Alex menebas kepala vampire rendahan terakhir yang berusaha menyerang mereka tadi. Alex dan Marcus sudah berhari hari menyusuri bumi timur untuk menuju bumi selatan. Entah apa yang terjadi, para immortals itu seperti sudah memperkirakan kedatangan Alex dan Marcus. Semua makhluk immortals menyerang mereka. Dari werewolf, vampire hingga demon. Tapi mereka terlihat bukan bagian dari vampire bangsawan atau dari werewolf pejuang ataupun dari demon berdarah murni. Mereka terlihat seperti werewolf, vampire dan demon kelas rendahan.
Mungkin karena Aroma tubuh Alex yang manis menarik banyak makhluk untuk menikmatinya. Darah angel dalam tubuh Alex memang sedang bergejolak. Keinginan sang pemilik tubuh untuk mencari adiknya sangatlah kuat hingga membangunkan sosok Angel yang terlelap dalam tubuh half miliknya.
Seperti tadi saat mereka sampai di hutan terlarang pembatas Bumi Timur dan Selatan, tiba tiba sekelompok vampire kelas rendahan datang menyerang mereka. Mereka menyerang dengan membabi buta tanpa arahan. Hanya berusaha menggigit Marcus dan Alex. Tapi tentu saja Alex dan Marcus bisa mengatasi mereka semua. Kemampuan Alex tidak perlu diragukan lagi dan Marcus, dia tidak akan menjadi pejuang terbaik di usianya tanpa alasan.
"Alex"
Alex menoleh mendapati Marcus yang berlari ke arahnya. Marcus tampak kacau dengan baju yang sudah banyak terkoyak dan muka yang lebam.
"Hari sudah mulai malam, sebaiknya kita beristirahat dulu. Perjalanan akan kita lanjutkan besok pagi. Dari pengamatanku sepertinya malam ini menjadi bulan purnama pertama musim gugur"
Alex terdiam. Bula purnama pertama di musim gugur. Musim gugur saja sudah sangat merepotkan karena menjadi waktunya para demon berburu. Dan kini ditambah bulan purnama pertama. Waktu di mana para werewolf berada di puncak kekuatannya. Tidak masalah bagi mereka jika menghadapi para werewolf petarung yang bisa dengan mudah mengendalikan kekuatannya. Yang menjadi masalah adalah para werewolf muda. Mereka cenderung kehilangan akal dan berburu membabi buta.
Ingatan Alex kembali ke tahun tahun lalu. Saat dia masih menjadi pejuang di Kerajaan Erovah. Setiap Bulan purnama pertama musim gugur , hampir seluruh pejuang berjaga di perbatasan. Dia ingat bagaimana Althea yang sangat bersemangat. Bagaimana Althea menikmati waktu mereka. Bibir Alex melengkung membentuk senyuman.
Aku akan menemukanmu Althea.
"Alex?"
Alex menoleh ke arah Marcus.
"Bisa kita berkemah di sini? "
Alex menggeleng,"Kita akan mendirikan kemah di dekat sungai. "
_LadyAlthea_
Althea menatap padang lavender dari balkon kamar Dominic. Dominic sudah menghilang sejak tadi pagi, sejak dia pertama bangun. Sialan. Entah kenapa dia merasa kesal sejak dia bangun tadi dan tidak mendapati Dominic di sampingnya. Tiba tiba bayangan Dominic melintas di benaknya. Althea termenung. Dari buku buku yang pernah dia baca dituliskan dengan jelas kalau sepasang mate kaum immortals tidak akan bisa menolak satu sama lain. Dan tubuh mereka cenderung menagih untuk bisa berdekatan. Mereka umumnya akan selalu berusaha untuk bisa berhubungan badan. Tapi sampai sekarang pun Dominic belum pernah menyentuhnya. Dominic seperti menghindarinya.
Althea menggigit bibirnya.
Apa yang kupikirkan tadi?! Apa aku berharap Dominic menyentuhku ? Aku bisa gila. Hubungan rumit ini benar benar membuatku hampir kehilangan akal.
Althea menatap hutan gelap yang berada di ujung penglihatannya. Bukankah harusnya bagus jika Dominic tidak menyentuhnya? Dengan begitu, dia bisa lebih mudah memutuskan ikatan ini. Alex pasti tau bagaimana cara memutuskan ikatan ini. Walau jika tidak pun, Alex bisa menggunakan koneksinya dengan The Great Angel untuk membantunya memutuskan ikatannya. Althea mengepalkan jemarinya. Dia akan kembali berusaha kabur.
"Althea"
Suara dalam dan dingin memanggil namanya dalam sebuah melodi yang menggetarkan jiwa. Althea perlahan menengok dan mendapatkan sosok Dominic sudah berdiri di belakangnya. Althea menatap Dominic. Memanjakan matanya dengan pemandangan di depannya. Dominic tampak sempurna seperti biasa. Dengan pakaian berperangnya yang mewah membuatnya tampak berwibawa dan tampan.Jantung Althea berdetak dengan cepat. Seluruh selnya berontak menuntut Althea masuk ke dalam dekapan Dominic. Althea mengeraskan wajahnya menahan gejolak dalam dadanya.
"Mau apa kamu ke sini?"Althea mengangkat dagunya dan menatap Dominic menantang.
Dominic menata Althea datar,"Ini kamarku"
Althea mengepalkan jemarinya. Dia sungguh benci sikap angkuh Dominic. Tanpa mengatakan apapun, Althea kembali membalikkan badannya.
Angin berhembus menerpa wajah Althea dengan lembutnya. Mempermainkan rambutnya.
Dominic menutup matanya menikmati aroma manis yang menguar dari tubuh Althea. Rambutnya yang dipermainkan angin menyentuh hidungnya malu malu. Dominic begitu menyukai aroma ini. Aroma manis khas yang hanya dimiliki Althea.
Mata Dominic terbuka. Dia melangkah semakin mendekatkan badannya kepada Althea. Dia menunduk dan menyingkirkan rambut yang menutupi telinga kanan Althea. Perlahan dia membenamkan wajahnya ke cerukan leher itu membuat Althea menahan nafas karena sikap impulsif Dominic.
"Aku sungguh membenci aroma manis dari dirimu Althea. Kamu membuatku gila. Ikatan Mate ini benar benar mempengaruhiku. Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Dan badanku terus menuntutku untuk berada di dekatmu. Kamu sebenarnya apa Althea? Kenapa kamu melakukan ini padaku? "
Nafas Althea tercekat. Jantungnya berdebar dengan sangat cepat. Kedekatan ini terasa intim. Althea bisa merasakan bibir Dominic menempel di ceruk lehernya.
Lengan kanan Dominic terulur dan memeluk perut Althea membawa Althea semakin mendekat kepadanya,"Kamu tahu aku akan mencari cara untuk memutuskan ikatan ini. Kau dan aku tidak seharusnya terikat seperti ini"
Dada Althea terasa sesak mendengar penolakan Dominic. Matanya terasa panas. Althea menutup matanya. Menekan rasa nyeri pada tubuhnya.
"Tapi kenapa aku tidak mau? Rasanya begitu menyakitkan hanya dengan membayangkannya. Jika aku membiarkan kita terikat, apakah kamu mau mendampingiku Althea?" Dominic berbisik lirih, dia lalu menghirup leher Althea dalam dan melepaskan tubuh mungil yang didekapnya. Dia berbalik dan melangkah menjauh.
Althea merasa hampa seiring dengan badan Dominic yang menjauh.
"Aku akan pergi ke bumi barat. Kerajaan werewolf diserang. Aku dan sekutu yang lain akan membantu. Mungkin paling cepat aku akan pulang dalam tiga hari atau paling lama mungkin seminggu."
Althea tercekat. Dia harusnya senang Dominic akan pergi. Karena dengan begitu dia bisa mencoba melarikan diri lagi dan mencari Alex. Tapi tidak. Dia tidak merasa senang. Justru dia merasa takut. Takut ditinggalkan dan takut terjadi hal buruk pada Dominic. Rasa takut ini seolah mencekiknya kuat.
Althea berbalik dan menatap Dominic yang sudah berdiri di pintu balkon masih menatapnya.
"Demoniac Witches Black sepertinya telah mendapatkan sekutu. Dari informasi yang aku dapat, mereka mulai menyerang klan klan werewolf dari yang terkecil hingga ke kerajaan. Dari serangan mereka, sepertinya mereka hendak mengambil alih bumi barat dan dimulai dari kerjaan werewolf. Karena itu, mereka harus dihentikan. Karena mereka tidak akan puas jika hanya menguasai sebagian bumi",Tidak tahu mengapa, Dominic merasa perlu menjelaskannya pada Althea.
Demoniac Witches Black.
Althea pernah mendengar nama itu dari ibunya. Dahulu ibunya pernah berbincang bersama ayahnya. Mengenai seorang demon yang diberi anugerah oleh Sang Great Angel. Dahulu sekali sebelum peradaban manusia menjadi banyak, sebelum para werewolf dan vampire membangun kejayaan mereka, di saat para elf dan creature masih menghuni bumi, saat demon berkuasa atas seluruh bumi, para demon bersikap serakah dan haus kekuasaan, bertindak semenamena di bumi. Kehancuran di mana mana. p********n di bawah tirani demon terkuat yang kejam. Seluruh Angel gusar dengan kejadian yang menimpa bumi. Tapi mereka hanya bisa menjadi penonton. Karena sudah menjadi kodratnya para angel cinta damai. Setiap darah yang ditumpahkan oleh tangan mereka akan membawa kutukan pada diri mereka. Kecuali jika dilakukan karena mengancam keselamatan mereka atau jika itu merupakan suatu tugas.
Dan Sang Great Angel pun hanya diam. Bukan karena hukuman yang berlaku tapi karena dia menjalin cinta terlarang dengan seorang demon wanita.
Asteria.
Demon wanita ini walau dia adalah makhluk terkutuk, tapi memiliki hati yang bersih. Membuat rupanya begitu agung di antara demon yang lain. Asteria sebenarnya sudah muak dengan semua kejahatan yang dilakukan kaumnya. Tapi dia selalu menahan diri, karena bagaimana pun kejahatan kaumnya, dia tidak akan bisa membunuh keluarganya sendiri. Hingga suatu ketika, para demon mulai mengincar angel yang tinggal di bumi. Entah dari mana mereka memiliki pengetahuan jika mereka memakan daging angel dan meminum darahnya, maka mereka akan memiliki kekuatan sang angel. Dan mereka mulai memburu para angel secara tersembunyi. Hal ini membuat Asteria terusik. Dia datang menemui Sang Great Angel dan meminta agar Sang Great Angel menghentikan semua kejahatan demon di bumi.
Sang Great Angel mulanya akan turun sendiri ke bumi, tapi karena semua larangan dan hukuman yang akan diterimanya, Asteria menolak. Dia hanya meminta kekuatan. Kekuatan untuk menghentikan keluarganya, kekuatan untuk mengembalikan keadilan. Dan sang Great Angel memberikannya kekuatan yang luar biasa hebat. Tapi tentu itu semua dengan bayaran mahal. Sepeninggal Asteria, Sang Great Angel menitikkan air mata , karena itulah pertemuan mereka yang terakhir.
Semua angel dilarang memiliki hubungan dengan makhluk lain selain kaumnya sendiri. Angels adalah kaum tersuci yang diwajibkan memiliki keturunan berdarah murni. Jika mereka melanggarnya, hukuman alam akan menimpanya.
Sang Great Angel sudah melanggar peraturan pertama. Karena itu dia kehilangan sayapnya, tapi karena dia adalah yang teragung, dia masih bisa bertahta di langit. Dan kini, Dia melanggar perintah ke dua, yaitu Memberikan kekuatan pada makhluk terkutuk. Saat itu juga, seiring air mata yang terjatuh, sayap keagungan Sang Great Angel mulai tampak kembali. Seiring dengan hatinya yang menghilang. Dan dia kehilangan semua perasaannya.
Asteria kembali ke bumi. Dia mulai mengembalikan semua keadilan yang hilang. Dia membagi bumi agar bisa dihuni tiap makhluk yang berbeda. Dan dia membunuh semua demon yang jahat. Dia menggunakan semua kekuatan yang diberikan oleh kekasihnya Sang Great Angel. Dengan kekuatan itu dia bisa menguasai kelima elemen bahkan elemen elemen baru. Dan seiring penguasaan atas semua elemen itu, terbentuklah Justice Sword. Sebuah pedang berwarna putih tulang dengan guratan hitam berganggang emas cemerlang yang hanya bisa digenggam makhluk terkuat dengan hati yang bersih. Dengan pedang itu dia bisa mengembalikan keadilan di muka bumi. Dan dia menjadi makhluk terkuat di muka bumi.
Semua tugasnya sudah selesai. Bumi kembali ke keadaan yang damai tentram. Asteria bermaksud berterimakasih pada sang kekasih. Dia menempuh perjalanan panjang menuju tempat di mana semua aurora berkumpul. Gerbang kediaman para angel.
Saat dia tiba di sana, naas baginya. Sang Great Angel tidak mengenal siapa dirinya. Para angels penjaga gerbang bahkan mengusirnya. Sang Angel bahkan menolak menatapnya dengan alasan dia adalah makhluk terkutuk. Asteria sangat kecewa. Hatinya terluka karena penolakan dan penghinaan sang Kekasih. Dia kembali ke bumi selatan seiring dengan pedang justice sword yang menghilang.
Dalam kesedihannya , dia dipersunting oleh seorang demon. Mereka menikah dan dikaruniai banyak anak. Anak anak yang istimewa dengan bakat elemen yang lengkap. Tapi, kegelapan dalam hati ibu mereka, buah dari sakit hatinya ikut diturunkan ke sebagian anak.
Anak anak dengan hati yang bersih dan kekuatan yang luar biasa, merekalah demoniac witchess white. Para penjaga keseimbangan bumi. Dan anak dengan hati yang gelap dan kekuatan yang dahsyat, merekalah demoniac witches black.
"Apa yang kamu fikirkan?"
Althea tersentak saat jemari sedingin es menyentuh pipinya. Dia mengerjapkan matanya dan menatap iris hitam pekat yang menatapnya dalam,"Dominic"
Dominic tersenyum kecil mendengar Althea memanggil namanya,"Apa yang kamu fikirkan? "
Althea menundukkan kepalanya,"Para black ini. Mereka bukanlah lawan yang lemah. Mereka luar biasa kuat. Mereka memiliki darah demon dan kekuatan mereka nyaris setara angel."
Dominic menipiskan bibirnya dan menatap Althea tajam,"Aku tahu"
Althea sebenarnya tidak ingin Dominic pergi. Dia takut. Dia takut kehilangan Dominic. Althea merutuki dirinya sendiri. Apa yang dia fikirkan? Justru bagus jika Dominic mati, maka ikatan mate ini akan terputus. Tapi, bagaimana jika darah angel dalam dirinya lebih kuat dari yang selama ini dia fikirkan? Bagaimana jika dia akan mengalami kematian jiwa jika dia kehilangan Dominic? Apa dia sudah siap menanggung semua konsekuennya? Dan terlebih dari semua itu, apa dia siap kehilangan Dominic?
Dominic menyentuh dagu Althea dan membawa wajahnya agar menatapnya kembali,"Apa yang kamu fikirkan? "
Ditatap sedemikian intens oleh Dominic membuat wajahnya memanas. Dia menggigit bibir bawahnya.
Dominic merasa gejolak kecil dalam dirinya saat dia melihat Althea meggigit bibirnya. Tanpa bisa dicegah, Dominic menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Althea. Membuat Althea terbelakak menatap tidak percaya.
"Jangan gigit bibirmu. Aku bisa melakukan hal yang lebih dari ini"
Jantung Althea berdegup sangat cepat. Seluruh selnya bersorak gembira. Tubuhnya menginginkan lebih dari ini.
Dominic memiringkan kepalanya menunggu jawaban Althea yang tidak kunjung muncul,"Jawab aku Althea, apa yang kamu fikirkan? "
"Tidak bisakah kamu tidak pergi? "
Dominic mengernyitkan keningnya,"Apa maksudmu? "
"Lawanmu Demoniac Witches Black"
Dominic menatap Althea tajam. Dia melepaskan jemarinya dan membalikkan badannya menjauh dari Althea,"Jika kamu berfikir aku selemah itu hingga bisa kalah oleh para demon penyihir itu, kau menyinggungku Althea. "
Dominic kembali berjalan meninggalkan Althea yang masih termangu.
"AKU HANYA MENGKHAWATIRKANMU DEMON SIALAN! SALAHKAN HUBUNGAN MATE b******k INI!"
Dominic berhenti. Dia berbalik dan terkejut melihat Althea yang sudah berlari ke arahnya dan melemparkan tubuhnya kepada Dominic. Dominic segera menangkapnya. Althea memeluk Dominic erat.
"Aku benci hubungan mate ini. Aku benci harus terus bergantung padamu. Aku membencimu makhkuk terkutuk yang menjadi pasanganku. Jangan mati. Kembalilah dengan selamat"
Althea melepaskan pelukannya. Dia segera berbalik, saat dia akan melangkah, tiba tiba lengannya dicekal dan dia ditarik paksa hingga badannya membalik dan membentur d**a bidang yang dingin. Althea mengangkat wajahnya dan tiba tiba Dominic mendekatkan bibirnya. Dominic melumat bibir mungil Althea dengan kuat. Penuh dengan perasaan mendamba yang tersiksa. Dominic sudah menunggu ini. Sudah sejak pertama kali, sejak dia merasakan hubungan mate dengan Althea dia harus menahan dirinya agar tidak menyentuh Althea. Dia takut tidak bisa menahan diri. Dia takut melukai Althea. Sudah kodratnya seorang makhluk immortals terlahir dengan badan yang kuat dan tak berperasaan. Dan manusia penuh dengan kerapuhan dan kelembutan. Dominic takut menyakiti Althea. Dia takut jika sentuhannya hanya akan meremukkan tubuh mungil Althea. Dan kini, saat dia bisa merasakan sedikit rasa milik Althea, hatinya diselimuti perasaan hangat yang kuat. Sel sel tubuhnya bergetar karena dambaan. Ketika dia merasakannya sedikit, dia merasa tidak bisa berhenti. Dan dia menginginkan lebih. Dominic mengerang tidak rela saat dia menghentikan ciumannya. Dia teringat dengan kewajiban yang harus dia lakukan. Dia membuka matanya dan melihat wajah Althea yang memerah sambil memejamkan mata.
Dominic tersenyum kecil.
Dia sangat cantik. Kelembutan, kehangatan yang tidak pernah kami miliki.
Althea perlahan mengerjapkan matanya. Dia menatap Dominic dengan mata berkabut.
"Jika kamu bisa menyalahkan ikatan ini, maka aku juga akan melakukan hal yang sama. Tunggu aku, saat aku pulang, aku akan menyatukan diri kita Althea"