Ketika dulu Mamanya memaksa menikahi Yua, Roan sempat menolak. Berteman dengan Farel sebagai penerus Candra Grup sudah cukup. Tidak perlu sampai menikahi anak kedua Candra Grup. Bagi Roan, pernikahan bukan hanya sebatas tentang relasi dan koneksi, tetapi harus mencintai seuumur hidup.
Mamanya membujuk dengan sekuat tenaga supaya ia mau mengenal Yua, katanya gadis itu haus akan cinta dan naif, banyak manfaat menikah dengan Yua karena keluarganya terpandang dan bisa menguatkan posisi Roan sebagai Direktur utama Nathanael Grup.
"Dia cuma gadis biasa, tidak menarik." Kesan pertama yang Roan lihat. Tetap tidak mau berhubungan dengan Yua.
Pertemanan dengan Farel semakin akrab, dia jadi sering main ke rumah Farel dan bertemu Yua. Semakin lama Roan tahu bahwa Yua spesial. Selalu menundukkan pandangan dan taat dalam beribadah.
"Kenapa nggak ke club seperti teman-temanmu, sekarang kamu 'kan sudah kuliah?" tanya Roan suatu waktu.
Yua masih menunduk, dia membawa Al-Qur'an dalam dekapan. Hijabnya lebar berwarna merah muda membuatnya terlihat sangat anggun.
"Aku ada kajian bersama komunitas hijrah ukhuwah islamiah, tidak bisa main. Maaf, aku permisi dulu."
Yua menunduk, dia berlalu dan menjaga jarak setiap kali melihatnya. Awalnya Roan pikir bahwa Yua membencinya, selalu pergi ketika dia bergabung untuk bercanda bersama. Yua hanya mau bercanda dengan dua saudaranya, Farel dan Arjun.
Tetapi, setelah melihat Yua lebih dalam. Ternyata ia memang selalu seperti itu kepada pria lain yang bukan keluarga. Menjaga jarak dan pandangan. Baru pertama kali dia bertemu gadis seperti Yua.
"Kenapa lihatin Yua terus? Naksir?" tanya Farel. Di tangannya ada sebungkus keripik singkong. Mengikuti arah pandangan Roan yang melihat punggung Yua meninggalkan rumah.
"Apaan sih, cuma heran aja sama adekmu itu."
"Emangnya adekku kenapa? Dia cantik, lembut dan baik. Orang-orang bahkan bilang dia malaikat tak bersayap."
"Lebay banget. Adekmu itu aneh aja. Biasanya anak konglomerat lain suka foya-foya, jalan-jalan keluar negeri, ke club atau hura-hura. Kenapa dia beda sendiri?"
"Hahahaha, tanya aja kenapa dia bisa kayak gitu."
"Jadi ada alasannya?"
"Semua akibat pasti ada sebab," jawab Farel. Berlalu membawa keripik singkong kesukaannya. Lengannya dihentikan oleh Roan, dia menoleh, menatap bingung pada sahabatnya.
"Apa alasannya?"
"Tanya aja sendiri," jawabnya enteng. Mengangkat bahu dan berlalu ke ruang tengah.
Mulai saat itu, Roan semakin memerhatikan Yua. Begitu lemah lembut dan terlihat sangat anggun, tutur katanya sopan. Benar jika orang-orang menjuluki malaikat tak bersayap. Roan sendiri merasa tersihir.
Hingga suatu hari, Roan berani mengutarakan keinginannya untuk mengenal Yua lebih jauh kepada Farel. Gejolak aneh di dadanya tidak bisa dihentikan. Dia terus terbayang wajah cantik Yua, suara lembut Yua dan segala hal tentang Yua.
"Kalau seumpama aku pacarin adekmu, gimana?" tanya Roan suatu waktu.
Mereka sedang main game setelah selesai bekerja. Tahun itu mereka sama-sama sudah masuk perusahaan ayah mereka masing-masing dan melanjutkan S2. Kampus dan jurusan yang sama membuat hubungan semakin dekat.
Farel menggeleng, matanya menatap layar komputer. Tidak terkejut dengan ucapan Roan. Seperti sudah menebak bahwa sahabatnya naksir dengan adiknya.
"Kamu nggak setuju?" tanya Roan lagi.
"Bukan aku, tapi adekku yang nggak bakal mau." Sekali pukulan di game. Farel memenangkan pertarungan. "Yeah, menang."
Kemenangan Farel tidak membuat Roan kesal seperti biasanya, dia tidak peduli dengan game. Lebih tertarik kenapa dia tidak bisa pacaran dengan Yua.
"Apa adekmu sudah punya pacar?"
Farel meletakkan remote, tangannya meraih soda. Menenggaknya langsung.
"Adekku nggak mau pacaran, kamu bakal jadi barisan orang yang ditolak Yua."
"Jadi aku harus gimana?"
"Lamar langsung, berani nggak?"
"Eh, yang benar aja. Dia masih kuliah, aku masih sibuk kuliah dan tahun depan baru lulus S2."
"Tunangan aja dulu, nikahnya tahun depan."
"Kalau pacaran dulu, trus tahun depan tunangan gimana? Terus nikahnya kalau Yua udah lulus kuliah. Kita masih muda banget buat hubungan serius. Umurku baru 22 tahun," jawab Roan.
Umur Yua baru 18 tahun, baru masuk kuliah. Mana bisa bertunangan dan menikah. Terlalu buru-buru tidak baik, masih labil dan juga... dia belum yakin bisa menjadi suami.
"Kalau gitu Yua bakal diambil orang, selama ini yang nembak Yua itu banyak. Lamaran buat Yua juga pasti sebentar lagi rame karna dia udah kuliah. Kalau nggak kamu keep duluan pakai pertunangan, udah pasti diduluin orang."
Ucapan Farel membuat Roan galau, dia bimbang dan bingung. Ingin menghilangkan wajah Yua dari pikirannya. Namun, malah semakin melekat. Ditambah kecemasan tentang Yua yang akan dimiliki orang lain, semakin membuatnya tidak tenang. Ia jadi usah tidur hanya karena memikirkan Yua.
"Ah, aku harus bilang ke Papa buat lamarin Yua." Roan duduk dari posisi tidurnya.
Dia turun dari ranjang, pergi menemui orang tuanya yang sedang menonton film. Langsung duduk tegap di depan mereka. Mengutarakan keinginannya untuk melamar Yua.
Mamanya menyambut dengan sangat gembira, mendukung sepenuhnya dan mendesak suaminya untuk segera melamarkan Yua.
Namun, tidak semudah itu. Ketika pihak orang tuanya setuju, pihak orang tua Yua yang keberatan. Menganggap bahwa Yua masih terlalu muda untuk menikah.
"Kalau begitu, saya akan menikahi Yua tahun depan." Kata Roan penuh dengan keringat. Gugup. Berusaha mendapat restu.
"Kalau boleh Yua tahu, kenapa Kakak mau menikah dengan Yua?" tanya Yua pelan. Dia juga tampak gugup karena baru pertama kali dilamar.
"Karena saya mencintai kamu, seperti kamu yang tidak mau berdosa dengan pacaran, saya pun begitu."
Sebelumnya Roan sudah banyak tanya tentang Yua, kenapa tidak mau pacaran dan apa yang tidak disukai. Sedikit banyak dia sudah paham jalan pikiran Yua supaya bisa mengambil hatinya.
"Gimana Yua, apakah kamu mau bertunangan dengan Nak Roan?" tanya Ayah.
"Yua akan memikirkan dan bertanya ke guru Yua dulu, Yah."
"Baiklah, kalau begitu hasilnya nanti akan kami kabari." Ayah menutup pertemuan hari itu.
Selama berhari-hari Roan menunggu dengan gelisah, dia sudah bertindak dan berkata penuh perhitungan supaya diterima Yua. Meskipun begitu, dia tetap takut gagal.
Hingga seminggu kemudian, keluarga Yua memberi kabar bahwa Yua menerima lamarannya. Siap untuk bertunangan. Hatinya sungguh lega karena selangkah lebih maju dari orang-orang yang menyukai Yua. Gadis cantik nan anggun itu sudah jadi miliknya.
Beberapa bulan kemudian cincin melingkar di jari manis mereka, menandakan bahwa suatu hari nanti mereka akan menjadi pasangan halal. Sudah saling mengikat janji, Roan merasa di atas awan.
"Lebih baik Roan jangan terlalu sering ke sini," ucap Yua suatu waktu. Wajahnya masih menunduk, padahal meraka calon suami istri. Yua masih saja malu-malu.
"Kenapa? Aku kan kangen kamu."
"Itu yang buat aku takut, jantungku sulit dikendalikan kalau liat Roan. Aku takut mencintai hamba Allah melebihi pemiliknya."
Wajah Roan bersemu merah, merasa dicintai Yua. Terlihat jelas bahwa Yua memiliki rasa yang sama. Roan jadi tidak sabar menyelesaikan skripsi dan menikahi Yua. Apalagi setiap hari Farel menggodanya. Sahabatnya itu sangat usil kepada calon adik ipar.
"Ya sudah kalau itu kemauanmu," ucap Roan.
Dia memang tidak bisa berbasa-basi, tidak pernah pacaran apalagi mendekati perempuan. Mungkin kesannya dia cuek terhadap Yua, sebenarnya dia masih sering memperhatikan Yua lewat Farel. Selalu meminta foto Yua ketika kangen. Bertanya apakah Yua sehat dan itu dia lakukan setiap hari.
"Kamu ini calon suami Yua, bukan calon suami kakaknya!" Farel sampai jengkel karena Roan terlalu memanfaatkan dia.
"Kamu tahu sendiri kalau Yua tidak suka didekati pria selain keluarganya, sebagai teman dan calon Abang. Bantu dikitlah."
"Dih, dasar bucin."
Meskipun begitu Farel selalu menolong Roan, menjadi perantara kerinduan Roan terhadap adiknya.
Hingga... kecelakaan merubah segalanya. Mengambil senyum semua orang, meninggalkan mereka kedalam luka yang begitu dalam. Tidak hanya untuk Yua dan Arjun, tetapi juga untuk Roan.
Roan menghindari Yua, karena setiap melihat Yua dan Arjun, ia selalu teringat Farel yang merupakan sahabat satu-satunya. Roan butuh waktu untuk menenangkan diri sendiri.