Setelah mengunci pintu kamarnya, Dominic berjalan meninggalkan peraduannya. Sepanjang langkah yang dia ambil, dirinya terus terpikirkan bagaimana jika ada yang menyakiti matenya itu, Althea adalah pejuang kerajaan yang paling banyak membunuh kaumnya, bahkan mungkin bisa setengah penghuni kastil ini ingin membunuh wanitanya itu. Memikirkan Althea yang terluka membuat Dominic menggertakan giginya tidak suka. Dia harus melindungi Althea tidak peduli apapun yang harus ditempuhnya. Sekarang, keselamatan Althea menjadi prioritasnya.
Dominic mengernyit atas pemikirannya itu. Dia seorang demon terkuat akhirnya takluk pada manusia fana yang dibencinya. Mengapa takdir bisa selucu ini mempermainkan dirinya? Dominic mengepalkan lengannya kuat, dia harus mengusahakan semua cara agar ikatan ini terputus.
Tapi, bagaimana?
Demoniac Witches White pasti bisa menolongnya.
Kaum Demon, Vampire dan Werewolf memang tidak memiliki masalah dengan para demoniac witches white. Karena para white cenderung tidak memihak. Mereka menjaga keseimbangan bumi. Merekalah kaki tangan para angel di bumi.
Berbeda dengan para demon yang berseteru dengan demon, demoniac witches white justru melayani para angel.
Tapi, Demoniac Witches Black adalah musuh seluruh kaum. Ambisi para black yang ingin menguasai bumi ditentang oleh semua kaum. Demoniac witches black memang kuat, tapi jumlah mereka sedikit. Mereka sadar bila melakukan konfrontasi langsung, mereka akan kalah.
Memikirkan Dominic yang akan bertanya pada penyihir itu membuatnya muak sendiri. Dia akan memikirkan hal itu nanti. Sekarang, dia harus menandai Althea di depan semua kaumnya. Dia tidak mau siapapun menyakiti Althea.
_____LadyAlthea_____
Dominic berjalan dengan langkah pasti menuju kastil utara. Peraduan ayahnya, Sang Raja Kerajaan Demon. Sepanjang perjalanan banyak pengawal, pelayan dan dayang yang membungkuk memberi hormat. Walau sebenarnya dia tau kalau di belakangnya, mereka membicarakannya dan Althea.
Memikirkan itu membuat Dominic kembali kesal. Ingin dia membakar kastil ini beserta seluruh dayang, pengawal dan pelayan yang tidak bisa menjaga mulut mereka.
Dominic berhenti di depan sebuah pintu mewah berlapis emas membentuk kubah. Setelah mengetuknya, Dominic masuk dan menemukan ayahnya sedang menikmati secangkir darah pekat yang tercium manis.
Tapi entah kenapa aroma darah itu kini tidak menggoda Dominic. Dia hanya menginginkan Althea.
"Sudah kuduga. Cepat atau lambat kau akan menemuiku Dominic"
"Jadi kau tentu sudah mengetahui apa yag terjadi di kastil?"
Sang raja tersenyum samar. Dia berjalan dan duduk di sudut sofa yang terlihat empuk dan mewah. Sofa maroon itu membelakangi sebuah lukisan besar yang menggambarkan potret sang raja yang tengah memenangkan perang besar.
"Kamu sudah membuat seluruh negeri immortal gempar Dominic. Kabar tentang kau yang membawa pembunuh calon permaisurimu ke kastil dan melindunginya telah tersebar ke mana mana. Apalagi makhluk fana itu adalah death angel. Sudah banyak kaum immortal yang tewas di tangannya ditambah kejadian pembantaian sekoloni vampire kelas rendahan yang mati hanya oleh seorang wanita. Beruntung Lucius tidak terlalu peduli dengan hal itu. Perempuanmu itu memiliki banyak musuh Dominic. Sebenarnya apa yang membuatmu terus mempertahankannya?"
Dominic terdiam. Dia mengerti maksud ayahnya. Ini menandakan sikapnya sekarang bisa membuat perpecahan aliansi. Tapi badannya memberontak, badannya menolak berpisah dari perempuan fana itu.
"Aku terikat mate dengannya."
Sang Raja terbelakak dan memandang anak semata wayangnya tidak percaya.
"Tidak mungkin. Manusia tidak terikat dengan hubungan mate ini. Mereka makhluk fana. Mereka akan mati dan kamu makhluk abadi Dominic"
Dominic menatap tajam ayahnya. Dia gusar,"Kau benar. Aku juga tidak tahu dia sebenarnya apa. Aku telah memaksanya mengatakan makhluk apa sebenarnya dia tapi dia tetap bungkam. Dia sangat keras kepala."
Sang raja tersenyum melihat kegusaran anaknya,"Kamu tidak pernah terlihat begitu gusar sebelumnya"
Dominic mengerang kecil.
"Dia bahkan membuatku merasakan berbagai perasaan aneh yang tidak pernah kurasakan. Merepotkan sekali hubungan ini."
Sang Raja tersenyum kembali. Dan pandangannya berubah serius,"Dominic, kamu tahu kalau manusia half bisa terkena mate juga?"
Dominic memberikan perhatian penuhnya kini.
"Tapi, ikatan mate pada manusia half tidak berlaku selamanya. Mereka bisa memutuskan ikatan itu. Tapi, bagi kaum kita ikatan itu bertahan seumur hidup. Kamu ingat Leonard?"
Dominic mengingat pamannya. Adik satu satunya sang raja. Leonard sosok yang tangguh dan keras tapi dia memiliki ikatan mate dengan anak dari Vampire yang dibunuhnya dulu. Anak vampire itu adalah half. Dan saat anak itu mengalami ikatan mate dengan Leonard, dia memilih mendatangi demoniac witches black dan menukarkan jiwanya asal sisi vampire padanya hilang. Hasilnya, anak itu menjadi manusia seutuhnya dan ikatan itu hilang. Berbeda dengan Leonard yang terus terikat dengan ikatan itu dan akhirnya Leonard mendatangi demoniac witches black untuk meminta kematiannya.
"Aku tidak akan berakhir mengenaskan seperti itu. Aku akan mengusahakan cara untuk memutuskan ikatan ini. Tanpa melibatkan para demon hitam itu."
Mata Dominic berkobar menyeramkan. Dia membenci kaum menjijikan itu. Kaum licik yang memanfaatkan segala situasi, seperti hal yg menimpa pamannya.
"Tapi, untuk sekarang aku ingin kamu mengadakan acara peresmian untuk mengumumkan ke semua kaum bahwa Althea adalah permaisuriku"
____LadyAlthea___
Althea termenung menatap hamparan padang bunga yang didominasi warna ungu dan hijau lembut. Matanya menatap jauh ke gelapnya hutan yang berada di ujung padang bunga itu. Mungkin dia bisa kabur ke sana? Tapi, bagaimana dengan ikatan mate sialan ini? Jika benar apa yang dikatana semua buku buku itu, pergi meninggalkan Dominic sama dengan membunuh jiwanya sendiri.
Althea sedang memikirkan nasibnya, memikirkan Alex, dan memikirkan cara keluar dari tempat ini. Dia harus memutuskan ikatan ini
Tapi, bagaimana?
Althea sudah berulang kali mencoba memanggil Alex. Tapi koneksinya dengan Alex sekarang terasa buta. Dia tidak bisa merasakan Alex. Dia tidak memperisai dirinya. Tidak mungkin Alex yang memperisai diri. Karena Alex selalu terbuka. Dia merasa ada kekuatan sihir entah apa di kastil ini yang bisa membutakan koneksinya dengan Alex.
Dia benar benar khawatir. Bagaimana Alex? Alex pasti tidak akan tinggal diam. Alex pasti akan mencarinya. Tapi, bagaimana jika Alex tidak bisa menemukannya dan malah nekat menjelajahi bumi lain? Althea tau Alex hebat. Tapi, bagaimana jika Alex terbunuh seperti kedua orang tuanya? Althea akan membenci dirinya sendiri jika itu terjadi. Althea harus keluar dari tempat ini.
Tapi, badannya memberontak. Badannya seolah tidak mau meninggalkan tempat ini. Bodoh! Badan bodoh! Alex lebih penting daripada makhluk immortal itu! Bahkan jika dia harus membunuh jiwanya untuk menyelamatkan Alex, dia akan melakukannya.
Althea berdiri dan membuka jendela besar. Dia melirik ke bawah. Letak tempat ini benar benar jauh dari tanah. Mungkin terletak di lantai tiga atau empat. Althea mendesah kecewa. Akan mustahil jika dia meloncat ke bawah dan selamat. Dia melirik ke arah tembok. Sulur sulur tanaman rambat mengelilingi tembok kastil. Dia tersenyum senang. Itu tiketnya untuk pergi dari kastil terkutuk ini.
"Apa yang sedang kamu lihat Althea?"
Althea tersentak dan langsung membalikkan badannya. Dia berhadapan dengan d**a bidang yang telanjang, dia menatap Dominic yang hanya mengenakan jubah sutra mewah berwarna hitam mewah. Althea mengangkat kepalanya dan matanya bertumbuk dengan iris hitam gelap yang menatapnya intens.
Entah apa yang terjadi padanya. Tapi, dia tiba tiba merasa lega mendapatkan kehadiran Dominic. Althea merutuki kebodohannya.
"Kamu tidak akan bisa kabur dari kastil ini Althea. Sejauh apapun kamu pergi, aku pasti bisa menemukanmu"
Dominic mengalungkan tangan kanannya ke pinggang Althea membawanya mendekat. Dia sedikit menunduk dan mendekatkan bibirnya ke telinga Althea,"Karena ikatan ini mengikat kita", Dominic menjilar cuping telinga Althea,"Althea".
Althea menggelinjang merasakan sensasi dingin di telinganya yang kontras dengan kehangatan yang dia rasakan di hatinya. Badannya meronta. Dia sangat menginginkan Dominic.
Dominic melepaskan lengannya dan berjalan menjauh membelakangi Althea.
"Kamu bukanlah fana yang disenangi oleh kaumku Althea. Mereka bernafsu membunuhmu", Dominic berjalan semakin menjauh. Entah kenapa Althea jadi merasa sangat kehilangan padahal demon itu masih berada satu ruangan dengannya. Althea menggerutu dalam hati. Dia harus memutuskan ikatan ini.
Dominic berbalik saat dia sudah sampai di ambang pintu d"Aku akan memanggil beberapa dayang kemari untuk mempersiapkanmu malam ini. Akan ada pesta penobatanmu sebagai permaisuri. Jaga sikapmu malam ini, akan ada banyak kaum yang membencimu datang."
"Ah, maafkan aku", Dominic menyeringai,"Bukan membencimu tapi ingin membunuhmu"
_____LadyAlthea_____
Pesta di kerajaan demon malam itu sangat meriah dan berkelas. Semua petinggi demon dari klan masing masing telah datang memenuhi undangan sang Pangeran. Tidak sedikit pula mereka yang datang ke tempat itu dengan membawa sakit hati dan amarah yang luar biasa. Mereka memiliki satu tujuan. Membunuh makhluk fana yang membunuh keluarga ataupun mate mereka.
Warna iris mereka beragam. Dengan tingkat konsentrat yang unik yang menandakan bahwa mereka bukanlah makhluk yang lemah. Mereka adalah yang terkuat di clan.
Lucius datang dengan kereta kuda mewah dengan kuda kuda hitam yang gagah, disusul beberapa kereta kuda mewah lainnya. Clan tertinggi vampire telah datang. Keretanya berhenti di depan pintu utama istana, dia keluar dari keretanya dan berjalan mendahului clannya memasuki istana. Ketampanan yang sempurna darinya memikat banyak makhluk immortal lain untuk menatapnya memuja. Tapi dia terlihat tidak tertarik. Dia terus berjalan hingga sampai di taman belakang istana yang terlihat sepi malam itu.
_____LadyAlthea_____
Althea menatap penampilannya di cermin. Dia masih tidak menyangka bahwa dia akan terlihat sangat menakjubkan seperti sekarang. Wajahnya diberi make up tipis dan rambutnya digelung tinggi ke atas menyisakan anak rambutnya. Dia memakai sebuah gaun cowl neck tanpa lengan berwarna merah yang panjang menjuntai menyapu lantai.
Tapi tetap saja untuk Althea yang bahkan tidak pernah mengenakan rok seumur hidupnya, gaun ini sangat tidak nyaman dan terlalu terbuka. Entah apa yang telah dilakukan para makhluk immortal itu. Dia belum berpenampilan seperti ini sebelum dia jatuh tertidur tadi. Saat dia terbangun, dia bahkan hampir tidak mengenali perempuan yang menjadi refleksi dirinya di cermin. Otaknya mengingat kejadian tadi saat seorang pelayan istana membawakannya makanan manusia yang mewah dengan cita rasa sangat luar biasa. Walau egonya tinggi, tapi perut lapar mengalahkannya. Saat pelayan itu pergi, Althea segera makan dengan lahap. Setelah itu dia tidak mengingat apapun. Althea menggeratakan giginya kesal. Pasti Dominic membiusnya.
Kini Althea tidak memanggil Dominic dengan sebutan demon lagi. Dia muak saat lidahnya serasa pahit saat memanggil Dominic dengan sebutan demon. Tapi kebalikan saat Althea memanggil namanya. Lidahnya serasa nyaman dan dirinya menggelinyar nikmat.
Althea berjalan menuju jendela besar dan dibukanya. Angin malam langsung menerpa wajahnya. Matanya melirik ke langit. Tanpa bulan ataupun bintang. Althea tersenyum sinis bahkan bulan dan bintang pun tidak sudi menyinari tempat terkutuk ini. Althea menurunkan wajahnya dan menatap padang bunga berwarna ungu yang sangat luas. Tapi tidak ditemukannya satu makhluk pun. Althea tersenyum bersyukur. Mungkin saja pesta itu dilaksanakan di aula depan kastil dan tidak sampai belakang kastil.
Althea mengambil sebuah piasau di antara tumpukan buah buahan dan menyobek gaunnya hingga pertengahan paha. Althea menyelipkan pisau itu ke celana pendek yang dikenakannya. Althea segera melompati jendela dan berayun menangkap sulur sulur yang saling terkait di bawah jendelanya. Althea bergelantungan menuju ke bawah. Saat jaraknya dengan tanah sudah dekat, Althea segera meloncat dan berlari menuju tembok pembatas dan memanjatnya. Kemudian dia terus berlari menembus padang lavender.
Setiap langkah yang diambil Althea membawanya jauh dari kastil Demon. Jauh dari Dominic. Dan setiap langkah yang dia ambil membuat jantugnya berdenyut nyeri. Althea menekan dadanya dan terus berlari.
Ikatan mate bodoh! Alex lebih penting daripada semua hal terkutuk ini.
_____LadyAlthea_____
Aroma manis yang khas terbawa angin tercium oleh Lucius. Lucius memejamkan matanya dan menikmati aroma itu.
Althea
Lucius membuka matanya dan tersenyum. Dia lalu berlari dengan kecepatan kilat mengikuti aroma yang manis itu.
Mungkin malam ini tidak akan semembosankan yang dia kira.
_____LadyAlthea_____
Althea terus berlari meninggalkan kastil itu. Kakinya yang telanjang terasa perih menginjak tanah yang tidak rata. Setiap denyutan jantungnya membuat dadanya sesak. Tapi dia tidak mempedulikan semuanya. Yang harus dia lakukan adalah berlari sejauh mungkin dari kastil terkutuk itu.
Tiba tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang menghentikan langkah kakinya. Lengan yang dingin memeluk leher dan perutnya erat. Kepalanya menempel di d**a bidang yang kokoh. Jantung Althea berdebar dengan cepat.
Aroma cendana dan musk yang menyenangkan memenuhi indra penciumannya. Reflex Althea memejamkan matanya menikmati aroma itu.
"Kamu mau ke mana? Kamu tidak boleh berkeliaran saat ini. Banyak makhluk yang ingin membunuhmu Althea"
Bulu kuduk Althea meremang mendengar nada suara yang sangat merdu dan dingin di telinga kanannya. Althea langsung mengambil pisaunya dan menodongkannya ke pinggang pemeluknya dari samping.
"Lepaskan aku",Althea mendesis berbahaya.
Sosok itu terkekeh dan melepaskan Althea. Althea segera melompat ke depan, dia lalu berbalik sambil menodongkan pisaunya. Matanya terbelakak saat menyadari pemeluknya.
Vampire bangsawan itu. Lucius.
"Halo Althea"
Hati Althea berdesir mendengar suaranya dipanggil dengan begitu menggoda. Jantungnya berdebar dengan cepat.
"Senang bertemu denganmu lagi",Lucius membungkukan badannya memberi hormat khas bangsawan. Lalu kembali berdiri tegak menatap Althea dengan senyuman miringnya yang mempesona. Althea merasa pipinya memanas. Vampire ini sangat mempesona.
"Lady, apakah kamu tahu kalau kamu tidak seharusnya berkeliaran di malam ini? Malam ini akan banyak sekali para immortal yang datang. Mereka bukan makhluk yang lemah sayanh. Dan mereka tidak menyukaimu. Lebih baik untuk kebaikanmu jika kamu kembali ke kastil bersamaku."
Althea terpana bukan hanya rupanya yang menakjubkan, tutur kata dan melodi dari kalimatnya benar benar sangat indah. Mungkin inilah karunia sekaligus kutukan para vampire. Althea berusaha menampik semua pesona itu, walau sulit, tapi darah angel dalam dirinya bergejolak, saat semua itu berkumpul dalam satu titik, irisnya berubah menjadi lebih terang dan dia menatap Lucius dengan tajam,"Aku tidak akan kembali ke kastil terkutuk itu."
Lucius terpana melihat iris yang sangat dia kenal itu, tapi ketika dia berkelip, iris itu kembali pada warna asalnya. Lucius menggelengkan kepalanya, mungkin dia hanya berhalusinasi. Dia kemudian tertawa merdu. Dia berjalan mendekat kepada Althea.
"Berhenti di sana Vampire!"
Lucius tersenyum simpul,"Atau apa? Kamu tahu kamu tidak akan bisa membunuhku dengan pisau buah"
Seperti tersadar, Althea merasakan wajahnya memanas sampai ke leher. Bodoh! Rutuknya dalam hati. Bangsa Vampire hanya bisa mati dengan pasak, perak dan air suci.
"Sebenarnya jika saja berbeda keadaan aku dengan senang hati membantumu pergi dari kastil Althea. Aku tidak suka kamu menjadi mate Dominic."
Mendengar nama Dominic membawa gelenyar kembali pada dirinya.
Lucius kembali tersenyum menggoda,"Tapi sayang, untuk sekarang kembali adalah jalan terbaik."
Tiba tiba angin berhembus dengan sangat keras. Dominic hadir di belakang Althea dan segera merengkuhnya dengan menaruh lengan kanannya pada belakang leher Althea dan tangan kirinya di belakang lutut Althea. Seolah Althea hanya seringan kapas, Althea dengan mudah diangkatnya.
Althea terpekik dan menjatuhkan pisaunya. Reflex lengan mungilnya mengalungi leher Dominic. Mata Dominic kelam tak terbaca menatap Lucius "Seharusnya kamu membawanya kembali ke kastil Lucius"
Lucius menyeringai,"Aku memang sedang membujuknya untuk itu"
Dominic beralih menatap Althea. Althea yang sedang tidak sadar menatap keseluruhan wajah Dominic.
"Kamu tidak seharusnya lari Althea."
Dominic mengepakan sayap hitamnya dan terbang ke langit.