Aku selalu berpikir akan menghabiskan sisa hidup bersama Roan, menyayangi dia sepenuh hati, menyerahkan segala yang aku miliki. Cincin di jari manis sudah terpaut selama 3 tahun, janji akan menikahi setahun kemudian. Namun, setahun kemudian orang tuaku meninggal. Roan ingin pernikahan ditunda sampai aku wisuda.
Meskipun berat, aku menerima. Menjalani kehidupan dengan kaki pincang, diejek orang hingga merasa tidak pantas menjadi pendamping Roan. Namun, ia selalu berkata bahwa mencintaiku apa adanya.
Sekarang, penolakan yang disampaikan lewat Arjun membuatku berpikir, bahwa selama ini telah dibohongi, kalimat cintanya tidak berarti, kebersamaan yang dilalui bagaikan ilusi. Hubungan selama 3 tahun, hanya sebuah mimpi tidak berarti.
"Jagain Yua, awas kalau kamu sakiti dia," ancam Kakakku. Dia membawa kepala Roan diapit ketiak. Roan memukul tangan kakak berulang kali hingga terlepas.
Saat itu kami baru bertunangan, dibandingkan para pria yang mengajak pacaran. Aku lebih tertarik dengan pria seperti Roan yang langsung datang melamar. Meskipun sempat ragu karena belum lulus kuliah, tetapi orang tuaku menyerahkan semua padaku.
"Aku akan menjaga Yua seuumur hidupku," balas Roan.
Kalimat Roan membuatku semakin tersipu malu, merasa bahwa benar-benar dicintai.
"Kamu mau jadi istriku, 'kan Yua?" senyumnya sangat manis, membuatku mengangguk tanpa sadar.
Dia, pria pertama yang membuat jantungku berdebar. Kalimat suci yang dia katakan tentang pernikahan terasa membawaku ke atas awan. Aku sangat senang dan bahagia menerima lamarannya.
"Iya, Kak Roan akan menjagaku."
"Kok masih panggil Kak. Mulai hari kamu cukup panggil Roan, nggak usah pakai Kak."
Usia kita terpaut 4 tahun, di mataku dia orang dewasa yang mampu mengayomiku. Katanya di kampus banyak pria yang suka padaku, dia takut aku diambil orang, jadi dia maju duluan meskipun ayahku ragu.
"Roan," panggilku, malu-malu dengan pipi merona merah.
Roan tersenyum lebar, sorot matanya penuh kasih sayang. Semua teman-teman iri padaku yang dilamar alumni yang sangat diidolakan. Katanya dunia hanya berputar untuk Yua, Tuan Putri Candra Grup.
Sekarang, semuanya hilang. Tante memecat semua pegawai. Aldo memukuli Arjun sampai babak belur karena hendak membawaku kabur. Mereka memasukkan kami ke dalam gudang pengap, dua hari lagi penyerahan surat wali. Terasa bahwa kematian kami semakin dekat.
"Kakak... maaf," ucap Arjun.
Aku mengusap kepalanya yang berada di pangkuanku. Darah di sudut bibirnya sudah mengering.
"Seharusnya Kakak yang minta maaf karena tidak bisa melindungimu," jawabku.
Sebagai kakak, aku tidak bisa berbuat apa-apa melihat Arjun disiksa, memiliki kakak pincang sungguh tidak berguna. Aku merasakan air matanya hangat menetes di pahaku.
Pandanganku mengarah ke jendela, cahaya bulan purnama masuk ke dalam gudang lewat celah-celah.
"Roan...." Gumamku. Masih berharap dia datang dan menyelamatkan kami.
Janjinya untuk selalu melindungi, terasa hanya seperti mimpi. Dia tidak peduli padaku sama sekali. Aku mengembuskan napas berat, masih melihat cahaya bulan. Rasa lapar masih bisa ditahan, tetapi tidak dengan sakit hati.
Sekali lagi, sebelum hubunganku dengannya benar-benar berakhir. Aku ingin mendengar kalimat langsung darinya. Supaya aku yakin dan tidak ada penyesalan ketika menyusul orang tuaku nanti.
"Kak, apa kita sebentar lagi akan menyusul Ayah, Bunda dan Kak Farel?" Pertanyaan Arjun tidak bisa aku jawab, terasa mencekat di tenggorokan.
Pikirannya sama denganku, dunia ini tidak ramah. Cepat atau lambat kami akan mati, ntah itu diracun oleh Tante Fera atau kelaparan. Aku pernah menonton berita di TV, bibi membunuh ponakannya sendiri karena dendam. Mengubur ponakan hidup-hidup.
Aku merasa hidupku akan berakhir, tetapi tidak mau menyerah. Inilah sebabnya aku menyuruh Arjun pergi dari rumah, biar aku sendiri yang melawan mereka. Rupaya Arjun lebih memilih mati bersamaku dari pada hidup sendiri. Usianya masih 16 tahun, november nanti baru 17 tahun.
Dia sulit bangkit dari trauma setelah kematian keluarga kami.
Jika aku mati, Arjun tidak akan bisa bertahan. Meskipun raganya hidup, tetapi hatinya akan mati. Dia tidak mau hal itu.
"Kalau kamu sudah baikan, ayo cari jalan buat kabur lagi. Jangan mati di sini, malu kalau kita bertemu orang tua kita dengan keadaan menyedihkan."
"Apa mungkin bisa?"
Aku diam, tidak tahu harus menjawab apa. Gudang ini sangat pengap. Tidak tahu caranya keluar. Dua hari lagi pengacara datang, meskipun tidak ramah dan lebih memihak Tante Fera, tetapi tidak mungkin menemui kami.
Di saat itu kami akan kabur atau menelpon polisi, mencari celah untuk bertahan. Tak apa meninggalkan semua harta, asal kami berdua selamat. Jika polisi datang, aku bisa membawa Arjun ke rumah sakit atau aku yang pura-pura sakit. Aku harap kami bisa segera kabur dari cengkraman Tante Fera.
"Hentikan!"
Bruk! Prang! Suara terdengar kacau di luar sana. Arjun perlahan duduk, dia juga pasti mendengar teriakan di luar.
Brak! Pintu gudang dibuka, terlihat wajah Tante Fera pucat. Napasnya terengah-engah.
"Cepat keluar dan usir orang itu!" Teriaknya.
Aku tidak mengerti sama sekali, siapa yang datang sampai membuat heboh? Di belakang, ada Om Nurman. Sama pucatnya. Dia masuk dan menarik tangan Arjun keluar.
"Cepat keluar!" Teriak Tante Fera lagi.
Perlahan aku berdiri menggunakan tongkat, Tante Fera tidak sabar dan menarikku hingga aku hanya bisa menyeret tongkat. Berjalan dengan satu kaki yang kesakitan.
Arjun lemah tak berdaya habis dipukuli, dia cuma bisa pasrah ketika diseret Om Nurman yang badannya jauh lebih besar.
Kami ke ruang tengah, Arjun dijatuhkan ke lantai hingga bunyi keras tulangnya menyentuh lantai.
"Akhirnya kau keluar," ucap seorang pria.
Pria berbadan tinggi itu mengenakan jaket hitam, menyunggingkan senyum ke arah kami. Mata kami sempat bertemu. Di tangannya ada kepala Aldo yang sudah babak belur, sepertinya sekali gerakan maka leher Aldo akan patah. Pantas saja Tante Fera dan Om Nurman panik.
"Tolong kami," ucap Arjun, dia berdiri dan segera berlari ke arah pria itu.
Sepertinya mereka saling mengenal, aku bingung. Tidak tahu harus bagaimana. Sementara Arjun begitu memohon kepada pria itu, apakah pria misterius itu datang untuk menolong kami?
"Ayo pergi dari sini," ucapnya. Melempar Aldo hingga tersungkur ke lantai. Bisa dipastikan tubuhnya babak belur. Tante Fera memekik, segera berlari ke arah Aldo yang sudah tidak berdaya.
Padahal Aldo adalah atlet tinju, pernah menjuarai turnamen nasional. Pernah juga mewakili Indonesia di kancah internasional, tetapi semudah itu dikalahkan?
"Ayo Kak Yua, kita pergi." Arjun memegang tanganku.
Mataku melihat ke arah pria misterius itu, dia menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku. Saat itu tidak ada rasa apapun terhadapnya. Hanya seperkian detik, tiba-tiba jantungku berdebar tanpa alasan.
Kupikir itu adalah debaran karena Allah memberikan peringatan tidak boleh memandang pria yang bukan mahram, tetapi tanpa aku sadari bahwa pria itu yang akan mengikatku dalam janji suci.