Mobil sport berwarna hitam memecah jalanan ibu kota, menyalip kendaraan lain dan menunjukkan kegagahannya sebagai penguasa jalan. Melewati bundaran HI, mobil itu semakin kencang menuju Jakarta pusat. Pemiliknya melirik jam, pukul setengah dua belas malam. Jalanan cukup lenggang dengan lampu dari gedung pencakar langit yang menyala terang.
Mobil itu berbelok memasuki apartemen, turun ke parkiran bawah tanah. Jexeon keluar dengan membawa jaketnya, menutup pintu mobil dengan keras. Langsung berjalan ke arah lift.
Penthouse yang dia beli setahun lalu kini dihuni dua orang, ia benci hal itu. Merasa terganggu dengan kehadiran orang lain. Jika bukan karena pekerjaan yang tidak bisa diatasi sendiri, dia tidak akan mau tinggal bersama bocah berisik yang masih SMA. Apalagi bocah itu sering sembarangan menyentuh barang-barangnya, dari mulai baju hingga alat cukur. Sangat menggangu.
"Bang, ke mana dua hari nggak pulang?" pertanyaan itu langsung terdengar ketika Jexeon membuka pintu.
Matanya menyipit, membenci ditanya kenapa dia baru pulang dan apa yang dilakukan. Itu adalah privasinya. Sementara bocah SMA yang memakai kolor Spiderman itu tidak merasa bersalah sama sekali. Di tangannya ada mie instan.
"Dapat apa kau dua hari ini?" Jexeon mengganti sepatunya dengan sandal biasa.
Remaja laki-laki di hadapannya tersenyum lebar, tampak senang karena Jexeon tidak marah-marah seperti biasanya.
"Total kita dapat 241 milyar, dari pejabat yang korupsi dan penyelundupan barang mewah."
Tak ada balasan dari Jexeon, dia berjalan melewati remaja laki-laki itu. Menuju kamarnya di lantai atas. Angka pendapatan mereka stabil, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia berbalik.
"Kau tahu Arjun, pewaris Candra Grup?"
"Dia temen sekelas ku, kenapa Bang?"
"Cari tahu tentang anak itu," jawabnya. Kembali berjalan menaiki anak tangga.
"Siap, Bang!"
Bagi Jexeon, hidupnya sekarang terasa flat, tidak ada yang menarik. Jauh berbeda ketika dia masih menjadi gengster sepuluh tahun lalu. Saat usianya masih 15 tahun dan baru diusir dari rumah. Atau ketika menginjak usia 17 tahun dan diangkat menjadi anggota Siluet oleh Tuan besar.
Begitu menarik saat Tuan besar yang sudah dianggap Ayah mengajarinya tentang dunia hitam, menggenggam kekuasaan dari balik layar. Ditakutin di manapun berada bahkan pemerintah tunduk pada mereka.
"Kau tidak perlu sekolah formal, buang waktu. Yusril akan mengajarimu meretas data, kau akan menjadi orang IT paling hebat yang pernah ada. Sekaligus orang paling penting untuk Siluet." Tuan Besar menepuk pundaknya.
Pria yang rambutnya beruban itu sangat menyayanginya melebihi putranya sendiri, tidak menjadikan dia tukang pukul biasa, tetapi mengajari banyak hal mengendalikan dunia hitam. Menjadi kaya raya tanpa mengotori tangan dengan darah.
Hingga, Yusril. Orang yang dianggap guru mengatakan sesuatu. "Kamu juga berbakat jadi tukang pukul, belajarlah berkelahi juga."
Jexeon tahu bahwa dia menjadi orang nomor satu di Siluet, berbakat dan didukung Tuan besar. Bahkan para bawahan menghormatinya. Sayangnya baru 6 tahun dia merasakan memiliki keluarga di Siluet, Tuan besar meninggal. Ada perebutan kekuasaan tentang pengganti Tuan besar.
Ia memilih mengalah, mundur dari Siluet dan bersumpah tidak akan bergabung dengan Kelompok manapun. Dia akan mundur dari dunia hitam dan hidup seperti bayangan. Sumpah setianya hanya untuk Siluet untuk kapanpun.
Putra Tuan besar senang mendengar hal itu, Jexeon tidak mau bertarung dengannya untuk memperebutkan posisi pengganti Tuan besar. Dia pun percaya dengan sumpah setia Jexeon. Membiarkan pria bertato singa itu pergi tanpa membawa apapun. Sebagai saudara angkat, Jexeon diizinkan meminta bantuan jika ada hal mendesak.
"Sudah lama, Tuan." Jexeon memandang foto wajah pria tua yang merangkul bahunya. Sebagian rambut sudah memutih tapi masih kekar dan terlihat tegas.
"Tiga tahun, aku hidup dalam bayangan." Jexeon mendesah berat.
Sorot mata Arjun tadi mengingatkan dia pada dirinya dahulu, mungkin Arjun seusianya ketika meninggalkan rumah. Saat Ayah kandungnya melempar barang-barang keluar rumah, berkata bahwa dia anak haram yang tidak diinginkan. Anak berusia 15 tahun melangkah ke dunia luar dengan dendam membara. Nekat berbuat apa saja demi bertahan hidup.
Menerima uluran tangan anggota gengster, hidup di jalanan dengan berbagai perkelahian. Membuat tato singa di d**a kanan sebagai anggota, melakukan berbagai perbuatan kotor atas perintah ketua, ia senang, apapun asal dia merasa diterima.
Hingga, ketua gengster membuat kesalahan kepada Tuan besar, menyebabkan pembantaian massal, pertarungan tak terelakan. Jexeon menyerang dengan sekuat tenaga hingga hanya dia yang tersisa. Tuan besar melihat kehebatan Jexeon yang berkelahi dengan otaknya.
"Ikutlah dengan kami, akan kujadikan kau orang hebat."
Tuan besar berjongkok, melihat Jexeon yang sudah tak berdaya berlumuran darah. Walaupun tak berdaya, sorot mata remaja yang hampir mati itu masih berapi-api. Seakan ingin memakannya hidup-hidup.
"Cuih, lebih baik kau bunuh saja aku!"
Padahal dia sudah diujung tanduk, semua temannya mati. Satu gerakan saja dari tulang pukul Tuan Besar, maka dia akan menyusul mereka ke alam baka.
Tuan Besar malah tertawa, "hahahhahaha, kesetiaanmu patut diacungi jempol. Terlalu sayang jika kau mati begitu saja, kau boleh memilih ikut keluarga Siluet atau pergi setelah sembuh. Bawa dia."
Tuan Besar berdiri, menyuruh anak buahnya membawah tubuh Jexeon yang sudah sekarat. Keluarga Siluet yang menguasai berbagai sektor membuatnya takjub, mereka bukan mafia kelas teri, tetapi menggenggam dunia.
Tanpa sadar Jexeon terlena, menganggap Tuan besar sebagai orang yang keren, bahkan menjadikannya panutan. Setelah sembuh dia tetap berada di keluarga Siluet, menjadi tukang pukul bertato singa hingga Tuan besar memanggilnya. Mengetahui bakat Jexeon yang lebih condong ke teknologi. Mengajarkan meretas data penting dan situs.
"Terasa baru kemarin bertemu Tuan Besar." Gumamnya, meletakkan foto Tuan besar di laci. Dia berjalan ke kamar mandi.
Ruangan luas dengan sofa di bagian ujung, terlihat nyaman dan mewah. Ia sendiri yang memilih dekorasi ini termasuk warna tirai.
Jexeon mandi di bawah air shower, sudah lama memendam sakit hati dan tidak mengungkit masa lalu. Kesibukan menjadi orang Siluet membuatnya lupa ayah kandung. Hari ini malah tiba-tiba teringat karena seorang anak. Jexeon tersenyum miris.
Sebelum tidur ponselnya berbunyi, anak laki-laki yang tinggal di kamar bawah mengirimkan file tentang Candra Grup, Arjun dan orang-orang yang terlibat dengan mereka.
Pandangannya mengarah kepada gadis manis bernama Yuaira, foto-foto tentang prestasinya hingga kakinya yang kini cacat. Gadis manis dengan balutan hijab.
Dari fotonya terlihat dia diperlakukan seperti seorang tuan putri.
Semua informasi yang diberikan lengkap tanpa kurang sedikitpun, bahkan tentang Roan yang menolak menikahi Yua juga ada. Menandakan bahwa kemampuan anak lelaki yang dia ajarin selama dua tahun ini sudah hebat.