Cuaca hari itu teramat cerah. Bahkan langit yang berwarna biru saja seolah mengucapkan selamat pada bocah berusia 16 tahun itu atas kepindahannya ke sekolah baru. Gadis itu juga sudah mulai menyusuri lorong panjang dengan tenang. Di depannya sudah ada guru wali kelas yang akan membimbingnya selama setengah tahun ke depan.
Kehadirannya disambut meriah dengan suara-suara ribut yang dihasilkan manusia-manusia yang berada di dalam kelas. Nama bocah itu Kyla, dan dia seorang siswi pindahan.
“Silent, please!“
Suara pintu yang dibuka dan hardikan dari wali kelas membuat semua orang diam. Mereka otomatis menghentikan obrolan mereka dan kembali ke tempat duduknya masing-masing karena tahu jika kedatangan wali kelas menandakan jam pelajaran akan segera dimulai.
“Hari ini kita kedatangan murid baru.“
Ketenangan itu tidak bertahan lama. Setelahnya suara bisik-bisik seperti dengungan lebah itu kembali terdengar. Sekarang tempat ini baru bisa disebut ruang kelas karena ribut dan tidak tertib.
“Silahkan Masuk!“
Bocah itu segera membuka pintu dan mulai melangkah masuk secara perlahan. Suasana kembali senyap dan kali ini, pandangan mereka tertuju pada si siswi baru.
“Ini adalah teman baru kalian. Mulai sekarang, dia juga bagian dari keluarga SMP Permai Indah. Untuk kalian semua Bapak harap bisa bergaul dengan baik.“
Semua orang masih diam dan tampak tidak terlalu antusias dengan kehadiran murid baru itu. Meski begitu, mereka juga tidak menunjukkan kalau mereka terganggu dengan kehadirannya.
“Kamu mau memperkenalkan diri kamu sendiri atau Bapak yang perkenalkan?“
“Saya sendiri saja, Pak.“
Pria paruh baya itu mengangguk dan memberikan waktu pada gadis itu untuk memulai perkenalan dirinya. Semua mulai menunggu. Kyla juga terlihat sedang menghela nafas pelan sebelum memulai membuka suara.
“Selamat pagi semuanya. Perkenalkan, nama saya Kylandra Misya. Saya pindahan dari SMP 01. Sebelumnya saya sangat khawatir ketika harus pindah ke tempat baru. Tapi sekarang untungnya tidak. Senang bertemu dengan kalian dan saya harap kita bisa berteman dengan baik.“
Semua murid yang ada di kelas itu tampak terpaku. Mereka mungkin tidak menyangka jika bocah pindahan itu bisa mengekspresikan perasaanya semudah itu. Mereka yang awalnya nampak enggan memberikan jawab, kini satu-persatu mulai menjawab sapaan dari Kyla.
Kyla yang memang sejak awal khawatir mulai bisa kembali tersenyum. Apa yang dia katakan tadi memang benar. Banyak kekhawatiran yang muncul dibenaknya. Apalagi dia baru di tempat ini dan dia juga pindahan. Sulit bagi sebagian orang untuk berinteraksi dengan orang baru. Kyla tidak seperti itu, tapi tetap saja dia membutuhkan waktu juga.
Melihat bagaimana respon yang dia dapat dari teman sekelasnya sudah bisa menandakan kalau mereka adalah manusia-manusia yang baik. Kyla itu selalu berpikiran positif meski sebenarnya cara kerja dunia tidak semudah itu.
“Oh, iya. Satu lagi. Kyla itu termasuk murid yang pintar. Dia itu peraih nilai tertinggi seprovinsi dan Bapak yakin, Kyla ini bisa jadi inspirasi buat kalian semua.“
Penjelasan yang diberikan wali kelasnya malah membuat Kyla tidak bisa berkutik. Dia tidak mau dikenal sebagai anak yang sombong dan dia juga tidak ingin pandangan calon teman-teman barunya berubah karena pengumuman yang menurutnya tidak penting itu.
Sesuai yang dia pikirkan. Semua anak yang ada di dalam kelas mulai berbisik-bisik. Kyla sudah menyangka soal itu dan pasti kehidupan di sekolah ini tidak akan mudah baginya setelah apa yang dikatakan wali kelasnya itu.
“Kalau begitu kamu bisa duduk di kursi kosong dekat anak yang ada di samping jendela.“
Tangan pria paruh baya itu menunjuk ke belakang. Ke tempat anak yang sedang duduk namun pandangannya menatap keluar.
Kyla tidak tahu apa yang sebarnya terjadi. Saat mengatakan itu, bisikan-bisikan kembali terdengar. Semua anak yang ada juga langsung menoleh ke objek yang sebelumnya sudah ditunjuk wali kelas mereka.
Memangnya kenapa dengan anak itu?
Kyla yang sudah tidak mau berpikir langsung menjawab dengan senyuman dan segera melangkahkan kakinya mendekat ke arah meja yang ditunjuk untuknya.
“Halo,” sapanya. Tapi tidak ada jawaban dari bocah itu. Bahkan dia sama sekali tidak melirik ke arah Kyla. Posisinya masih sama. Menatap keluar jendela.
Kyla mengedikkan bahunya pelan. Dia fikir suaranya teramat kecil dan memutuskan untuk menyapanya lagi.
“Halo, nama aku Kyla. Nama kamu siapa?!“
Kali ini ada respon. Pria itu membalikkan tubuhnya untuk menatap Kyla dan tampang pria itu berhasil membuat Kyla terpaku. Dia adalah pria yang memiliki wajah teramat tampan versi Kyla.
Pria itu menyeringai dan sontak membuat Kyla mengernyit. Yang awalnya antusias, kini Kyla berubah jengkel. Dia menatap datar ke arah pria itu.
“Mari berteman. Jika butuh sesuatu, kamu bisa bilang ke aku.“
Bukannya dijawab, sosok itu malah mendengus kasar sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sedangkan Kyla yang diperlakukan seperti itu nampak terkejut. Baru kali ini dia merasa diabaikan oleh seseorang.
Kyla sudah terlanjur kesal karena dia dua kali diabaikan. Dia memutuskan untuk tidak sudi menyapa lagi dan lebih memilih untuk mengeluarkan buku pelajarannya. Dia masih berfikir positif karena pasti, seiring berjalannya waktu mereka berdua bisa menjadi teman.
Kalau pun tidak, Kyla cuma harus menanggung beban menjadi manusia yang tidak dianggap ini selama setahun dengan belajar rajin untuk melupakan kekesalannya.
***
Jam pelajaran berjalan seperti biasa. Pria remaja yang duduk di samping Kyla itu ternyata bernama Gibran. Dia sama sekali tidak mendengarkan pelajaran dan guru-guru yang masuk pun tidak ada satupun yang membangunkan.
Karena memang dia tidak tertarik dengan materi pelajaran. Gibran hanya menjadi manusia yang absen di kelas tapi tidak mempelajari apa yang diberikan. Akibatnya dia hanya terus tidur.
Tapi kelihatannya tidurnya hari ini nampaknya terganggu karena suara berisik yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Gibran mengangkat kepalanya dan menoleh ke asal suara. Keningnya mengerut saat menemukan Kyla tengah mengobrol asyik dengan para siswa.
Berisik, batin Gibran.
Dia tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh mereka. Karena sekolah ini termasuk sekolah elit, apa yang terjadi di sini merupakan hal yang sangat monoton. Dan ketika Kyla datang, mereka antusias karena kehidupan Kyla berbeda dengan mereka. Kyla bisa masuk ke sini karena dia mendapatkan beasiswa yang mana hal itu sering diberikan untuk anak-anak kurang mampu. Kehadiran Kyla itu hanya hiburan sementara bagi mereka dan setelahnya dia pasti akan dilupakan oleh mereka.
Gibran tidak peduli dengan Kyla, hanya saja suara berisik yang ditimbulkan gadis itu benar-benar terasa mengganggu. Dengan nafas berat dia segera beranjak dari kursinya. Setidaknya dengan dia yang pergi, suara Kyla tidak akan terdengar lagi
***
Cuaca siang itu sangat terik ketika sekolah dibubarkan. Kyla bukanlah anak yang suka bergaul, tapi dia juga tidak suka jika tidak memiliki teman. Sejujurnya, berinteraksi dengan teman sekelasnya merupakan beban tersendiri bagi gadis itu. Apalagi dia dituntut untuk selalu tersenyum dan memasang wajah bahagia. Untungnya semua pertanyaan yang mereka lontarkan dapat dia jawab dengan baik meski ada beberapa pertanyaan yang terkesan menjatuhkan.
Kyla tidak sakit hati karena dia memang sadar keadaan keluarganya tidak sebaik itu. Apalagi SMP Permai Indah memang terkenal sebagai sekolah dengan rating bagus karena biaya bersekolah di sini yang teramat mahal. Mungkin teman-temannya heran ketika tahu Kyla bisa masuk ke sini hanya karena rekomendasi.
Hanya saja ada satu hal yang mengganggu Kyla. Itu adalah Gibran. Anak di kelasnya tadi beberapakali mengasihaninya karena dia yang harus duduk di samping Gibran. Menurut informasi, Gibran Virendra merupakan pewaris resmi Arendra Group. Salah satu raksasa bisnis yang menguasai jalur medis dan obat-obatan. Sekarang Arendra Group juga sudah membentangkan sayapnya ke jalur pariwisata. Kyla yang papanya hanya seorang buruh pabrik sama sekali tidak mengerti kenapa untuk masalah ini dia juga harus tahu tentang seluk-beluk Gibran. Dan kalimat yang paling ditekankan oleh mereka adalah, Gibran selalu memandang rendah mereka hanya karena mereka tidak sederajat dengan dia.
Kyla terkekeh miris. Jika mereka saja masih disebut belum sederajat, apalagi dirinya. Kyla terkekeh lagi. Dia dan Gibran sebangku dan tidak mungkin dia terus-terusan menghindari pria itu. Bukankah akan terlihat aneh jika hal itu terjadi. Lagipula mereka sama-sama murid dan rasanya tidak patut saja jika harus berhubungan dengan orang yang sederajat hanya karena doktrin sepele.