Pagi berikutnya datang perlahan, diselimuti aroma kayu basah dan sisa embun yang masih menggantung di daun jendela. Aurel terbangun lebih dulu. Rumah itu, meski tenang, kini membawa napas baru. Seperti seseorang yang baru saja sembuh dari demam panjang.
Di sudut ruang tamu, Elan tertidur meringkuk sambil memeluk liontinnya. Wajahnya damai. Tidak lagi gelisah. Tidak lagi dingin seperti malam-malam pertama.
Raka duduk di luar, menggambar ulang sketsa taman mereka. Ia menyalin bentuk lampion buatan Elan ke dalam buku catatannya. Di ujung halaman, ia menulis pelan:
“Rumah bukan tempat kita berasal. Tapi tempat kita berani kembali.”
Aurel membawa dua cangkir teh ke serambi. Keduanya duduk tanpa kata. Burung-burung kembali bersuara. Udara kembali terasa nyata.
Tapi sebelum mereka sempat menikmati keheningan itu, terdengar ketukan dari pintu belakang. Pelan. Tidak memaksa. Tapi cukup untuk membuat mereka saling pandang.
Saat Aurel membuka pintu, tidak ada siapa-siapa. Hanya satu benda yang tergantung di gagang pintu: sebuah liontin baru. Bentuknya bundar. Di dalamnya terdapat serpihan kaca kecil yang berputar perlahan. Seperti butiran waktu yang terjebak di dalamnya.
Di baliknya, terselip secarik kertas kecil.
"Tiga telah dijaga. Empat akan datang mencari. Rumah ini... belum selesai."
Aurel memegang liontin itu erat lalu memanggil Raka.
“Ini bukan milik kita. Tapi kita akan dijadikan bagian dari kisahnya.”
Raka mengangguk. “Seperti cermin yang tak pernah benar-benar memantul utuh.”
Elan muncul dari dalam, mengucek matanya. “Apa itu... panggilan baru?”
Aurel menunduk, menyentuh rambut Elan. “Bukan panggilan. Tapi janji. Kalau suatu hari ada anak lain yang kehilangan bayangannya, rumah ini akan terbuka untuk mereka.”
Elan tersenyum pelan lalu menatap langit. “Kalau begitu, kita harus tetap di sini. Jadi cahaya mereka yang lupa jalan pulang.”
Raka tersenyum. “Dan pastikan cerminnya bersih setiap pagi.”
Aurel menambahkan, “Dan teh selalu hangat.”
Taman kembali tumbuh. Bunga liar mengisi celah tanah dengan warna yang tak pernah sama. Di malam hari, lampion Elan tetap menyala satu per satu. Bukan sebagai penghias. Tapi sebagai penanda bahwa rumah ini masih bernapas. Masih menunggu. Masih percaya.
Dan di suatu tempat, entah kapan, ada cermin lain yang akan bergetar. Karena ada anak yang lupa siapa dirinya. Tapi mengenal cahaya itu. Cahaya yang selalu bisa menuntun pulang.
Hari-hari kembali mengalir seperti sungai tenang yang pernah terlupa alirannya. Pagi diisi dengan kegiatan sederhana: membersihkan kaca jendela, menyiram tanaman, dan merapikan rak buku yang tak pernah benar-benar rapi. Namun di balik kesederhanaan itu, ada rasa siaga yang tidak bisa dijelaskan. Seperti udara sebelum hujan, atau detik sebelum seseorang memanggil nama kita dari kejauhan.
Elan mulai menggambar lebih banyak. Tidak hanya lampion atau bunga, tapi wajah. Wajah-wajah anak-anak yang belum pernah ia temui. Di salah satu gambar, Aurel melihat seorang anak dengan topi robek dan mata besar yang seperti kehilangan cahaya.
“Kau tahu siapa ini?” tanya Aurel lembut.
Elan mengangguk, tidak menatap kertasnya. “Aku belum kenal, tapi dia merasa sendirian. Waktu aku tidur, dia berdiri di seberang cermin.”
Raka menghentikan pekerjaannya di luar. “Cerminnya... bergetar lagi?”
Elan menjawab tanpa suara. Tapi ia menunjuk ke arah ruang belakang, tempat cermin tua kini dibiarkan terbuka, tidak lagi ditutup kain. Permukaannya tenang, tapi Aurel dan Raka bisa merasakan hal yang sama.
Seseorang sedang menunggu.
Malamnya, liontin keempat menyala tanpa disentuh. Warnanya tidak biru, tidak merah, tidak emas seperti yang lain. Warnanya seperti abu, tapi hangat. Seperti bara yang baru saja padam.
Aurel menyentuh liontin itu. “Kalau yang ini... bukan hanya panggilan. Ini permintaan tolong.”
Raka bersiap. Tidak seperti sebelumnya, mereka tidak membawa banyak. Hanya satu tas kecil berisi makanan ringan, lampion cadangan, dan selembar selimut hangat. Elan memeluk liontinnya, lalu berdiri di depan cermin.
“Kita tidak tahu siapa yang akan kita temui,” ujar Aurel.
“Tapi siapa pun dia,” kata Elan, “dia pantas tahu kalau dia tidak sendirian.”
Ketika ketiganya melangkah masuk ke dalam permukaan cermin yang kembali bergelombang, udara rumah menjadi hening. Hanya suara detak jam tua di ruang tengah yang tersisa, berdetak perlahan.
Di sisi lain, dunia yang mereka masuki bukan kegelapan. Bukan cahaya juga. Tapi sesuatu di antaranya. Kabut kelabu melayang, seperti ingatan yang belum selesai diucapkan. Langkah mereka memantul di tanah lembut, penuh debu cahaya yang terbang setiap kali disentuh.
Aurel menggenggam tangan Elan. “Kau lihat sesuatu?”
Elan mengangguk. “Dia di dekat sini. Tapi dia tidak ingin ditemukan... dia takut dilihat.”
Raka menyipitkan mata ke arah kabut. “Bagaimana kita menemukannya kalau dia sendiri tak ingin ditemukan?”
Elan memejamkan mata, lalu melepaskan liontinnya dari leher. Ia menggenggamnya, lalu membisikkan kata pelan.
“Bukan kami yang akan mencarimu. Tapi kami akan tetap di sini... kalau kau ingin pulang.”
Cahaya dari liontin itu naik ke udara. Membentuk bola kecil yang melayang perlahan, memberi penerangan lemah tapi cukup.
Dan dari sela kabut, terdengar suara napas.
Lalu suara isakan.
Di antara sisa-sisa kabut itu, muncul sosok kecil. Seorang anak laki-laki, usianya sekitar tujuh atau delapan tahun. Bajunya robek, dan matanya penuh ketakutan. Tapi ia tidak melihat mereka. Matanya kosong.
“Dia... tidak percaya pada cahaya,” gumam Aurel.
Elan melangkah pelan, mendekat. Ia tidak menyodorkan tangan. Ia duduk, memeluk lutut, dan hanya berkata:
“Aku juga pernah merasa begitu. Saat tidak tahu apakah dunia ingin aku kembali.”
Anak itu tidak menjawab. Tapi matanya mulai bergerak. Sedikit. Lalu sedikit lagi.
Raka menarik napas dalam. “Kalau dia tidak bisa percaya pada kita... kita bisa percaya padanya dulu.”
Aurel mengangguk. “Cahaya tidak harus membakar. Kadang cukup jadi api kecil yang bertahan.”
Elan membuka liontin keempat. Di dalamnya, muncul gambar—bukan wajah siapa pun. Tapi rumah. Rumah liburan mereka. Versi sederhana dari atap miring, taman kecil, dan jendela yang selalu terbuka.
“Kalau kau belum punya rumah... kami bisa jadi satu.”
Anak itu menatap liontin itu lama. Lalu satu tangannya terulur. Pelan. Ragu. Tapi ia menyentuh permukaan liontin.
Dan kabut... menghilang.
Langit muncul. Tanah mengeras. Warna kembali. Anak itu berdiri di tengah mereka, bingung tapi tidak takut.
“Namaku Mika,” katanya lirih. “Dan aku... lupa cara pulang.”
Aurel memeluknya pelan. “Tidak apa-apa. Sekarang kau tidak sendiri.”
Dan untuk pertama kalinya, liontin keempat menyala penuh. Bukan abu. Tapi jingga terang. Warna fajar.
Di belakang mereka, cermin terbuka kembali.
Rumah menunggu. Tapi kali ini, rumah itu akan kedatangan satu anak lagi.
Dan tempat di meja makan, kini harus ditambah satu piring lagi.