Orang Yang Peduli

1386 Words
Ada satu penyesalan yang tidak bisa Roan hindari, rasa bersalah yang membuat dia sulit tidur dan enggan menemui Yua. Andai waktu itu dia mau mengantar Farel dan Yua ke acara kelulusan Arjun, tentu Farel akan selamat dan Yua tidak cacat. Semua terjadi karenanya Penyesalan itu membuat hatinya begitu sakit, dia butuh waktu untuk sembuh dan melupakan Farel. Juga memberikan waktu untuk Yua bangkit. "Maaf karena aku tidak mengantar kalian," ucap Roan. Tepat setelah pemakaman dan menemui Yua di rumah sakit. Gadis cantik itu terpejam, masih tak sadarkan diri setelah operasi. Roan ingin minta maaf secara langsung ketika Yua sudah sadar. Namun, dia tidak bisa. Bibirnya kelu. Tahu bahwa Yua tidak akan menyalahkannya sama sekali. Roan juga tahu bahwa Yua sangat mencintainya, apapun yang dia lakukan Yua akan selalu cinta. Bahkan ketika dia menghindar dan bersikap dingin, Yua tetap perhatian padanya. Satu hal yang membuat keadaan sulit, yakni Mamanya minta pertunangan dibatalkan. Katanya Yua tidak bisa diharapkan untuk menopang Roan saat menjadi direktur. Gadis yang sudah tidak berguna lagi untuk menjadi anggota keluarga. "Aku tidak butuh Yua untuk menopangku, Ma." "Dia gadis cacat, apa yang bisa diharapkan? Putuskan dia dan dekati putri tertua Qusela Grup. Masa depannya lebih jelas." "Nggak akan, aku hanya akan menikah dengan Yua. Akan aku buktikan bahwa aku sanggup membawa Nathanael Grup masuk ke dalam 30 perusahaan paling besar, walaupun tanpa bantuan orang lain." "Baiklah, kalau dalam waktu 3 tahun kamu belum berhasil membuat Nathanael Grup masuk ke dalam 30 perusahaan paling besar di Indonesia, kamu harus putus dengan Yua dan menikah dengan putri tertua Qusela Grup." Mamanya yang gila posisi dan jabatan menantangnya, sementara Papa tidak peduli. Roan berada di dalam pilihan yang sulit. Dia berusaha keras selama dua tahun ini untuk membuat Nathanael Grup masuk ke dalam 30 perusahaan paling besar. Sikapnya menjadi sangat ambisius dengan perusahaan, dia melakukan apa saja supaya bisa memenuhi tantangan Mama. Sampai-sampai Yua merasa dihindari, padahal dia hanya sibuk dan butuh waktu. Dia juga selalu menghindar dari pertanyaan kapan akan menikahi Yua? Roan selalu bilang tunggu. Tidak berani memberikan kepastian dan tidak berani jujur tentang Mama. Takut Yua sakit hati. Sampai Arjun datang dan memintanya menikahi Yua. Dia tetap tidak bisa, harus menyelesaikan tantangan dari Mama dulu. Lagi pula Yua adalah gadis yang kuat, tanpanya bisa melewati masa sulit dua tahun ini. Kali ini pun pasti Yua bisa. "Aku yakin kamu bisa, Yua." Kata Roan, dia menatap gedung pencakar langit dari balik jendela kaca. Dia yakin bahwa Yua bisa melewati masalah dengan Tante Fera, usaha Roan tinggal sedikit lagi supaya perusahaannya besar. Kalau mengumumkan pernikahan sekarang, semua akan kacau. Roan tidak bisa melakukan hal itu. Usahanya selama ini akan percuma. Yua sangat mencintainya, pasti akan mengerti. Roan berjalan kembali ke meja kerjanya. Dia memegang sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan Arjun beberapa waktu lalu. Yua dan Arjun sudah seperti keluarga, anak itu hanya emosi sesaat. Nanti juga baikan. Wajar masih dalam masa puber, pikirnya. Sementara itu di tempat lain, berjarak 1 jam dari gedung Nathanael Grup tempat Roan bekerja. Jexeon mengetukkan jemarinya di meja. Memikirkan ucapan Arjun beberapa waktu lalu. Tiga komputer di depannya menyala. Dia sedang membobol data milik perusahaan paling korup dan licik. Padahal mangsa kali ini lumayan empuk, tetapi tidak membuat Jexeon tertarik. Selama tiga tahun dia hidup dalam bayangan, mengambil uang orang-orang yang menggelapkan dana, Jexeon memilih jalan ini supaya jejaknya tidak diketahui oleh keluarga Siluet ataupun mafia lain. Dia sungguh menepati janji untuk hidup dalam bayangan. Uang yang dia ambil diolah menjadi dana legal, mendirikan pusat perbelanjaan, perusahaan dan saham. Semuanya dilakukan oleh orang-orang profesional yang dia percayai. Menjadi topengnya supaya identitasnya tetap terjaga. Sekarang pikiran Jexeon tidak tenang. Dia berdiri, mengambil jaket hitamnya. Lalu kunci mobil di laci. "Mau ke mana, Bang?" tanya Elgar. Tidak dihiraukan sama sekali dan terus berjalan. Jexeon menuruni anak tangga, keluar dari penthouse. Pikirannya terus tertuju pada sorot mata Arjun. Bukan iba, bukan kasihan, bukan rasa kemanusiaan. Tetapi seperti magnet supaya dia mau bergerak. Padahal, Candra Grup dan Nathanael Grup adalah perusahaan yang paling dia hindari. Tidak mau berurusan atau menyentuh mereka dari dulu. Mengubur kenangannya dan bersikap tidak ada hubungan apapun dengan perusahaan itu. Sampai di parkiran, Jexeon memilih mobilnya yang berwarna biru. Mengendarainya dengan kecepatan tinggi. Langsung menuju rumah Arjun. Menyalip kendaraan lain, masuk ke dalam tol dan merajai jalanan. Sesampainya di rumah Arjun, ia bertemu gadis berkacamata. Memandangnya dengan kagum. Sorot mata wanita centil, Jexeon hafal, hidup lama di dunia hitam membuatnya mengetahui banyak hal tentang tipe manusia. Dan wanita di hadapannya adalah tipe w************n. "Kamu cari siapa?" tanyanya. Melepas kacamata dan menyisir rambut dengan jemari. "Panggil Arjun dan Kakaknya," jawab Jexeon tanpa basa-basi. "Oh, mereka nggak ada." Sekilas saja Jexeon tahu bahwa wanita itu berbohong, dia berjalan masuk ke dalam, melihat sekeliling dan mencari sendiri keberadaan Arjun. "Stop! Apa yang kamu lakukan?!" Gadis itu mencoba menghalangi Jexeon memasuki satu persatu kamar, namun segera ditepis, Jexeon tidak peduli sama sekali. "Kalau kamu kayak gini, aku bakal panggil polisi!" Ancam gadis itu. Tetap dipedulikan oleh Jexeon. Langkahnya semakin cepat memasuki satu persatu ruangan. "Mama! Bang Aldo! Papa!" Teriak gadis itu. Tiga orang di lantai dua turun setelah mendengar teriakan anak gadisnya, bertanya ada apa sampai menjerit seperti itu. Aldo yang melihat orang asing masuk rumah segera berlari menghadang, berusaha menghentikan Jexeon dengan menariknya. Namun, tenaga Jexeon begitu kuat. "Apa yang kamu inginkan? Cepat keluar dari rumah ini!" Teriak Aldo. Jexeon berhenti, dia tidak menemukan yang dicari. Berbalik, melihat ke arah Aldo, sorot matanya tajam hingga membuat Aldo bergidik ngeri. Sensasi yang belum pernah Aldo rasakan. Seperti menghadapi binatang buas. "Bawa Arjun dan Kakaknya ke sini," jawab Jexeon. Ekspresi dingin seolah mampu membunuh siapapun yang menentangnya. Aldo menelan saliva, dia mundur selangkah, melihat ke arah orang tuanya yang menggeleng, tidak boleh menyerahkan Arjun dan Yua. Sebagai anak pertama yang memiliki kemampuan tinju, Aldo merasa mampu melawan pria di hadapannya. "Kamu siapa berani masuk rumah orang sembarang hah?! Aku adalah petinju nasional, kau akan kuhabisi kalau tidak cepat keluar dari sini! Cepat keluar!" tantangnya dengan membusungkan d**a. Basa-basi tidak ada di kamus Jexeon, dia tidak sabar menghadapi orang seperti Aldo yang sok jago. Matanya melirik ke orang tua yang melihat mereka dengan cemas. Harusnya tekanan yang dia berikan cukup membuat mereka berpikir ulang melawannya, sepertinya keluarga ini sangat percaya diri. Bug! Dengan gerakan cepat yang tak mampu dihindari, Jexeon memukul wajah Aldo. Sekali pukulan membuat Aldo terjatuh mengenai meja berisi bingkai foto, dia sempoyongan hingga menjatuhkan guci di sebelahnya. Ibu Aldo memekik keras, panik melihat mulut anaknya berdarah dalam sekali pukulan. Jexeon berjalan santai menuju Aldo, tidak peduli Aldo seorang petinju atau apapun, karena altet MMA saja bisa dia kalahkan, ia menendang Aldo hingga tersungkur. Tenaganya begitu kuat sampai Aldo tidak ada kesempatan melawan. Terkapar kesakitan, giginya patah hingga bibirnya berdarah. Belum pernah Aldo melawan orang semengerikan ini. Kaki Jexeon menginjak leher Aldo, jika tidak ditahan menggunakan tangan, maka leher Aldo bisa tercekik. Aldo melempar kaki Jexeon dan merangkak menjauh, sayangnya kepalanya mampu diraih oleh Jexeon, dengan sekali gerakan maka leher Aldo bisa patah. "Jangan!" Ibu Aldo berteriak sembari berlari. Matanya berkaca-kaca. "Kami akan panggilkan Arjun dan Yua, tolong lepaskan putraku!" Jexeon menoleh, tanpa ekspresi sedikitpun. Hanya mengedipkan mata. Ibu dan ayah Aldo berlari ke gudang, tak lama kemudian membawa Arjun dan Yua. Bibirnya menyungging tipis. "Akhirnya kau keluar." Sudah Jexeon duga bahwa Arjun dan Kakaknya disiksa, dia tidak peduli. Keinginan hanya membebaskan Arjun supaya pikirannya tidak terganggu lagi. "Tolong kami," ucap Arjun, dia segera berlari ke arah Jexeon. "Ayo pergi dari sini," ucap Jexeon. Melempar Aldo hingga tersungkur ke lantai. Bisa dipastikan tubuhnya babak belur. Ibu Aldo memekik, berlari ke arah Aldo yang sudah tidak berdaya. Sementara Jexeon berjalan ke arah pintu keluar. "Ayo Kak Yua, kita pergi." Arjun memegang tangan kakaknya. Jexeon menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang dan bertatapan dengan kakaknya Arjun. Wajah gadis itu pucat, mungkin terkejut dengan kejadian ini. "Tunggu, kita harus ambil barang-barang dulu." Gadis pincang berhijab itu ternyata tidak takut padanya. Padahal Jexeon tidak suka menunggu, tetapi dari pada kerja dua kali. Dia memilih menunggu dua orang itu berkemas. Tidak banyak yang mereka bawa, hanya barang-barang penting. Lalu berjalan mengikutinya menuju pintu keluar. "Yua, Arjun! Kalian tidak boleh pergi!" Wanita paruh baya terus berteriak melarang pergi tetapi tidak berani bertindak. Mobil meninggalkan rumah keluarga Candra Grup. Jexeon membawa mereka ke rumahnya yang lain, tetapi bukan penthouse tempatnya tinggal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD