Dominic membawa Althea menuju kastil. Sepanjang perjalanan Althea hanya diam membisu dan menatap betapa sempurnanya pria yang menjadi matenya ini. Tulang wajahnya sungguh sempurna, bibirnya terlihat indah dan mata gelapnya menyorot tajam bagai elang. Althea mengalihkan tatapannya ke sepasang sayap hitam besar itu. Seperti milik para angel, meski dia belum pernah melihat angel langsung, tapi dia pernah melihat rupa sayapnya kakanya dan sayap Dominic jauh lebih mewah dn indah disbanding milik kakaknya, apa mungkin karena kakaknya masihlah half? Dominic lalu turun perlahan setelah melihat balkon kamarnya, Dominic begitu sempurna dengan sayap hitam yang besar nan indha, bagaikan malaikat yang dibuang.
Seandainya Dominic bukan berasal dari kaum yang dibencinya mungkin semua akan berbeda.
Dominic berhenti di balkon kamarnya dan menurunkan Althea dari gendongannya.
"Berhentilah bertindak bodoh dengan melarikan diri. Kamu bisa mati di luar kastil Althea. Di sini aku berusaha melindungimu. Mengertilah keadaan kita sekarang. Aku tidak bisa hidup tanpamu begitupula dengan kamu. Bersabarlah hingga aku bisa memutuskan hubungan ini. Setelah itu kamu bisa pergi atau kita bisa mencoba saling membunuh lagi"
Mendengar kalimat terakhir Dominic entah mengapa membuat Althea sesak dengan perasaan sakit yang menyiksa. Matanya serasa panas. Dia menundukkan kepalanya.Dominic kembali membuka sayapnya dan terbang meninggalkan Althea yang masih menunduk.
Seperginya Dominic, Althea mengusap setetes air bening yang menetes dari matanya. Althea mengepalkan lengannya erat. Dia tidak bisa seperti ini terus. Dia begitu frustasi dengan ikatan mate ini belum lagi Alex yang mungkin dalam bahaya karena mencarinya.
"Aku akan membunuhmu setelah semua ini selesai Dominic"
*******************************
Seperginya Dominic, Althea berjalan masuk ke dalam kamar dan menemukan sebuah gaun lain yang berwarna biru gelap. Althea berjalan mendekat dan melihat sebuah kertas di atas gaun itu.
Pakai gaun ini. Acara peresmian akan dimulai setengah jam lagi.
_Dominic_
Kertas itu dari Dominic ditulis tangan dengan sangat rapi. Althea mengambil kertas itu. Aroma hutan kayu basah menguar dari kertas yang bertekstur halus itu. Tiba tiba perasaan hangat menyelimuti hatinya mengingat Dominic menyiapkan semua ini untuknya. Untuk melindungi dirinya. Sesaat kemudian Althea menyumpah dalam hati.
Perasaan bodoh. Dominic adalah demon. Dia selamanya akan menjadi musuhku. Karena demon adalah musuh abadi bagi angel.
Althea memakai gaun itu. dan menatap pantulan dirinya di cermin. Sebuah gaun V neck yang panjang menyentuh lantai yang terlihat sangat mewah dan berkelas. Gaun ini membentuk lekuk tubuhnya, dari bagian pinggang ke bawah lebih mengembang indah. Gaun ini seribukali lebih baik daripada gaun merahnya. Althea memperbaiki penampilannya, dan menatap pantulan dirinya di cermin besar,"Jika ini untuk kebaikanku sendiri tidak ada salahnya aku menjalaninya."
****************************************************************************************
Alex memasukkan semua barang yang mungkin akan dia butuhkan ke dalam sebuah tas ransel coklat kayu besar yang terbuat dari kulit lembu. Dia akan pergi menyelamatkan Althea. Dari pengetahuan yang dia dapat, dia yakin kalau kastil para demon itu berada di bumi selatan berlindung di balik hutan terlarang. Mengingat Althea berada di kastil demon itu karena Raja Arsandor, membuat dia kembali berang. Besar kemungkinan Althea dalam bahaya berada di kastil terkutuk itu. Semua berita mengenai watak pangeran demon yang mengerikan itu tambah membuatnya khawatir. Dia hanya memohon agar ketika dia tiba di sana, Althea masih hidup.
"Raja b******k!"
Dia tidak akan kembali lagi ke kerajaan ini. Dia tidak sudi dipimpin oleh seorang raja b******k seperti Arsandor III. Dia mungkin akan meminta izin kepada Sang Great Angel agar mengijinkan dia dan Althea tinggal di langit. Alex memasukkan tangannya ke sakunya dan menggenggam sebuah liontin berbentuk sebelah sayap yang dia dapat dari Great Angel.
“Jika kamu sudah memutuskan untuk tinggal di langit, gunakan liontin itu dan panggil Aku. Kami selalu terbuka untuk keluarga, karena meski bagaimana pun, darah kaum kami mengalir dalam nadimu dan saudarimu”
Alex menggelengkan kepalanya dan mengikat tasya. Dia mengambil tasnya dan berjalan ke arah pintu. Alex menaruh ranselnya di atas kuda tunggangnya dan ikut menaiki kuda itu.
"Alex!"
Alex menoleh mendapati Marcus berlari menghampirinya.
Marcus Stefanus.
Seorang pejuang muda yang dilatih langsung oleh Alex. Marcus berasal dari panti asuhan. Mereka bertemu saat Marcus menjalani wajib campnya. Kebetulan saat itu timnya dipegang oleh Alex. Alex melihat kemampuan Marcus dan ikut teringat akan dirinya di masa muda. Alex memutuskan untuk mengajarinya secara pribadi. Terlebih karena latar belakang Marcus yang sebatang kara. Marcus mulai sering makan atau bermalam di rumah Alex. Hal ini membuat Marcus terasa seperti keluarga.
"Apa yang kau lakukan di sini Marcus?"
"Aku ingin ikut denganmu."
Alex menggeleng tegas,"Tidak. Perjalanan kali ini akan sangat berbahaya. Aku akan pergi ke kastil demon Marcus! Di sana pusat seluruh kerja sama para makhluk immortal. Letaknya di Bumi Selatan, perjalanan kita dari ujung ke ujung. Kamu bisa mati bahkan sebelum tiba di sana."
Marcus tersenyum lebar,"Begitu juga kamu Alex. Jangan lupa kalau aku adalah muridmu yang terbaik. Aku tidak akan mati secepat itu."
Alex menatap laki laki berumur 15 tahun di depannya ini,"Kurasa kamu akan tetap ikut walau aku melarangnya"
Marcus mengangguk semangat,”Aku akan tetap mengikutimu meski harus masuk ke dalam ransel”
Alex menggelengkan kepalanya,"Ambil kudamu. Aku akan menunggumu di gerbang selatan. Dalam 15 menit kamu tidak datang, aku pergi sendiri"
_LadyAlthea_
Althea menuggu dalam kamar Dominic dengan jantung berdebar dengan sangat cepat. Para dayang kastil tidak memperbolehkannya keluar kamar. Mereka bilang Dominic yang akan menjemputnya sendiri. Sebenarnya dia bisa saja memberontak dan malah berduel dengan para dayang yang sangat terlihat tidak menyukainya itu, tapi malam ini, malam besar. Dia harus bersabar.
Althea berdiri dari kasur dan kembali berjalan mondar mandir. Dia merutuki dirinya sendiri. Bisa bisanya dia segugup ini hanya untuk bertemu para immortal terkutuk itu. Althea mengigit bibirnya frustasi. Ini tidak seperti dirinya. Dia yang biasanya adalah seorang wanita kuat yang berani dan tidak akan takut dengan hal sepele seperti ini. Demi Tuhan, dia sudah terbiasa bertarung dengan makhluk makhluk itu. Harusnya dia tidak segugup ini. Tiba tiba sebuah pemahaman mendera benaknya. Dia merasakan pipinya memanas. Dia gugup sekarang bukan karena pestanya tapi karena dia akan berpasangan dengan Dominic.
ceklek
Pintu kamar terbuka menampilkan sosok sempurna Dominic berbalut tuksedo hitam mewah. Wajahnya dingin dan menatap datar. Althea merasa jantungnya akan meloncat melihat sosok Dominic yang tiba tiba datang. Dia tampil dengan sangat sempurna.
"Althea", Dominic mengulurkan lengan kanannya.
Althea meremas jemarinya. Dia harus melakukan ini paling tidak untuk mengansuransikan nyawanya. Dia tidak boleh mati sekarang. Dia harus bertemu Alex. Dan dengan peresmian ini, dia tidak akan dibunuh oleh musuhnya selama ini. Setelah dia menghela nafas panjang, Althea melangkah dan menjawab panggilan lengan Dominic.
Dominic merasakan lengan mungil yang hangat berada di genggamannya yang besar dan dingin. Dia berjalan mendekati Althea dan mengalungkan lengan yang tadi di genggamannya ke lengannya. Dominic berjalan bersama Althea menuju Ruang Utama.
_LadyAlthea_
Suasana yang hiruk pikuk seketika berubah menjadi sunyi saat Dominic dan Althea memasuki ruangan. Semua mata menatap mereka dengan berbagai emosi. Kemarahan juga geram mendominasi ruangan bahkan beberapa ada yang tidak sungkan mengeluarkan taringnya.
Althea secara tidak sengaja meremas lengan Dominic. Membuat Dominic berpaling dan melihat wajah Althea yang tegang. Dominic menepuk lengan Althea yang meremasnya lembut, dia lalu menatap Althea dengan lembut menenangkan matenya itu. Althea tersentak melihat pandangan mata yang tidak pernah ditampilkan Dominic sebelumnya. Perasaan hangat menjalari hati Althea dan tiba tiba dia tidak mempedulikan semuanya lagi. Hanya Dominic. Dominic menghentikan langkahnya saat dia sudah berada di sebelah ayahnya. Berada di depan para tamu yang bukan manusia.
"Selamat malam. Terimakasih atas kehadiran teman teman sekalian ke kastil kami malam ini. Maksud saya mengadakan acara ini, adalah untuk meresmikan pernikahan anak tunggal saya."
Keadaan sunyi tidak bertahan lama semua mulai berbicara mengomentari tuturan sang Raja.
"Permaisuri Kerajaan Demon yang baru adalah Althea Alexandra Kiel."
Segala protes mulai dilancarkan. Melihat itu semua Dominic geram. Dia maju dan menyapu semua orang dalam ruangan itu dengan tatapannya yang tajam. Kedua lengannya terulur dan mencengkram kayu pelitur yang menjadi pembatas antara tempatnya berdiri dan tamu tamu di bawahnya. Seolah dengan gestur itu menunjukkan bahwa dia tidak segan segan melancarkan bakatnya untuk menghabisi siapapun yang menentang keinginannya. Intimidasi yang diberikan lewat tatapan mata itu membuat seluruh makhluk di ruangan itu terdiam.
"Aku dan dia terikat mate"
Suara pekikan terdengar.
"Suka atau tidak, dia sekarang adalah permaisuriku. Mate milikku. Aku dan seluruh kaumku akan mengangkat pedang untuk melindungi Sang Permaisuri. Dan kuharap kalian semua tidak lupa bahwa aliansi ini terbentuk akibat kaumku yang memenangkan perang beribu tahun yang lalu."
Semua orang terdiam mendengar penuturan Dominic. Memang benar, aliansi ini terbentuk bukan karena seluruh kaum memang menginginkan kedamaian, tapi karena Kaum Demon menjadi pemenang dalam perang perebutan kekuasaan beribu tahun yang lalu. Jika bukan karena keinginan sang raja demon, bukan tidak mungkin Dominic membantai semua kaum yang lain selain Demon. Dominic terkenal sebagai pangeran yang kejam bukan tanpa alasan. Dan dengan semua gesture dan kalimat penuh intimidasi Dominic, Dominic seperti memberi peringatan, bahwa siapapun yang menyentuh matenya, maka kematian akan menjadi hadiahnya.
Althea yang dari tadi hanya berdiam diri menatap Dominic dengan pandangan yang berbeda. Doninic yang dia tahu adalah monster dingin haus darah yang selalu merendahkan orang lain. Tapi, setelah menghabiskan hari bersama Dominic, Althea tau kalau Dominic merupakan sosok yang bisa dikatakan dia andalkan. Dominic melindunginya, meski Althea hanyalah manusia. Meski pun hubungan yang mengikat mereka adalah ikatan mate, tapi Dominic seolah siap mengakhiri aliansi ini hanya untuk Althea. Althea menundukkan wajahnya ketika dia merasa kehangatan menjalari pipinya.
Terdengar kekehan kecil membelah sunyi yang mencekam. Semua mata terarah pada sang pemilik suara. Sang Pangeran Vampire. Lucius.
"Aku dan seluruh klanku bersumpah tidak akan menyakiti permaisuri kaum Demon"
Althea mengangkat wajahnya ketika mendengar suara lembut yang selalu bisa mencuri perhatiannya. Dia menatap Lucius yang terang terang sedang memperhatikannya. Lucius memang makhluk paling mempesona yang pernah dia temui. Lucius mengedipkan sebelah matanya dan Althea langsung merasa wajahnya memanas lagi.
Semua itu tidak luput dari perhatian Dominic. Dominic mengeratkan kepalan tangannya. Dia sudah ingin pergi ke sana dan menerjang Vampire sialan itu, tapi jika dia lakukan sekarang, itu tidak akan baik untuk pertemuan kali ini. Dominic berusaha menahan geramnya. Dia beralih menatap Malvoy yang berdiri diam di sudut ruangan,"Malvoy"
Malvoy menyeringai menampilkan deretan gigi putih bersihnya.
"Aku dan seluruh kaumku pun bersumpah tidak akan melukai Althea Alexandara Kiel"
___LadyAlthea___
Dominic berdiam diri di sudut kamarnya. Di bawah bayangan gelap hingga sosoknya kini tidak kentara. Dia terus menatap Althea yang tertidur di kasur besarnya sendirian. Entah kenapa Dominic tidak bisa melepaskan pandangannya. Dia ingin bergabung di sebelah Althea. Walau demon tidak tidur, tapi godaan untuk bisa berbaring di sebelah Althea begitu menggoda. Dominic mengeratkan giginya. Dia harus bisa menahan semua godaan ini. Walau dia tersiksa, dia harus melakukannya. Dia tidak bisa membiarkan dirinya terpuruk jika suatu saat Althea meninggal. Walau dia tidak mau kehilangan Althea, dia tidak bisa melawan takdir. Jika sudah batas umurnya, semua manusia akan mati. Cepat atau lambat.
"JANGAN BUNUH MEREKA! KALIAN MAKHLUK MENJIJIKAN!"
Dominic tersentak dari lamunannya. Dia langsung waspada melihat Althea yang meronta kesakitan di atas kasur. Dengan sigap Dominic berlari ke sebelah kasurnya dan mengernyit melihat Althea yang tertidur tapi bergerak gelisah. Keringat bercucuran dari keningnya.
Dia mimpi buruk.
"Althea"
Althea tidak merespon. Dominic segera duduk di ujung kasur dan menggoncang tubuh Althea.
"ALTHEA!!"
Althea masih tetap tertidur. Keringat bercucuran dari keningnya. Dia gelisah terus bergerak dalam tidurnya. Dominic mengernyitkan keningnya. Melihat Althea yang seperti ini seperti membangkitkan sisi primitifnya. Sisi primitif untuk mengenyahkan semua ketakutan wanitanya itu. Dia menatap Althea. Dan mengulurkan lengannya membingkai wajah Althea. Aura dingin yang menusuk langsung menyentak Althea dari tidurnya. Mata Althea langsung berhadapan dengan iris hitam legam yang menatapnya tajam.
Althea tidak bisa menahan perasaannya. Dia ketakutan dengan mimpinya.Semacam trauma, kenyataannya dia tidak pernah di sana ketika ibu dan ayahnya meregang nyawa di tangan para vampire menjijikan itu, tapi dalam mimpinya seolah dia berada di sana, seolah dia tidak berdaya melihat kedua orang tuanya dibunuh dengan bruntal, dan dimakan hingga habis.
Dominic tertegun melihat bulir bening dari mata Althea yang terlihat begitu tersiksa,"Kam.."
"Jangan pergi"
Dominic tertegun mendapati jemari mungil Althea ikut menangkup jemari Dominic yang membingkai wajahnya. Jemari hangat itu tampak bergetar, entah akibat mimpi buruknya atau karena meminta hal seperti ini pada Dominic.
"Jangan pergi untuk malam ini saja",Althea benar benar tidak memiliki pegangan sekarang. Hingga dia harus merendahkan dirinya untuk meminta pada makhluk terhina yang dia benci. Tapi, dia tidak menyangkalnya, kini semua ketenangan yang dia butuhkan hanya ada pada Dominic.
Dominic menarik lengannya lembut. Dia lalu perlahan naik ke atas ranjang. Menyusup ke dalam selimut yang menutupi badan Althea. Punggungnya bersandar ke kepala ranjang dan pinggang ke bawahnya tertutup selimut.
"Mendekatlah"
Althea segera masuk ke dalam rengkuhan Dominic. Kepalanya bersandar ke d**a telanjang Dominic. Lengannya bertumpu pada perutnya. Anehnya suhu tubuh Domonic yang dingin tidak menjadi masalah untuk Althea. Justru dia bisa merasakan dingin yang nyaman. Hati Althea berkecamuk. Di satu sisi dia membenci dirinya karena harus terlibat hal memalukan seperti ini. Di sisi yang lain, dia tidak bisa membohongi dirinya karena tubuhnya menginginkan ini.
Perlahan perasaan aman karena terlindungi menyusup ke dalam hati Althea. Melelehkan tembok besi yang sudah lama terbangun walau masih terhambat oleh ego dan dendam.
Dan mata Althea terpejam perlahan.
Dominic merasa dirinya kaku mendapat perlakuan yang tidak pernah dia sangka sebelumnya dari Althea. Saat badan mungil itu meringkuk ke arahnya, seluruh sel dalam tubuhnya bersorak. Lengannya masih mengambang di udara. Tidak tahu apa yang harus dia perbuat. Lengannya perlahan turun turut merengkuh Althea diiringi getaran ketidak percayaan. Saat lengan itu menyentuh Althea, Althea secara refleks mendesah puas dan langsung rileks karena nyaman. Bibir Dominic terangkat kecil untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun. Dia mengetatkan rengkuhannya.
Aku tahu aku harus lekas memutuskan ikatan ini. Ikatan mate ini hanya akan membawaku pada kematian cepat atau lambat. Ikatan ini juga hanya akan melemahkanku. Dia hanyalah seorang makhluk fana rendahan. Sungguh berbeda dengan aku yang adalah pangeran demon. Tapi aku tidak tahu kenapa ini terasa benar. Untuk sekarang aku akan membiarkannya untuk sekejap.