Gibran mulai membuka matanya perlahan. Bocah itu tidak tahu sudah berapa lama dia pingsan. Tapi ketika membuka mata, yang dia temukan hanya kegelapan. Tempat yang selalu dia kunjungi dan tempat yang selalu menjadi tempat tidurnya beberapa bulan terakhir ini karena Bara selalu membuat masalah dan berakhir dengan dia yang dihukum.
Ini adalah gudang belakang rumah yang jauh dati hiruk pikuk manusia. Kali ini nampaknya dia akan terkurung cukup lama di sini. Gibran menutup matanya kembali. Tenggorokannya kering, kepalanya berputar dan terasa sangat sangat pening. Baru kali ini dia merasakan hal seperti itu.
“Jadi akhirnya tetap gue yang kalah?“ gumamnya pelan. Harusnya dia menurut ketika Oma mengajaknya keluar dari rumah ini. Tapi karena prasangka bodohnya yang selalu berpikir kalau Dimas akan kembali berubah seperti dulu, dia bertahan. Pada akhirnya itu hanya angan belaka yang entah kapan akan tercapai.
Gibran menangis. Dia menangisi takdir buruk yang dia miliki. Papa yang berselingkuh dan mama juga melakukan hal yang sama. Apa memang harus sehancur ini dia agar memiliki keinginan untuk bertahan? Tapi sayangnya itu semua sulit. Teramat sulit untuk dia hadapai.
“Ban… Iban…” Suara samar-samar itu tertangkap indra pendengarnya. Mata yang sebelumnya menutup kini mulai terbuka secara perlahan. Cahaya terang itu mulai mengenai retina mata dan membuat Gibran harus mengedipkan matanya berkali-kali untuk menyesuaikan sinarnya.
“Kamu udah sadar, Nak?“
Gibran menoleh. Omanya sudah berdiri di sana dengan tatapan khawatir. Gibran menoleh sekali lagi dan menemukan kalau dirinya sudah tidak lagi berada di ruangan gelap itu.
“Kamu udah aman sekarang. Mau ya Nak tinggal sama Oma? Oma nggak rela kamu diperlakukan sejahat itu sama Papa kamu!“ Kali ini wanita tua itu bahkan nampak sangat memohon agar Gibran mengiyakan permintaanya.
“Oma… Oma…” jawabnya dengan suara lemah. Setelah itu Gibran menangis. Tangisan yang memilukan yang selama ini sudah dia tahan sendirian.
Terlahir dari keluarga yang hancur tidak lantas membuat seseorang menjadi sosok yang kuat begitu saja. Pasti ada moment dimana dia juga merasa lelah dan ingin diperhatikan. Gibran memang sangat kehilangan figur orang tua. Figur yang seharusnya memantau tumbuh kembangnya dan memantau segala aktivitasnya. Dia kadang menyalahkan takdir yang berjalan sangat kejam. Dia tidak meminta hal yang istimewa. Dia hanya ingin tumbuh di dalam keluarga yang harmonis. Tapi nampaknya keinginannya itu terlalu berat untuk dikabulkan oleh Tuhan karena pada akhirnya hanya dia yang sengara.
***
Apa yang sudah menimpa Gibran tidak tersebar sampai sekolah. Kyla dan teman-teman hanya tahu kalau Gibran izin karena sakit. Gadis itu entah kenapa merasa sendiri karena Gibran yang tidak datang sekolah. Padahal mereka juga tidak sedekat itu.
Sama seperti biasanya, pagi itu Kyla menatap sendu ke kursi milik Gibran. Nampaknya bocah itu akan absen kembali karena jam masuk sudah akan berbunyi dan tanda-tanda kedatangan bocah itu juga belum tercium. Kyla menghela nafas pelan dan memutuskan untuk tidak menghiraukan. Dia lebih memilih untuk fokus menyelesaikan kelasnya hari ini.
Bel berbunyi bertepatan dengan masuknya seseorang ke dalam kelas. Mata Kyla terbelalak saat melihat siapa sosok yang baru masuk. Itu adalah Gibran. Seperti biasanya, tidak ada orang yang berani menyapa bocah itu.
“Lo kemarin sakit?“ tanya Kyla cepat begitu Gibran duduk di kursinya. Tidak ada jawaban dari bocah itu sesuai dugaan Kyla sebelumnya. Tapi gadis itu nampak tidak kesal.
“Ini buat lo,” katanya lagi sambil menyodorkan jus buah pada Gibran. “Minum gih. Gue biasanya langsung baik-baik aja kalau habis minum jus. Ini buatan gue sendiri, jadi lo nggak usah khawatir. Steril kok! Ah, sama ini…”
Kyla kembali sibuk mencari sesuatu dari dalam tasnya. Cukup memakan waktu dua puluh detik sampai dia mengeluarkan bukunya dan menyodorkannya pada Gibran.
“Gue juga udah catat banyak materi. Gue pinjamin ke lo karena lo sempat absen seminggu ini,” ujarnya diakhiri dengan senyum. Untuk sekarang senyuman Kyla tidak nampak menyebalkan bagi Gibran.
Bahkan tanpa sadar bocah itu sendiri juga ikut membalas dengan tersenyum tipis. Sangat tipis bahkan hampir tidak terlihat. Dia hanya heran karena Kyla berani bertanya dan sampai meminjamkan catatanya padahal hampir semua anak yang ada di sini pada berlomba-lomba untuk mengabaikannya.
“Biar gue urus sendiri masalah gue!“
“Mulut lo masih aja jahat kayak biasanya. Kalau ada yang nawarin sesuatu, lo cuma harus terima. Nggak usah protes karena orang itu bantu lo tanpa pamrih.“
Gibran menghela nafas kasar dan langsung mengambil buku catatan milik Kyla dengan kasar tanpa mengucapkan terima kasih.
Sepanjang hari, Kyla terus membuntuti Gibran karena perintah dari guru wali kelasnya. Meski sejujurnya Gibran juga merasa risih, tapi dia tidak memprotes. Dia membiarkan gadis itu melakukan apa yang dia mau asalkan tidak mengganggu kemaslahatannya selama mereka menghabiskan waktu bersama.
***
Sudah beberapa bulan berlalu dan kini Gibran diminta untuk menemui mamanya setelah sekian lama. Bocah itu duduk menunggu di kafe sambil memainkan ponselnya. Untuk ukuran anak SMP, Gibran sudah bisa dikatakan dewasa karena dia tidak rewel dan banyak menuntut.
Mama dan papanya bercerai sejak dia berusia lima tahun. Hak asuh dimenangkan oleh sang papa karena Arendra Group memang membutuhkan keturunan saat itu. Setelah perceraian itu, Gibran memang masih kerap bertemu dengan mamanya. Hanya saja wanita itu selalu datang telat dan membuat Gibran merasa diabaikan. Dia juga sempat berfikiran kalau mamanya enggan bertemu dengannya.
Tapi satu hal yang pasti, dia memang tidak mendapatkan kasih sayang yang semestinya dari mamanya. Jika papanya masih melimpahkan dia dengan harta, mamanya tidak memberikan dia apapun. Meski begitu, tidak dipungkiri jika dia merasa sedih jika tidak bisa bertemu dengan mamanya.
Suara ketukan heels yang beradu dengan lantai membuat Gibran mendongak. Tatapan datarnya tertuju pada seorang wanita cantik yang tersenyum manis ke arahnya. Itu wanita yang melahirkannya dan wanita yang meninggalkan luka juga untuknya. Dengan segala kehancuran yang sudah ditinggalkan saja dia masih bisa tersenyum manis. Gibran kadang heran dengan jalan fikiran manusia dewasa zaman sekarang. Tidak merasa bersalah padahal menorehkan luka besar bagi anaknya. Atau jangan-jangan mereka hanya berfikir perasaan mereka itu yang paling penting. Untuk orang lain mereka tidak mau pusing-pusing mencaritahu.
Egois? Tentu saja.
“Halo, Gibran. Apa kabar?“
Bahkan dia memanggil putranya sendiri saja seperti tengah berinteraksi dengan orang lain. Tidak ada kehangatan dari nada suaranya yang lembut itu.
“Mama telat banget ya?“
Kehangatan tiba-tiba merasuk ke dalam benak Gibran. Sayangnya, itu bukan kehangatan seperti yang dia terima dari Kyla. Rasanya berbeda dan ini sangat hambar.
“Kamu mau apa? Es krim atau jus? Mau makanan berat atau ringan?“ tanyanya sambil meraih buku menu dan mulai membukanya.
Gibran terkesiap untuk sesaat. Mamanya tidak pernah melakukan ini. Bahkan untuk tersenyum saja sangat sulit. Tapi sekarang dia malah mengajak makan. Pasti ada sesuatu yang tidak beres.
Wanita itu mendongak dan heran melihat Gibran yang terus menatapnya lekat.
“Kenapa? Ada yang aneh di wajah Mama?“ tanyanya lagi sambil memegang wajahnya.
“Aneh aja. Nggak biasanya Mama banyak senyum.“
“Apa?!“
“Gibran nggak pernah lihat Mama senyum dan rasanya nggak biasa.“
Wanita itu menelan ludahnya kasar dan malah bertingkah gugup. Dia merapikan rambutnya yang tidak kusut dan menunduk karena tidak berani menatap Gibran.
“Ehm… itu…jadi…”
“Mama nggak perlu bicara kalau emang nggak mau!“
“Kamu… bakal punya adik sekarang.“
Gibran diam. Dia sudah menduga kalau hal seperti ini akan terjadi nantinya. Dia hanya tidak menyangka kalau itu terjadi sekarang. Secepat itukah? Dia bahkan belum mendapatkan kasih sayang yang semestinya dari manusia yang dia anggap orang tua itu.
“Adik?“ ulangnya datar. Pertemuan yang dia anggap akan menjadi moment special langsung runtuh seketika. “Jadi Mama mau rujuk lagi sama Papa?“
Mustahil. Tapi jika itu terjadi setidaknya orang tuanya kembali menjadi satu.
“Kamu itu bilang apa? Mana mungkin Mama balik lagi sama dia!“ Raut wajah mamanya langsung berubah menjadi kesal. Perpisahan mereka memang tidak bisa dibilang baik-baik saja karena watak yang tidak baik dari keduanya membuat rumah tangga itu tidak bertahan.
“Pihak keluarga baru Mama bilang cuma keluarga inti yang boleh datang. Maafin Mama ya kalau kamu nggak Mama undang. Mama harap kamu bisa mengerti. Izinkan Mama bahagia sekarang ya, Nak!“
Jadi pada akhirnya akan begini. Dia hanyalah anak yang bahkan tidak diakui oleh mamanya sendiri. Keluarga inti bulshit macam apa yang wanita itu maksud.
“Jadi Mama benar-benar hamil?“
“Iya. Mama datang telat karena Mama harus periksa ke rumah sakit.“ Senyumnya merekah saat membicarakan soal itu. “Sebentar…” ucapnya lagi sambil membuka tasnya dan mencari sesuatu di dalam sana. “Ini dia adik kamu, Gibran.“
Dia menyodorkan foto USG ke arah Gibran. Bocah itu hanya menatap sekilas tanpa ada keinginan untuk melihatnya. Dia sudah kelewat muak. Muak karena merasa tidak diharapkan. Apa dulu mamanya juga begini ketika dia hadir? Sepertinya tidak karena perlakuannya saja berbeda.
Saudara tiri? Bahkan dia sudah punya. Dan kini, dia akan memiliki satu lagi yang pastinya akan menyita perhatian mamanya.
“Cantik, kan? Mama harap dia anak perempuan.“
“Apa Mama lakuin ini juga karena uang?“
“Apa?!“ Raut wajah wanita itu tampak linglung untuk sekejap.
“Berapa banyak yang Mama dapat kali ini?“
“Kamu bicara apa barusan?!“
“Mama dapat saham Arendra Group setelah melahirkan Gibran. Sekarang apa yang Mama dapat? Berapa yang orang itu kasih ke Mama sampai Mama rela melahirkan anaknya?“
“GIBRAN VIRENDRA!“