Tak mesti suka itu cinta.
-Deva
----------------
Tak memperdulikan panggilan bosnya itu, Deva berlari keatas menuju kamar, menutup dan menguncunya dari dalam.
Tok... Tokk...
"Deva, jangan marah. Saya minta maaf. Sekarang tolong Kamu keluar!"Rino mengetuk pintu seraya menunggu Deva keluar.
"Kamu jangan marah, saya becanda"saut Rino sekali lagi.
Merasa bersalah Rino terus menununggu di depan pintu.
Rino mengecek jam di tangannya, ia memijat kepalanya sedikit prustasi.
"Ckkk...sudah 15 menit disini, kenapa dia tak kunjung keluar"Rino membatin
Ceklekkk.....
Pintu terbuka menampakan sosok berbeda dari Deva .Mengenakan kemeja kedodoran panjang selutut, sangat jelas itu milik Rino.
"Itu pakaian saya? "Rino menunjuk pakaian yang dikenakan Deva
"Gak ada pakaian lagi di lemari"Deva hanya menampilkan senyum kuda yang menampakan gigi putih dan rapihnya.
"Saya baru tahu kemeja akan terlihat sexy bila di kenakan oleh seorang wanita "Rino menaikan setengah alisnya menggoda Deva.
"Ya ampun pak, liat nih nih badan saya gak berbentuk. Kok bapak bilang saya sexy"Deva membalik balikan semua bagian tubuhnya. Memperlihatkan betapa lurusnya body yang ia punya.
"Gak kok, di mata saya kamu perfecto"ujar Rino.
"Heheh, maaf ya pak pakaian dalamnya saya pinjam, tadi saya liat dan langsung pake aja"suara Deva mengecil takut bosnya akan marah.
"What do you say? "Suara Rino meninggi. Rino terkejut akan ucapan Deva, bagaimana ini terjadi. Kok dia gak permisi dulu pake CD nya.
"Yah masa saya gak pake, kan malu. Yaudah saya ganti deh"ucap Deva serasa minta negosiasi dengan bosnya.
"Akhh... Lupakan! Kenapa tadi saya panggil kamu gak berhenti?! "Tanya bosnya meminta penjelasan.
"Saya kebelet hehe.Bapak sih,saya kebelet dipanggil-panggil. Nanti kalo keluar gimana? Mau tanggung jawab hah? "Penjelasan Deva terdengar jujur dan sedikit ada lelucon di telinga Rino.
"Yasudah tunggu saya di depan, saya mau mandi"ujar Rino.
"Buat apa saya nungguin bapak mandi? Mau di bajuin ya hahahahah"ucap Deva sambil tertawa.
"Jangan menggoda saya!!!"Rino menatap tajam pada
Deva berhenti tertawa, ia menelan ludahnya sesekali. merasa takut dan ngeri dengan tatapan bos Rino pada nya.
"Sana bau, saya tungguin ya didepan "Deva mendorong tubuh bosnya dan langsung lari menuju ruang tamu.
"Dia imut "ucap Rino pelan .
Skipp.
Suasana mobil terasa hening, mereka sedang sibuk sendiri-sendiri. Rino sibuk dengan kemudinya sedangkan Deva sibuk dengan lamunannya.
Sesekali Deva menengok keluar jendela melihat jalanan yang nampak ramai dengan kendaraan pribadi. Sesekali pula Deva melirik pak bosnya yang sedang menyetir.
Apa yang dia dapatkan dengan mereka menikah sama gue? Apa coba motif dasar dari perlakuan baik sama gue? Batin Deva
"Makasih sudah mengantar saya pulang"Deva keluar dari mobil bosnya dan melambaikan tangannya.
Mobil itu nampak melaju meninggalkan tempat Deva berdiri. Deva menatap mobil itu memastikan kepergian bos sialan itu.
SKIPP
Pagi ini Deva mungkin agak sedikit telat, entahlah tapi sekarang jam tangan biru yang ia pakai telah menunjukan pukul tujuh dan jarum panjangnya tepat diangka enam.
"Ayolah taxi, kenapa tak ada satupun yang lewat"gerutu Deva dipinggir jalan yang tengah mencari taxi.
"Shitt"decakan kesal Deva keluar dari bibir kecil miliknya dengan mulus.
Selang beberapa menit tiba-tiba ada sebuah mobil merah berhenti tepat di hadapannya. Dan menurunkan kaca mobil itu dan memperlihatkan sosok didalamnya.
Nampak di dalam mobil itu sosok pria gagah memakai kacamata hitam yang menambah tingkat ketampanannya itu.
"Naiklah"pinta si pengendara mobil sport mewah itu.
"Tak usah pak... "Jawab Deva cengengesan
"Ini perintah bukan tawaran "ujar Rino tegas. Ia langsung membuka kaitan kacamatanya pada hidungnya dan hendak menutup kaca mobilnya.
"Oke oke ini karna Bapak yang maksa saya mau"saut Deva dengan nada jutek .
Baru saja Deva duduk dalam mobil tiba-tiba bosnya mendekat dan semakin dekat ,semakin dekat, sontak Deva menutup matanya dan menutup bagian dadanya dengan tas yang ia bawa.
Ceklek.
"Eh..... "Ujar Deva setelah membukakan matanya.
"kenapa ? "Tanya Rino.
"Itu, jidat bapak menyilaukan"jawab Deva dengan muka datar.
"Lucu?" Tanya Rino dengan wajah datarnya.
Rino tak memperdulikan tatapan kebencian yang di pancarkan Deva padanya, ia langsung menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.
Mobil melaju membelah keramaian pagi ini. Macet tak terhindarkan, Rino menyetel musik seakan menemaninya menghadapi kemacetan pagi ini.