Sejak pulang dari rumah Ayzen, Aurel tak pernah lagi melihat cermin dengan cara yang sama.
Di kamarnya kini hanya ada satu cermin kecil, bulat, tergantung di dinding. Itu pun sering ia tutupi kain tipis. Tapi pagi itu, saat sinar matahari menerobos celah tirai dan menyentuh liontin kecil berbentuk mata tertutup yang tergantung di lehernya, sesuatu berubah.
Cahaya dari liontin itu menembus kain yang menutupi cermin.
Dan dari balik permukaan kaca, terdengar suara yang sangat ia kenal.
"Kalau aku ada, kamu akan tahu, kan?"
Aurel tersentak. Ia menatap liontin itu lekat-lekat, lalu melirik cermin dengan ragu. Tangan kirinya gemetar saat meraih kain dan menariknya perlahan.
Tidak ada apa-apa. Hanya pantulan kamarnya sendiri.
Tapi liontin itu bergetar halus. Ukiran nama RAKA – AUREL bersinar samar, dan cahaya itu menyebar ke cermin seperti benang cahaya yang hidup.
Lalu bayangan mulai terbentuk.
Bukan pantulan dirinya.
Tapi gambar.
Raka berdiri di tengah taman asing, mengenakan pakaian yang belum pernah Aurel lihat. Di belakangnya terbentang langit malam yang tidak biasa. Ada bintang, tapi tidak membentuk gugus yang dikenal. Dan bulan... ada dua.
Aurel memejamkan mata sejenak.
"Raka..." bisiknya.
Ketika membuka mata lagi, Raka di dalam cermin menoleh langsung padanya.
"Aku tidak tahu ini di mana. Tapi sepertinya... aku hidup."
"Apakah kamu ingat aku?"
Raka mengangguk, meski raut wajahnya tampak bingung.
"Aku tidak tahu namamu. Tapi hatiku tahu. Saat aku memegang liontin ini di sini, aku merasa... hangat. Aman."
Aurel menelan ludah. Matanya mulai basah.
"Aku Aurel. Kamu Raka. Kita pernah bersama. Di rumah itu. Kamu menyelamatkanku."
Raka di dalam cermin terdiam sejenak. Lalu, ia menyentuh dadanya, tepat di atas liontin kecil yang tergantung juga di lehernya.
"Bentuknya sama. Tapi namanya belum tertulis."
Aurel terdiam. Ia mengerti sekarang.
Liontin yang diberikan rumah bukan hanya simbol ingatan.
Itu adalah pengikat antara dunia.
Dan Raka tidak benar-benar kembali. Ia hanya... berpindah.
Suara di dalam cermin mulai memudar. Tapi Raka sempat mengatakan satu kalimat sebelum gambarnya menghilang.
"Kalau kamu bisa menemukanku lagi, aku akan ingat siapa aku."
Lalu cermin kembali menjadi kosong. Hanya bayangan kamar Aurel yang tersisa.
Aurel terduduk di lantai. Tangannya menggenggam liontin erat-erat.
Kali ini, bukan karena kehilangan.
Tapi karena harapan.
Hujan turun pelan saat Aurel membuka laci lama di meja belajarnya. Tangannya menyusuri tumpukan buku, kertas usang, dan catatan yang dulu sempat ia ambil dari rumah Ayzen. Ia bahkan hampir lupa pernah menyimpannya. Tapi suara dari cermin pagi tadi membuat semuanya kembali.
Di bawah tumpukan, ia menemukan sebuah buku bersampul kulit tua berwarna cokelat tua.
Tidak berjudul. Tidak bernama. Hanya simbol aneh yang terukir di sampulnya. Dua lingkaran yang saling menyilang, dan satu garis kecil membelah di tengah.
Aurel membuka halaman pertama.
Tulisan tangan dengan tinta hitam pekat menyambutnya:
> “Bila cahaya menyentuh ingatan yang belum ditutup, maka jalan pulang akan terbuka. Tapi tak semua pintu menuju ke tempat yang sama.”
Ia menelan ludah. Tangannya gemetar saat membalik halaman kedua. Di sana, ada gambar yang membuatnya terdiam cukup lama.
Sebuah taman.
Taman berbintang.
Dengan langit bergemerlap, dua bulan menggantung, dan seseorang berdiri di tengah taman dengan liontin di lehernya.
Itu Raka. Gambar yang persis seperti yang ia lihat di cermin.
Aurel membalik halaman-halaman selanjutnya. Setiap lembar memuat gambar dan petunjuk simbolik yang belum sepenuhnya ia mengerti. Tapi semakin dalam ia membacanya, semakin ia sadar. Buku ini bukan sekadar catatan. Ini adalah peta dimensi.
Dan taman itu... bukan berada di dunia ini.
Di salah satu halaman, ia menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan dari semuanya.
> “Gerbang Cahaya ke Dunia Pantulan hanya terbuka saat jiwa yang terikat saling memanggil pada waktu yang tepat. Perhatikan arah bulan dan posisi liontin.”
Di bawah kalimat itu ada lukisan tangan seseorang yang mengangkat liontin ke arah cahaya bulan kembar.
Aurel berdiri. Ia berjalan ke jendela dan menatap langit yang mulai cerah.
Ia tahu, malam ini, ia harus menunggu bulan.
Dan untuk pertama kalinya sejak keluar dari rumah Ayzen, ia ingin kembali.
Malam pun datang. Aurel berdiri di halaman rumahnya, memegang liontin erat di tangan.
Langit bersih. Tapi hanya satu bulan yang terlihat.
Ia menghela napas. Belum saatnya.
Saat hendak berbalik dan kembali ke dalam rumah, matanya menangkap sesuatu yang berbeda.
Ada cahaya dari belakang kebun.
Langkahnya pelan. Kakinya menembus rumput basah. Di tengah kebun yang biasanya sepi, kini tumbuh sebuah pohon besar.
Pohon itu tidak pernah ada sebelumnya.
Aurel berdiri di hadapannya, jantungnya berdebar pelan. Di bawah pohon itu, tanah mulai berubah. Permukaannya perlahan memudar, menjadi datar, bening, dan memantulkan langit malam.
Itu bukan tanah.
Itu cermin.
Dan di dalam pantulannya, Aurel melihat taman yang sama seperti di dalam buku. Dengan dua bulan yang bersinar di langitnya.
Dan di tengah taman itu, berdiri sosok Raka.
Tersenyum. Seolah menunggu.
Aurel berdiri di depan permukaan cermin raksasa yang menghampar seperti danau. Cahaya dua bulan yang tampak dari dalam pantulannya membuat dunia itu terlihat nyata. Padahal ia masih berada di kebun rumahnya sendiri, di tengah malam yang sepi dan dingin.
Namun kakinya tidak mundur.
Liontin di tangannya kembali bergetar, lalu bersinar. Sama seperti pagi itu.
Ia menarik napas panjang, lalu menunduk menatap refleksinya.
“Kalau aku masuk, kau harus ingat aku,” bisiknya pelan.
Tanpa pikir panjang, ia melangkah maju. Tubuhnya perlahan melewati permukaan cermin itu seperti menyelam ke dalam air yang tenang.
Seketika, hawa dingin menyapu seluruh kulitnya. Udara berubah. Waktu berhenti.
Langkah berikutnya membawanya ke dunia yang lain.
Ia berdiri di atas rumput lembut yang memantulkan cahaya biru. Taman itu sunyi, tapi tidak kosong. Di atas langitnya, dua bulan bersinar. Langit hitam penuh bintang aneh yang tidak pernah ia lihat di dunia nyata. Suara angin mengalun seperti bisikan.
“Ini… bukan mimpi,” gumam Aurel.
Ia berjalan pelan melewati jalur batu putih, mengarah ke pusat taman. Pepohonan di sekelilingnya seperti terbuat dari kaca, dengan daun-daun perak yang bergetar ketika disentuh cahaya bulan.
Di tengah taman, sosok itu berdiri.
Raka.
Tapi bukan Raka yang ia kenal sepenuhnya.
Mata Raka terlihat berbeda. Tenang, tapi kosong. Seperti sedang menunggu sesuatu, atau seseorang, untuk mengisi kekosongan itu.
Aurel mendekat. Langkahnya lembut, takut mengganggu keheningan.
“Raka.”
Sosok itu menoleh perlahan.
Matanya menatap wajah Aurel, lama.
“Aku mengenalmu…” katanya pelan.
“Ya,” jawab Aurel sambil tersenyum, walau matanya mulai berkaca.
Raka mengulurkan tangan. Tapi sebelum jemari mereka bertemu, permukaan tanah di sekitar mereka bergelombang. Seperti riak pada air.
Dan dari balik semak-semak berdaun perak, muncul seseorang.
Bukan siapa-siapa.
Tapi seseorang yang sama persis seperti Aurel.
Wajah yang sama. Tatapan yang sama.
Tapi lebih tenang. Lebih dingin. Lebih... kosong.
“Tidak boleh begitu saja,” ucap sosok itu.
“Siapa kamu?” tanya Aurel.
“Aku adalah kamu yang memilih untuk tinggal,” jawabnya.
Aurel menatap Raka. Ia bisa melihat kebingungan di mata Raka.
“Ini bukan tentang kamu saja. Dunia ini menyimpan semua kemungkinan. Termasuk diriku yang menyerah, diriku yang tetap tinggal, diriku yang tak ingin mengingat rasa sakit,” lanjut Aurel tiruan itu.
Lalu sosok itu menoleh ke Raka.
“Kamu pun begitu. Kau bukan satu-satunya Raka yang masuk. Dan dia bukan satu-satunya Aurel yang datang mencarimu.”
Raka perlahan menunduk. Ia memejamkan mata. Tapi kali ini, saat membuka, ia tak lagi bingung.
Ia menatap Aurel yang asli, lalu mengangguk.
“Kamu yang membuatku ingin pulang,” katanya lembut.
Sosok tiruan Aurel tersenyum. Tapi senyuman itu tidak hangat. Lebih mirip kepasrahan.
“Kalian bisa pergi. Tapi tinggalkan aku di sini.”
Aurel tidak menjawab.
Ia hanya meraih tangan Raka.
Saat jemari mereka bersentuhan, liontin di leher keduanya menyala bersamaan. Dan langit di atas taman berguncang pelan.
Pintu telah terbuka.
Tapi dunia ini tidak akan membiarkan mereka pergi begitu saja.