ia berhenti sejenak.
“Namun ceritanya berbeda jika kita melihat bagian bawahnya.”
Selena tiba-tiba tersentak.
Matanya melebar.
“Anda benar, Tuan…”
“Kita memiliki wilayah tambang yang belum pernah kita manfaatkan.”
Aren mengangguk puas.
“Bagus.”
“Siapkan para narapidana.”
“Dan panggil para penyihir untuk mendeteksi getaran logam dan kristal.”
Selena langsung menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.
“Baik, Tuan!”
Ia segera berbalik dan bergegas keluar untuk menyiapkan semuanya.
Senyum puas masih terlihat jelas di wajah Aren.
Setelah semua urusan selesai, ia memutuskan untuk berjalan sebentar di sekitar istana untuk menyegarkan pikirannya.
Namun ketika ia berjalan melewati taman istana…
ia melihat sesuatu yang cukup aneh.
Dua wanita sedang berdebat cukup sengit.
Di samping mereka, seorang pria terlihat kebingungan mencoba menenangkan situasi.
Wanita pertama adalah Lyraeth.
Wanita kedua adalah Elira.
Lyraeth dengan keras mengatakan bahwa Aren lebih cocok berada di sisinya.
Baginya, Aren adalah sosok seperti kakak yang ingin selalu ia lindungi dan temani.
Namun Elira langsung menolak.
Baginya, Aren adalah kekasihnya.
Dan ia tidak terlalu menyukai gagasan bahwa seseorang menganggap kekasihnya sebagai kakak.
Perdebatan mereka semakin panas.
Sementara itu…
Rhevan yang berdiri di antara mereka hanya bisa menghela napas panjang.
Ia terlihat sudah menyerah mencoba menghentikan pertarungan dua wanita itu.
Aren yang melihat pemandangan itu dari kejauhan hanya tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya setelah semua kekacauan yang terjadi…
istana terasa sedikit lebih hidup.
Aren segera berjalan menghampiri mereka.
Rhevan yang melihat kedatangan tuannya langsung terlihat sangat lega.
Seolah-olah ia baru saja diselamatkan dari sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada medan perang.
Keributan antara dua wanita itu perlahan mereda begitu Aren tiba.
Rhevan menghembuskan napas panjang.
“Akhirnya…”
Ia bergumam pelan.
“Para nyonya kembali tenang.”
Namun ucapan itu justru membuat dua pasang mata langsung menatapnya tajam.
Lyraeth dan Elira menoleh bersamaan.
“Apa maksud Anda?”
“Apa maksud Anda?”
Kedua wanita itu berbicara bersamaan.
Rhevan tersentak sedikit.
Ia baru menyadari bahwa ucapannya tadi mungkin tidak tepat.
“A-aku hanya…”
Ia mencoba mencari kata-kata.
“Bukankah kalian berdua tadi sedang berdebat tentang Tuan Aren?”
Kedua wanita itu langsung terdiam.
Keheningan aneh muncul di antara mereka.
Di dalam hati, keduanya hampir bersamaan menyumpahi Rhevan karena tidak bisa menutup mulutnya.
Aren yang melihat situasi itu mencoba berpura-pura tidak memahami apa yang terjadi.
Ia menoleh ke arah Rhevan.
“Ada apa, Rhevan?”
Rhevan hendak menjawab.
Namun sebelum ia sempat membuka mulut—
Lyraeth dan Elira langsung berbicara lebih dulu.
“Tidak ada apa-apa!”
“Tidak ada apa-apa!”
Jawaban mereka kembali terdengar bersamaan.
Mereka segera memberikan alasan lain yang tidak jelas untuk menutupi perdebatan sebelumnya.
Rhevan hanya bisa menghela napas panjang.
Namun anehnya, setelah itu kedua wanita itu kembali berdebat.
Kali ini tentang hal lain yang bahkan tidak jelas apa maksudnya.
Aren hanya menggeleng kecil.
Ia lalu menoleh ke arah Rhevan.
“Apakah Anda baik-baik saja?”
Rhevan menatap tuannya dengan wajah yang sangat memelas.
“Sungguh, Yang Mulia…”
Ia menghela napas berat.
“Jika aku harus memilih antara menghadapi celotehan dua wanita ini lagi… atau melawan The Mighty Black Dragon sekali lagi…”
Ia mengangkat bahunya lemah.
“Aku lebih memilih menghadapi naga hitam itu.”
Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Dan baru setelah mengucapkannya…
Rhevan menyadari sesuatu.
Lyraeth dan Elira langsung berhenti berdebat.
Mereka menatapnya dengan penuh rasa penasaran.
Bahkan Aren terlihat sedikit tertarik.
“Naga hitam?”
Aren menyipitkan matanya sedikit.
“Aku belum pernah mendengar cerita itu.”
Rhevan langsung merasa menyesal telah membuka topik tersebut.
Namun sekarang…
semua mata sudah tertuju padanya.