Musim semi datang lebih cepat tahun ini.
Rumah tua di tepi hutan itu mulai dipenuhi suara burung dan aroma tanah yang baru basah. Tapi di dalam rumah, Aurel dan Raka masih menyimpan kehati-hatian dalam setiap langkah. Bukan karena ketakutan… tapi karena mereka tahu dunia tidak selalu berakhir saat halaman ditutup.
Beberapa minggu setelah penyatuan itu, Aurel tak lagi merasa cermin mengawasinya. Tapi kadang, saat malam benar-benar sunyi, ia masih mendengar bisikan. Bukan suara asing—tapi suara hatinya sendiri. Yang dulu ia kubur terlalu dalam.
Raka memperhatikannya dengan tenang. Ia tidak bertanya banyak, hanya berada di dekatnya. Dan Aurel tahu, meski mereka kembali ke rumah, mereka belum sepenuhnya selesai dengan perjalanan itu.
Satu Malam di Bawah Pohon
Raka duduk di bawah pohon tua yang dulu menjadi saksi pertama kebersamaan mereka. Di tangan kirinya, ia memegang lembaran dari jurnal Aurel.
Di halaman itu, Aurel menulis:
> “Aku tidak akan pernah jadi sempurna. Tapi aku bisa menjadi seseorang yang belajar memaafkan dirinya sendiri.”
Saat Aurel keluar dengan dua cangkir teh, ia menatap halaman itu.
“Ketemu halaman rahasia, ya?” godanya.
Raka tersenyum. “Bukan rahasia, kan, kalau kamu ninggalinnya terbuka.”
Aurel duduk di sampingnya. Sunyi menemani mereka sejenak sebelum Raka berkata,
“Aku juga masih belajar, kamu tahu.”
“Belajar apa?”
“Belajar untuk gak selalu jadi pelindung. Kadang... aku harus jadi orang yang boleh takut juga.”
Aurel menoleh, memandang wajah Raka yang kali ini tidak menutupi rasa lelahnya.
“Aku pernah nyaris kehilangan kamu, Ra,” ucapnya pelan.
“Dan aku masih di sini,” jawab Raka.
Aurel menggenggam tangannya. “Kalau suatu hari... bayangan itu kembali?”
“Kita hadapi sama-sama. Tapi dengan cahaya yang sudah kita nyalakan.”
Sebuah Undangan Tiba
Satu pagi, selembar surat tanpa pengirim tergeletak di depan pintu.
Kertasnya tua, berwarna kelabu, dan di segelnya terukir simbol bulan dan cermin bertumpuk.
Aurel membuka surat itu pelan.
> “Untuk yang pernah kembali dari antara bayangan,
Dunia tak sepenuhnya tertutup.
Kami butuh saksi.
Kami butuh penjaga baru.
Karena rumah tidak hanya untuk ditinggali—
Tapi untuk dijaga, agar tak hilang bagi mereka yang tersesat.”
Aurel menunjukkan surat itu pada Raka. Mereka saling tatap.
“Apa maksudnya?” tanya Raka.
“Entah. Tapi aku rasa… mereka bicara soal rumah cermin itu. Taman yang hancur,” jawab Aurel.
Raka menatap langit. “Kalau itu dunia yang mulai runtuh… mungkin sekarang giliran kita menjaga agar tak sepenuhnya lenyap.”
Aurel menggenggam surat itu lebih erat.
“Bukan sebagai pelarian. Tapi sebagai jembatan.”
Raka mengangguk. “Kita bantu yang lain menemukan jalan pulang mereka juga.”
Di Bawah Cermin Terakhir
Beberapa minggu kemudian, Aurel dan Raka mendatangi tempat yang dulu menjadi titik masuk mereka ke dunia cermin—sebuah rumah liburan tua di tepi danau, yang kini kosong dan penuh debu.
Di ruang tengahnya, masih tergantung satu cermin besar, tertutup kain putih.
Mereka berdiri di hadapannya. Sunyi.
“Siap?” tanya Raka.
“Lebih dari siap,” jawab Aurel.
Kain ditarik.
Dan di baliknya, bukan hanya pantulan mereka.
Tapi juga pintu yang perlahan terbuka.
Bukan menuju dunia asing.
Tapi ke tempat yang menunggu mereka untuk menjadi penjaga…
Penjaga antara cahaya dan bayangan.
Penjaga jalan pulang.
Hari itu hujan turun pelan sejak pagi. Hujan yang tidak mengganggu, tapi membawa rasa dingin yang diam-diam menyusup ke dalam tulang. Aurel menyalakan pemanas kecil di ruang tengah, sementara Raka duduk di ambang jendela, memperhatikan butiran air yang menetes perlahan di luar kaca.
Rumah mereka kembali hening. Tapi bukan sepi yang mencekam—melainkan sunyi yang tenang. Seperti dunia tahu, mereka butuh waktu untuk bernapas.
Tapi ketenangan itu tak bertahan lama.
Saat malam mulai turun, terdengar ketukan di pintu.
Tiga kali. Pelan. Tidak tergesa.
Aurel menoleh dari dapur. Raka bangkit dari sofa dan berjalan ke depan. Tak ada suara langkah kaki lain. Hanya angin yang berdesir di antara celah pohon.
Raka membuka pintu.
Dan di sana—berdiri seorang anak laki-laki. Mungkin tujuh tahun. Tubuhnya basah kuyup, rambut hitamnya menempel di kening, dan matanya... terlalu kosong untuk anak seusianya.
Tanpa bicara, anak itu mengangkat tangan dan menunjukkan sebuah benda kecil: liontin, mirip dengan milik Aurel dan Raka.
Aurel segera datang menyusul. Begitu matanya bertemu mata anak itu, waktu seolah berhenti sejenak.
Anak itu membuka mulutnya perlahan.
“Apa ini rumah pulang?”
Malam Itu
Anak itu duduk di depan perapian, mengenakan baju hangat milik Raka. Ia tak banyak bicara. Namanya, katanya, adalah Elan.
Tapi saat ditanya dari mana ia datang… ia hanya menjawab,
> “Dari tempat di mana bayangan tidak lagi punya tubuh.”
Aurel merasakan punggungnya merinding.
“Di sana dingin?” tanyanya pelan.
Elan menatapnya. “Tidak. Di sana kosong.”
Raka menatap liontin milik Elan. Ia mirip, tapi tak sepenuhnya sama. Cahayanya redup, dan di tengahnya ada garis retakan halus.
“Kamu tahu kenapa kamu bisa ke sini?”
Elan menggeleng. “Aku hanya tahu... aku melihat kalian dari balik kaca. Lama sekali. Lalu tiba-tiba, pintunya terbuka.”
Malam Menjadi Panjang
Saat Aurel tidur, ia bermimpi.
Dalam mimpi itu, ia melihat sebuah lorong tak berujung. Di setiap sisi dinding lorong, ada cermin. Tapi semua cermin retak, dan dari dalamnya mengalir bisikan.
Salah satu cermin menunjukkan sosok Elan kecil, berdiri sendirian di tengah taman kaca. Ia memanggil, tapi tak bersuara.
Tiba-tiba, bayangan Elan muncul dari belakangnya. Tapi bayangan itu... berbeda.
Tingginya dua kali Elan. Wajahnya tak punya mata. Dan dari dadanya, muncul celah hitam seperti mulut yang terus membuka dan menutup.
Aurel terbangun dengan teriakan tertahan. Raka sudah duduk di sampingnya.
“Aurel. Dia... hilang.”
Pencarian Malam
Mereka menyisir rumah. Setiap kamar. Setiap sudut. Tapi Elan tak ditemukan. Sampai akhirnya, mereka tiba di depan cermin ruang baca.
Dan di sanalah... Elan berdiri.
Tepat di dalam cermin.
Bukan pantulan.
Tapi benar-benar di dalam.
“Jangan dekat!” teriak Elan. Wajahnya panik. “Dia... mengikutiku!”
Aurel hendak menyentuh permukaan kaca, tapi sesuatu bergerak di belakang Elan—sesuatu tinggi, gelap, dan nyaris tak berbentuk.
Bayangan besar itu bergerak cepat dan—
Cermin retak.
Elan lenyap.
Kembali ke Buku Kulit
Di halaman paling belakang yang belum terbaca, Raka menemukan simbol cermin terpecah.
Di bawahnya tertulis:
> “Jika jiwa yang belum lengkap menyeberang terlalu jauh, ia akan ditelan oleh bayangan dirinya sendiri.”
Aurel membalik halaman:
> “Namun, jika seseorang dari dunia nyata memanggil namanya tiga kali di bawah cahaya liontin, jalur akan terbuka.”
Tanpa ragu, Aurel menggenggam liontin, menyalakannya, dan berdiri di depan cermin yang kini nyaris tak menampilkan apa-apa.
Ia menatap kaca, menahan napas.
“Elan…”
Cahaya berkedip.
“Elan…”
Retakan mulai menyatu perlahan.
“Elan…”
Dan tiba-tiba, cermin menyala seperti air.
Aurel dan Raka saling pandang.
“Kalau kita masuk kali ini,” bisik Raka, “kita mungkin gak bisa kembali cepat.”
Aurel menggenggam tangannya.
“Dia anak yang hilang dari refleksi. Tapi mungkin... yang dia butuhkan cuma kita yang percaya dia bisa pulang.”
Mereka melangkah masuk.
Menuju dunia bayangan.
Untuk menemukan seorang anak yang tersesat.
Dan untuk sekali lagi…
Menjadi rumah bagi yang terlupa.