Lampu kota Jakarta menyala terang, seharian dikurung di gudang membuatku tidak sadar bahwa sudah malam. Beruntung tadi pagi datang bulan, jadi tidak perlu salat. Azan magrib terdengar. Mobil masih melaju kencang di jalan tol, andai memakai jalan biasa di jam pulang kerja seperti ini pasti terjebak macet.
Aku melihat ke depan, pria berwajah dingin mengenakan jaket hitam masih tanpa ekspresi. Dari tadi tidak bersuara sedikitpun, hanya Arjun yang mengoceh tentang banyak hal. Dilihat dari sorot mata Arjun, sepertinya mereka kenal dekat.
Tampangnya sangar, membuatku takut bertanya kenapa dia menyelamatkan kami? Siapa dia? Apa hubungannya dengan Arjun? Sekali lagi aku hanya bisa diam, tidak berani bertanya.
Namun, siapapun pria misterius itu, dia orang sudah menyelamatkan kami. Satu hal yang pasti, dia orang baik.
Paspor sudah di tangan, aku berniat mengajak Arjun keluar negeri sampai dia dewasa. Nanti kami bisa pulang ke Indonesia dan mengambil alih harta warisan dan aset yang dipegang Tante Fera, harus menunggu sampai Arjun cukup umur. Sehingga kami tidak butuh wali. Arjun bisa menjadi waliku begitu juga sebaliknya. Kami akan aman.
"Kita mau ke mana?" tanyaku. Memecah suasana canggung ini.
"Rumah." Pria itu menjawab singkat, padahal sedari tadi tidak menanggapi omongan Arjun. Cukup mengherankan karena berpikir Arjun yang akan menjawab pertanyaanku.
"Arjun, negara apa yang kamu sukai?"
"Kenapa Kakak tanya negara?"
Arjun menoleh ke belakang, matanya berkedip bingung. Wajahnya masih lebam, di sudut bibirnya ada darah yang mengering dan bengkak. Sepertinya dia tidak menghiraukan rasa sakit, malah ekspresinya sangat senang karena bisa keluar dari rumah.
"Kita harus kabur keluar negeri," jawabku.
Di tempat baru nanti hidup kami akan lebih baik, uang tabunganku cukup untuk membiayai sekolah Arjun. Aku juga punya aset atas namaku sendiri, bisa dijual selama berada di luar negeri.
Aku akan mengurus visa keberangkatan setelah Arjun memutuskan ingin sekolah di mana, sementara kuliahku sendiri akan mengambil cuti.
"Lalu kita tinggalin yayasan Ayah di sini? Di tangan Tante Fera? Mereka bisa mati, Kak."
Aku tahu hal itu, bukan berarti aku tidak peduli. Yayasan penghafal Al-Qur'an, anak yatim dan panti jompo. Dana mereka dari keluarga Candra Grup. Jika sampai harta warisan kami jatuh ke tangan Tante Fera sudah dipastikan semua yayasan itu akan dibubarkan.
Namun bagaimana? Jangankan menyelamatkan mereka, menyelamatkan diri sendiri saja tidak bisa. Dari pada mati sia-sia di sini, bukankah lebih baik kami pergi dan kembali lagi beberapa tahun kemudian?
Aku bukan malaikat tak bersayap seperti kata orang, realistis untuk keselamatan adikku jauh lebih penting. Sakit jika memikirkan yayasan yang ayah besarkan akan hancur, tetapi aku tidak bisa ambil resiko bertahan di sini.
"Kita nggak ada pilihan, Jun." Aku memalingkan wajah, melihat ke langit yang sudah sepenuhnya gelap.
Sebenarnya semuanya bisa terselesaikan asal Roan menikahiku, harta warisan dan aset tidak akan jatuh ke tangan Tante Fera. Namun, Roan sudah terang-terangan menolak.
Aku mulai paham jalan pikiran Roan, dia tidak akan menikahiku selama apapun aku menunggu. Dia ingin aku mundur dan tahu diri dengan sendirinya.
"Kak...."
Aku tetap memalingkan wajah, keputusan sudah bulat. Kami akan pergi. Namun, kenapa d**a ini terasa sakit. Tanganku memutar cincin yang tersemat di jari manis selama tiga tahun. Harus dikembalikan kepada pemiliknya.
"Mas eh Bang, emb itu... besok bisa tolong antarkan aku ke kantor Nathanael Grup?"
"Aku bukan supir," jawab pria berjaket hitam singkat. Membuatku kehilangan kata-kata. Ditolak dengan begitu cepat.
Aku takut pergi sendiri dan bertemu Tante Fera, pasti aku akan dibawa pulang lalu disiksa lagi.
Arjun menoleh ke belakang, mengernyitkan dahi. Wajahnya menunjukkan tidak suka aku pergi ke kantor Roan.
"Kakak mau ngapain ke sana?"
"Memutus pertunangan sekaligus pamit," jawabku.
Bagaimanapun juga hubungan kami harus diakhiri supaya tidak ada masalah di masa depan, andai ada orang lain yang mau menikahiku, pasti kami tidak perlu kabur ke luar negeri.
Namun, menemukan orang yang mau membantu lewat pernikahan adalah hal yang sulit. Aku melirik ke pria berjaket hitam, dia sangat dingin sampai sulit diajak bicara. Tidak berani juga menanyakan apakah dia mau membantuku menyelesaikan masalah ini.
"Kenapa harus pamit? Nggak perlu, Kak. Dia aja nggak peduli sama kita."
Aku tahu Roan tidak peduli, tetapi demi keegoisanku sendiri yang masih berharap bahwa Roan berubah pikiran. Mungkin saja Roan mencegahku pergi dan mau menikahi.
Tidak mudah memutuskan hubungan yang sudah terjalin selama 3 tahun, kalau memang harus berpisah, aku ingin dengan cara baik-baik. Bagaimanapun juga dia adalah sahabat kakak.
"Aku akan mengantarmu besok," ucap pria berjaket hitam. Tiba-tiba berubah pikiran.
"Terima kasih."
Sepertinya dia baik karena peduli dengan orang lain. Padahal aku orang asing, tetapi mau menyelamatkan, mengantar bahkan memberikan tempat tinggal.
Mobil berhenti di rumah sederhana di kawasan pondok indah, memang tidak sebesar rumahku. Namun cukup nyaman, gerbangnya tinggi sehingga sulit ditembus. Kemungkinan kami akan aman di rumah ini.
"Masuklah," ucap pria berjaket hitam sembari melempar kunci ke Arjun.
Kami turun dari mobil dan melihat rumah yang lampunya belum menyala, sementara pria berjaket hitam pergi meninggalkan kami dengan mobilnya. Sikapnya sangat dingin membuat kami bingung.
"Kamu lapar nggak, Jun?" tanyaku. Dari pagi kami belum makan. Pertanyaanku sungguh basa-basi sekali.
"Lapar, Kak. Nanti aku beli makanan setelah taruh barang kita di dalam."
Aku mengangguk, kami berjalan ke rumah. Membuka pintu dengan kunci dan menyalakan lampu. Ternyata rumah ini cukup bersih dan terawat. Anehnya kenapa pria berjaket hitam pergi? Apakah dia tidak tinggal di sini?
"Jun, siapa pria tadi?"
"Namanya Jexeon," jawabnya. Melihat sekeliling. Mencari kamar.
"Kamu kenal dari mana?"
"Itu aku ... kenal dijalan, dia sangat terkenal di kalangan anak SMA. Kebetulan aku ketemu dan minta tolong."
"Kamu minta tolong ke orang asing?"
"Walaupun dia orang asing tapi mau membantu, beda sama Kak Roan. Lagi pula setelah aku menjadi pewaris Candra Grup, aku janji akan membalas kebaikan dia."
"Apa dia bisa dipercaya?"
"Yang pasti dia lebih baik dari Kak Roan."
Dari nadanya Arjun sangat kesal dengan Roan, wajar saja karena Roan adalah tunanganku tapi tidak peduli dengan kami. Malah orang lain yang menolong, sungguh miris.
Malam itu kami bisa tidur nyenyak setelah Arjun membeli ketoprak yang dijual orang lewat, ponsel kami matikan dan tidak memberikan celah kepada Tante.
Keesokan harinya, pria bernama Jexeon datang. Masih memakai jaket warna hitam namun berbeda dengan yang tadi malam. Arjun ingin ikut tetapi aku larang, terakhir kali dia memukul Roan, aku takut mereka berkelahi lagi.
Aku melihat awan yang mendung dari balik jendela mobil, sepertinya sebentar lagi akan hujan. Jexeon masih diam seribu bahasa. Aku sendiri bingung memulai pembicaraan, takut dibilang sok akrab.
"Mas mau ikut masuk atau tunggu di luar?" tanyaku.
"Xeon."
Irit bicara sekali orang ini, aku harus mencerna kalimat yang hanya sebiji itu.
"Mas Xeon mau ikut masuk atau tunggu di luar?"
Kali ini ia menoleh, apakah aku salah bicara? Sebenarnya apa yang ingin dia katakan. Seharusnya dia berkata dengan jelas supaya aku mengerti.
"Kau masuklah," jawabnya.
Sudahlah, aku bingung menghadapi orang ini. Tidak tahu cara bicara yang dia gunakan, ditanya mau ikut masuk atau tunggu di luar malah menjawab supaya aku masuk. Benar-benar sulit dipahami.
Aku keluar dari mobil, mengeluarkan tongkat duluan dan mendapati angin berembus dingin. Benar, sebentar lagi akan hujan.
Jalanku tertatih, menunggu di lobby cukup lama sampai diizinkan masuk ke ruangan Roan di lantai atas. Dengan susah payah aku menuju lift. Berdesakan dengan para karyawan.
Sesampainya di depan ruangan, aku belum diizinkan masuk, katanya Roan masih ada tamu penting. Cukup lama aku menunggu di depan pintu.
"Kamu Yua tunangan Roan, 'kan?"
Mendengar pertanyaan itu aku menoleh, mendapati Tasya putri tertua Qusela Grup. Orang yang dirumorkan berkencan dengan Roan setelah aku mengalami kecelakaan.
"Iya, kamu Tasya, 'kan?"
"Wah nggak nyangka ya ketemu di sini, aku pikir kamu punya malu buat dateng ke sini."
Matanya melihat ke tongkat yang menyangga kaki kiriku dengan pandangan merendahkan. Aku tahu apa maksudnya, seperti aku adalah gadis tidak tahu malu yang sudah dibuang tunangan tetapi masih menemui. Kurang lebih seperti itu.
"Aku ada perlu sama Roan," ucapku. Tidak menanggapi kalimatnya yang menusuk.
"Mau ngemis supaya dinikahi lagi? Jadi cewek tuh harus punya harga diri dikit."
"Tolong jaga ucapanmu."
"Kamu nggak mau ngakuin kalau murahan? Roan itu udah buang kamu, jangan ngemis lagi deh. Buktinya dia panggil aku ke sini, aku yakin kamu ke sini tanpa diundang. Dasar murahan."
Plak!
Aku menamparnya, ucapan Tasya sudah keterlaluan. Merendahkan harga diriku di depan dua sekretaris Roan. Sementara dua sekretaris itu hanya berbisik melihat perdebatan kami.
"Yua! Apa yang kamu lakukan?!" Pintu ruangan Roan sudah terbuka, sayangnya Roan hanya melihat bagian aku menampar Tasya. Pasti dia mengecap aku gadis yang buruk.
Tasya menangis sembari berlari ke arah Roan, pintar sekali. Namun aku sudah muak dengan segala drama ini.
"Tunanganmu cemburu karena aku ke sini, padahal kamu yang undang aku."
"Maaf, Tasya. Silakan kamu masuk ke dalam." Pandangan Roan beralih ke sekretaris. "Ambilah kompresan supaya bekas tamparan tidak bengkak."
"Baik, Pak."
Dua sekretaris itu pergi mengambil kompresan, Roan menenangkan Tasya dan menyuruhnya masuk ke dalam. Mengabaikan diriku.
Baik sekali Roan, dia sangat perhatian kepada wanita lain di depan tunangannya sendiri. Bahkan dia tidak tanya kenapa aku sampai menampar Tasya dan apa keperluanku ke sini. Membuatku semakin yakin untuk melepas cincin pertunangan kami.
Setelah cincin dilepas, aku berjalan mendekat dengan tongkat, memberikan cincin itu di padanya.
"Aku memutuskan pertunangan kita, terima kasih atas kebaikanmu selama ini."
"Kamu ingin menutupi kesalahan dengan cara pura-pura putus? Kamu tetap harus minta maaf pada Tasya."
Nyeri sekali dadaku, ayo akhiri semua ini secepat mungkin. Hanya minta maaf, tidak masalah. Aku harus tahan.
"Maaf karena sudah menamparmu, Tasya. Kalau begitu aku permisi dulu."
Aku berbalik, berjalan tertatih menggunakan tongkat. Terdengar percakapan yang membuat jemariku mengepal.
"Dia putusin kamu gara-gara aku."
"Yua hanya emosi, tidak apa-apa. Nanti juga dia akan kembali, dia kan tidak punya siapapun lagi selain aku. Ayo masuk ke dalam."
Aku menahan rasa sakit di hati dan meneruskan jalan menuju lift. Hubunganku dan Roan sudah benar-benar berakhir. Aku benci karena air mataku tiba-tiba menetes tanpa bisa dicegah.