Drama

1221 Words
b******k, umpatnya dalam hati. “Lo terlambat.“ Suara seseorang membuat Gibran menoleh. Di sampingnya sudah ada Bara yang menatapnya dengan pandangan meremehkan. Hal yang selalu anak itu lakukan padahal dia hanya anak haram. Tidak tahu posisi dan bertingkah seolah dia anak sah. “Kamar lo berantakan banget! Ah, sorry. Tadi gue cari barang gue yang hilang dan kamar lo termasuk tempat yang gue curigai. Tanpa sadar gue malah berantakin kamar lo!“ katanya tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Jadi lo yang berantakin kamar gue? GUE UDAH BILANG BERKALI-KALI SAMA LO BUAT NGGAK NYENTUH KAMAR GUE. LO BUDEG ATAU GIMANA, SIH!“ cecar Gibran. Kesabarannya sudah habis dan kelakuan Bara sudah tidak bisa ditoleransi kembali. Gibran bahkan sudah merangsek maju untuk melayangkan tinjunya. “Sabat, bro!“ Sudah tidak ada lagi kata sabar dan Gibran langsung menendang Bara karena bocah itu malah menunjukkan punggungnya pada Gibran. Dia menendang Bara dan membuat bocah itu jatuh tersungkur sambil mendesis. “Lo sengaja pasti kan!“ “Tapi….bukannya lo yang udah keterlaluan.“ Setelahnya Bara memukul-mukul sendiri wajahnya dan membenturkan kepalanya di lantai. Gibran hanya menatap malas sambil menghela nafas kasar. Itu adalah kegiatan yang selalu Bara lakukan setiap kali mereka berdebat. Tanpa sanksi. Tanpa CCTV. Orang-orang pasti beranggapan kalau Gibran yang sedang memukuli Bara. Sampai sekarang saja para pekerja banyak yang takut pada Gibran karena ulah Bara. Bocah itu pintar memanipulasi dan menarik empati dari orang-orang di sini. Bahkan ada yang sampai terang-terangan mengatakan kalau Bara itu kasian karena selalu dihajar oleh Gibran. Faktanya mereka tidak tahu kalau Bara sendiri yang menyakiti tubuhnya sendiri. Sama seperti sekarang. “Berhenti Gibran! Gue mohon! Stop!“ Semakin lama suara benturan itu makin kencang. Dahi Bara pun mulai mengeluarkan darah. Tapi bocah itu tidak menghentikan aksinya dan malah semakin kencang membenturkan kepalanya lagi. “Gue tahu gue salah. Please, maafin gue,” katanya lagi. “Gue nggak nyangka kalau akting lo ternyata sebagus ini,” gumam Gibran. Dia bahkan hanya melihat kelakuan Bara sambil bersedekap tangan. “Lo nggak lupa kan siapa nyokap gue. Seenggaknya dia punya manfaat dengan menurunkan bakat aktingnya ke gue.“ “Akhirnya lo ngaku juga kalau lo keturunan dia.“ “Kira-kira apa yang bakal diomongin orang-orang sekarang? Penampilan gue udah di luar ekspetasi dan pasti kelihatan lebih parah. Gue udah nggak sabar dengar mereka mojokin lo lagi. Lo aja nggak bisa buktiin kalau bukan lo yang bersalah,” katanya meremehkan. “Gue nggak mau habisin tenaga buat urusin orang gila macam lo!“ “Tapi seenggaknya akting gue kali ini bakal berhasil karena gue udah buat pemicu yang bakal buat orang percaya. Lo nggak tahu aja gimana perjuangan gue buat hancurin kamar lo. Dan kalau misal ini nggak berjalan lancar, gue masih ada stok ide lagi sih. Yang pastinya gue nggak bakal biarin lo bisa hidup tenang di sini. Ah, gue juga punya rencana untuk buat lo menggila. Sayangnya sampai sekarang gue belum nemu trik yang bisa buat lo sampai kepancing emosinya gara-gara gue. Emang sesusah itu ternyata ngadapin lo.“ “Jadi selama hidup nyokap lo cuma ngajarin cara ngerebut punya orang ternyata.“ “Kalau aja nyokap gue nggak mati, dia pasti udah dapatin bokap lo. Sayangnya dia mati gitu aja tanpa sempat masuk sebagai nyonya rumah supaya bisa buang lo dari sini! Dan satu lagi, lo jangan heran kalau gue juga pinter narik empati dari orang-orang. Karena nyokap gue itu aktris.“ “Bacot!“ Gibran menjawab sambil terkekeh meremehkan. “Lo ngetawain nyokap gue? Berani banget lo!“ “Stop deh bertingkah kalau lo anak penyayang. Pada dasarnya lo juga ditinggalin kan sama nyokap lo sampai lo ngemis-ngemis ke bokap biar bisa numpang hidup di sini. Yang lo lakuin itu menjijikan. Pura-pura sayang sama nyokap lo sendiri padahal dalam hati lo selalu ngumpat.“ Bara menatap Gibran sebelum akhirnya tertawa lirih. “Dari semua orang yang gue tahu, cuma lo yang awas. Tapi sayangnya sikap awas lo itu yang buat gue nggak suka sama lo. Sandiwara gue bisa kebongkar kapanpun kalau ada lo di sekitar gue. Dengan lo yang lahir sebagai anak dari istri sah, otomatis semua perhatian bakal berlimpah buat lo. Terus gue yang lahir dari wanita simpanan dapat apa? Cacian dong! Itu adalah nasib buruk yang nggak mau gue terima! Dan satu-satunya cara buat bertahan hidup di sini itu cuma dengan membuktikan diri kalau gue berguna. Memanipulasi orang salah satunya.“ “Menyedihkan.“ “Siapa? Gue?“ Bara menatap tajam ke arah Gibran. Tidak ada yang tahu apa yang tengah di fikirkan bocah itu. “Tapi sebenarnya lo yang paling menyedihkan. Jangan salahkan orang-orang yang ngebela gue karena lo terlalu lemah sebagai manusia. Ditambah, lo juga udah nggak diaku anak kan sama bokap.“ Raut wajah Gibran berubah masam. Tatapan matanya juga ikut menajam mendengar kalimat tajam yang diucapkan Bara. “Mungkin kalau nggak ada gue lo bakal tetap diaku anak. Tapi sorry, lo bukanlah siapa-siapa sekarang di sini. Yang benalu adalah lo. Bukan gue. Tapi yang masih gue heranin itu, ngapain coba bokap tes DNA tiap tahun. Ditambah kok bisa hasilnya selalu sama kalau lo anak sah sedangkan nyokap lo juga selingkuh di belakang bokap. Jangan bilang ini rencana nyokap lo supaya lo masih dapat warisan? Ekstrem banget sih rencana nyokap lo. Masih ngerasa kalau gue menyedihkan? Bukannya lo yang lebih parah?“ “Terus lo mau apa?!“ “Dasar batu. Lo masih punya nyali buat natap gue? Nunduk! Lo harus bersikap kayak biasanya yang selalu diam tiap kali gue buat masalah. Gue cuma mau lihat lo menderita karena lo yang masih punya nyali buat tetap bertahan di sini.“ Gibran terkekeh. Dia bahkan menyugar rambutnya sambil memandang remeh ke arah Bara. “Lo fikir gue bakal tetap diam sekarang? Kira-kira apa yang bakal lo lakuin kalau gue nggak tahan diri gue?“ “Maksud lo?“ “Anak-anak di mana, Bi?“ Suara Damar Arendra terdengar dari lantai satu dan langsung membuat sudut bibir Bara terangkat. Rasa takut yang sebelumnya menguasai bocah itu langsung lenyap setelahnya. Dia merasa mendapat mendapat pertolongan karena sudah dapat dipastikan kalau Gibran tidak akan berani berkutik di depan papa mereka. “Ada di lantai dua, Tuan!“ Kesempatan itu digunakan Bara untuk kembali membenturkan kepalanya ke lantai. Dia sudah bersiap dan menunduk. Tapi satu kalimat dari Gibran dan aksi yang ditunjukkan bocah itu membuat Bara terkesiap. “Nggak perlu nunda lagi berarti.“ Dengan tenaga penuh dia membenturkan kepala Bara ke lantai. Bahkan Gibran tidak merasa bersalah ketika bocah itu meminta ampun agar dia berhenti. Emosinya sudah meledak dan dia sudah merasa tidak perlu lagi berpura-pura diam. Biar kali ini dia melampiaskan emosinya. “Sialan! Berhenti, Gibran! Lo gila apa?!“ “Kan lo sendiri yang mau babak belur. Gue cuma lakuin hal yang semestinya. Lo nggak boleh nolak,” ucapnya sambil membenturkan kepala Bara kali ini lebih kencang. Saat ingin membenturkan kembali, seseorang menarik kerah belakang seragamnya. Setelah itu, Gibran terdorong ke belakang. “Dasar anak anjing!“ Itu adalah Dimas Arendra. Pria paruh baya itu menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Gibran yang sudah tersungkur tidak berusaha untuk bangkit karena kelapanya terasa pening. Dia demam tapi tidak ada yang peduli. Bahkan orang rumah pun tidak ada yang berinisiatif untuk mendekatinya. Semakin lama, pandangannya semakin mengabur. Ingatan terakhir Gibran adalah saat Dimas mendekatinya dengan ekspresi wajah kejam sebelum akhirnya semua berubah menjadi gelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD