You Can't Kill Me

2391 Words
Kastil kerajaan Erovah terlihat sepi dari luar. berbeda dengan keadaan di dalam kerajaan yang dijaga ketat oleh banyak pejuang yang berjaga di setiap pintu. Di dalam aula, sang King Arsandor III sedang cemas menunggu serangan Immortal yang pasti akan segera terjadi. Sebenarnya dia sedikit berharap agar Dominic membunuh Althea saja dengan imbalan, Dominic melepaskan kerajaan manusia. Walau hati kecil dan egonya menolak keputusan itu, tapi dia sadar inilah cara yang terbaik. Karena dia sadar, dia dan kerajaannya akan kalah bila melawan pasukan Dominic yang terkenal kejam dan haus darah. Mungkin mereka akan bisa menang, tapi mereka belum siap. King Arsandor III melirik ke arah Alex yang terlihat tenang. Kontras dengan pejuangnya yang lain. King Arsandor III memang sengaja merahasiakannya dari Alex. Tiba tiba pintu aula terbuka. Seorang pejuang muda berlari dan bersimpuh di depan Sang Raja. "Hormat saya paduka raja" "Berita apa yang kamu bawa?" "Kerajaan Demon tidak jadi menyerang kerajaan kita Yang Mulia" Deg Jantung Alex seakan berhenti berdetak. Pikirannya langsung terbayang pada adiknya.  Althea. "Dominic membawa umpan kita pergi yang mulia" Umpan? Alex mengernyit. Siapa umpannya? Pikirannya mulai berasumsi buruk. bagaimana jika Althea yang menjadi umpannya? Bukankah Althea sudah membunuh permaisuri para demon itu? Alex mulai menganalisa kembali. dia mengingat ingat kembali setiap pejuang yang dia temui di perjalanan tadi. Seluruh desa tampak sepi. Dan para pejuang dikumpulkan di istana. Alex tersentak. Althea berjaga sendirian. "Siapa yang menjadi umpan?" Alex berjalan maju dan langsung menghadap sang raja. dia bahkan tidak perlu repot repot bersimpuh memberi hormat. Dia sudah dimakan kemarahan dan kekhawatiran terhadap adiknya. "Alex kau..." "Siapa yang menjadi umpan?" "Althea" Jantung Alex seakan dicabut dari rongganya. Dia menatap tidak percaya pada sang Raja. "KAU MENJADIKAN ADIKKU UMPAN?" Semua orang tersentak dengan bentakan dan kelancangan Alex. Tidak ada yang menyangka Alex akan berani membentak seorang raja. Pejuang di sana dengan sigap mengarahkan pedangnya pada Alex. "Jaga ucapanmu Alex! Dia rajamu!" Dua orang pejuang senior maju dan menahan Alex. Tapi dengan mudah Alex melepaskan diri dari kedua orang itu. Alex menatap tajam sang Raja dengan iris yang berubah pucat. warna sang angel. Sang raja yang melihat itu tiba tiba diliputi rasa takut. "Aku terpaksa melakukannya Alex. Aku tidak bisa mengorbankan seluruh rakyatku hanya demi menyelamatkan adikmu" "LALU KENAPA KAU TIDAK MEMBIARKANKU BERJUANG BERSAMA ADIKKU?" Sang raja terdiam. Alex merasa muak dengan bungkamnya Raja itu. dia berbalik dan berjalan meninggalkan Aula. "Kamu mau ke mana Alex?" "Bukan urusanmu" "Aku melarangmu pergi Alexander Altheo Kiel" Alex tersenyum meremehkan tanpa menghentikan langkahnya,"Coba saja hentikan aku" "Aku rajamu Alex!" "Bukan lagi". Alex pun keluar dari pintu dan menghilang dari pandangan. Mereka semua tercengang menatap kepergian Alex. Tidak ada satupun yang berani mengusik seorang angel yang marah. _____LadyAlthea_____ Seorang dayang masuk ke ruang baca tempat Dominic menghabiskan waktu. Selama hampir 925 tahun hidupnya, Dominic memang sering membaca semua kisah para pendahulunya, darisanalah dia bisa mengetahui tentang semua kelemahan makhluk. Seorang dayang masuk tanpa mengetuk dulu membuat Dominic menatapnya tajam. Dayang itu membungkuk memberi hormat dengan badan bergetar ketakutan di bawah tatapan mematikan Dominic. "Semoga kamu mempunyai alasan bagus untuk menggangguku dayang atau aku akan membakarmu" Dayang itu beringsut ketakutan. Dia sudah ingin lari dari tempat itu. Tapi dia tahu jika dia lari, dia akan mati,"Pe..perempuan fana i..itu mengamuk Pangeran" Perasaan tidak suka menggelegak dalam dirinya,"Namanya Althea panggil dia dengan sopan dayang! Jangan lancang!" Dayang itu mengernyit mendengar pembelaan dari Pangerannya yang terkenal membenci segala kelemahan. Dan Althea adalah makhluk fana yang memiliki banyak kelemahan.Dayang itu juga tidak menyukai cara Pangerannya membela perempuan fana itu. Perempuan fana itu telah membunuh matenya. Dia sebenarnya sedang merencanakan suatu cara untuk membunuh perempuan itu. Dayang itu mengangkat tubuhnya dan menatap Pangerannya yang telah bangkit dari tempat duduknya dan sedang menatapnya tajam. "Tapi, dia memang makhluk fana yang memiliki banyak kelemahan Pangeran", Dayang itu mencoba untuk kembali mengingatkan pangerannya mengenai makhluk fana itu. Dominic menatap dayangnya tajam. Dia mengangkat tangannya dan mengangkat satu jarinya. Tiba tiba ada kobaran api yang menyulut sang dayang. Dayang itu menjerit kesakitan tapi Dominic tidak menghiraukannya. Dia berjalan dengan santai melewati dayang itu. Kobaran api yang dia lewati tidak menyentuh kulitnya sama sekali. Sepergi Dominic, beberapa dayang dan pegawai istana berdatangan menatap nasib sial sang dayang. _____LadyAlthea_____ Dominic berjalan menuju kamarnya. Pintu kamarnya yang melengkung terbuka dengan banyak dayang yang berkumpul di balik pintu bagian luar. Saat mereka melihat Dominic, para dayang itu segera menunduk memberi hormat,"Ampun Pangeran, makhluk fana itu bangun saat kami selesai memandikan dan memakaikannya baju. Dia mulai mengamuk meminta pedang dan bajunya kembali. Kami tidak berdaya Pangeran. Bahkan salah satu dayang mati dipatahkan lehernya oleh makhluk fana itu" Dominic menggeram tidak suka. Tapi dia marah bukan karena Althea mematahkan leher salah satu dayangnya. Dia marah karena para dayang rendahan itu memanggil Althea dengan sebutan makhluk fana. Entah sejak kapan dia merasa tidak suka jika Althea dipanggil dengan sebutan merendahkan itu. Tiba tiba sebuah buku yang biasa tersimpan di samping ranjang dilempar dari dalam kamar ke arah dayang yang membicarakannya tadi. Dominic segera menangkap buku itu dan melemparnya ke sembarang tempat. Dayang itu meringis dan menatap Althea tajam. Lengannya hendak terulur, tapi Dominic segera mencengkram keras lengan itu dan menatap dayang itu tajam,"Jangan berani beraninya kamu mengangkat tangan hinamu itu kepada calon permaisuriku" Dominic mengatakannya dengan tenang dan dingin. Seluruh dayang dan pelayan istana yang mendengarnya tersentak membeku karena ketidakpercayaan. Dominic melepas lengan dayang itu dan masuk ke dalam kamar. Bekas cengkraman Dominic membekas bagai terkena api. Dayang itu mengernyit menahan perih dan memutuskan undur diri. Kepergiannya diikuti dayang dan penjaga yang lain. Dominic membanting pintu tertutup dan kini dia berhadapan dengan sosok Althea yang terduduk di atas kasur besarnya. Althea terlihat tersentak dengan bantingan pintu. Dia menatap Dominic marah tapi perlahan pancaran mata itu berubah menjadi bingung. Althea tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Sesaat tadi, dia rasa dia bisa membunuh demon itu dengan brutal. Tapi, saat Dominic berjalan dengan anggunnya ke dalam ruangan, semua perasaan ingin membunuh itu lenyap. Badannya menuntutnya untuk segera berlari dan masuk ke dalam rengkuhan makhluk yang dibencinya itu. Perasaan muak menjalar di dalam hatinya. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Dominic tersenyum sinis. Perempuan ini juga merasakannya. Dominic bersusah payah mengalihkan pandangannya dari Althea. Dia memandang sekeliling. Keadaan kamar sungguh berantakan begitupula dengan kasur yang diduduki Althea. Beberapa barang pecah di lantai, buku buku berserakan, bahkan lemari milik Dominic terjatuh. Entah apa yang terjadi di ruangan ini sebelum dia datang. Jika benar kata dayang dayang itu bahwa Althea mengamuk dan bertarung dengan beberapa dayang, berarti dia memiliki kucing yang nakal sekarang.Tatapan Domini beralih pada sosok rupawan yang masih menatapnya. Althea terduduk di tengah kasur dengan rambut kusut masai. Beberapa helai rambutnya menyentuh wajahnya. Wajahnya memerah menahan amarah. Althea sungguh cantik, sinar rembulan menerpa wajahnya masuk dari pintu kaca balkon yang terbuka lebar, sang keturunan Aphrodite. Dewi tercantik Olympus. Ada sebuah perasaan aneh yang hangat merambat di hati beku Dominic. Perasaan yang tidak pernah dia rasakan bahkan terhadap Lenata, apakah ini adalah efek mate? "Kembalikan aku ke rumahku demon sialan!" Althea menatap Dominic tajam. Dominic mengeraskan rahanya tidak suka. Dia tidak menyukai bagaimana sikap Althea kepadanya. Dominic menatap Althea tenang,"Ini rumahmu sekarang Althea" Althea mengernyit mendengar cara Dominic memanggil namanya. Ada perasaaan menyenangkan dan menggelitik hatinya,"Tempat terkutuk ini bukan rumahku! Aku tidak sudi berada di tempat ini bersama para penghisap darah menjijikan seperti kaummu dan kaum sekutumu!" Dominic tersenyum sinis. "Cobalah untuk pergi tapi kamu tidak akan bisa berjauhan denganku Althea. Tubuhmu akan menderita karena itu." Althea tersentak. Ap.. Dengan secepat kilat, tiba tiba Dominic sudah berada di atas tubuhnya yang sudah tertidur di atas kasur. Althea mengerjapkan matanya masih terkejut dengan yang terjadi. Althea mengernyit merasakan kedekatan ini membawa suatu perasaan menyenangkan yang aneh. Dan setiap selnya seolah ikut bersorak dengan kedekatan ini. Althea menatap wajah Dominic. Begitu tampan nan sempurna, seolah setiap lekukan wajahnya memang dipahat dengan indah. Tanpa sadar lengan Althea terulur dan menyentuh pipi Dominic. Dominic memejamkan matanya menikmati sentuhan panas dari gadis di bawahnya. Berbeda dengan Althea yang tersentak ketika ujung jarinya tersengat dingin yang membekukan. Menyadari apa yang telah dia perbuat, membuat wajah Althea memanas tanpa bisa dicegahnya. Terlebih ketika tatapan Dominic seolah menelanjanginya, menatapnya dengan intens dan tajam. Althea memalingkan wajahnya. Apa yang terjadi padanya? Dia pasti sudah gila karena menyentuh Dominic seperti tadi. Dia frustasi. Dia tidak mengerti. Dan dia tidak pernah merasa selemah ini. Dia membenci tubuhnya yang tidak berdaya di bawah makhluk yang dibencinya. Dia benci kenyataan kalau tubuhnya ikut mendamba sentuhan Dominic. Dominic mendekatkan wajahnya ke leher Althea dan menghirup aromanya dalam. Dia membenamkan wajahnya di leher Althea,"Kamu merasakannya Althea?" Althea tersentak. Tubuhnya kaku. Keintiman ini merupakan sesuatu yang didama seluruh sel dalam dirinya dan meski dia benci mengakuinya, tubuhnya menginginkan Dominic. "Perasaan mendamba ini sungguh kuat Althea. Tubuhmu menginginkanku. Begitupula tubuhku". Ketika kalimat Dominic terlontar, seketika pemahaman mulai merasukinya. Dan wajahnya memucat. Tidak mungkin, apa ini ikatan mate? Althea wanita yang pandai. Dia tentu tahu apa itu ikatan mate. Banyak buku di kerajaan manusia menjelaskan mengenai hubungan aneh para makhluk immortal itu. Perlahan rasa takut menjalari hatinya mencekik kuat perasaannya. Althea merutuk dalam hati. Ini pasti karena darah angel yang mengalir dalam dirinya. Perasaan marah dan benci tiba tiba menyeruak menggantikan rasa takut yang menyiksa itu. Dia merasa jijik pada dirinya yang tidak berdaya di bawah pesona makhluk yang dibencinya.  Dia benci pada tubuhnya yang mendamba Dominic. Dia benci darah angel yang mengalir dalam tubuhnya. dia merasa darah ini hanyalah menjadi kutukan baginya. Melihat perubahan raut Althea membuat Dominic paham kalau Althea pasti sudah mengetahui apa yang terjadi pada mereka. Dominic mengangkat wajahnya dan hanya terdiam melihat perubahan pada raut Althea. Meneliti setiap pancaran emosi yang diberikan oleh iris abu tuanya. Althea tidak terlihat syok ataupun bereaksi berlebihan. Dan akhirnya Dominic semakin yakin kalau Althea bukanlah hanya manusia. Aroma Althea pun terlalu manis untuk hanya seorang manusia,"Sebenarnya kamu ini apa Althea? Kamu tentu tahu kalau makhluk fana tidak bisa terikat mate." Althea menatap mata hitam kelam Dominic,"Lebih baik aku mati daripada memberitahukanmu Demon" Althea merasa lidahnya pahit saat mengatakan demon pada Dominic. Entah kenapa badannya tidak mau menuruti akal waras dan hatinya. Dominic tersenyum. Dia kembali membenamkan kepalanya ke lekukan leher Althea. Dia mengecup leher itu dan menjilatnya. Dia merasakan rasa manis yang nenyenangkan memenuhi indra pencecapnya. Begitu manis, begitu mencandu. Otak Althea menyuruh Althea untuk mendorong Dominic menjauh. Tapi badannya memberontak. Badannya menginginkan Dominic. Althea frustasi. Matanya terasa panas dengan air mata yang mendesak. "Kamu tahu kalau aku bisa mencari tahu itu sendiri Althea dan kurasa itu akan menyenangkan." Makhluk immortal memang unik. Saat mereka melakukan hubungan intim, ada tato yang bersinar di punggung mereka. Tatto itu pun berbeda untuk setiap makhluk. dan Dominic berencana untuk mengetahuinya melalui itu. Althea terbelakak. Dia mengumpulkan semua kebencian dalam hatinya dan balas menatap Dominic dengan mata nyalang,"Kamu akan mati sebelum bisa menyentuhku demon!!" Dominic menyeringai meremehkan. dia mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. Althea tersentak dengan perasaan senang yang seolah akan meledak dan keinginan untuk mendekatkan seluruh badannya pada Dominic. Hanya hidung mereka yang bersentuhan dan Althea sudah sangat terlena. "Apa kamu yakin ingin aku mati?" Dominic menyeringai dan mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu,"Althea". Dominic menyebutkan nama Althea dengan perlahan dan dalam. membuat seluruh tubuh Althea meremang karena gairah yang tiba tiba muncul. Althea mengutuk dirinya sendiri. dia tidak mau berakhir bersama makhluk yang dibencinya. Dia terlalu tinggi untuk bersanding dengan makhluk immortal. "Cepat atau lambat aku akan segera mengetahui apa kamu ini Althea. Aku tahu kalau kamu bukanlah hanya manusia" Dominic menarik tubuhnya. Kini Dominic berdiri di ujung kasur mengamati soosk Althea yang manatapnya penuh dendam. Dominic tersenyum kecil,"Matamu mengatakan seberapa besar hasratmu untuk membunuhku Althea" "Kamu memang pantas mati. bahkan kamu tidak hidup Dominic!" Althea tersentak dengan perasaan menyenangkan saat dia mengatakan nama Dominic. Dominic tersenyum meremehkan. dia berjalan ke salah satu lukisan besar dan menggesernya. Dari balik lukisan itu terdapat sebuah lemari besi yang terkunci. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kunci berwarna emas yang berkilauan. Dominic memasukkan kunci itu dan pintu besi itu terbuka. Dominic mengambil sebuah belati yang terbuat dari perak dengan kilatan yang menunjukkan seberapa tajam belati itu. Belati itu adalah belati Amethys. Belati yang dapat membunuh semua makhluk fana hanya dengan sekali tusukan ke jantungnya. belati ini menghisap kehidupan dari sang korbannya. membuat belati ini semakin tajam dan berbahaya seiring banyaknya nyawa yang masuk ke dalamnya. Dominic hampir mati saat melawan seorang anak manusia yang merupakan half vampire dulu. Manusia half itu termasuk ke dalam kerajaan manusia dan sangat berambisi membunuhnya. Tapi naas, memang karena kemampuan dan keahlian Dominic, manusia itu mati dengan mengenaskan. Walau Dominic pun hampir mati. Dominic menimang belati itu dan membawanya mendekati ranjang Althea. Althea yang menatap belati itu langsung awas. "Apa yang akan kau lakukan Dominic?" Dominic tersenyum. lengannya terulur mencengkram lengan atas Althea dan menariknya hingga Althea berdiri berhadapan dengannya di lantai marmer itu.  Dominic membuka telapak tangan Althea dan memberikan belati itu. "Kamu tahu itu apa?" Althea menatap belati itu dan dia terkejut menyadari itu belati apa. Belati itu adalah milik pahlawan legenda dari Kerajaan Erovah. Kisah tentang Pejuang Michael yang merupakan half itu terus diceritakan turun temurun. Althea diceritakan mengenai kisah itu sudah semenjak Althea menginjak usia lima tahun. Althea menggenggam belati itu. udara dingin yang menusuk menjalar melalui tangannya yang menggenggam belati itu. Sensasi dingin yang suram, seperti jiwa jiwa kotor yang terperangkap pada belati itu. Dominic mengarahkan lengan Althea yang memegang belati itu tepat di atas jantungnya,"Jika kamu ingin membunuhku, buktikan" Althea terperangah. Dengan mantap, dia menarik belati itu dan segera dihunuskannya ke arah jantung Dominic, tapi saat Belati itu dan jantung dominic berbatas baju saja, Althea berhenti. Tubuhnya tidak mau mengikuti keinginanya. Sesaat tadi, hatinya terasa sakit oleh perasaan tidak mau kehilangan yang melingkupi. jantungnya berdenyut nyeri. dan tiba tiba matanya serasa panas. Althea melemparkan belati itu sembarang. lengannya terangkat dan menutupi wajahnya. Althea terisak karena rasa frustasi juga kesedihan. Ini pertama kalinya Althea menangis setelah kematian orang tuanya. Dominic yang melihatnya hanya menampakkan wajah datar,"Kamu tidak akan bisa membunuhku Althea, begitu juga aku. Tidak peduli seberapa bernafsu kita menginginkan kematian satu sama lain, tubuh kita akan selalu menolak." Dominic membalikkan badannya, dan mulai berjalan mendekat ke arah pintu. Saat dia menyentuh ganggang pintu, Dominic berbalik dan menatap Althea. "Althea" Althea menurunkan tangannya dan balas menatap Dominic. Ada perasaan menyesakkan yang tidak dimengerti Dominic saat melihat wajah Alteha yang terlihat sangat menderita itu. "Mulai dari sekarang sampai aku memutuskan ikatan ini, aku akan melindungimu. Aku bersumpah atas hidupku" _____LadyAlthea_____
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD