Bab 11

1846 Words
Pagi Kecil di Antara Tiga Bayangan Mika masih belum bicara banyak. Tapi setiap pagi, ia duduk paling awal di dekat jendela, memegang liontinnya yang kini tergantung rapi di leher. Tak ada suara, hanya kehadiran yang terasa perlahan menyatu. Aurel tak mendesak. Raka tak banyak bertanya. Elan, dengan cara khasnya, menggambar satu wajah baru di dinding kecil mereka—dinding yang kini diisi oleh sketsa anak-anak yang sudah pulang. Rumah mereka, dulunya hanya tempat berlindung sementara, kini terasa seperti simpul yang mengikat waktu yang tercecer. Mika mulai membantu menyiram bunga. Meski sering kebanyakan air, tak ada yang memarahinya. Bahkan bunga liar di dekat pagar tampak tumbuh lebih tinggi, seolah ikut bahagia. Malamnya, mereka duduk bersama di dekat tungku. Elan sedang membuat lampion baru—lampion kelima. Bentuknya tidak seperti sebelumnya. Kali ini tidak bundar, tidak memanjang. Tapi berbentuk seperti telapak tangan kecil yang menggenggam cahaya. “Untuk Mika?” tanya Raka sambil menyeruput tehnya. Elan mengangguk. “Dia belum siap memegang cahaya sendirian. Jadi kita simpan di sini dulu. Tapi bentuknya tetap tangannya.” Mika menatap lampion itu lama. Lalu akhirnya berkata, “Apa... aku bisa tinggal?” Aurel tersenyum dan memeluknya dari belakang. “Selama kamu ingin, rumah ini terbuka.” Jawaban Mika hanya anggukan. Tapi malam itu, ia tidur lebih nyenyak. Tidak lagi memeluk lutut seperti pertama kali datang. Tapi memeluk bantal kecil bersulam nama: Mika—dijahit oleh tangan Aurel sendiri, huruf-hurufnya belum rapi, tapi penuh perhatian. Hari-hari berlalu seperti halaman buku yang tak terburu-buru dibaca. Di suatu pagi mendung, angin membawa suara asing ke dalam rumah. Seperti helaan napas dari tempat jauh. Aurel berdiri di dapur, dan cangkir teh yang ia pegang bergetar sedikit. “Elan?” panggilnya. Elan muncul dari belakang, diikuti Mika. “Cerminnya diam.” “Tapi udara... tidak,” gumam Raka, yang juga muncul dari luar. Ia membawa dua tangkai bunga liar yang tadi ia pungut di taman. Bunga itu layu begitu melewati ambang pintu. Aurel membuka liontin keempat yang digantung di dinding ruang tengah. Warnanya masih jingga. Tapi di balik cahaya itu, muncul retakan kecil. Hampir tak terlihat. Tapi ada. “Elan,” bisik Aurel, “apa ini... peringatan?” Elan tidak menjawab langsung. Ia duduk dan menutup matanya. Tangan kecilnya memegang liontin seperti mendengarkan bisikan. “…bukan peringatan,” katanya pelan. “Tapi gema. Sesuatu sedang mencoba berbicara dari tempat jauh. Tapi suaranya... terlalu jauh.” Raka melirik jam tua. Jarumnya seperti melambat. Detak tidak lagi konsisten. Lalu tiba-tiba, cermin bergidik. Permukaannya tidak bergelombang. Tapi berdenyut. Seperti jantung yang mencoba hidup kembali. Mika berdiri di belakang Aurel. “Apa... itu tempatku dulu?” Aurel berlutut, menyamakan tinggi mata dengan Mika. “Kau tidak perlu kembali kalau tidak siap.” Tapi Mika menggeleng. “Bukan soal kembali... tapi aku ingat seseorang yang tertinggal.” Ketiganya saling pandang. “Bukan bayangan?” tanya Elan. “Bukan,” jawab Mika. “Cahayanya rusak. Seperti... tersangkut di antara.” Raka memandangi cermin yang kini memantulkan tiga wajah mereka, tapi tidak menunjukkan Mika. “Kalau begitu,” ucap Aurel tegas, “kita harus pergi. Tapi bukan untuk menyelamatkan. Kita hanya... mengulurkan tangan.” Perjalanan kali ini tidak seperti sebelumnya. Mereka tidak masuk melalui cermin, melainkan ditarik. Udara di sekeliling berubah menjadi garis-garis cahaya yang pecah. Tubuh mereka tidak terasa berat, tapi tidak ringan juga. Seolah dunia tempat mereka berpijak tidak stabil. Dan ketika mereka tiba... …mereka melihat reruntuhan. Bukan dunia, bukan kota. Tapi ruang kosong, seperti ruang tunggu mimpi yang ditinggalkan terlalu lama. Di sana, benda-benda melayang perlahan—boneka, buku rusak, sepatu kecil, bahkan suara yang belum selesai diucapkan. “Elan,” bisik Raka. “Apa ini?” “Tempat di antara,” jawab Elan. “Dimana anak-anak yang terlalu lama hilang... membungkus ingatan mereka agar tidak terluka.” Mika menatap ke atas. “Itu dia.” Di atas mereka, menggantung sebuah cahaya kecil. Tapi tak stabil. Berkedip cepat. Dan di bawahnya, sosok anak perempuan duduk membelakangi mereka. Rambutnya panjang, bajunya compang-camping. Ia menggambar lingkaran di lantai dengan jarinya. Aurel berjalan perlahan, lalu duduk tidak jauh darinya. “Hai…” Anak itu tidak menjawab. “Kami tidak di sini untuk membawamu pergi,” lanjut Aurel. “Tapi kami membawa rumah. Kalau kau ingin melihatnya.” Anak itu berhenti menggambar. Tapi tak menoleh. Elan berdiri, membuka liontin kelima—yang baru selesai semalam. Di dalamnya muncul gambar: sebuah taman kecil, dengan lampion berbentuk tangan yang menyala di tengah malam. Dan suara tertulis: “Tak apa jika kau tidak tahu siapa kau. Kami akan menunggumu sambil membuatkan teh.” Anak itu perlahan berdiri. Ia tidak bicara. Tapi menangis. Air matanya melayang, tidak jatuh ke tanah. Seperti bintang yang belum sempat jatuh. Mika mendekat. Ia tak menyentuh, hanya berdiri di sampingnya. “Namamu bukan hilang. Cuma belum dipanggil,” katanya lirih. “Tapi kalau kau mau, aku bisa menemanimu mencarinya.” Anak perempuan itu akhirnya menoleh. Matanya kosong. Tapi saat Mika menggenggam tangannya, perlahan... warna kembali. Ia berkata pelan, hampir tak terdengar: “Nama... Leya.” Cermin terbuka di belakang mereka. Tapi bukan cermin biasa. Kini, permukaannya berubah menjadi air tenang, dan cahaya jingga keemasan mengalir keluar. Dan di rumah, lampion kelima menyala. Warnanya bukan merah, bukan biru, bukan emas, bukan jingga. Tapi putih lembut. Warna milik mereka yang tak punya warna. Yang sedang belajar mengenal cahaya. Dan meja makan pun ditambah satu piring lagi. Rumah mereka kini berisi lima. Tapi pintunya... masih belum ditutup. Malam yang Tidak Pernah Dicatat Leya belum banyak bicara, tapi berbeda dengan Mika, ia berjalan lebih dulu ke dapur pagi itu, memeluk bantal kecilnya dan duduk di bangku kayu terdekat. Di depannya, teh hangat sudah menunggu, lengkap dengan dua biskuit kering yang selalu diletakkan Aurel sebagai sambutan. “Elan masih tidur?” tanya Leya pelan, menatap cangkirnya. Aurel mengangguk. “Ia semalam membuat dua lampion sekaligus. Tangannya hampir lengket dengan lem.” Leya tersenyum kecil—senyuman pertamanya sejak pulang dari ruang antara. Mika duduk di sebelahnya, tidak banyak bicara, tapi keduanya seperti saling mengerti. Seperti dua daun jatuh dari pohon berbeda tapi terbawa angin ke tempat yang sama. Raka masuk dengan sepatu penuh lumpur. “Pagi ini hujan akan turun lebih cepat,” gumamnya sambil melepas sepatu. “Tapi bunga di sisi utara mekar semua. Seperti menunggu sesuatu.” Aurel memandangi jendela. Langit mendung, tapi tidak kelabu seperti biasa. Ada semacam rona ungu yang menggantung, samar—seperti bekas mimpi buruk yang belum selesai. Dan di atas meja tengah, cermin kecil yang biasa digunakan Elan untuk melukis—bergetar sendiri. Cermin itu bukan cermin utama. Tapi pantulannya... tidak menunjukkan ruangan yang sama. “Elan?” panggil Aurel. Elan muncul dari balik tangga, membawa liontin keenam yang belum sempat diberi warna. “Aku tahu,” katanya pelan. “Mereka... mulai datang lebih awal dari biasanya.” “Siapa mereka?” tanya Raka cepat. Elan menunjuk ke cermin kecil itu. “Bukan anak-anak yang tersesat. Tapi yang... tidak ingin ditemukan. Mereka bukan datang untuk pulang, tapi untuk mencari sesuatu yang tertinggal.” “Seperti apa?” tanya Mika, matanya membesar. Elan menatap lantai. “Seperti cahaya milik orang lain.” Seketika itu, lampion kelima berkedip. Leya menggenggam tangannya, gemetar. “Dia... dia tahu aku di sini,” bisiknya. Aurel langsung bergerak, menutup cermin kecil itu dengan kain hitam. Tapi pantulannya tidak berhenti. Cahaya ungu terus menembus, dan dari balik kain, terdengar suara seperti daun yang terbakar: kresss… kresss… Raka menoleh cepat ke jendela. “Pohon-pohon di taman... condong ke arah rumah.” “Elan,” ujar Aurel, “apa yang akan terjadi jika anak-anak yang menolak pulang menemukan jalan masuk?” Elan menelan ludah. “Mereka tidak akan menghancurkan rumah ini. Tapi... mereka akan mencoba menjadi bagian darinya. Dengan cara mereka sendiri.” Malam itu, mereka memindahkan semua liontin ke dalam ruang tengah, membentuk lingkaran. Di tengahnya, mereka letakkan sketsa rumah—yang dulu digambar Elan dan kini diperbarui Mika dengan warna-warna baru. Aurel membuat kalimat di ujung kertas itu: > “Rumah bukan hanya tempat pulang, tapi tempat kita menjaga agar cahaya tidak dipaksa padam.” Elan menambahkan satu garis di bawahnya. “Untuk mereka yang belum siap kembali.” Raka menyiapkan lilin cadangan. Tapi satu per satu, lilin-lilin itu padam sendiri, bahkan sebelum dinyalakan. Dan dari arah dapur, terdengar ketukan. Tiga kali. Pelan. Tapi dari dalam. Leya langsung berdiri. “Dia di dapur.” Aurel mendekat pelan. Liontin keenam mulai berdenyut, meski belum diberi warna. Tapi di dalamnya, terlihat kilatan seperti kilau mata... mata yang tidak berkedip. “Aku akan buka,” bisik Aurel. “Jangan sendiri,” kata Raka. Tapi Aurel hanya mengangguk, tangannya sudah menggenggam liontin seperti senjata lembut. Saat ia membuka pintu dapur... …tidak ada apa pun. Tapi angin dingin menyusup masuk. Dan di lantai, ada bayangan. Bayangan tubuh kecil. Tapi tidak ada tubuhnya. Hanya jejak gelap yang berdiri sendiri. Leya memekik. Mika berdiri di depan Elan. Dan Raka menahan napas. Bayangan itu bergerak sendiri, mendekati sketsa rumah yang terbuka di tengah ruangan. “Apa itu?” tanya Mika, suara bergetar. Elan berkata pelan, “Bukan anak. Tapi... sisa anak. Sesuatu yang tertinggal saat seseorang berhasil pulang, tapi rasa takut dan marahnya tidak ikut bersama.” “Apakah itu... milik Leya?” tanya Aurel. Leya menggenggam lengan Elan. “Aku tidak tahu... tapi aku mengenal rasanya. Itu... rasa ingin menghapus semuanya.” Bayangan itu berdiri di depan sketsa rumah. Lalu satu jari hitam muncul dari lantai... dan mulai merobek kertas itu perlahan. Raka berseru, melompat, mencoba menghentikannya. Tapi sebelum sempat menyentuh, tubuhnya terdorong ke belakang oleh hembusan angin dari arah dalam cermin. “Dia ingin rumah ini kosong... karena merasa tak ada rumah untuknya,” kata Elan. Aurel menatap semua liontin. “Kita harus buat dia merasa... diundang. Bukan ditolak.” Elan mengambil liontin keenam, menggambar bentuknya sendiri dengan cepat. Tapi bukan lampion, bukan wajah. Ia menggambar pintu kecil. Terbuka. Dengan cahaya samar di belakangnya. Dan ia menggantung liontin itu di tengah bayangan. “Kalau kau bukan anak siapa pun,” bisik Elan, “maka kau bisa menjadi anak rumah ini. Tapi hanya kalau kau mau membuka pintunya... dari dalam.” Bayangan itu berhenti. Tak bergerak. Lalu pelan... menciut. Menyusut. Hingga membentuk siluet kecil. Seperti anak laki-laki dengan kepala tertunduk. “Namanya... Sero,” ucap Leya. “Dulu dia bersamaku. Tapi saat aku lari dari tempat itu, aku tak pernah menoleh.” Aurel memeluk Leya. “Meninggalkan rasa takut bukan berarti kau jahat. Tapi sekarang, mungkin dia bisa ikut pulang.” Mika mendekat, menaruh satu biskuit di lantai. “Aku tidak akan memaksa kamu bicara. Tapi... kami bisa mendengarkan.” Bayangan itu mengangguk perlahan. Lalu... memudar. Dan liontin keenam menyala. Warnanya tidak bisa dijelaskan. Seperti warna yang hanya muncul di mimpi sebelum bangun. Tapi itu adalah warna yang cukup. Esok harinya, kursi di meja makan bertambah satu. Tapi tak selalu terisi. Kadang kosong. Kadang dingin. Namun setiap malam, ketika lampion dinyalakan satu per satu... ...lampion keenam menyala sendiri. Menandakan bahwa tidak semua anak harus terlihat untuk bisa diterima. Dan rumah itu, masih belum selesai. Tapi ia telah belajar satu hal lagi: Terkadang, yang paling ingin pulang… …adalah bagian dari kita yang kita tinggalkan terlalu lama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD