sexy girl

1152 Words
Setelah pekerjaan kantor selesai, Deva bergegas pulang. Keadaan kantor sudah sangat sepi. Deva menelusuri setiap koridor kantor yang sangat senyap dan sepi, Tak ada satu orang pun berada disini. Deva terus menengok ke kanan maupun ke kiri.Sambil sesekali mengelus leher belakangnya untuk meredakan rasa takutnya pada gelap. Pencahayaan sangatlah kurang, sedikit remang-remang dan membuat suasana disini sangatlah menakutkan. Deva terpaksa harus lembur, banyak pekerjaan yang ia kerjakan hari ini. Ada sebuah proposal yang sangat penting dan harus ia kumpulkan besok. Deva memainkan Hp nya menunggu pintu lift terbuka. Disini sangatlah sepi, sebenarnya Deva seorang yang penakut. Tapi ia sekarang berusaha untuk tenang, setiap ia ketakutan pasti ia pingsan dan itu akan membuatnya repot. Bagaimana kalau ia pingsan dan terbangun pada esok harinya. Tringg... Bunyi pertanda pintu lift terbuka. Disana Deva melihat seorang lelaki dan wajahnya bercahaya. BRUKK.... Deva pingsan karna rasa takutnya. Sosok yang Deva kira hantu ternyata pak Rino, karna sedang memainkan hp,wajahnya terkena cahaya hpnya. "Deva bangun"Ujar Pak Rino sambil menepuk-nepuk pipi Deva. Pak Rino langsung membopong tubuh Deva menuju ruangannya. "Hahaha, kamu itu polos atau bodoh sih, kok tiba2 pingsan dihadapan saya "ucap pak Rino sambil menatap setiap lekuk dari wajah Deva dengan seksama. Sudah sekitar setengah jam Rino hanya diam dan menatap Deva. Ruangan ini sangatlah sepi, ruang ini memiliki dekor yang mewah namun elegan. Sngat mencerminkan kepribadian Rino sekarang. Rino membuka tas yang di bawa Deva, Rino merogoh tas mencari hp milik Deva.Setelah ketemu Rino langsung membuka layar hp itu. Untung saja hp Deva tak memakai pola atau pin jadi Rino bisa langsung membuka kontak keluarga Deva. Rino langsung memencet tomblol hijau berlogo telepon rumah dan langsung terhubung pada orang di sana. "Halo Deva...."suara seorang wanita di sebrang sana. "Maaf tante, sepertinya Deva tidak bisa pulang. Dia sekarang sedang lembur"ujar pak Rino. "Maaf ini siapa? Dimana Deva? Kamu siapanya Deva"terdengar disana nada khawatir yang sangat jelas. "Maaf bu, saya Rino. Deva sedang lembur dan saya pemimpin kantor ini"jawab pak Rino dengan ramah. "Oh bosnya Deva ya. Maaf boleh tahu dimana Deva sekarang. Tente mau bicara. Dia sendirian di sana, apa nak Rino bisa menjaga dia di kantor. Saya sama bapaknya di luar kota..."Ujar "Deva disini sendiri tante? Tentu saya bisa menjaganya. Tante tidak usah khawatir"balas Rino. "Iya nak Rino,gak merepotkan?, trimakasih"ujar Ibunda Deva. "Ah jelas tidak tan, maaf menggngu selamat malam"Rino langsung memencet tombol merah dilayar dan memutuskan sambungan telpon. Rino memutuskan untuk membawa Deva kerumah keluarganya saja. Rino tak tega harus meninggalkan Deva sendiri di kantor. Ia sangat khawatir jika ada sesuatu terjadi pada gadisnya. Kediaman keluarga Anggoro Rino memarkirkan mobilnya sembarangan karna ada supir pribadi papahnya yang akan memindahkan mobil itu ke bagasi. Melihat tuannya datang, pak Joko salah satu pembantu disini langsung membukakan pintu utama dan memberi salam ramah. "Malam tuan muda"sambil membungkukan badan dan membukakan pintu untuk tuan mudanya. Rino memasuki rumahnya dan masih membopong Deva. Rino tak memperdulikan para asisiten rumah ini menatapnya dan Deva dari jauh. Di rumah Rino sangat cuek, tak banyak bicara, dan acuh terhadap keadaan yang ada di sekitarnya. "Mah, Rino pulang"ucap Rino pada wanita paruh baya yang masih cantik dan anggun di usianya yang sudah menginjak kepala lima. Wanita itu berbalik menatap putranya dan tersenyum. "Rino siapa yang kamu gendong? "Tanya Wanita itu. "Deva.."jawab Rino singkat. Tak menunggu respon dan jawaban mamahnya,ia berjalan berlalu menuju tangga. "Gak sopan main pergi, persis kaya bapaknya.." gumam Gres,sambil menatap punggung putranya yang berjalan semakin jauh. Rino berjalan menuju kamar kosong di tepat berhadapan dengan kamarnya. "Mba tolong bersihin kamar tamu dan siapkan piyama buat teman wanita saya"Perintah Rino pada asisiten rumahtangganya. "Baik tuan"jawab mba itu. Skipp. Keesokan harinya. Deva membuka mata ,yang pertama Deva lihat adalah cahaya yang menembus di sela-sela gorden berwarna coklat pastel. Deva menatap kanan dan kiri. Ia tak mengenali tempat ini. Yang diingit Deva saat itu menunggu pintu lift terbuka dan akhhh Deva lupa. Disana terdapat beberapa orang memakakai pakaian seperti pelayan dan menyapa ramah padanya. "Pagi nona"ucap serempak ke empat pelayan itu. Deva langsung memposisikan duduk bersandar pada tempat tidur. Deva membalas sapaan dengan cengiran kuda, ia merasa canggung dengan situasi ini. "Nona, semua orang sudah menunggu ada di ruang makan. Mari kami antar nona ke ruang makan"ujar salah satu dari mereka. "Ayo, saya juga udah lapar kok"Deva beranjak dari tempat tidur menuju ruang makan yang diikuti keempat pelayan itu. Sebenarnya Deva merasa risih dengan pelayan itu, mereka terus berjalan membuntutinya dari belakang .Namun ia harus cepat-cepat ke ruang makan . Menurut pelayan tadi ,keluarga pemilik rumah ini sudah menungunya. Deva tak enak bila harus membuat mereka menunggu Deva terlalu lama. Krekkkk.... Pintu pembatas antar ruang makan dan ruang ini dibuka. Terlihat disana seorang wanita paruh baya, dan disampinya terdapat pria seumuran dengan wanita itu yang menurut Deva pasti itu suaminya. Dan di depan pria itu ada seseorang yang sedang menatap dan tersenyum pada Deva. Deva langsung membungkukan badan pada mereka. "Maaf membuat kalian menunngu"ucap Deva dengan penuh hormat. "Ayo sayang duduk, kita sudah nunggu kamu buat sarapan bareng "ujar wanita itu. Pria yang ada di sebelah wanita itu hanya melemparkan senyumnya pada Deva. "Kamu duduk di sebelah Rino saja"pinta Wanita itu. Karena merasa tak enak jika menolak Deva menuruti perkataan wanita itu. "Pagi "sapa Rino. "Pagi.." balas canggung Deva. 'Ada yang aneh. Aku mulai curiga..' batin Deva. Ia meringis tersenyum terpaksa . Hening tak ada suara selain suara alat makan saling berbenturan. Deva merasa aneh, ia tak merasa yakin jika ini situasi pagi di sebuah keluarga. Keheningan berjalan cukup lama. Hingga saat pria paruh baya itu bangun,beranjak dari kursinya. "Mah, papah berangkat..." Cuppp. Kecupan bibir yang singkat mengakhiri sarapan pagi pasangan itu. Deva hanya diam menatap keromantisan pasangan yang sudah tak muda lagi yang ada di hadapannya. "Rino, papah berangkat..." "Oke..."jawab Rino singkat. "pasti kamu gak kenal saya kan" ujar Gress. Wanita itu mengulurkan tangannya pada Deva. Deva langsung menyambut uluran tangan untuk membalasnya. "Perkenalkan saya Gress ,mamahnya Rino ..." "Deva , karyawan pak Rino..." Gress hanya tersenyum,lalu beranjak pergi. Acuh ta acuh,tapi memang begitulah sikapnya. Tak begitu ramah,atau pun entahlah. Setelah kepergian Gress. "Oh iya, pak"Deva menoleh ke arah Rino. "Iya Deva"jawab Rino "Apa ibu saya semalam telfon? "Tanya Deva "Saya sudah ngasih tahu sama ibu kamu kalau kamu akan menginap"jawab Rino "Trus ibu saya nanyain keadaan saya gak, nanyain udah makan belum, nanyain dimana nginepnya, nanyain siapa yang nemenin, nanyain kenapa bisa nginep, nanyain blablablabal............... "Ucap Deva panjang lebar. "Ya ampun kamu spesies wanita apasih. Kamu berisik baget"protes Rino sambil menutup lubang hidungnya. "Bapak ngeledek saya yah, berisik kok nutupnya hidung sih"ujar Deva. "Kamu ngoceh belum sikat gigi bau Deva"jawab Rino sambul cengar-cengir Deva mendengus dan langsung pergi ke kamar yang tadi malem ia tempati. "Deva tunggu saya, jangan ngambek dong. Dev, Deva"ucap Rino mengejar Deva Tak memperdulikan panggilan bosnya itu, Deva berlari ke atas menuju kamar ,menutup dan menguncinya dari dalam . To be continued hi reader , ini cerita terniat aku di forum ini. semoga kalian pada suka ya :)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD