bad friend?

911 Words
Bukan mata yang mencari, bukan kaki yang menuntun, bukan tangan yang menggenggam. Tapi hati yang menemukan, hati yang menuntun, hati yang mengikat kita. Semua yang terjadi sudah takdir, tapi Tuhanan pun memberi sebuah hak agar umatnya ikut serta menentukan hidupnya sendiri. Jika sebuah penampilan adalah utama, hati tak pernah terpakai. Tak punya fungsi, tak dibutuhkan lalu mati. Jika wajah membuatmu suka. Mengapa Tuhan memciptakan cinta? Untuk hiasan atau lelucon?. Aku bukan penyembah syair atau pemuja sebuah kata kata. Hanya saja aku menyukai kata kata yang sulit di cerna, memperlukan logika untuk memahaminya, hingga aku berpikir 'ini lah arti dari semuanya'. Ini hanya sebuah coretan pikiran, jika anda yang sedang membacanya tak paham, bacalah sekali lagi, jika setelahnya belum juga, anggap saja tak pernah membacanya. Deva Aurora 02-08-2020 "Sudah dengan bukumu? " Deva tersentak, ia menoleh tersenyum pada sang empunya suara. "Sedang menulis apa? "Lanjut Rey . "Menulis beberapa kotoran yang memenuhi otak" "Mungkinlah sebuah diary? "Tanya Riey sekali lagi. "Bukan hal penting, hanya saja aku suka menulis beberapa kata-kata yang muncul dalam otakku. Jika tidak, kata kata itu terus terusan berputar di dalam sana membuatku terganggu" "Bukankah itu bagus, memiliki sebuah kemampuan dan hobby yang sama" "Ini bukan hobby, hanya sebuah kegiatan di waktu luang. Tentu saja, aku masih menikmatinya. Sebuah kemapuan yang tak terlalu merepotkan. "Deva berhenti sejenak "Kenapa menghabiskan akhir pekanmu disini? Tak memiliki jadwal lain? "Lanjutnya. "Bukankah tak salah menghabiskan akhir pekan dengan teman ? Hanya ingin bertemu di luar lingkup pekerjaan" 'teman? ' "Tak merasa bersalah telah mengganggu di rumah orang lain? " "Aku tak merasa menganggu. Kau saja yang selalu seperti itu pada atasanmu sendiri. " Sejak tadi Deva tak menyadari kehadiran Rey. Ia tengah sibuk dengan buku dan sebuah earphone terpasang pada telinganya. Di taman depan ia duduk, tanpa memperduliakan sekitar ia menulis. "Seperti biasa. Segala hal yang tak penting selalu aku abaikan" Deva tersenyum tipis pada Rey. Lalu merenggangkan kedua tangannya keatas. "Ok. Aku kedalam dulu. Jangan coba mengikutiku, dan jangan sampai melangkah sejengkal pun ke dalam rumahku!! " Rey hanya diam menatap Deva dengan wajah datarnya. Deva berlalu, berjalan memasuki rumah sederhananya. Menutupnya tanpa memberi kesempatan untuk Rey masuk. Deva masuk kedalam kamar untuk berganti pakaiannya. Mengambil tas kecil lalu keluar dengan penampilan sederhananya. Deva melangkah keluar rumah dengan tas kecil yang selalu ia bawa. Deva hendak mengajak Rey berkeliling entah kemana,yang terpenting itu tidak di rumahnya. " Mau kemana Deva? Apa tadi saya mengajakmu keluar?". Rey kebingungan,ia hanya terdiam menatap lekat Deva. "ini hari liburkan. Bagaimana kalo keluar jalan jalan. Bosen di rumah,apalagi di sekitar sini. Gimana kalo kita ke mall?". Rey mengangguk setuju. _-_ " mau kemana selain mall...? " tanya yang masih fokus dengan kemudinya. " sepertinya tidak ada lagi... " Deva menatap keluar jendela mobil. Namun tak sengaja matanya menangkap objek yang menarik perhatian. "ada yang menarik perhatianmu diluar sana... " " tidak ada... " kontras dengan ucapannya. Deva tengah menatap intens sosok yang ia kenal. Rino , mengendarai mobil namun ia tak sendirian. Di bangku sebelah ada seorang wanita tengah duduk anggun. 'siapakah wanita itu? Pacar atau siapanya pak Rino' tanya Deva dalam hati. Dua jam sudah mereka bersama. Dua jam pula Deva mau pun Rey tak saling berbicara. Sedari tadi Deva masih terdiam sambil menatap satu per satu toko yang mereka lalui di dalam mall. Deva masih penasaran siapakah wanita itu. Apa hubungannya dengan pak Rino . Bukankah ini bukan Urusannya, kenapa pula ia bisa sangat kepo. Tiba tiba ia tersadar selama dua jam lebih ia mengabaikan Rey . Oh sungguh Deva sangat merasa bersalah. "maaf ... " Mereka tengah duduk di sebuah bangku depan toko boneka." untuk apa? Kamu gak melakukan kesalahan apa pun... " ujar Rey santai. " kamu gak bete saya cuekin dua jam?... " tanya Deva was was " selama kamu di deket saya. Saya gak bosen kok, silahkan dilanjutin acara ngelamunnya.. " sindir Rey . Ia memang sangat kesal sedari tadi di abaikan Deva. Namun ia harus menahan emosinya. Jadi, sedari tadi ia pun menyibukkan diri untuk mengecek e-mail pekerjaan. " kamu mau saya beliin itu... " tangan Rey menunjuk pada sebuah boneka besar seukuran manusia di etalase toko didepan." kayaknya mirip sama saya. Ganteng ples gemesin... ". Boneka itu memang berbentuk hewan pada berpakaian formal, dengan dasi dan sebuah tuxedo hitam. Namun sesuai dengan Rey.Deva tak setuju. Rey lebih pantas terlihat seperti kuda nil. Besar dan menakutkan. Deva hanya tersenyum tipis mendengar pujian Rey pada dirinya sendiri. Dasar narsis. "mau kalo dibeliin... " mereka berdua berjalan beriringan memasuki toko tersebut. Deva tersenyum lebar, bagaimana Rey bisa tahu jika ia sangat menyukai boneka. Apalagi boneka berukuran besar. "Deva, apa kau bahagia denganku?..."ujar Rey tiba tiba Deva terdiam, menatap Rey keheranan . "Sial, ada apa denganku" batin Rey. Entah memgapa, tiba tiba ia merasa kesal dengan kenyataan bahwa Rino tengah mendekati gadis yang ia incar Di lain tempat. " Aku mau kamu berhenti berekting jika kamu menerima perjodohan ini... " ujar Rino dengan suara gusar. Tanpak jelas jika ia sudah emosi sedari tadi. " Aku tak sebodoh itu mengakuinya. Siapa yang menolak menikah dengan seorang Rino Baraq Anggoro . Meski aku tak mencintaimu, setidaknya hidupku akan bahagia dengan kemewahan milikmu... " Oh, sungguh sangat jujur wanita itu. Tak berfikir panjang. Tanpa kebohongan atau elakan. Ia jujur berbicara sesuai apa yang ada di benaknya. Maria Alberta Smorg, teman sekaligus sahabat dekat Deva. " apa kau tahu jika aku hanya menyukai sahabatmu , Deva... " " Aku tidak peduli.... " jawab Maria wajah datar -------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD