Kondisi Keluarga Kyla

1078 Words
Kyla melangkah ringan menuju tempat tinggalnya. Dia sudah sangat antusias karena hari ini adalah jadwalnya untuk menghubungi sang ayah. Kyla dan ayah memang tidak tinggal bersama. Ayahnya, Rendra, terpaksa harus meninggalkan Kyla dikontrakan karena lingkungan tempatnya bekerja tidak memperbolehkan untuk membawa anak-anak. Ditambah, lokasinya juga lumayan jauh dari sekolahan Kyla. Dengan senyum yang merekah di bibirnya, Kyla segera mendial nomor sang ayah. Baru deringan pertama saja Rendra langsung menjawab panggilan Kyla. “Ayah!“ serunya kelewat antusias. “Princessnya ayah. Udah pulang? Udah makan? Gimana sekolahnya sayang? Ayah khawatir banget karena kamu sendiri. Ayah aja sampai bolos kerja sekarang.“ Kyla terkekeh mendengar penjelasan ayahnya. Dia sebenarnya rindu duduk berdua dan mengobrol face to face dengan sang ayah. Tapi dia tidak boleh egois. Hidupnya masih bergantung dengan pekerjaan ayah dan dia harus sabar supaya segala hal dipermudah kedepannya. “Udah, Ayah. Kyla tadi pulang terlambat karena keliling sekolah. Kyla kan baru, jadi biar familiar aja.“ “Di sekolah kamu baik-baik aja, kan? Nggak ada yang nakal? Teman-temannya gimana? Ada yang jahilin kamu nggak?“ “Teman Kyla baik kok. Guru-gurunya juga baik. Ayah jangan khawatir. Anak ayah ini selalu di kelilingi orang baik.“ “Siapa dulu. Anak Ayah gitu!“ Mereka tertawa bersama. Ini moment-moment yang selalu mereka lakukan setiap ada waktu. Jarak yang membentang membuat keduanya tidak bisa berinteraksi layaknya keluarga pada umumnya. Tapi tidak masalah bagi Kyla selama ayahnya itu sehat diperantauan. “Princess! Kayaknya ayah harus balik kerja sekarang deh. Nggak apa-apa kan kalau telfonnya ayah tutup?“ Ada rasa enggan. Tapi Kyla segera menepisnya. “Iya. Nggak apa-apa.“ Setelahnya panggilan terputus. Kyla termenung sejenak. Dia mulai berfikir, apa benar keputusannya yang memilih untuk masuk ke sekolah ini. Memang benar ini adalah sekolah elit dan sudah dapat dipastikan masa depannya juga akan terjamin jika dia menjadi murid yang berprestasi. Hanya saja, yang membuat dia tidak nyaman adalah, dia harus berpisah dengan sang ayah. Kehidupannya sudah sangat sulit. Tagihan rumah sakit mamanya, biaya hidupnya juga, ditambah kalau dia bersekolah di sekolah biasa. Ayahnya hanya kuli bangunan yang gajinya tidak seberapa. Kyla mengiyakan untuk pindah karena dia ingin sang ayah tidak memikirkan soal biaya sekolahnya karena di sini dia sudah mendapatkan beasiswa full. Setelah mengalami pahitnya kehidupan. Kyla memang tidak pernah memikirkan mau jadi apa ketika dia sudah dewasa nanti. Yang ada di fikirannya adalah, dia hanya harus bekerja begitu lulus dari SMA. Dia ingin meringankan beban ayahnya secepat mungkin. Sebelum-sebelumnya juga dia pernah berdebat terkait masalah ini dengan ayahnya. Bagaimana tidak. Ayahnya memaksa Kyla untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi Kyla langsung menolak dengan tegas. Alasannya karena dia mau secepat mungkin bisa membantu sang ayah. Dengan bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi pun akan dibutuhkan banyak biaya. Bagi Kyla itu adalah pemborosan karena kehidupan mereka sudah kelewat miskim. Kadang Kyla berfikir, apakah suatu hari nanti dia bisa menjadi anak yang membanggakan kedua orang tuanya? Dia hanya takut. Ketika dia tidak tumbuh menjadi yang mereka harapkan. “Aku bisa! Pasti bisa! Harus bisa! Semangat Kyla!“ *** Sekolah berjalan seperti biasanya. Belajar, istirahat, makan siang, dan mengobrol. Hari ini Kyla berinisiatif membawa permen karena hari ini bertepatan dengan tanggal 14 februari. Hari kasih sayang seperti yang manusia umum tahu. Dia sudah membawa totebag dengan isian permen yang dimasukkan ke dalam plastik bening dan diberi pita. Ah, jangan lupakan juga kartu ucapan yang Kyla tulis sendiri. Dia berharap teman-temannya suka karena dia sungguh sangat berharap dapat menjalani kehidupan di sini dengan tenang. Gibran ada di kelas. Bocah itu sempat melirik ke barang bawaan Kyla. Dia mendesis kesal. Dia kira teman-teman bakalan suka kalau dikasih barang kayak gitu? batin Gibran. Dia kembali mengacuhkan Kyla dan memilih untuk fokus mencorat-coret bukunya. Tapi nampaknya Gibran itu tipikal manusia yang menyukai ketenangan. Karena baru beberapa detik Kyla bernyanyi, Gibran langsung bangkit dari kursinya dan mencengkram erat baju seragam Kyla dengan tatapan dingin. “K-kenapa?“ “Lo bisa diam nggak?!“ bentaknya kencang. Bukannya takut, Kyla malah memajukkan wajahnya ke arah Gibran. Dia diam dan setelahnya tersenyum manis. “Ternyata lo bisa bersuara!“ serunya senang. Panggilan aku kamu sudah dia tanggalkan karena kebanyakan teman-temannya menggunakan gue lo. Kyla awalnya tidak terbiasa, tapi lama kelamaan lidahnya sudah menikmati panggilan seperti itu. “Diam! Dan juga lo harus singkirin tas butut lo dari meja.“ Itu adalah totebag yang Gibran lihat. Baginya mengganggu dan sangat mengganggu. Apalagi Kyla bertingkah seperti seorang penjilat dengan memberi mereka barang. Harusnya barang mahal. Bukan barang murahan yang biasanya di jual di pinggir jalan. “Kalau lo mau gue singkirin tas gue, lo harus lepasin dulu tangan lo.“ Gibran berdecak. Dia kemudian melepaskan tangannya dan Kyla langsung memindahkan tasnya ke bawah meja. Bukanya marah pada Gibran yang sudah bersikap kasar, Kyla malah menatap bocah itu untuk waktu yang lama. Gibran yang merasa diperhatikan langsung menoleh. Dia mengernyit dan dihadiahkan senyuman manis milik Kyla. Gibran kira Kyla akan mengajaknya mengobrol, tapi ternyata gadis itu memberikannya jari terlunjuk tengah dengan muka yang masih terlihat manis. Gibran sampai sulit berkata-kata karena tingkah Kyla. “LO!“ katanya. Tiba-tiba suara bel berbunyi. Kyla langsung menurunkan tangannya dan duduk dengan rapi. Dalam hati padahal dia sudah ketar-ketir. Takut mendapatkan amukan dari Gibran dan untungnya, suara bel berhasil menyelamatkannya. “Lo fikir lo bisa selamat cuma karena bel udah bunyi?“ Kyla mengedikkan bahunya tidak peduli. Setidaknya sekarang dia selamat. Untuk urusan nanti, bisa dia fikirkan juga nanti. *** Sesuai dugaan yang difikirkan Gibran sebelumnya, semua permen pemberian Kyla berakhir di tempat sampah. Dia enggan untuk ambil pusing soal apa yang akan terjadi nanti jika gadis itu tahu kalau ternyata permen yang dia berikan tidak dimakan. Tapi ternyata otak dan tubuhnya tidak berjalan singkron. Gibran mulai memunguti semua permen-permen itu dan memasukkan kembali ke dalam plastik. Karena jam pulang sudah lewat, Gibran masuk ketika kelas sudah sepi. Dia menghela nafas berat saat menemukan juga kalau permen bagiannya sudah diletakkan di meja. “Masak gue harus habisin semua permen ini? Yang ada gigi gue pada bolong,” desahnya lagi. Tapi tetap memasukkan permen-permen itu ke dalam tasnya. Sampai di rumah Gibran langsung naik ke lantai atas. Tempat dimana kamarnya berada. Dirinya tidak lelah, hanya saja dia tidak ingin berinteraksi dengan manusia-manusia j*****m yang ada di rumah ini. Begitu membuka pintu, mata Gibran langsung membelalak kaget. Emosinya langsung terpancing melihat kondisi kamarnya sudah bak kapal pecah. Padahal dia tidak pernah meninggalkan kamar dalam kondisi berantakan. Hanya ada satu tersangka utamanya. Manusia paling dia benci setelah papanya dan si pelakor.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD