Bab 7

1301 Words
Tanah di bawah kaki mereka mulai pecah seperti retakan kaca. Udara bergetar. Pohon-pohon kaca di sekeliling taman mengeluarkan suara melengking, seperti nyanyian yang sedang pecah oleh kesedihan. Aurel menggenggam tangan Raka lebih erat. “Kalau kita tinggal terlalu lama… dunia ini akan menelan kita juga,” bisiknya. Raka mengangguk. “Tapi kau belum tahu jalan pulangnya.” Dari belakang mereka, sosok Aurel tiruan melangkah pelan. Wajahnya tetap datar, tapi kini ada seberkas lembut di sorot matanya. “Tidak ada jalan pulang yang sama bagi semua orang. Tapi kalian sudah menemukan satu hal yang tidak dimiliki kami yang tinggal di sini…” Ia menyentuh dadanya. “Keinginan untuk kembali.” Dari jubah panjangnya, sosok itu mengeluarkan sesuatu: sebuah serpihan kecil, seperti pecahan kaca—tapi tidak memantulkan bayangan. Ia menyodorkannya ke Aurel. “Ingat baik-baik: saat dua jiwa terikat menyatu kembali, bayangan akan berubah menjadi pintu.” Aurel mengambil serpihan itu. Saat disentuh, benda itu terasa hangat. Dan tiba-tiba, langit di atas mereka mulai meredup. Bulan kembar kehilangan sinarnya. Dunia ini... mulai runtuh. Raka menarik Aurel ke belakang. “Kita harus keluar sekarang!” Tapi tidak ada jalan. Taman sudah mulai hancur. Batu pijakan lenyap satu per satu, berubah menjadi debu cahaya. Cermin yang tadi menghubungkan dunia mereka kini menghilang dari pandangan. Aurel memejamkan mata. Ia mendengar lagi kalimat dalam buku: > “Perhatikan arah bulan dan posisi liontin…” Ia meraih liontin yang tergantung di lehernya. “Angkat ke langit!” teriaknya pada Raka. Keduanya mengangkat liontin masing-masing tinggi ke udara. Cahaya dari liontin itu melesat, membentuk garis cahaya ke langit gelap. Lalu turun... menciptakan lingkaran cahaya di bawah kaki mereka. Sebuah pintu bundar muncul, memutar seperti pusaran air. Sosok Aurel tiruan tersenyum tipis. “Jaga satu sama lain. Jangan biarkan dunia lupa bahwa kalian pernah saling memilih.” Aurel ingin berkata sesuatu. Tapi sebelum ia sempat, tanah di bawahnya hancur seluruhnya dan tubuh mereka tersedot masuk ke dalam pusaran cahaya. Gelap. Senyap. Saat Aurel membuka mata, ia kembali berada di tengah kebun belakang rumahnya. Langit masih malam. Tapi hanya satu bulan yang terlihat. Liontin di lehernya masih bersinar, tapi perlahan meredup. Ia langsung menoleh. Raka tergeletak di tanah tak jauh darinya. Napasnya berat, tapi matanya terbuka. “Aurel…” bisiknya. Ia tersenyum. “Kamu ingat?” “Lebih dari itu,” kata Raka sambil bangkit perlahan. “Aku merasa... seperti kembali dari tempat yang tidak punya waktu.” Aurel membantu Raka berdiri. Tangan mereka masih menggenggam. Tidak dilepas sejak tadi. “Kalau kamu udah di sini, berarti rumah itu... benar-benar selesai,” gumam Aurel. Raka menoleh padanya. “Atau mungkin belum selesai. Tapi kita dikasih kesempatan untuk menulis bab yang baru.” Mereka berjalan kembali ke dalam rumah. Hujan sudah berhenti. Tanah masih basah. Tapi udara malam terasa lebih hangat, seolah dunia ikut bernapas lega. Beberapa hari setelah itu, Aurel kembali membuka buku tua bersampul kulit. Ia menyisipkan satu halaman tambahan di bagian belakang. Tulisan tangannya tegas, tapi penuh rasa. > “Rumah itu bukan tempat. Kadang ia cuma momen. Kadang ia orang. Kadang ia bayangan dalam cermin yang menatap balik dan berkata: kamu selamat.” > “Dan rumah liburan terakhir itu… bukan tentang akhir. Tapi tentang jalan pulang yang tak pernah benar-benar hilang.” Di halaman sebaliknya, Raka menambahkan: > “Jika suatu hari aku lupa lagi, tolong bacakan ini padaku.” > “Karena kadang, untuk kembali pulang, kita hanya perlu satu suara yang berani berkata: ‘Aku masih di sini.’” Sudah seminggu sejak malam Aurel dan Raka kembali dari taman dimensi. Hari-hari mereka kembali tenang. Atau setidaknya terlihat begitu. Raka mulai menulis lagi di jurnal kulit tuanya, duduk di bawah pohon belakang rumah yang kini terasa seperti penjaga bisu yang menyimpan rahasia dunia lain. Aurel kembali ke kebiasaannya: menyeduh teh setiap pagi, merapikan buku-buku di rak, menata kain penutup cermin... Tapi satu hal berubah. Pantulan Aurel di cermin tidak lagi terasa seperti bayangan biasa. Awalnya hal kecil. Saat ia berdiri di depan cermin kamar mandi dan menyadari matanya dalam pantulan menatap lebih lama daripada seharusnya. Atau saat ia menyikat gigi dan gerakan bayangannya sedikit tertunda. Ia menyalahkan kelelahan. Tapi suatu malam, setelah menutup buku dan bersiap tidur, ia melihat pantulannya masih berdiri meski tubuhnya sudah duduk. Aurel membeku. Bayangannya memiringkan kepala. Tersenyum kecil. Lalu meniru gerakannya—tapi tidak dengan canggung, melainkan dengan kejelasan yang mengganggu. Seolah bayangan itu bukan meniru, tapi... memimpin. Aurel buru-buru menarik kain penutup cermin. Keesokan harinya, ia tidak mengatakan apa pun pada Raka. Tapi saat sarapan, Raka berkata tiba-tiba, “Kamu gak tidur nyenyak tadi malam.” Aurel tersentak. “Kamu denger sesuatu?” “Bukan denger. Lebih ke... rasa. Seperti ada sesuatu yang berdiri di ambang pintu kamar. Tapi pas kulihat, gak ada siapa-siapa.” Aurel menggenggam cangkirnya lebih erat. “Raka... kamu percaya kalau dunia cermin belum sepenuhnya menutup?” Raka memandangnya tajam. Tapi tidak kaget. “Kamu lihat sesuatu?” Aurel mengangguk pelan. “Bukan sesuatu. Tapi seseorang. Diriku. Tapi... bukan aku.” Raka menghela napas, lalu bangkit. Ia berjalan ke lemari dan mengambil liontinnya. “Aku juga masih sering ngerasain getaran dari benda ini. Seolah... kita belum benar-benar dilepas.” Hari itu, mereka kembali membuka buku kulit tua yang dulu membawa mereka pada petunjuk pertama. Di halaman yang belum mereka baca, Aurel menemukan bagian yang tampaknya ditulis untuk situasi seperti ini: > “Jika bayangan tetap tinggal setelah tubuh kembali, itu berarti cermin menyimpan bagian jiwamu.” “Bayangan itu bukan musuh, tapi pantulan dari kemungkinan yang belum selesai. Jangan lawan. Tanyakan: apa yang belum disampaikan?” Aurel menatap tulisan itu lama. Raka menyentuh bahunya. “Kamu harus bicara padanya.” “Bagaimana caranya?” “Bukalah cermin. Tapi jangan sekadar menatap—ajak dia bicara. Bukan sebagai ancaman, tapi sebagai bagian dirimu sendiri.” Malam itu, Aurel duduk sendiri di depan cermin bundar kecil di kamarnya. Ia menyalakan lilin. Menanggalkan liontin dari lehernya dan meletakkannya di atas meja. Menyingkirkan semua suara, semua ketakutan. Hanya ia dan bayangannya. Perlahan, ia menarik kain penutup. Pantulan itu sudah menunggu. Mata mereka bertemu. Aurel menarik napas dalam. “Kalau kamu bisa mendengarku... aku ingin tahu apa yang masih kamu pegang.” Bayangannya tersenyum. Tapi bukan senyum menyeramkan. Lebih seperti... seseorang yang lelah. Lalu, ia mulai menulis di kaca. Tapi anehnya, tidak dengan jari. Kata-kata itu muncul sendiri, seolah mengembun di permukaan cermin: > “Aku adalah kamu yang tetap berjaga ketika kamu mencoba melupakan.” > “Aku adalah ketakutanmu yang kamu kubur dalam-dalam, agar kamu bisa bahagia.” Aurel merasakan matanya panas. “Kalau aku mencoba lupa, itu karena aku pengin hidup... pengin bahagia...” Tulisan baru muncul: > “Bahagia tidak berarti menolak luka. Tapi membawanya bersama tanpa membiarkannya menghancurkan.” Aurel menatap pantulan itu, yang kini tidak lagi tersenyum. Wajahnya sama persis, tapi tampak lebih utuh. “Apa yang kamu mau?” tanyanya. Bayangannya mengangkat tangan, lalu menunjuk liontin di meja. > “Satukan kita. Maka kamu akan benar-benar utuh. Maka cermin akan berhenti mengikuti.” Aurel ragu. Tapi ia tahu, selama ini, ia hanya mencoba bertahan dengan setengah dirinya. Setengah yang kuat. Setengah yang berani. Dan ia meninggalkan setengah lainnya... ketakutan, trauma, kehilangan. Kini, ia meraih liontin itu. Memegangnya erat. Lalu memejamkan mata. “Kalau kamu memang bagian dariku... aku tidak akan melawan lagi.” Saat matanya terbuka, cermin itu bersinar. Pantulannya tersenyum. Lalu perlahan... memudar. Tidak hilang. Tapi menyatu. Ke dalam mata Aurel sendiri. Dan untuk pertama kalinya, ia menatap dirinya di cermin... dan merasa utuh. Beberapa hari setelahnya, Raka menemukannya di ruang baca, menulis sesuatu. “Kamu kelihatan lebih ringan,” katanya. Aurel tersenyum. “Mungkin karena aku sudah berhenti menolak siapa diriku yang pernah takut.” “Apa yang kamu tulis?” “Judul bab baru.” “Apa judulnya?” Aurel menunjukkan secarik kertas: > “Bayangan yang Tidak Lagi Mengejar".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD